Hakikat Perkembangan Anak Usia Dini

BAB I
PENDAHULUAN

1. Latar Belakang
Manusia merupakan salah satu makhluk yang selalu bertumbuh dan berkembang. Anak usia dini adalah bagian dari manusia yang juga selalu bertumbuh dan berkembang bahkan lebih pesat dan fundamental pada awal-awal tahun kehidupannya. Kualitas perkembangan anak di masa depanya, sangat ditentukan oleh stimulasi yang diperolehnya sejak dini.
Pemberian stimulasi pendidikan untuk anak usia dini adalah hal sangat penting mengingat 80% pertumbuhan otak berkembang pada anak sejak usia dini. Elastisitas perkembangan otak anak usia dini lebih besar pada usia lahir hingga sebelum 8 tahun kehidupannya, 20% siasanya ditentukan selama sisa kehidupannya setelah masa kanak-kanak. Dan tentu saja bentuk stimulasi yang diberikan harusnya dengan cara yang tepat sesuai dengan hakihat perkembangan anak usia dini.
Memahami hakikat perkembangan anak usia dini pun pada akhirnya menjadi suatu bagian yang tak kalah penting untuk menentukan stimulasi apa yang tepat untuk mereka. Oleh sebab itu, makalah ini akan membahas tentang hakikat perkembangan anak usia dini.

2. Rumusan Masalah
Masalah yang dibahas dalam makalah ini adalah:
1. Apa definisi perkembangan anak usia dini?
2. Apa sajakah faktor-faktor yang mempengaruhi perkembangan anak usia dini?
3. Apa sajakah aspek perkembangan anak usia dini?
4. Bagaimanakah prinsip-prinsip perkembangan anak usia dini?
5. Apa tujuan mempelajari hakikat perkembangan anak usia dini?
6. Bagaimanakah konsep umur dalam perkembangan anak usia dini?
7. Bagaimakah periode perkembangan anak usia dini?
8. Bagaimana proses pertumbuhan dan perkembangan anak usia dini?
9. Apa saja isu-isu perkembangan anak usia dini?

C. Tujuan
Tujuan dari penulisan makalah ini adalah untuk menjawab rumusan masalah di atas, antara lain:
1. Mendeskripsikan definisi perkembangan anak usia dini
2. Apa sajakah faktor-faktor yang mempengaruhi perkembangan anak usia dini
3. Menyebutkan aspek perkembangan anak usia dini
4. Menjelaskan prinsip-prinsip perkembangan anak usia dini
5. Menyebutkan tujuan mempelajari hakikat perkembangan anak usia dini
6. Mendeskripsikan konsep umur dalam perkembangan anak usia dini
7. Menklasifikasikan periode perkembangan anak usia dini
8. Menjelaskan proses pertumbuhan dan perkembangan anak usia dini
9. Menyebutkan isu-isu perkembangan anak usia dini.


BAB II
PEMBAHASAN

A. Definisi Perkembangan Anak Usia Dini
Menurut Werner yang dikutip oleh Monks, dkk , pengertian perkembangan menunjuk pada suatu proses ke arah yang lebih sempurna dan tidak begitu saja dapat diulang kembali. Perkembangan menunjuk pada perubahan yang bersifat tetap dan tidak dapat diputar kembali. Dalam pertumbuhan, ahli psikologi tidak membedakan antara perkembangan dan pertumbuhan, bahkan ada yang lebih memgutamakan pertumbuhan. Sebenarnya, istilah pertumbuhan dimaksudkan untuk menujukkan bertambah besarnya ukuran badan dan fungsi fisik murni. Menurut banyak ahli psikologi, istilah perkembangan lebih dapat mencerminkan sifat yang khas mengenai gejala psikologis yang muncul.
Perkembangan menurut Berardo yang dikutip oleh Santrock ialah pola gerakan atau perubahan yang dimulai dari pembuatan dan terus berlanjut sepanjang siklus kehidupan. Kebanyakan perkembangan meliputi pertumbuhan, walaupun perkembangan juga mencakup pembusukan (seperti dalam kematian dan orang mati). Pola atau pernyataan-pernyataan dari kelompok-kelompok penekan yang sangat vokal. Para pembuat kebijakan sering terjebak dalam isu-isu ideologis dan moral yang diperdebatkan secara panas, seperti keluarga berencana dan aborsi, atau undang-undang perawatan anak dan cuti melahirkan. Pada poin ini, tidak ada indikasi yang jelas bahwa perbedaan-perbedaan yang tajam tentang peran keluarga dan pemerintah akan diselesaikan sesuai dengan solusi yang rasional di masa depan yang dekat.
Maka perkembangan manusia dapat didefinisikan sebagai suatu yang merujuk pada perubahan-perubahan tertentu yang terjadi dalam sepanjang siklus kehidupan manusia, sejak masa konsepsi sampai mati, tidak dapat berulang, tidak dapat diputar kembali, dan bersifat tetap. Perubahan yang dimaksud dapat berupa perubahan secara kuantitatif dan perubahan secara kualitatif. Perubahan secara kuantitatif itu seperti perubahan dalam tinggi badan, penguasaan jumlah kosakata, perubahan berat badan, dan sebagainya. Sedangkan perubahan secara kualitatif, seperti perubahan dalam struktur dan organisasi dalam kemampuan berpikir, perubahan dalam kemampuan melakukan koordinasi gerakan motorik kasar dan motorik halus, perubahan dalam mengelola emosi, perubahan kemampuan sosial dan sebagainya.
Menurut pakar perkembangan masa hidup, Paul Baltes seperti yang dikutip oleh Santrock bahwa perkembangan masa hidup manusia mencakup tujuh kandungan dasar: perkembangan adalah seumur hidup, multidimensional, multidireksional, plastis, melekat secara kesejarahan, multidisiplin, dan kontekstual.
Perkembangan adalah seumur hidup (lifelong) yang dimaksud adalah tidak ada periode usia yang mendominasi perkembangan. Para peneliti semakin mempelajari penaglaman dan orientasi psikologis orang dewasa pada saat yang berbeda dalam perkembangan mereka. Perkembangan meliputi keuntungan dan kerugian, yang berinteraksi dalam cara yang dinamis sepanang siklus kehidupan.
Perkembangan adalah multidimensional, maksudnya ada;ah perkembangan terdiri atas dimensi-dimensi yang berupa dimensi biologis, kognitif, dan sosial. Bahkan dalam satu dimensi seperti intelegensi, ada banyak komponen, seperti intelegensi abstrak, intelegensi nonverbal, intelegensi sosial, dan lain-lain.
Perkembangan adalah multidireksional. Beberapa atau komponen dari suatu dimensi dapat meningkat dalam pertumbuhan, sementara atau komponen lain menurun. Misalnya, orang dewasa tua dapat semakin arif karena mampu menjadikan pengalaman sebagai panduan bagi pengambilan keputusan intelektual, tetapi melaksanakan secara lebih buruk tugas-tugas yang menuntut kecepatan dalam memproses informasi.
Perkembangan adalah lentur (plastis), maksudnya ia bergantung pada kondisi kehidupan individu, perkembangan dapat mengambil banyak jalan. Suatu agenda penelitian perkembangan kunci ialah pencarian akan kelenturan dan hambatan-hambatannya. Misalnya, para peneliti telah mendemonstrasikan bahwa kemampuan penalaran orang dewasa dapat ditingkatkan melalui pelatihan.
Perkembangan melekat secara kesejarahan (historically embredded), yang dipengaruhi oleh kondisi-kondisi kesejarahan. Pengalaman orang-orang yang berusia 40 tahun yang hidup pada masa Depresi Berat (Great Depression) sangat berbeda dari pengalaman orang-orang yang berusia 40 tahun yang hidup pada akhir Perang Dunia II yang optimistik. Orientasi karir kebanyakan perempatan berusia 30 tahun pada tahun 1990-an sangat berbeda dari orientasi karir kebanyakan perempuan berusia 30 tahun pada tahun 1950-an.
Perkembangan dipelajari oleh sejumlah disiplin. Para psikolog, sosiologi, antorpologi, neurosains, peneliti kesehatan, dan dunia pendidikan semuanya mempelajari perkembangan manusia dan berbagai persoalan untuk membuka misteri perkembangan sepanjang masa hidup.
Perkembangan adalah kontekstual. Individu secara tegrus menerus merespons dan bertindak berdasarkan konteks, yang meliputi make up biologis, lingkungan lingkungan fisik, serta konteks sosial, kesejarahan, dan kebudayaan seseorang. Dalam pandangan kobtekstual, individu dilihat sebagai makhluk yang sedang berubah di dalam dunia yang sedang berubah.
Anak Usia Dini menurut NAEYC (National Association Educational Young Children) merupakan sosok individu yang sedang menjalani suatu proses perkembangan dengan pesat dan fundamental bagi kehidupan selanjutnya, berada pada rentang usia 0-8 tahun. Sedangkan anak usia dini disarikan menurut Undang-undang Nomor 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional disebutkan bahwa mereka adalah anak yang berada pada rentang usia sejak lahir sampai dengan enam tahun. Dan jika disesuaikan dengan pendapat internasional, maka anak usia dini di Indonesia adalah mereka yang sejak lahir ( usia 0 tahun) hingga memasuki jenjang SD awal.
Berdasarkan pengertian-pengertian di atas, maka dapat diambil suatu kesimpulan bahwa perkembangan anak usia dini adalah sesuatu yang merujuk pada perubahan-perubahan tertentu yang terjadi dalam sepanjang siklus kehidupan anak sejak lahir hingga usia delapan tahun, perubahan yang tidak dapat berulang, tidak dapat diputar kembali, dan bersifat tetap.

B. Faktor-Faktor Mempengaruhi Perkembangan
Banyak faktor-faktor yang mempengaruhi perkembangan anak. Menurut Rini Hildayani , faktor- faktor yang mempengaruhi perkembangan anak yaitu meliputi faktor herediter, pengaruh kontekstual umum, pengaruh normatif dan normatif, dan pengaruh waktu:periode sensitif atau kritis. Berikut ini akan dijelaskan sejumlah faktor yang dapat mempengaruhi perkembangan anak yaitu sebagai berikut

1. Hereditas
Pertama-tama yang mempengaruhi perkembangan seorang anak adalah faktor hereditas. Hereditas disini yaitu menurun secara genetik dari orang tua kepada anak. Beberapa pengaruh perkembangan terutama berasal dari hereditas, trait-trait atau karakteristik bawaan yang ditrunkan dari orangtua biologis. Perbedaan individual meningkat sejalan dengan pertambahan usia. Banyak perubahan yang khas pada bayi dan anak-anak awal yang tampak terikat pada kematangan tubuh dan otak, seperti urutan normal dari perubahan fisik dan pola-pola perilaku, termasuk didalamnya kesiapan untuk menguasai kemampuan baru seperti berjalan dan berbicara
2. Pengaruh Kontekstual umum
Manusia adalah makhluk sosial. Sejak awal, mereka berkembang dalam konteks sosial dan historikal. Anak yang lahir pada saat ini mungkin mempunyai pengalaman-pengalaman yang sangat berbeda dari anak yang lahir pada zaman revolusi. Secara umum, konteks yang langsung berhubungan dengan seorang bayi adalah keluarga.
a. Keluarga
Keluarga mengambil bentuk yang bervariasi dalam waktu dan tempat yang berbeda. Ada dua bentuk susunan keluarga yang umum ditemukan, yaitu nuclear-family dan extended-family. Nuclear family atau keluarga inti dapat diartikan sebagai unit rumah tangga, ekonomi, dan hubungan dua generasi yang terdiri dari satu atau dua orang tua dengan anak biologis, anak adopsi, atau anak tiri. Bentuk keluarga seperti ini cukup dominan di dalam masyarakat. Extended Family atau keluarga besar merupakan jaringan hubungan multigenerasi yang terdiri dari kakek-nenek, paman-bibi, sepupu, dan saudara-saudara yang lebih jauh hubungannya. Bentuk keluarga seperti ini banyak ditemukan dalam masyarakat kita dan merupakan pola tradisional dari organisasi kemasyarakatan.
b. Status Sosial-ekonomi dan lingkungan tempat tinggal
Status sosial-ekonomi berkaitan dengan beberapa faktor yang berhubungan seperti faktor penghasilan, pendidikan, dan pekerjaan. Berbagai proses perkembangan misalnya perbedaan dalam interaksi antara ibu dan anak dan hasil perkembangan, misalnya kesehatan dan kemampuan berpikir seorang anak sering pula dihubungkan dengan status tersebut. Hasil perkembangan lebih dipengaruhi oleh faktor-faktor yang berhubungan dengan status sosial ekonomi itu sendiri, seperti jenis rumah dan lingkungan tempat orang tinggal,kualitas nutrisi dan kesehatan
c. Budaya dan Kelompok Etnik
Budaya mengacu pada keseluruhan cara hidup dari masyarakat atau kelompok yang melipoti adat,tradisi, belief (keyakinan), nilai, bahasa, dan produk-produk fisik ari alat hingga karya seni. Semua tingkah laku yang dipelajari diwariskan dari orangtua kepada anak.
d. Konteks historis merupakan waktu ketika seorang tumbuh meliputi bagaimana pengalaman tertentu mempengaruhi jalan hidup seseorang. Para penelti mulai memusatkan perhatian bagaimana pengalaman tertentu yang terikat dengan waktu dan tempat mempengaruhi arah kehidupan seorang
3. Pengaruh Normatif dan Non normatif
Perkembangan memiliki sebab. Untuk memahami kemiripan dan perbedaan dalam perkembangan, kita harus melihat pengaruh-pengaruh yang dialami pada banyak atau kebanyakan orang dan pengaruh-pengaruh yang hanya dialami oleh orang-orang tertentu saja. Kejadian atau pengaruh yang dialami dalam cara yang serupa oleh kebanyakan orang dalam kelompok disebut pengaruh normatif. Sedangkan pengaruh nonnormatif merupakan peristiwa-peristiwa luar biasa yang dimiliki dampak besar terhadap kehidupan individu
4. Periode kritis
Periode kritis adalah masa-masa dalam perkembangan ketika seseorang terutama terbuka terhadap berbagai pengalaman tertentu. Sebagai contoh kejadian yang berlangsung pada saatkehamilan. Jika ibu hamil terkena sinar X, memakan obat-obatan atau mengalami penyakit tertentu pada selama kehamilan, bayinya mungkin akan menunjukan dampak penyakit tertentu tergantung pada sifat penyakit dan waktu terjadinya.
Selain itu lingkungan merupakan faktor yang menentukan tercapai atau tidaknya potensi bawaan. Lingkungan yang cukup baik akan memungkinkan tercapainya potensi bawaan sedangkan lingkungan yang kurang baik akan menghambatnya .

B. Aspek Perkembangan Anak Usia Dini

Perkembangan anak terdiri atas sejumlah aspek perkembangan yang perlu ditingkatkan . Aspek-aspek perkembangan tersebut meliputi perkembangan fisik, perkembangan kognitif, perkembangan bahasa, dan perkembangan sosial-emosional.
1. Perkembangan Fisik
Pada dua tahun pertama dari kehidupan bayi dan anak mencapai perkembangan fisik yang lebih pesat dari pada periode masa kanak-kanak yang lain. Pada ulang tahun yang pertama mereka meningkatkan berat badannya dan memperoleh keterampilan mobilitas yang meliputi merangkak, berdiri, dan berjalan. Selama tahun kedua,mereka berlatih danmenghaluskan keterampilan mobilitas. Perkembangan motorik berlangsung melalui perkembangan proximodistal (perkembangan dari pusat badan ke arah jari-jemari tangan) dan melalui perkembangan cephalocaudal (perkembangan dari bagian atas badan turun ke kaki). Pada usia lima bulan mereka dapat meraih mainan. Perkembangan motorik kasar dan halus dikendalikan oleh kematangan dan stimulasi biologis serta kesempatan aktivitas fisik. Tumbuh gigi dimulai usia tujuh bulan dan tumbuh lengkap pada usia tiga tahun. Pengendalian buang air kecil dan buang air besar belum dicapai anak sampai usia dua setengah atau tiga tahun.
Pada saat anak-anak pindah dari masa toddler ke masa prasekolah, mereka mulai kehilangan tampang gemuknya. Badan mereka menjadi lebih proporsional ketika mereka lebih tinggi dan lebih kurus. Dengan pertumbuhan yang agak lambat, mereka bertambah berat dan tinggi badannya. Anak-anak pada masa ini menjadi terampil memanjat, berlari,dan melompat. Kemudian mereka dapat menguasai keterampilan meloncat dan lari cepat saat mereka mencapai koordinasi dan kendali yang lebih baik. Mereka dapat melempar dan menangkap bola serta bergerak naik dan turun tangga.

2. Perkembangan Kognitif
Piaget mendeskripsikan tahap pertama perkembangan kognitif sebagai tahap sensorimotorik karena bayi mengetahui dan memahami dunianya dengan menggunakan indera dan tindakan refleks. Bayi membentuk pemahaman melalui pengunaan sensori motorik yang dilakukan dengan menggunakan tindakan refleks bawaan seperti menghisap, menghirup, dan menggenggam. Saat refleks terkoordinasi, bayi dapat memegang dan mengambil objek sesuai dengan keinginannya. Setelah konservasi objek dicapai, bayi dapat mengingat tindakan dan menemukan benda yang dicarinya. Saat ini bayi mulai belajar bahwa ia dapat menyebabkan sesuatu hal terjadi dan dapat mengingat peristiwa serta objek-objek yang dialaminya.
Pada usia 2 sampai 6 tahun, anak mencapai tahap praoperasional yang merupakan periode baru dalam perkembangan berpikir anak. Pada tahap ini, anak dapat menggunakan simbol. Ia juga mampu mewakili objek dan peristiwa secara mental. Namun ia masih dikendalikan oleh presepsinya. Padamasa ini anak mengalami keterbatasan karena ia memusatkan diri pada satu karakteristik dalam suatu waktu dan memandang suatu objek berdasarkan sudut pandang diri sendiri yang bersifat egosentris.
Pada usia 6 sampai 8 tahun, anak pindah dari tahap praoperasional ke tahap konkret operasional. Pada saat ini anak memperoleh kemampuan konsep operasional secara bertahap. Saat anak berada dalam transisi dari tahap praoperasional ke tahap konkret operasional, kualitas pikirannya berubah. Ia tidak lagi menilai sesuatu berdasarkan persepsinya, sebaliknya ia mulai menggunakan operasi mental dan logis untuk memahami pengalaman-pengalamannya. Kemampuan berpikir ini menyebabkan kemajuan dalam kemampuan memori. Kemampuan konservasi merupakan ciri utama yang menandai prestasi anak pada tahap konkret operasional. Dengan kemampuan tersebut, anak memahami bahwa penampilan fisik sesuatu objek yang tidak mengubah kuantitasnya.
3. Perkembangan Bahasa
Pada dua tahun pertama dalam kehidupan bayi dan anak pindah dari ucapan prabahasa ke penggunaan bahasa. Menangis dan tenang pada selama beberapa bulan pertama dalamkehidupan bayi berkembang menjadi meraban pada usia 5 atau 6 bulan. Meraban meliputi pola-pola intonasi bahasa sekitar usia 10 bulan. Penggunaan kalimat satu kata atau ujaran untuk berbagai jenis komunikasi yang bermakna secara bertahap berkembang pada usia 18 bulan sampai kombinasi dua atau tiga kata. Pada usia 2 tahun anak pindah dari ujaran telegrafis. Dalam hal ini, ia mampu menggunakan kalimat yang lebih panjang dan lebih sempurna. Saat ini anak belajar aturan morfologi meskipun sering mengalami kesalahan karena sering menggunakan perampatan yang berlebihan. Disamping itu, ia belajar menyusun kalimat dengan memperjelas susunan kata yang lebih baik. Kalimat mereka semakin kompleks saat mereka mengembangkan kosa kata dan ujaran ekspresif.
Pada usia 3 tahun, anak mulai memahami dan menggunakan aturan percakapan. Mereka mampu membicarakan hal-hal yang saat ini tidak ada dihadapannya. Akibatnya, mereka dapat menggunakan bahasa saat bersandiwara atau pembicaraan tentang hal-hal yang dihayalkan. Pada saat kesadaran prasosial anak berkembang,anak usia 4 tahun juga dapat memvariasikan gaya bicaranya ketika berbincang-bincang dengan berbagai lawan bicara, seperti terhadap anak yang lebih muda, sebaya, atau dewasa.
Proses perkembangan bahasa usia 6 sampai 8 tahun mirip dengan perkembangan motorik anak. Pada usia ini anak menghaluskan dan mengembangkan bahasa yang dipelajari pada tahun-tahun prasekolah. Pada masa ini anak telah menguasai dasar-dasar sintaksis dan semantic, yaitu mereka telah belajar bagaimana kalimat dibentuk dan kata-kata digunakan untuk mengkomunikasikan makna. Namun demikian mereka masih bingung dengan makna dan penggunaan kata.
4. Perkembangan Sosial Emosional
Pada masa bayi,ikatan emosional antara bayi dan orang tua / pengasuh disebut kelekatan attachment. Kelekatan emosional positif sangat penting dalam proses perkembangan sosial dan emosional bayi dan anak. Perilaku orang tua yang tidak layak dapat menyebabkan pola-pola kelekatan yang tidak mendukung perkembangan positif perilaku anak.
Perkembangan sosial selama 2 tahun pertama meliputi perkembangan tanda-tanda sosial diantara teman sebaya. Gaya sosial pada masa anak-anak berhubungan dengan sejarah kelekatan. Anak-anak dengan sejarah kelekatan yang aman dapat bergaul dengan teman-teman sebaya secara positif. Perkembangan perilaku sosial empati anak sudah mulai sejak usia 12 bulan, saat bayi merespon kesedihan orang lain. Pada usia 12 bulan itu pula bayi dapat menunjukan kesedihan dirinya dan pada usia 18 bulan bayi tersebut dapat mencoba menghibur teman sebaya yang sedih.
Pada usia 2 dan 5 tahun, anak-anak secara bertahap belajar bagaimana menjadi anggota suatu kelompok sosial. Tugas utama selama masa ini ialah sosialisasi. Proses sosialisasi dipengaruhi pola asuh orang tua, hubungan mereka dengan saudara kandung dan teman sebaya, kondisi tempat tinggal dan lingkunagn tempat tinggal anak. Agar anak menjadi anggota kelompok sosial, anak tersebut harus mempelajari tingkah laku yang layak, yaitu tingkah laku yang diharapkan orang tua,saudara kandung, dan teman sebaya. Salah satu capaian utama anak pada masa ini ialah saat ia mampu bekerja sama, berbagi, menghargai dan membantu orang lain.
Pada usia 6 sampai 8 tahun, anak mengalami transisi dari TK ke kelas-kelas awal sekolah dasar. Pada masa ini anak menghadapi peran-peran baru yang sangat penting baik dari segi sosial maupun perkembangan emosionalnya. Prestasi dan penerimaan sosial sangat penting dalam kehidupan anak. Jika anak merasa sukses dan berprestasi maka hal ini dapat mengembangkan rasa identitas sukses anak tersebut. Sebaliknya jika ia merasa gagal, tidak popular, dan tidak merasa berhasil dalam berprestasi maka ia akan mengembangkan rasa identitas yang gagal.

C. Prinsip-Prinsip Perkembangan Anak
Pada dasarnya perkembangan manusia mempunyai prinsip-prinsip umum, seperti yang diuraikan dibawah ini:
1. Manusia berkembang dengan kecepatan yang berbeda. Seseorang dalam satu kelas sangat dengan berbagai pengalam tentang perbedaan dalam kecepatan perkembangan. Misalnya, seseoarang siswa berkembang sangat cepat dalam melakukan koordinasi gerakan motorik kasar, motorik halus, dan koordinasi visual motorik, ia dapat berlari sambil melempar atau menangkap bola. Sementara siswa yang lainnya cepat matang dalam berpikir dan dalam melakukan interaksi sosial dengan baik.
2. Manusia berkembang dengan urutan perkembangan yang teratur. Anak balita dapat berjalan setelah ia merambat, dan kemampuan merambat baru dapat dikuasai anak balita setelah ia menyelesaikan tugas-tugas perkembangan motorik sebelumnya yaitu merangkak. Usia remaja baru dapat dimasuki anak setelah ia melalui usia dini dan usia kanak-kanak.
Perkembangan berlangsung dengan proses yang bertahap. Oleh sebab itu, suatu perkembangan tidak mungkin terjadi dalam waktu satu malam saja. Seorang anak yang tidak dapat menulis memerlukan waktu untuk dapat melakukan kegiatan menulis, karena kegiatan menulis membutuhkan prasyarat yaitu kemampuan mengenal dan memahami huruf dan alapabet yang dapat dirangkai menjadi kata yang berarti, serta kemampuan untuk memusatkan perhatian.
Prinsip-prinsip perkembangan anak menurut Gesell yang dikutip oleh William Crain menyebutkan ada beberapa hal meliputi konsep kematangan, studi pola-pola, dan beberapa prinsip perkembangan lainnya yang dibagi menjadi tiga wilayah yaitu jalinan timbal balik, asimetri fungsional dan pengaturan diri.

1. Konsep Kematangan
Pertumbuhan dan perkembangan anak menurut Gessel dipengaruhi oleh dua faktor utama. Pertama, anak adalah produk dari lingkungannya. Namun yang lebih fundamental lagi, ujar Gessel, perkembangan anak berasal dari dalam, yaitu aksi dari gen-gen di tubuhnya. Gesell menyebut proses ini kematangan.
Ciri menakjubkan perkembangan kematangan ini selalu terjadi dalam urutan tertentu. Pertama kali ini bisa dilihat dari perkembangan embrio di mana, sebagai contohnya, jantung selalu menjadi organ pertama yang berkembang dan berfungsi. Sesudah itu sel-sel yang berbeda-beda mulai membentuk sistem saraf utama dengan cepat-yaitu otak dan saraf tulang belakang. Perkembangan otak dan kepala secara utuh baru dimulai setelah bagian-bagian lain terbentuk seperti tangan dan kaki. Urutan ini, yang diarahkan oleh blueprint genetik, tidak penah bejalan terbalik.
Dengan cara yang sama, perkembangan urutan ini terus berlanjut setelah bayi lahir. Sebagai contoh, karena kepala berkembangan penuh paling awal di dalam embrio, maka wilayah ini pula yan berkembang lebih dulu di dalam perkembnagan pasca-lahir. Bayi pertama-tama belajar mengendalikan bibir dan lidah mereka, baru kemudian belajar mengendalikan pergerakan mata, diikuti oleh belajar mengendalikan pergerakan mata dan lidah mereka, baru kemudian mengendalikan leher, bahu lengan, telapak tangan, jari-jari, badan, tungkai dan telapak kaki mereka. Di dalam perkembangan pralahir dan pascalahir terdapat kecenderungan perkembangan dari kepala menuju kaki (chepalocaudal).
Efek-efek kematangan berbeda total dengan lingkungan. Di dalam perkembangan pralahir, kematangan dapat dibedakan dari aspek-aspek lingkungan internal seperti temperatur embrio dan oksigen yang diterima oleh ibunya. Faktor-faktor lingkungan ini memang vital – yaitu mendukung pertumbuhan yang tepat – namun ternyata mereka tidak berperan langusng bagi urutan perkembangan struktur-struktur dan pola-pola aksi. Ini semua hasil dari mekanisme kematangan.
Sekali bayi dilahirkan, ia memsauki suatu lingkungan yang sangat berbeda jenisnya. Lingkungan ini bukan hanya berbicara tentang kebutuhan-kebutuhan fisiknya, namun juga lingkungan sosial dan budaya yang berusaha memengaruhi bayi untuk bertindak dengancara-cara yang benar. Gessel mengatakan bahwa anak-anak jelas memerlukan lingkungan sosial untuk menyadari potensinya, namun dia juga berpendapat bahwa daya-daya pensosialan ini bekerja maksimaljika senada dengan prinsip-prinsip kematangan yang muncul dari dalam diri mereka.
Gessel sangat menentang semua upaya yang mehgajarkan hal-hal yang jauh di luar jadwal pertumbuhan anak-anak mereka. Mereka akan duduk, berjalan dan berbicara jika mereka sudah siap, ketika sistem saraf mereka cukup matang. Pada momen yang tepat, mereka akan sanggup melakukan suatu tugas menurut desakan-desakan dari dalam dirinya. Sebelum momen itu tiba, pengajaran apa pun kecil saja nilai-nilainya, malah bisa menciptakan tegangan-tegangan antara pengasuh dan yang diasuh.
Kematangan biologis menurut Gessel mengacu pada proses di mana perkembangan manusia diatur oleh faktor-faktor intrinsik – utamanya gen-gennya, yaitu substansi kimia yang terdapat di dalam nukleus setiap sel. Gen-gen menentukan urutan, waktu dan bentuk pemunculan pola-pola tindakan.
2. Studi Pola-pola
Gessel menyatakan kalau mempelajari pertumbuhan, kita tidak boleh mengukur hanya pada hal-hal yang muncul secara kuantitaif, namun juga menyelidiki pola-polanya. Pola adalah segala sesuatu yang memiliki bentuk atau tampilan tertentu – contohnya kedipan mata. Dan yang paling penting adalah proses pemolaan itu sendiri, proses yang dengannya beberapa tindakan menjadi terorganisasikan.
Proses pemolaan paling jelas di dalam kasus penglihatan bayi. Waktu lahir, mata bayi selalu bergerak ke sana-kemari tanpa tujuan, namun setelah beberapa hari atau mungkin beberapa jam kemudian mereka mulai sanggup menghentikan mata dan menatap objek-objek untuk waktu yang singkat. Mereka dapat menghentikan mata mereka dan menatap sesuatu ‘seperti yang diinginkan’ karena suatu hubungan terpola yang baru telah dibuat antara impuls-impuls di dalam otak dan otot-otot kesil yang mebggerakkan mata mereka.
Pada usia satu bulan bayi biasanya dapat menatap sebuah cincin di hadapan mereka dan bisa mengikuti cincin itu sampai putaran 90°. Kemampuan ini mengimplikasikan pengorganisasian baru antara otot mata dan otot-otot leher lebih besar yang menggerakkan kepala.
Pemolaan ini terus meluas ketika bayi dapat mengorganisasikan pergerakan mata dengan pergerakan tangan mereka, waktu mereka bisa menatap apa yang dipegang. Pada usia empat bulan bayi biasanya dapat memegang mainan kerincingnya dan menatapnya sekaligus. “Ini adalah pertumbuhan yang signifikan. Ini berarti mata dan tangan sedang melakukan kerja sebuah tim, memasuki koordinasi yang lebih efektif. Pertumbuhan kejiwaan tidak bisa diukur dalam satuan inci atau pon, jadi kita hanya bisa mengukurnya lewat pola-pola”.
Koordinasi tangan dan mata biasanya tidak selesai pada usia empat bulan. Pada beberapa kasus hanya koordinasi mata yang lebih menonjol. Pada usia ini bayi dapat ‘memungut’ dadu satu inci atau permen yang lebih kecil ukurannya hanya lewat mata. Artinya, mereka dapat memfokuskan pandangan kepada dadu atau permen itu dan bisa melihatnya dari berbagai sudut yang berbeda, namun belum bisa memegangnya dengan tangan, bayi hanya bisa menatap dadu dan kemudian tangan mereka, seolah memiliki ide untuk menggenggam dadu tersebut tapi belum bisa melakukannya. Sistem saraf mereka belum cukup bertumbuh. Pada usia enam bulan bayi hanya sanggup mengambil dadu denga telapak tangan, dan baru pada usia sepuluh bulan mereka dapat memungut permen kecil dengan jarinya. Kalau begitu, koordinasi tangan dan mata berkembang secara perlahan dan setahap demi setahap makin terorganisasikan dan memasuki gerakan-gerakan yang lebih bervariasi dan sempurna.

3. Prinsip-prinsip perkembangan lainnya
Pengamatan Gesell menyingkapkan beberapa prinsip perkembangan lainnya. Kita dapat mengelompokkannya menjadi tiga wilayah: jalinan timbal balik, asimetri fungsional dan pengaturan diri.
a. Jalinan timbal balik
Manusia dibangun atas di dasar yang bersifat bilateral; kita memiliki dua belahan otak, dua mata, dua tangan, kaki dan seterusnya.Tindakan kita juga memiliki kualitas yang dualistik, seperti meluruskan dan melipat kaki. Jalinan timbal balik mengacu kepada proses perkembangan di mana dua kecenderungan secara bertahap meraih pengorganisasian yang efektif. Sebagi contoh, dalam perkembangan penggunaan tangan, bayi pertgama-pertama menggunakan satu tangan, lalu keduanya bersama-sama, kemudian menyukai salah satu tangan, lalu menyukai keduanya lagi, begitu seterusnya samapi akhirnya dia menemukan salah satu tangan lebih mendominasi. Sifat memilih yang maju-mundur ini bisa dimetaforiskan sebagai ‘jalinan’ sehingga dari sini muncullah istilah ‘jalinan timbal balik’. Gesell menunjukkan bagaimana jalinan timbal balik melukiskan pemolaan banyak tingkah laku, termasuk tindakan melihat, berguling-guling dan berjalan.
Gesell juga percaya bahwa jalinan timbal balik mencirikan perkembangan kepribadian. Di sini dapat dilihat organisme mengintegrasikan kecenderungan introvert dan ekstrovert. Sebagai contoh, anak-anak yang bisa mengatur diri sendiri pada usia tiga tahun tiba-tiba menjadi lebih berfokus ke dalam dirinya pada usia tiga setengah tahun, menjadi malu-malu dan tidak nyaman. Periode introversi ini diikuti oleh ayunan menuju ekstroversi pada usia empat tahun, dan dua kecenderungan ini akhirnya jadi terintegrasikan dan seimbang pada usia lima tahun. Siklus seperti ini dimulai sejak bayi dan terus berlanjut sampai usia 16 tahun. Organisme untuk sementara kehilangan keseimbangannya saat dia mengembanga ke wilayah dalam atau wilayah luar yang lebih luas, namun kemudian mengorganisasi ulang dirinya pada tingkatgan yang baru.

b. Asimetri fungsional
Melalui proses jalinan timbal-balik, kita menyeimbangkan dualitas sifat kita. Meskipun demikian, kita jarang mencapai keseimbangan sempurna atau simetris. Pada kenyataannya, tingkat asimetris berfungsi sangat tinggi, kita memang menjadi paling ekektif waktu menghadapi dunia dari satu sudut pandang, satu tangan, satu mata, dan seterusnya.
Kecenderungan asimetris bayi terlihat di dalam refleks penguat (tonic neck reflex) bayi, sebuah refleks yang ditemukan Gesell pada manusia. Gesell mencatat bahwa bayi lebih suka berbaring dnegan kepala menoleh ke satu sisi, dan saat betindak demikian mereka otomatis menggunakan refleks leher penguat. Bayi mengembangkan lengan ke sisi sesuai arah kepala (seolah-olah melihat tangan mereka) dan menekuk lengan lain di belakang kepala. Postur refleks leher penguat ini sangat mirip dengan posisi dasar seorang atlet tolak peluru. Refleks leher penguat sangat dominan selama tiga bulan pertama setelah bayi lahir dan kemudian menurun seiring dengan perkembangan baru sistem sarafnya.
c. Pengaturan diri
Gesell yakin kalau mekanisme perkembangan intrinsik begitu kuat sampai-sampai organisme bisa pada tataran yang sangat menyolok, mengatur perkembangannya sendiri. Dalam sebuag studi, dia menunjukkan bagaiman bayi bisa mengatur siklus makan, tidur, dan bangunnya sendiri. Waktu bayi diperbolehkan untuk menentukan kapan mereka perlu perawat dan tidur, secara bertahap mereka membutuhkan makanan yang semakin sedikit setiap hari dan terjaga lebih lama pada siang hari. Namun kemajuan ini tidak mengikuti garis lurus, ada banyak fluktuasi di dalamnya termasuk kemunduran. Namun bayi secara gradual sungguh dapat bekerja dengan jadwal yang tetap.
Gesell juga menulis tentang pengaturan diri ini dari sudut yang cukup berbeda, berfokus pada kemampuan organisme untuk mepertahankan seluruh integrasi dan keseimbangannya. Pertumbuhan, tentunya, juga memiliki ketidaksetimbangan seperti disebutkan di atas bahwa pola tidur dan amkan bayi sering kali fluktuatif. Kita melihat fluktuasi yang sama terjadi pula di dalam perkembangan kepribadian, di mana periode kestabilan diikuti oleh periode ketidakstabilan waktu anak memasuki fase introvert atau ekstrovert. Tegangan muncul saat anak-anak mengalami hal-hal yang tidak dikenalnya. Meskipun begitu, mekasnisme pengaturan diri ini selalu bekerja, memastikan organisme tidak pernah berjalan terlalu jauh dalam satu arah sebelum bergerak lebih nauh sekali lagi. Karena proses-proses pengaturan diri intrinsik inilah, anak-anak terkadang menolak upaya kita mengajari mereka hal-hal baru. Seolah dari dalam diri mereka ada yang berbisik agar tidak mempelajari hal-hal baru terlalu cepat. Integritas organisme harus mereka pertahankan.
Sejalan dengan pendapat di atas, Hurlock mengklasifikasikan beberapa prinsip perkembangan anak antara lain: perkembangan melibatkan perubahan, perkembangan awal lebih kritis ketimbang perkembangan selanjutnya, perkembangan merupakan hasil proses kematangan dan belajar, pola perkembangan dapat diramalkan, pola perkembangan mempunyai karakteristik yang dapat diramalkan, terdapat perbedaan individu dalam perkembangan, periode pola perkembangan, pada setiap periode perkembangan terdapat harapan sosial, setiap bidang perkembangan mengandung bahaya yang potensial, dan kebahagiaan bervariasi pada berbagai periode perkembangan.

D. Tujuan Mempelajari Perkembangan Anak Usia Dini

Beberapa alasan yang mendasari tujuan dalam mempelajari perkembangan manusia adalah karena perkembangan manusia bersifat unik, berlangsung dalam waktu panjang, dan bersifat kompleks. Oleh sebab itu, tujuan dalam mempelajari perkembangan manusia adalah sebagai berikut.

1. Ahli pendidikan dan pendidik, ahli bimbingan dan konseling, ahli keluarga berencana, ahli kesehatan, dokter dan perawat, penyelenggara penitipan anak, penyelenggara therapist, gerontologist (orang yang mempelajari dan penyelenggara perawatan orang tua) pemberantasan narkoba, pengatur penjara, ahli agama dan dai, semuanya memerlukan pemahaman terhadap perkembangan manusia.
2. Memahami perkembangan manusia memberikan manfaat bagi setiap individu, keluarga, dan masyarakat. Pada saat ini berbagai perusahaan telah memasukkan sejarah perkembangan karyawannya untuk pengembangan karir karyawan tersebut.
3. Pemahaman terhadap perkembangan manusia memberikan perspektif yang bersifat kontekstual. Hal ini disebabkan karena proses perkembangan merupakan hasil interaksi antara tiga aspek yaitu: pengaruh proses perubahan biologis, pengaruh sejarah perkembangan manusia, dan pengaruh lingkungan, seperti peristiwa-peristiwa yang dialami manusia sepanjang hidupnya.
Pemahaman terhadap perkembangan manusia bermanfaat bagi perencanaan, pengembangan dan pengendalian kehidupan manusia, baik sebagai individu, sebagai anggota masyrakat dan sebagai warga Negara kea rah yang lebih baik, lebih bermanfaat dan lebih progresif.

E. Konsep Umur dan Perkembangan
Dalam perkembangan manusia konsep umur sangat terkait dengan periode perkembangan manusia tersebut. Pada saat ini konsep umur dan periode perkembangan sudah banyak mengalami perubahan. Pada masa ini, di dalam masyarakat bukanlah hal yang luar biasa kalau usia 65 tahun menjadi ayah dari seorang balita atau pada usia 35 tahun sudah menjadi kakek. Usia 70 tahun masih menjadi mahasiswa atau usia 55 tahun mulai memasuki dunia business. Oleh sebab itu mengelompokkan manusia berdasarkan umur merupakan hal yang cukup sulit.
Pada masa sebelumnya dan sampai saat ini konsep tentang perkembangan manusia dikelompokkan berdaskan masa perkembangan dan masa perkembangan tersebut terjadi dalam rentang usia tertentu. Misalnya masa usia dini terbagi atas masa infant terjadi pada usia 0-1 tahun, masa bermain atau toodler usia 2-3 tahun, masa prasekolah 4-6 tahun, masa usia sekolah dasar 7-13 tahun, masa remaja 13-17 tahun, masa dewasa 18-60 tahun tahun dan masa tua 60 tahun keatas.
1. Umur Kronologis
Umur kronologis berkaitan dengan jumlah tahun yang telah dijalani manusia sejak ia lahir sampai saat tertentu dalam kehidupan manusia sebelum ia mati. Botwinick (1978) seperti yang dikutip oleh santrock (1997: 22) menjelaskan bahwa umur kronologis tidak relevan lagi untuk digunakan dalam menjelaskan perkembangan manusia. Selanjutnya pendapat ini diperkuat oleh Neugarten (1964: 204) yang mengemukakan bahwa factor usia atau umur kronologis merupakan hal yang lemah untuk memprediksi perkembangan manusia.
2. Umur Psikologis
Berkaitan dengan kemampuan manusia melakukan adaptasi terhadap lingkungannya dan kemampuan ini dibandingkan dengan umur kronologis. Kemamuan manusia untuk melakukan adaptasi dengan lingkungannya sangat dipengaruhi oleh proses belajar, kemampuan mengatasi masalah, kemampuan mengontrol emosi, motivasi dan cara berpikir. Berdasarkan hal tersebut dapat ditentukan bahwa sesorang mempunyai umur psikologis yang matang atau yang kurang matang.
3. Umur Sosial
Berkaitan dengan peranan sosial dan harapan-harapan seseorang dalam usia yang dilaluinya. Sesorang yang mengharapakan peranannya sebagai ibu akan berusaha menampilkan sesuatu sebagai seseorang ibu. Selanjutnya, ia akan sangat menyadari bahwa ia adalah ibu dari anak yang berusia 3 tahun. Ibu dan anak yang berusia 3 tahun menunjukkan perilaku yang berbeda dengan ibu yang menghadapi anak yang berusia 20 tahun. Umur sosial dijadikan pedoman untuk menentukan peranan dalam kehidupan, kapan akan menikah kapan akan menjadi seorang ayah atau ibu. Kapan akan menjadi nenek atau kakek.
Berdasarakan uraian tersebut di atas dapat disimpulkan bahwa sepanjang kehidupannya manusia melalui berbagai usia seperti usia kronologis, usia biologis, usia psikologis dan usia sosial. Pemahaman terhadap hal ini bermanfaat dalam mengelola perkembangan manusia sepanjang hidupnya.

F. Periode Perkembangan Anak Usia Dini
Untuk memudahkan pemahaman dan pengorganisasian, umumnya perkembangan digambarkan dalam pengertian periode. Beberapa ahli Klasifikasi periode perkembangan dalam Santrock yang paling luas digunakan dengan urutan sebagai berikut: periode pra kelahiran, masa bayi, masa awal anak-anak, masa pertengahan dan akhir anak-anak, masa remaja, masa awal dewasa, masa perntengahan dewasa, dan masa akhir dewasa.
Perkembangan individu berlangsung secara berkesinambungan. Bila ditinjau dari bentuk – bentuk perkembangan dan pola – pola perilaku yang tampak khas untuk setiap usia tertentu maka rentang kehidupan individu dapat dibagi menjadi beberapa periode perkembangan. Menurut Hurlock Periode tersebut menurut adalah sebagai berikut :
1. Masa Prenatal
Berlangsung dari konsepsi sampai lahir
2. Masa Neonatus
Berlangsung dari lahir sampai usia akhir minggu kedua setelah kelahiran
3. Masa Bayi
Berlangsung dari usia akhir minggu kedua setelah kelahiran sampai usia dua tahun
4. Masa Kanak – kanak Awal
Berlangsung mulai usia 2 tahun sampai usia 6 tahun
5. Masa Kanak – kanak Akhir
Berlangsung mulai usia 6 tahun sampai usia 10 atau 12 tahun
6. Masa Pubertas/Pra remaja
Berlansung mulai usia 10 atau 12 tahun sampai usia 13 atau 14 tahun
7. Masa Remaja Awal
Berlangsung mulai usia 13 atau 14 tahun sampai usia 17 tahun
8. Masa Remaja Akhir
Berlangsung mulai usia 17 tahun sampai uisa 21 tahun
9. Masa Dewasa Awal
Berlangsung mulai usia 21 tahun sampai usia 40 tahun
10. Masa Setengah Baya
Berlangsung mulai usia 40 tahun sampai usia 60 tahun
11. Masa Tua
Berlangsung mulai usia 60 tahun sampai meninggal dunia
Namun demikian, periode perkembangan untuk anak usia dini dijelaskan sebagai berikut:
1. Masa Prenatal
Meskipun kenyataan bahwa periode perkembangan pertama dalam rentang kehidupan ini merupakan periode yang paling singkat dari seluruh periode perkembangan, namun dalam banyak hal periode ini penting atau bahkan yang terpenting dari semua periode. Periode ini yang mulai pada saat pembuahan dan berakhir pada kelahiran, kurang lebih panjangnya 270 -280 hari atau sembilan bulan.
Meskipun relatif, periode prenatal mempunyai enam ciri penting, masing – masing ciri mempunyai akibat yang lambbat pada perkembangan selama rentang kehidupan, karakteristik itu adalah :
a. Pada saat ini sifat-sifat bauran, yang berfungsi sebagai daar bagi perkembangan selanjutnya, diturunkan sekali untuk selamanya, sementara itu kondisi-kondisi yang baik ataupun tidak baik, baik sebelum atau sesudah kelahiran sampai tingkat tertentu, dapat dan mungkin mempengaruhi sifat-sifat fisik dan psikologis yang membentuk sifat- sifat bawaan ini, perubahan-perubahan yang terjadi bersifat kuantitatif dan bukan kualitatif.
b. Kondisi-kondisi yang baik dalam tubuh ibu dapat menunjang perkembangan sifat bawaan sedangkan kondisi yang tidak baik dapat menghambat perkembangannya bahkan sampai mengganggu pola perkembangan yang akan datang.
c. Jenis kelamin individu yang baru diciptakan sudah dipastikan pada saat pembuahan dan kondisi-kondisi pada tubuh ibu tidak dapat mempengaruhinya, sama halnya dengan sifat bawaan.
d. Perkembangan dan pertumbuhan yang normal lebih banyak terjadi selama periode prenatal dibandingkan pada periode-periode lain dalam seluruh kehidupan individu
e. Periode prenatal merupakan masa yang banyak mengandung bahaya, baik fisik maupun psikologis.bahaya-bahaya psikilogis dapat sangat mempengaruhi pola perkembangan selanjutnya atau bahkan dapat mempengaruhi suatu perkembangan.
f. Periode prenatal merupakan saat-saat dimana orang yang berkepentingan membentuk sikap pada individu yang baru diciptakan.
2. Masa NeoNatus /neo Natal
Pembagian masa bayi neonatal
Periode Partunate, mulai saat kelahiran sampai antara lima belas menit dan tiga piluh menit sesudah kelahiran. Periode ini bermulq dari keluarnya janin dari rahim ibu dan berakhir setelah tali pusar dipotong dan diikat.
Peride Neonate,(dari pemotongan tali pusar dan pengikatannnya samapai sekitara akhir minggu kedua dari kehidupan pascamatur)sekarang bayi adalah individu yang terpisah, mandiri dan tidak lagi merupakan parasit.
Karakteristik bayi Neonatal :
Setiap peride ditandai oleh gejala perkembangan tertentu, berikut ini beberapa karakteristik penting :
• Masa bayi neonatal merupakan peride tersingkat dari semua periode perkembangan
• Merupakan masa terjadinya penyesuaian yang radikal
• Merupakan masa terhentinya perkembangan
• Merupakan pendahuluan dan perkembangan selanjutnya
• Merupakan periode yang berbahaya
3. Masa Bayi
Masa bayi berlangsung dua tahun pertama setelah periode bayi yang baru lahir dua minggu.ciri cirri masa bayi meskipun sama dengan cirri periode-periode lain dalam rentang kehidupan, adalah sangat penting selama dua tahun masa bayi ini,
Karakteristik masa Bayi :
• Masa bayi adalah masa dasar sesungguhnya, meskipun seluruh masa anak-anak terutama tahun-tahun terutama tahun-tahun awal dianggap sebagai masa dasar, namun masa bayi adalah dasar periode kehidupan yang sesungguhnya karena pada saat ini banyak pola perilaku, sikap dan mode ekspresi emosi terbentuk.
• Masa bayi adalah masa di mana pertumbuhan dan perubahan berjalan pesat, bayi berkembang pesat baik secara fisik maupun psikologis. Dengan cepatnya pertumbuhan ini perubahan tidak hanya terjadi dalam penampilan tetapi juga dalam kemampuan.
• Bayi adalah masa berkurangnya ketergantungan,hal ini merupakan efek dari pesatnya perkembangan pengendalian tubuh memungkinkan bayi , duduk, berdiri, berjalan dan menggerakkan benda-benda.
• Masa meningkatnya individualitas, mungkin hal-hal terpenting dalam meningkatkan kemandirian adalah bahwa keadaan ini memungkinkan bayi mengembangkan hal-hal yang sesuai dengan minat dan kemampuannya.
• Masa dimulainya sosialisasi, egosentrisme yaitu pada diri bayi muda belia , cepat berubah keinginan untuk menjadi bagian dari kelompok social.
• Masa permulaan berkembangnya penggolonganan peran seks
• Masa bayi adalah masa yang menarik, hal ini disebabkan karena anggapan bayi menarik karena ketidak berdayaan dan ketergantungannya.
• Merupakan permulaan kreativitas, dalam bulan-bulan pertama bayi Belajar mengembangkan minat dan sikap yang merupakan dasar bagi kreativitasnya kemudian dan untuk menyesuaikan diri dengan pola-pola yang diletakkan orang lain.
• Masa bayi adalah masa bahaya,bahaya bisa merupakan bahaya fisik dan bahaya psikologis
4. Masa kanak-kanak awal
Pada saat ini secara luas diketahui bahwa masa kanak-kanak dibagi menjadi dua periode yang berbeda yaitu awal dan akhir. Periode awal brlangsung dari dua sampai enam tahun dan periode akhir dari enam sampai tiba saatnya anak matang secara seksual.
Karakteristik kanak-kanak awal :
• Sebagian besar orang tua menganggapa awal masa anak-anak sebagai usia yang mengundang masalah atau masa sulit.masa bayi sering mmembawa masalah bagi orang tua dan umumnya berkisar pada masalah perawatan fisik bayi.
Pada masa awal kanak-kanak para pendidik menyebut tahun awal kanak-kanak sebagai usia pra sekolah untuk membedakannya dari saat di mana anak dianggap cukup tua, baik secara fisik dan mental, untuk menghadapi tugas-tugas pada saat mereka mulai mengikuti pendidikan formal.
• Para ahli psikiologi menggunakan sejumlah sebutan berbeda untuk menguraikan cirri yang menonjol dari perkembangan psikologis anak selama tahun-tahun awal masa kanak-kanak. Salah satu sebutan yang banyak digunakan sebagai usia kelompok, masa dimana anak-anak mempelajari dasar-dasar perilaku social sebagai persiapan bagi kehidupan social yang lebih tinggi yang diperlukan untk penyesuaian diri pada waktu mereka masuk di kelas satu.
Karena perkembangan utama yang terjadi selama awal masa kanak-kanak berkisar di seputar penguasaan dan pengendalian lingkungan, banyak ahli psikologi melabelkan sebagai usia penjelajah, sebuah label yang menunjukkan bahwa anak-anak ingin mengetahui keadaan lingkungannya, bagaimana meknismenya, bagaimana perasaannya, dan bagaimana ia dapat menjadi bagian dari lingkungannya.
Salah satu cara yang umum dalam menjelajahi lingkungan adalah dengan bertanya, jadi periode ini sering disebut sebagai usia bertanya.
Salah satu yang terpenting dan yang bagi banyak anak-anak yang merupakan tugas perkembangan yang paling sulit adalah untuk berhubungan secara emosional dengan orang tua, saudara-saudara kandung dan orang lain.
5. Masa Kanak-kanak Akhir
Akhir masa kanak-kanak (late childhood) berlangsung dari usia enam tahun sampai tiba saatnya individu matang secara seksual. Pada awal dan akhirnya, masa akhir kanak-kanak ditandai oleh kondisi yang sanagt mempengaruhi penyesuaian pribadi dan penyesuaian sosial anak.
Karakteristik akhir masa kanak-kanak :
• Bagi banyak orang tua akhir masa kanak-kanak merupakan usia yang menyulitkan, suatu masa dimana anak tidak mau lagi menuruti perintah dan dimana ia lebih banyak dipengarruhi oleh teman-teman sebaya daripada oleh orang tua dan anggota keluarga lain.
• Para pendidik melabelkan akhir masa kanak-kanak dengan uisa sekolah dasar . pada usia tersebut anak diharapkan memperoleh dasar-dasar pengetahuan yang dianggap penting untuk keberhasilan penyesuaian diri pada kehidupan dewasa, dan mempelajari pelbagai keterampilan tertentu, baik keterampilan kurikuler maupun ekstrakurikuler.
• Bagi ahli psikologi, akhir masa kanak-kanak adalah usia berkelompok, suatu masa dimana perhatian utama anak tertuju pada keinginan diterima oleh teman-teman sebaya sebagai anggota kelompok .
Tugas perkembangan akhir masa kanak- kanak ;
a. Perkembangan fisik
Akhir masa kanak-kanak merupakan periode pertumbuhan yang lambat dan relative seragam sampai mulai terjadi perubahan-perubahan pubertas, kira-kira dua tahun sebelum anak secara seksual menjadi matang pada saat dimana pertumbuhan berkembang pesat.
b. Keterampilan awal masa kanak-kanak
Anak-anak mempunyai sejumlah besar keterampilan yang mereka pelajari selama tahun-tahun prasekolah, keterampilan yang mereka pelajari sebagian besar tergantung pada lingkungan, sebagian pada kesempatan Belajar, sebagian pada bentuk tubuh dan sebagian lagi bergantung pada apa yang sedang digemari oleh teman-teman sebaya.
c. Kemajuan Berbicara
Dengan meluasnya cakrawala sosial anak, anak-anak menemukan bahwa berbicara merupakan sarana penting untuk memperoleh tempat di dalam kelompok. Anak juga mendapatkan bentuk-bentuk komunikasi yang sederhana seperti menangis dan gerak isyarat, secara sosial tidak diterima. Anak mengetahui bahwa inti komunikasi adalah ia mampu mengerti apa yang dikatakan orang lain.


G. Proses Pertumbuhan dan Perkembangan Anak Usia Dini
Proses pertumbuhan dan perkembangan menurut Santrock meliputi proses biologis, proses kognitif, dan sosial. Proses biologis di sini meliputi perubahan pada sifat fisik individu. Plasma pembawa sifat keturunan (genes) diwarisi sari orang tua, perkembangan otak, pertambahan tinggi dan berat badan, perubahan pada keterampilan motorik, perubahan hormon pubertas, dan penurunan jantung semuanya mencerminkan peran proses biologis dalam perkembangan. Proses kognitif meliputi perubahan pada pemikiran, intelegensi, dan bahasa individu. Memandang benda berwarna yang berayun-ayun di atas tempat tidur bayi, merangkai satu kalimat yang terdiri atas dua kata, menghafal syair, membayangkan seperti apa rasanya menjadi bintang film, dan memecahkan suatu teka-teki silang, semuanya mencerminkan peran proses-proses kognitif dalam perkembangan pada ketermapilan motorik dan bahasa. Dan proses sosioemosional meliputi perubahan pada relasi individu dengan orang lain, perubahan pada emosi, dan perubahan pada kepribadian. Senyum seorang bayi dalam merespon sentuhan ibunya, serangan agresif seorang anak laki-laki kecil terhadap teman mainnya, perkembangan asertivitas seorang anak perempuan, kegembiraan seorang remaja atas pesta dansa, dan afeksi pasangan manusia lanjut usia semuanya mencerminkan peran proses-proses sosioemosional dalam perkembangan.

H. Berbagai Issu tentang Perkembangan Manusia
Issu – issu yang berkaitan dengan perkembangan manusia sangat bervariasi dan melingkupi berbagai bidang kehidupan seperti: perubahan dalam karir, perceraian, penyiksaan anak, homoseksual, lesbian, kecanduan dan penyembuhan penderita narkoba, gender, ethnic dan minoritas, krisis dimasa separuh baya, krisis dimasa usia lanjut. Untuk menjawab berbagai masalah tersebut maka setiap ahli yang terkait memerlukan pemahaman terhadap perkembangan manusia. Dari berbagi issu tesebut maka yang dibahas adalah issu-issu dasar tentang perkembangan manusia yaitu proses perkembangan, periode perkembangan, kesehatan dan nutrisi, pendidikan orang tua terhadap anak.
1. Proses Perkembangan
Issu penting yang berkaitan dengan proses perkembangan dapat dibagi kedalam tiga kelompok yaitu: nature dan nurture, kontinu dan dikontinu, periode perkembangan.
2. Nature dan Nurture
Nature berkaitan dengan alam. Apabila ditinjau dari sudut perkembangan maka perkembangan manusia berlangsung secara alamiah. Dengan demikian perilaku yang ditampilkan manusia merupakan factor alamiah yang terjadi sejak manusia lahir dan factor biologis yang terjadi sepanjang kehidupan manusia. Nurture berkaitan dengan pendekatan yang ditrerapkan dalam membimbing perkembangan manusia.

Sejak lama issu-issu yang berkaitan dengan Nurture menjadi perhatian dari ahli-ahli pendidikan. John Locke berpendapat bahwa anak lahir seperti kertas putih, yang akan menulisi kertas putih tersebut adalah orang-orang disekitarnya. Teori ini dikenal dengan teori Tabularasa. Pandangan John Locke menjadi insprisi bagi Watson yang mengembangkan teori pendidikannya dan berdasarkan percobaan yang dilakukan oleh Ivan Pavlop. Selanjutnya, Skinner mengembangkan teori operant conditioning, untuk mengoreksi berbagai kelemahan yang ada pada percobaan-percobaan sebelumnya. Hasil penelitian tersebut menimbulkan aliran behavioristik dalam pendidikan.
Rousseau, adalah ahli pendidikan yang pertama kali menganjurkan bahwa alamlah yang mendidik anak. Oleh sebab itu campur tangan orang tua dan orang dewasa tidak diperlukan dalam pendidikan. Sesuai dengan perkembangannya yang bersifat almiah anak akan belajar dan memperoleh berbagai pengalaman yang berguna dalam hidupnya. Pandangan Rousseau diiikuti oleh para ahli pendidikan setelahnya seperti teori pendidikan yang dikembangkan oleh Hall dan Gesell.
Para ahli pendidikan lainnya tidak bersepakat dengan Rousseau. Piaget, Vigitsky, Erikson, Ki Hajar Dewantara meyakini bahwa perkembangan manusia yang dilakukan melalui proses pendidikan perlu memperhatikan factor alami ang dimilki anak dan factor lingkungan yang memberikan berbagai pengalaman pada anak dalam pertumbuhan dan perkembangannya untuk menjadi manusia dewasa yang cerdas, kreatif dan bermoral serta religious.
3. Kontinu dan Diskontinu
Kontinu mengandung arti bahwa perkembangan berlangsung secara terus menerus dan berhenti pada waktu pada manusia mati. Perkembangan ini berlangsung secara bertahap, dan kumulatif artinya perkembangan sebelumnya menjadi dasar perkembangan yang akan datang. Diskontinu berarti bahwa perkembangan yang terjadi pada suatu fase tertentu akan berhenti. Seperti perkembangan pada masa bayi atau infant akan berhenti setelah anak memasuki masa 2-3 tahun. Dan perkembangan pada masa usia dini akan berhenti setelah anak memasuki masa anak. Perkembangan pada masa anak akan berhenti setelah anak memasuki masa remaja.
4. Stabilitas dan Perubahan
Issu lain yang berkaitan dengan perkembangan manusia adalah stabilitas dan perubahan yang berarti dalam tingkat tertentu ,anusia menjadi tua dan berbagai pengalaman yang diperoleh sejak usia dini sampai tua menjadi struktur pengetahuan yang mencakup berbagai konsep, prinsip, proposisi, dan teori serta berbagai keterampilan tentang prosedur, hidup, berkomunikasi, dll, yang terorganisir secra teratur didalam memori yang disebut schemata. Schemata manusia ada yang bersifat stabil dan dalam kestabilan tersebut schemata selalu berkembang dan diperluas sejalan dengan pengalaman hidup manusia. Misalnya, pengetahuan tentang kucing bersifat stabil dimanapun dan kapanpun kucing tetap kucing. Dalam kestabilan tersebut, pengetahuan tentang kucing dapat dimodifikasi dan dikembangkan dalam berbagai bidang, misalnya, jenis-jenis kucing, cara memelihara kucing, dan penyakit yang ditimbulkan kucing.
Sampaisaat inimasi diperdebatkan mana yang lebih dominan dalam perkembangan hidup manusia stabilitas atau perubahan. Klaus Riegel (1977) mengemukakan bahwa perubahan merupakan kunci dalam kehidupan manusia. Untuk memahami perkembangan manusia maka perlu memahami hal-hal yang berkaitan dengan perubahan dalam perkembangan manusia. Riegel mengemukakan pertanyaan “dalam apa individu terus berubah kerena perubahan menyangkut berbagai factor yang menjadi pendorong dan penahan perkembangan”. Oleh sebab itu ia menyimpulkan bahwa perubahan manusia dalam bereaksi dan memebalas reaksi ditentukan oleh kondisi yang berada disekitarnya. Sebagai contoh dapat dijelaskan tentang perkembangan anak. Pada usia dini anak tergantung pada orang tuanya, setelah anak besar, ia tidak lagi menggantungkan dari pada orang tuanya. Oleh sebab itu ketergantungan anak usia dini pada orang tua merupakan suatu hal yang bersifat tetap stabil. Perubahan terjadi setelah ia besar yang lebih memilih kehiduoan yang mandiri.

5. Normatif dan Idiografic
Vasta, Haith dan Miller (1999:22) menjelaskan tentang normative dan idiografi dalam perkembangan manusia. Beberapa ahli psikologi perkembangan berpegang pada prinsip normative artinya manusia berkembang sesuai dengan hokum perkembangan. Ahli psikologi yang lain berpegang pada prinsip bahwa perkembangan manusia berbeda antara yang satu dengan yang lainnya.
Para peneliti dalam psikologi perkembangan yang meyakini bahwa perkembangan bersifat normative, di antaranya Gessell dan pada tingkat tertentu Piaget, yang mendasarkan pandangan mereka pada pandangan biologis yang berkaitan dengan perkembangan manusia. Oleh sebab itu, focus perkembangan manusia diletakkan pada perkembangan normal, sehingga dapat dianalisis perkembangan manusia tahap demi tahap dalam bentuk perkembangan normal. Dengan demikian pandangan ini menyatakan bahwa dimana dan dalam ras apapun perkembangan manusia secara normal adalah sama.
Para peneliti dibidang psikologi perkembangan manusia yang meyakini prinsip bahwa perkembangan manusia bervariasi menyandarkan pandangan mereka pada keyakinan yang berkaitan dengan perkembangan manusia tidak hanya ditentukan oleh factor biologis akan tetapi juga ditentukan oleh factor lingkungan seperti factor sosial dan kebudayaan serta pengalaman hidupnya yang berpengaruh pada pengembangan manusia, sehingga pada masa dewasa manusia tersebut menjadi individu yang unik.
Perpaduan antara kedua pandangan tersebut dapat dibuktikan dalam perkembangan bahasa. Pada batas tertentu perkembangan bahasa dikontrol oleh mekanisme khusus yang dikendalikan oleh otak dan pada bagian yang lain, perkembangan bahasa dipengaruhi oleh lingkungan sosial budaya.
6. Assessmen Perkembangan
Perkembangan tidak hanya terbatas pada issu-issu yang telah diuraikan pada bagian terdahulu, akan tetapi, perkembangan juga menyangkut hal-hal yang berkaitan dengan assessment perkembangan. Assessmen mencakup dua bentuk kegiatan yaitu pengukuran dan penilaian. Pengukuran dan perkembangan dapat dilakukan dengan berbagai tes perkembangan dan evaluasi perkembangan yang menyangkut penentuan kualitas perkembangan, yang ditentukan berdasarkan hasil pengukuran perkembangan yang menghasilkan keputusan, seperti perkembangan normal, dibawah normal,atau di atas normal. Oleh sebab itu, perlu juga dikembangkan hal-hal yang berkaitan dengan assessmen perkembangan sehingga dapat dihasilkan keputusan tentang kualitas perkembangan manusia secara akurat.


BAB III
PENUTUP

A. Kesimpulan
Dari pembahasan yang telah dilakukan pada bab sebelumnya, maka dapat ditarik kesimpulan sebagi berikut:
1. Perkembangan anak usia dini adalah sesuatu yang merujuk pada perubahan-perubahan tertentu yang terjadi dalam sepanjang siklus kehidupan anak sejak lahir hingga usia delapan tahun, perubahan yang tidak dapat berulang, tidak dapat diputar kembali, dan bersifat tetap.
2. Faktor- faktor yang mempengaruhi perkembangan anak yaitu meliputi faktor herediter, pengaruh kontekstual umum, pengaruh normatif dan normatif, dan pengaruh waktu:periode sensitif atau kritis.
3. Aspek perkembangan anak usia dini meliputi: perkembangan fisik-motorik, perkembangan kognitif, perkembangan sosio emosional, perkembangan bahasa dan komunikasi, serta perkembangan moral dan agama.
4. Prinsip-prinsip perkembangan anak usia dini antara lain: konsep kematangan, studi pola-pola, dan beberapa prinsip perkembangan lainnya yang dibagi menjadi tiga wilayah yaitu jalinan timbal balik, asimetri fungsional dan pengaturan diri.
5. Tujuan mempelajari hakikat perkembangan anak usia dini adalah karena perkembangan manusia bersifat unik, berlangsung dalam waktu panjang, dan bersifat kompleks.
6. Konsep umur dalam perkembangan anak usia dini dibagi menjadi umur kronologis, umur psikologis, dan umur sosiologis.
7. Periode perkembangan anak usia dini meliputi periode pra kelahiran, masa bayi, masa awal anak-anak, masa pertengahan dan akhir anak-anak, masa remaja, masa awal dewasa, masa perntengahan dewasa, dan masa akhir dewasa.
8. Proses pertumbuhan dan perkembangan anak usia dini yang dijelaskan meliputi proses biologis, proses kognitif, dan sosial
B. Saran
Sebagai pendidik dan calon pendidik anak usia dini, bahkan bagi orang tua dan calon orangtua sebaiknya memahami hakikat perkembangan anak usia dini agar dapat memberikan stimulasi yang tepat pada anak sesuai dengan hakikat anak usia dini dan tahap perkembangannya. Makalah ini akan membantu para pembaca untuk memahaminya. 

DAFTAR PUSTAKA

Crain William. Teori Perkembangan: Konsep dan Aplikasi. Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2007.
Hastuti. Psikologi Perkembangan Anak. Yogyakarta: Tugu Publisher, 2011.
Hildayani, Rini. Psikologi Perkembangan Anak. Jakarta: Universitas Terbuka, 2011.
Hurlock Elizabeth B. Perkembangan Anak. Jakarta: Erlangga. 1987
Hurlock. Psikologi Perkembangan: Suatu Pendekatan. Jakarta: Erlangga. 2004
Monks, Knoers, dan Haditono. Psikologi Perkembangan: Pengantar dalam Berbagai Bagiannya. Yogyakarta: Universitas Gajah Mada Press, 2006
Santoso,Soegeng. Pendampingan Perkembangan Anak Usia Dini. Departemen Pendidikan Nasional Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi Direktorat Pembinaan Pendidikan Tenaga Kependidikan Dan Ketenagaan Perguruan Tinggi Proyek Peningkatan Tenaga Akademik: April, 2004
Santrock. Life-Span Development: Perkembangan Masa Hidup. Jilid 1. Jakarta: Erlangga 2002

DILEMA IBU KARIR

Oleh: Prima S. Rohmadheny

Perempuan sebagai seorang ibu dan isteri dalam rumah tangga menempatkannya dalam peran yang sangat penting dalam keluarga. Sudah sejak lama sekali seorang perempuan yang berperan sebagai isteri sekaligus ibu juga membantu mendongkrak perekonomian keluarga dengan bekerja membantu suami. Baik itu bekerja membantu pekerjaan suami, berwirausaha, maupun berkarir sebagai pegawai yang tidak berkaitan dengan pekerjaan suami.
Bukan hal baru jika setiap ibu (baru melahirkan) yang juga bekerja mengalami dilema yang sangat hebat. Ibu yang berkarir selalu dihadapkan dengan pilihan antara ngemong anak dan tetap bekerja setelah cuti yang maksimal hanya 3 bulan telah berakhir. Banyak sekali pilihan solusi yang ditawarkan dan tak sedikit yang telah melakoninya. Ada diantara mereka yang memilih ngemong anak dan keluar dari pekerjaannya sehingga dapat dengan maksimal mendidik anak dan memenuhi hak anak. Namun setelah rata-rata anak mencapai usia 2 tahun, mereka mulai mencari pekerjaan lagi. Ada pula yang memilih untuk tetap bekerja setelah masa cuti berakhir dan menitipkan anaknya untuk dirawat oleh neneknya, tetangganya, saudaranya, atau pembantu dan baby sitter. Dan ada pula yang menitipkan anaknya di Tempat Penitipan Anak (TPA) untuk keluarga yang tinggal di kota besar dan jauh dari saudara. Semua pilihan solusi memiliki resiko masing-masing. Dan setiap resiko dalam pengasuhan anak sejak lahir hingga usia delapan tahun (anak usia dini), akan berdampak besar bagi perkembangan anak di kehidupan mendatang dalam segala aspeknya.
Melalui hasil sesi tanya jawab seminar dan talkshow yang diselenggarakan oleh program studi Pendidikan Guru Pendidikan Anak Usia Dini (PG PAUD) Fakultas Ilmu Pendidikan IKIP PGRI Madiun pada hari minggu, 14 April 2013 dengan tajuk “Harmonisasi budaya belajar di sekolah dan di rumah”, diperoleh satu kesimpulan bahwa ibu bekerja atau ibu yang memiliki keaktifan di luar rumah pada saat anak masih usia dini memiliki tingkat rasa bersalah yang tinggi pada anaknya. Seminar dan talkshow yang dihadiri oleh Prof. Dr. Daniel M. Rosyid, Penasehat Dewan Pendidikan Jawa Timur dan Bunda Diah Litasari, S.Pd., Penemu metode “KUBACA” serta rektor IKIP PGRI Madiun Dr. Parji, M.Pd. ini menggugah para ibu yang bekerja (peserta seminar dan talkshow) ketika anak masih usia dini untuk menemukan solusi cerdas atas persoalan ini, yakni dengan menciptakan waktu yang berkualitas bagi anak meskipun dengan kuantitas yang rendah. Akan tetapi, ternyata solusi cerdas dari seorang ibu yang bekerja membutuhkan dukungan dari tempat bekerja, lingkungan, dan pemerintah. Karena, menerapkan solusi untuk menciptakan waktu yang berkualitas hanya bisa diterapkan jika anak sudah di atas usia 2 tahun. Jika anak masih berada di bawah usia tersebut, terutama di bawah 6 bulan hal ini akan sulit diterapkan dan justru bertentangan dengan program baik pemerintah untuk memberikan ASI eksklusif untuk anak sejak lahir hingga usia 6 bulan.
Disarikan berdasarkan NAEYC (National Association of Early Young Children), anak usia dini didefinisikan sebagai individu yang unik dan sedang berkembang pesat serta fundamental dalam rentang usia sejak lahir hingga delapan tahun. Sedangkan berdasarkan Undang-undang nomor 20 tahun 2003 pasal 28 ayat 1 menyatakan bahwa pendidikan anak usia dini diselenggarakan bagi anak sejak lahir sampai dengan usia enam tahun dan bukan merupakan pra syarat untuk memasuki pendidikan dasar. Selanjutnya bab I pasal 1 ayat 14 ditegaskan bahwa Pendidikan Anak Usia Dini adalah suatu upaya pembinaan yang ditujukan kepada anak sejak lahir sampai dengan usia enam tahun yang dilakukan dengan pemberian rangsangan pendidikan untuk membantu pertumbuhan dan perkembangan jasmani dan rohani agar anak memiliki kesiapan dalam memasuki pendidikan lebih lanjut. Rangsangan pendidikan ini maksudnya bukan hanya diperoleh dari lembaga pendidikan saja melainkan lebih utama dari lingkungan keluarga.
Pengertian di atas didasarkan pada hasil penelitian beberapa ahli perkembangan otak yang menyatakan bahwa elatisitas perkembangan otak 80% berlangsung pada usia anak 4 tahun pertama. Hal ini berarti, anak usia dini berada pada usia emas (golden age) dengan masa peka yang sangat tinggi dibanding usia setelahnya. Itulah mengapa kehadiran seorang ibu sebagai orang pertama yang yang memberikan pendidikan awal dalam keluarga menjadi sangat dibutuhkan oleh anak usia dini.
Pada dasarnya, pemerintah telah menyadari hal ini sebagai sesuatu yang amat penting untuk mendapat perhatian. Oleh karena itu, pendidikan terutama untuk anak usia dini menjadi misi berharga untuk mewujudkan MDG’s (Millenium Development Golds) yang menyebutkan bahwa pada tahun 2025 pemimpin Indonesia adalah anak-anak yang saat ini berada pada usia dini. Jika pendidikan untuk anak usia dini (keluarga, lingkungan, dan lembaga pendidikan) itu baik dan benar, maka anak usia dini calon pemimpin bangsa ini pun akan tumbuh menjadi pemimpin bangsa yang tidak hanya sehat, cerdas, dan ceria namun juga berakhlak mulia, memiliki karakter yang BaKu (Baik dan Kuat).
Masa-masa usia dini, terutama batita merupakan masa yang berharga jika hanya untuk dilewatkan tiap jengkal perkembangannya terutama oleh seorang ibu. Setiap ibu tidak ada yang tidak mendambakan untuk dapat mengikuti dan mengamati tiap jengkal perkembangan dan pertumbuhan anaknya. Lalu, bagaimana dengan seorang ibu yang bekerja di saat anak-anaknya masih batita, terutama pada 2 tahun pertama pertumbuhannya?
Ide brilian Dahlan Iskan, menteri BUMN yang berencana untuk memberlakukan aturan cuti 2 tahun bagi pegawai perempuan di BUMN yang melahirkan dan sedang menyusui ternyata sangat rasional dan mengandung visi yang sangat jauh ke depan. Terinspirasi dari ide tersebut, saya yakin jika ide tersebut digodog dengan serius dan menjadi peraturan perundang-undangan yang jelas yang dikeluarkan oleh pemerintah sehingga diteruskan untuk berlaku di semua instansi baik pemerintahan maupun swasta maka hal ini akan menjadi kekuatan yang hebat untuk melahirkan calon pemimpin bangsa di masa mendatang melalui pendidikan awal sang Ibu. Tentu saja, dalam pelaksanaannya perlu terjadi integrasi yang baik antara pemberian kesempatan cuti 2 tahun bagi Ibu bekerja, bekal pendidikan cara mendidik anak yang baik dan benar untuk kedua orang tua melalui pendidikan/konsultasi pra nikah, instansi kesehatan dan lembaga-lembaga pendukung lain. Karena, kuantitas tetap harus mendapat dukungan kualitas agar mendapat hasil yang optimal.
Jika pemberian cuti 2 tahun ini diterapkan, maka keuntungan yang didapatkan adalah peluang ibu untuk memberikan ASI eksklusif lebih besar, peluang untuk memperhatikan stimulasi pendidikan awal dari seorang ibu meningkat, program MDGS’s mendapat dukungan, dan dilema ibu karir sebagai Kartini masa kini dapat terjawab.

Blended Learning dan Peluangnya

BAB I
PENDAHULUAN

A. LATAR BELAKANG
Dunia pendidikan di era globalisasi saat ini dituntut untuk mempersiapkan peserta didik menampilkan keunggulan dirinya yang cerdas, kreatif serta mandiri. Pendidkan yang bermutu harus mencakup dua dimensi yakni orientasi akademis dan orientasi keterampilan yang esensial. Orientasi akademis menitik beratkan pada peserta didik, sedang orientasi keterampilan hidup memberi bekal kepada peserta didik untuk dapat survive di kehidupan nyata.
Sistem pembelajaran di sekolah harus mampu memberikan kesempatan kepada peserta didik untuk meningkatkan dan mengembangkan potensinya secara optimal. Yang juga penting diperhatikan adalah metode yang yang digunakan dapat menstimulan potensi dan bakat peserta didik,sehingga dapat mengcover kebutuhan siswa dan tantangan perkembangan teknologi.
Situasi seperti ini mendorong berbagai lembaga memanfaatkan berbagai system pendekatan dalam strategi pembelajaran. Pendekatan yang dilakukan dengan memanfaatkan berbagai macam media dan tekhnologi untuk meningkatkan efektifitas dan fleksibilitas pembelajaran. System ini dikenal dengan istilah Blended Learning. Melalui blended learning system pembelajaran menjadi luwes dan tidak kaku.

B. RUMUSAN MASALAH
1. Apa itu Blended Learning?
2. Apa latar belakang pembelajaran dengan pendekatan Blended Learning?
3. Bagaimana pelaksanaan Blended-Learning dalam dunia pendidikan?
4. Apa peluang dan hambatan pelaksanaan Blended Learning?
5. Bagaimana implementasi blended learning dalam Pendidikan Anak Usia Dini?

C. TUJUAN
1. Mendeskripsikan pengertian blended learning
2. Menjelaskan latar belakang munculunya pembelajaran dengan pendekatan Blended Learning
3. Mendeskripsikan pelaksanaan Blended-Learning dalam dunia pendidikan
4. Menjelaskan peluang dan hambatan pelaksanaan Blended Learning
5. Menjelaskan implementasi blended learning dalam Pendidikan Anak Usia Dini

BAB II
PEMBAHASAN

A. Blended Learning
Berikut ini akan dipaparkan mengenai pengertian blended learning, karakteristik blended learning, serta tujuan blended learning.
1. Pengertian Blended Learning
Blended learning istilah yang berasal dari bahasa inggris, yang terdiri dari dua suku kata, blended dan learning. Blended merupakan campuran, kombinasi yang baik. Sedangkan learning merupakan pembelajaran. Sedangkan menurut Harding, Kaczynski dan Wood yang dikutip dalam Charman, blended learning merupakan pendekatan pembelajaran yang mengintegrasikan pembelajaran tradisonal tatap muka dan pembelajaran jarak jauh yang menggunakan sumber belajar online dan beragam pilihan komunikasi yang dapat digunakan oleh guru dan siswa. Pelaksanaan pendekatan ini memungkinkan penggunaan sumber belajar online, terutama yang berbasis web, dengan tanpa meninggalkan kegiatan tatap muka.
Dengan pelaksanaan blended learning ini, pembelajaran berlangsung lebih bermakna karena keragaman sumber belajar yang mungkin diperoleh. Jadi blended learning dapat diartikan sebagai proses pembelajaran yang memanfaatkan berbagai macam pendekatan. Pendekatan yang dilakukan dapat memanfaatkan berbagai macam media dan teknologi. Secara sederhana dapat dikatakan bahwa blended learning adalah pembelajaran yang mengkombinasikan antara tatap muka (pembelajaran secara konvensional, dimana antara pebelajar dan pemelajar saling berinteraksi secara langsung, masing-masing dapat bertukar informasi mengenai bahan-bahan pegajaran), belajar mandiri (belajar dengan berbagai modul yang telah disediakan) serta belajar mandiri secara online.
Penerapan blended learning tidak terjadi begitu saja. Tapi,terlebih dulu harus ada pertimbangan karakteristik tujuan pembelajaran yang ingin kita capai, aktifitas pembelajaran yang relevan serta memilih dan menentukan aktifitas mana yang relevan dengan konvensional dan aktifitas mana yang relevan untuk online learning.
Blended learning adalah metode pembelajaran yang memadukan pertemuan tatap muka dengan materi online secara harmonis. Perpaduan antara training konvensional di mana trainer dan trainee bertemu langsung dengan training online yang bisa diakses kapan saja, di mana saja 24 jam sehari, 7 hari seminggu. Adapun bentuk lain dari blended learning adalah pertemuan virtual antara trainer dengan trainee. Mereka mungkin saja berada di dua dunia berbeda, namun bisa saling memberi feedback, bertanya, atau menjawab. Semuanya dilakukan secara real time. Sebagian menyebutnya dengan long distance instructed learning, yang lain menyebutnya virtual instructor led training, training yang dipandu oleh instruktur betulan secara virtual karena antara peserta dan instruktur berada di tempat yang berbeda. Apapun namanya, model pembelajaran ini memanfaatkan teknologi IT lewat media video conference, phone conference, atau chatting online.
Blended learning menjadi model yang menarik di pendidikan tinggi sebagai inovatif baru teknologi informasi menjadi semakin tersedia. Namun, hanya pencampuran belajar tatap muka dengan teknologi informasi tidak dapat memberikan pengajaran yang efektif dan efisien sebagai solusi untuk belajar. Untuk menjadi sukses, blended learning harus bergantung pada teori belajar yang solid dan pedagogis strategi. Selain itu, ada kebutuhan untuk pendekatan penelitian desain berbasis untuk mengeksplorasi pembelajaran campuran melalui siklusberturut-turut eksperimentasi, di mana kekurangan masing-masing siklus diidentifikasi, didesain ulang, dan dievaluasi ulang.

2. Karakteristik Blended Learning
Adapun hal-hal yang menjadi karakteristik dari blended learning antara lain:
a. Pembelajaran yang menggabungkan berbagai cara penyampaian, model pengajaran, gaya pembelajaran, serta berbagai media berbasis teknologi yang beragam.
b. Sebagai sebuah kombinasi pengajaran langsung (face to face), belajar mandiri, dan belajar mandiri via online.
c. Pembelajaran yang didukung oleh kombinasi efektif dari cara penyampaian, cara mengajar dan gaya pembelajaran.
d. Guru dan orangtua peserta belajar memiliki peran yang sama penting, guru sebagai fasilitator, dan orangtua sebagai pendukung.
Sedangkan kategori dalam blended learning ada dua yang utama, yaitu :
a. Peningkatan bentuk aktifitas tatap-muka (perkuliahan). Banyak pengajar menggunakan istilah ‘blended learning’ untuk merujuk kepada penggunaan teknologi informasi dan komunikasi dalam aktifitas tatap-muka, baik dalam bentuknya yang memanfaatkan internet (web-dependent) maupun sebagai pelengkap (web-supplemented) yang tidak merubah model aktifitas.
b. Hybrid learning, yakni pembelajaran model ini mengurangi aktifitas tatap-muka (perkuliahan) tapi tidak menghilangkannya, sehingga memungkinkan mahasiswa untuk belajar secara online.
Menurut Jared M. Carman, seorang President Aglint Learning menyebutkan lima kunci dalam mengembangkan blended learning. Adapun ke-5 kunci tersebut yaitu:
a. Live Event
Pembelajaran langsung atau tatap muka (instructor-led instruction) secara sinkronous dalam waktu dan tempat yang sama (classroom) ataupun waktu sama tapi tempat berbeda (seperti virtual classroom). Bagi beberapa orang tertentu, pola pembelajaran langsung seperti ini masih menjadi pola utama. Namun demikian, pola pembelajaran langsung inipun perlu didesain sedemikian rupa untuk mencapai tujuan sesuai kebutuhan.
b. Self-Paced Learning
Mengkombinasikan pembelajaran konvensional dengan pembelajaran mandiri (self-paced learning) yang memungkinkan peserta belajar belajar kapan saja, dimana saja dengan menggunakan berbagai konten (bahan belajar) yang dirancang khusus untuk belajar mandiri baik yang bersifat text-based maupun multimedia-based (video, animasi, simulasi, gambar, audio, atau kombinasi dari kesemuanya). Bahan belajar tersebut, dalam konteks saat ini dapat dikirim secara online (via web maupun via mobile dovice dalam bentuk: streaming audio, streaming video, e-book, dll) maupun offline (dalam bentuk CD, cetak, dll).
c. Collaboration
Mengkombinasikan kolaborasi, baik kolaborasi pengajar, maupun kolaborasi antar peserta belajar yang kedua-duanya bisa lintas sekolah/kampus. Dengan demikian, perancang blended learning harus meramu bentuk-bentuk kolaborasi, baik kolaborasi antar peserta belajar atau kolaborasi antara peserta belajar dan pengajar melalui tool-tool komunikasi yang memungkinkan seperti chatroom, forum diskusi, email, website/webblog, mobile phone. Tentu saja kolaborasi diarahkan untuk terjadinya konstruksi pengetahuan dan keterampilan melalui proses sosial atau interaksi sosial dengan orang lain, bisa untuk pendalaman materi, problem solving, project-based learning, dll.

d. Assessment
Tentu saja, dalam proses pembelajaran jangan lupakan cara untuk mengukur keberhasilan belajar (teknik assessment). Dalam blended learning, perancang harus mampu meramu kombinasi jenis assessmen baik yang bersifat tes maupun non-tes, atau tes yang lebih bersifat otentik (authentic assessment/portfolio) dalam bentuk project, produk dll. Disamping itu, juga pelru mempertimbangkan antara bentuk-bentuk assessmen online dan assessmen offline. Sehingga memberikan kemudahan dan fleksibilitas peserta belajar mengikuti atau melakukan assessmen tersebut.
e. Performance Support Materials
Ini bagian yang juga jangan sampai terlupakan. Jika kita ingin mengkombinasikan antara pembelajaran tatap muka dalam kelas dan tatapmuka virtual, pastikan sumber daya untuk mendukung hal tersebut siap atau tidak, ada atau tidak. Bahan belajar disiapkan dalam bentuk digital, apakah bahan belajar tersebut dapat diakses oleh peserta belajar baik secara offline (dalam bentuk CD, MP3, DVD, dll) maupun secara online (via website resemi tertentu). Atau, jika pembelajaran online dibantu dengan suatu Learning/Content Management System (LCMS), pastikan juga bahwa aplikasi sistem ini telah terinstal dengan baik, mudah diakses, dan lain sebagainya.

3. Tujuan Blended Learning
Blended learning memiliki beberapa tujuan sebagai berikut:
a. Membantu pemelajar untuk berkembang lebih baik di dalam proses belajar, sesuai dengan gaya belajar dan preferensi dalam belajar.
b. Menyediakan peluang yang praktis realistis bagi guru dan pemelajar untuk pembelajaran secara mandiri, bermanfaat, dan terus berkembang.
c. Peningkatan penjadwalan fleksibilitas bagi pemelajar, dengan menggabungkan aspek terbaik dari tatap muka dan instruksi online. Kelas tatap muka dapat digunakan untuk melibatkan para siswa dalam pengalaman interaktif. Sedangkan kelas online memeberikan pemelajar Sedangkan porsi online memberikan para siswa dengan konten multimedia yang kaya akan pengetahuan pada setiap saat, dan di mana saja selama pemelajar memiliki akses internet

B. Latar Belakang Munculnya Blended Learning
Dunia Pendidikan di era globalisasi saat ini dituntut untuk mempersiapkan peserta didik menampilkan keunggulan dirinya yang cerdas, kreatif serta mandiri. Pendidikan yang bermutu harus mencakup dua dimensi yakni orientasi akademis dan orientasi ketrampilan hidup yang esensial. Orientasi akademis menitik beratkan pada peserta didik, sedangkan orientasi ketrampilan hidup memberi bekal kepada peserta didik untuk dapat survive di kehidupan nyata.
Teknologi Informatika yang telah menjadi mata pelajaran di TK/SD/SMP/SMA menuntut sekolah agar memfasilitasi media pembelajarannya. Dan ini harus dikelola dengan manajemen sekolah yang baik, dengan ditunjang sistem, metode, sarana dan prasarana yang baik dan memadai, Sistem pembelajaranpun harus dapat memberikan kesempatan pada peserta didik yang memiliki potensi lebih untuk dapat mengembangkan dan meningkatkan potensinya. Serta metode yang digunakan harus dapat menstimulan potensi dan bakat peserta didik agar lebih maksimal. Sehingga dapat memenuhi kebutuhan siswa dan tantangan perkembangan teknologi.
Situasi seperti saat ini mendorong berbagai lembaga pendidikan memanfaatkan berbagai macam sistem pendekatan dalam strategi pembelajaran. Pendekatan yang dilakukan dengan memanfaatkan berbagai macam media dan teknologi untuk meningkatkan efektivitas dan fleksibilitas pembelajaran. Oleh karena itu, muncullah suatu sistem belajar yang dikenal dengan istilah blended learning. Melalui blended learning sistem pembelajaran menjadi lebih luwes dan tidak kaku.
Blended learning merupakan suatu strategi belajar yang berasal dari pertimbangan-pertimbangan dalam menyempurnakan sistem belajar e-learning. Dari studi yang ada, kendala terbesar e-learning adalah proses interaksi langsung antara pemelajar dengan pebelajar. Bagaimanapun belajar merupakan proses dua arah. Peserta memerlukan feedback dari pemelajar dan sebaliknya pemelajar juga memerlukan feedback dari pesertanya. Dengan cara ini akan didapat hasil belajar yang lebih efektif, tepat sasaran.
Hal ini menjawab mengapa program e-learning tidak selalu mendapat hasil memuaskan. Seringkali materi sudah banyak dan tersedia dengan lengkap. Orang juga bisa belajar kapan saja dan di mana saja, asal terkoneksi lewat jaringan nirkabel. Namun tetap saja tingkat penggunaan materi-materi e-learning tersebut tergolong rendah. Secara sederhana dapat dikatakan seseorang butuh teman dan butuh feedback langsung. Sama seperti yang kita rasakan dalam pembelajaran konvensional di ruang kelas.
Selain itu e-learning menciptakan kesan kesendirian sehingga seseorang tidak bisa bertahan lama dalam belajar. Dalam setengah jam, seseorang sudah malas dan tidak terlalu termotivasi untuk melanjutkan pembelajarannya. Bukan karena materinya tidak bagus atau sistem online dari materi yang disajikan kurang interaktif, melainkan orang merasa sedang sendiri dan dia perlu orang lain. Belajar secara mandiri dibutuhkan motivasi dan kesadaran tinggi dari pebelajarnya.
Berdasarkan pertimbangan permasalah tersebut, metode pembelajaran yang lebih efektif digunakan adalah blended learning, dimana siswa dapat belajar secara mandiri dan secara konvensional, keduanya menawarkan kelebihan-kelebihan yang dapat saling melengkapi.
Blended Learning dibutuhkan pada saat metode pengajaran jarak jauh tidak begitu dibutuhkan. Proses pengajaran blended learning ini dibutuhkan pada pemelajar yang membutuhkan penambahan pelajaran.
Blended learning dibutuhkan pada saat :
a. Proses belajar mengajar tidak hanya tatap muka, namun menambah waktu pembelajaran dengan memanfaatkan teknologi dunia maya.
b. Mempermudah dan mempercepat proses komunikasi non-stop antara pengajar dan siswa.
c. Siswa dan pengajar dapat diposisikan sebagai pihak yang belajar.
d. Membantu proses percepatan pengajaran.
e. Perkembangan teknologi informasi yang sangat pesat dewasa ini, khususnya perkembangan teknologi internet turut mendorong berkembangnya konsep pembelajaran jarak jauh ini. Ciri teknologi internet yang selalu dapat diakses kapan saja, dimana saja, multiuser serta menawarkan segala kemudahannya telah menjadikan internet suatu media yang sangat tepat bagi perkembangan pendidikan jarak jauh selanjutnya. Hal ini lah mengapa untuk saat ini sistem pembelajaran secara blended learning masih sangat baik di terapkan di Indonesia agar lebih dapat terkontrol secara tradisional juga.

C. Pelaksanaan Blended-Learning dalam Dunia Pendidikan
Blended learning dipergunakan untuk mendeskripsikan suatu situasi pembelajaran yang menggabungkan beberapa metode penyampaian yang bertujuan untuk memberikan pengalaman yang paling efektif dan efisien (Harriman, 2004; Williams, 2003).Kombinasi yang dimaksud dapat berupa gabungan beberapa macam teknologi pengajaran, misalnya video, CD-ROM, film, atau internet dengan pengajaran tatap muka (face to face) yang dilakukan oleh dosen/pendidik. Singh (2003) menyebut hal ini dengan istilah blended e-learning.
Dari perspektif course design, jenis pengajaran blended ini dapat berada di antara pengajaran yang sepenuhnya tatap muka sepenuhnya dan pembelajaran on-line. Kerres and De Witt (2003) mengemukakan kerangka 3C untuk para pengajar yang hendak merancang blended learning, yang meliputi content (isi materi pembelajaran), communication (komunikasi antara siswa dan guru serta antarsiswa sendiri). Dan construction (penciptaan kondisi mental pembelajar untuk membantu memetakan posisi mereka dalam lanskap pembelajaran).
Dari perspektif guru dan dalam dunia pendidikan, pendekatan blended e-learning memerlukan keterampilan baru agar pembelajar dapat menyerap sebanyak-banyaknya dari pelajaran yang diberikan. Martyn (2003) mengatakan bahwa suatu lingkungan blended e-learning yang dapat berhasil terdiri dari satu pertemuan awal yang sepenuhnya tatap muka (face to face), penugasan online mingguan disertai dengan komunikasi (konsultasi) online, e-mail, dan ditutup dengan satu ujian akhir yang berupa tatap muka atau ujian tulis di kelas dengan dibantu pengawas.
Dengan demikian, pembelajar akan lebih banyak mempunyai kesempatan untuk mengembangkan diri serta bertanggung jawab terhadap diri sendiri (Hooper, 1992; Saunders & Klemming, 2003), meningkatkan kompetensi sosialnya, meningkatkan kepercayaan diri siswa (Byers, 2001), meningkatkan keterampilan menggali informasi dan meraih prestasi (Kendall, 2001). Selain itu, guru juga akan lebih menghargai berbagai perbedaan dalam gaya dan kecepatan belajar yang dimiliki masing-masing siswa (Piskurich, 2004) serta mendorong komunikasi, baik antarsiswa sendiri maupun antara siswa dan guru (Joliffe, Ritter, & Stevens, 2001).
Untuk pelaksanaan Blended Learning dalam dunia Pendidikan, digunakan model ADDIE (analysis, design, development, implementation, andevaluation) yang dikemukakan Dick, Carey, and Carey (2001). Model pengajaran ini didasarkan pada pengembangan pembelajaran yang sistematis dan terdiri dari tujuh fase : analisis, desain, pengembangan, implementasi, pelaksanaan, evaluasi, dan feedback).
1. Analisis: fase ini menentukan apa yang akan diajarkan. Tujuan analisis adalahuntuk mendeteksi karakteristik belajar dan kebutuhan siswa, menentukanlingkungan tempat pembelajaran akan dilakukan serta menghitung sumberdaya yang tersedia. Karakteristik siswa ditentukan antara lain denganmengumpulkan informasi demografis dan melakukan test pendahuluan untukketerampilan memanfaatkan computer. Fase pertama ini akan menghasilkantujuan pembelajaran bagi setiap modul serta muatan edukatif (pengetahuandan keterampilan yang akan dipelajari beserta aktivitas yang akandikembangkan)
2. Perancangan: fase ini menentukan bagaimana akan diajarkan. Yang diperolehdari analisis pada tahap sebelumnya akan digunakan untuk menciptakan suatucetak-biru pengajaran, yang didalamnya telah dirinci hal-hal seperti: di manaproses pembelajaran akan dilakukan, pendekatan pembelajaran yang akandigunakan, struktur informasi dari materi yang akan disampaikan (fakta-fakta,konsep, proses, prosedur, asas), standar yang akan digunakan, kriteriapelaksanaan, dan capaian yang diharapkan. Metode pembelajaran, misalnya,dapat dibagi menjadi lima modul yang masing-masing terdiri daripengetahuan dan keterampilan serta pre-test dan post-test. Dalam tahapperancangan ini, script atau storyboard sudah harus ditentukan. Script ataustoryboard ini cukup berupa tampilan demi tampilan deskripsi pada layar yangakan dibaca, didengarkan dan dilihat siswa dengan menggunakan programaplikasi grafis yang dilengkapi dengan tombol-tombol antarmuka dan navigasiuntuk supaya interaktif. Multimedia yang digunakan di setiap modul dapatberupa kombinasi teks, suara, gambar sederhana, dan penggalan video. Setiapsiswa diharuskan lulus, misalnya 80% untuk setiap modul. Siswa yang gagaldiharuskan mendalami dan memperkaya sendiri modul untuk kemudiandiberi pertanyaan remedi sampai mereka betul-betul memahami modul.
3. Penyusunan dan pengembanagan: dalam fase ini, kita harus mempersiapkanalat-alat yang digunakan, materi, strategi, urut-urutan, serta segala sumberdaya yang telah disebutkan dalam rancangan. Semua itu harus selesaidipersiapkan pada tahap ini.
4. Implementasi: fase ini meliputi penggunaan perangkat lunak untuk proses elearningnantinya. Ada banyak program aplikasi yang dapat diperoleh, baikyang harus mencari maupun memanfaatkan yang sudah ada dalam systemoperasi yang sudah ter-install di computer. Software semacam “FrontPage”dapat digunakan untuk menampilkan teks, gambar, dan penggalan video.Sementara itu, pre-test dan post-test dapat dibuat menggunakan software(misalnya “AuthorWare”) yang memungkinkan siswa untuk melakukaninteraktivitas dan memberikan feedback langsung. Link-link di tempat yangmembutuhkan perlu dibuat untuk menjembatani berbagai muatan dalammodul yang saling berkaitan dan saling isi, karena hypertext dan hypermediayang digunakan untuk link dalam tampilan multimedia akan jauh lebihmembantu dibandingkan dengan format tampilan multimedia yang datardatarsaja.
5. Pelaksanaan (uji coba): pada fase ini, modul telah siap digunakan untuk prosespembelajaran. Pembelajaran dalam format elektronik ini terpasang dandisimpan dalam computer siswa dilaboratorium multimedia di kampus. Padapertemuan pertama harus dijelaskan segala sesuatu menyangkut pembelajaranonline itu, misalnya: rencana kerja, alokasi waktu untuk mengerjakan setiapmodul, deadline untuk mengumpulkan tugas-tugas, dan syarat kelulusan.
6. Evaluasi: masukan informasi yang ada selama proses pelaksanaan itudikumpulkan, termasuk hasil pre-test dan masalah-masalah dan kesulitan yangtimbul selama pelaksanaan.
7. Feedback: hasil yang diperoleh dari pre-test ditambah dengan komentar dansaran dari kolega dan ahli harus dipertimbangkan. Misalnya, saran yangberkaitan dengan seluruh tahapan model pengajaran elektronis (einstructional),kejelasan gambar, video, dan tampilan teks harus diperhatiakanuntuk dijadikan bahan penyempurnaan modul sebelum benar-benarditerapkan ke kelompok studi. Hasil-hasil post-test dan pendapat siswamengenai pelajaran tersebut dianalisis dengan tetap mempertimbangkankorelasinya dengan tujuan pembelajaran untuk melakukan perbaikan modulbila diperlukan. Dalam pengertian demikian, maka feedback merupakanpenilaian yang bersifat formatif.

Alur Pelaksanaan Blended Learning dalam Pendidikan

D. Peluang Dan Hambatan Pelaksanaan Blended Learning
Blended e-learning memiliki banyak manfaat dari segi kependidikan baik dari segi waktu, tempat dan juga dari segi. Salah satu keuntungan yang paling spesifik dari model blended learning adalah kesempatan untuk segera membangun rasa kebersamaan di antara siswa (Garrison & Kanuka, 2004). Dalam kelas model blended learning, siswa umumnya bertemu dalam pembelajaran tatap muka, dan kemudian memiliki kesempatan untuk berkomunikasi dengan cara dialog terbuka, untuk mengalami perdebatan kritis, dan pada dasarnya berpartisipasi dalam berbagai bentuk komunikasi dalam lingkungan “aman”. Peluang ini dapat memfasilitasi refleksi yang lebih besar pada isi materi dan memperluas pengalaman belajar siswa.
Model blended learning juga menyediakan kesempatan bagi siswa untuk tidak hanya membangun suatu hubungan satu sama lain tetapi juga hubungan dengan instruktur. Memiliki lebih banyak sumber daya yang tersedia dan koneksi ke orang-orang yang berada dalam bidang yang sama. Selain itu, untuk siswa yang sudah terbiasa mengalami instruksi hanya tatap muka, model blended learning menyediakan ruang bagi pengembangan otonomi, self-efficacy, dan keterampilan organisasi. Namun, juga memberikan konsistensi dalam belajar.
Dalam pendekatan ini siswa memiliki pengalaman metode baru dan cara belajar yang juga dimasukkan kedalam praktek, akrab belajar tradisional di lingkungan tatap muka. Ketika tidak ada komponen tatap muka, seperti dalam program pembelajaran jarak jauh, siswa dapat melaporkan, kecuali instruktur membuat program pendidikan jarak jauh interaktif, siswa juga dapat melaporkan melepas dengan kelas, teman sekelas mereka, atau instruktur (Dickey, 2004, Ibrahim, Rwegasira, & Taher, 2007). Hasilnya mungkin tingkat kehadiran rendah, kurangnya akuntabilitas, dan putus sekolah. teknologi baru telah membantu untuk mengatasi perhatian isolasi dalam pendidikan jarak jauh. Teknologi seperti video conferencing, video streaming, web-log (blog) sekarang sering fitur-fitur umum kontemporer kelas pendidikan jarak jauh (Dickey, 2004, Howell, Williams, & Lindsay, 2003).
Kelebihan/ Peluang dan Keuntungan Blended – Learning
1. Penggunaan berbagai tekhnologi dalam pembelajaran memberikan manfaat bagi guru,peserta didik, maupun masyarakat (Clyde&Dlohery,2005:xii)
2. Bagi guru penggunaan tekhnologi akan meningkatkan efektifitas dan efisiensi pembelajarannya.
3. Bagi peserta didik penggunaan berbagai teknologi akan memberikan kesempatan belajar yang lebih berkualitas.
4. Mendorong untuk melibatkan peserta didik untuk lebih aktif(student centered ) dalam proses pembelajaran
5. Memberikan kesempatan kepada peserta didik untuk melakukan eksplorasi diantaranya dengan memanfaatkan tekhnologi online.
6. Selain dapat meningkatkan dinamika proses pembelajaran, pemanfatan teknologi informasi dapat melatih siswa untuk belajar bagaimana belajar (learn how to learn)
7. Implementasi tekhnologi akhirnya dapat menginspirasi peserta didik menjadi pembelajar sepanjang hayat (life long learning), sosok pribadi yang mampu berkembang di tengah perkembangan informasi yang pesat.
8. Blended learning dapat melakukan diversfikasi pembelajaran dan memenuhi karakteristik belajar siswa yang berbeda beda.
9. Teknologi /Multimedia dalam pembelajaran dapat meningkatkan perhatian dan motivasi perserta didik
10. Teknologi /Multimedia dalam pembelajaran dapat menggambarkan sesuatu yang tidak tergambarkan, gerakan – gerakan yang kompleks yang sulit dijelaskan akan dengan mudah ditampilkan untuk memudahkan pemahaman peserta didik tentang suatu materi pembelajaran.
11. Teknologi /Multimedia dalam pembelajaran dapat menampilkan gambar – gambar dengan lebih mudah dan lebih dinamis
12. Teknologi /Multimedia dalam pembelajaran dapat menampilkan sesuatu yang abstrak menjadi lebih mudah dipahami.
13. Teknologi /Multimedia dalam pembelajaran dapat menampilkan sesuatu yang terlalu kecil,terlalu cepat, terlalu berbahaya jika diamati secara langsung.
Namun, model blended learning bukanlah tanpa hambatan dan kritik. Banyak pendidik mungkin tidak memiliki keterampilan yang diperlukan untuk secara efektif mengajar di lingkungan blended learning. Hal ini menambah energi dan waktu yang intensif. Tambahan pra-perencanaan dan program diperlukan untuk menjaga aliran konsisten instruksi selama pembelajaran. Handout, kontrak kuliah, tugas, dll. semua perlu harus terstruktur di muka. Sebagai hasilnya, beberapa pendidik mungkin kurang waktu atau keahlian (didaktik atau sebaliknya) dalam menggunakan platform model blended learning sebagai alat bantu mengajar dan belajar.

Hambatan / Kekurangan Blended-Learning
1. Media yang dibutuhkan sangat beragam , sehingga sulit diterapkan apabila sarana dan prasarana tidak mendukung.
2. Tidak meratanya fasilitas yang dimiliki pelajar, seperti computer dan akses internet. Padahal dalam blended learning diperlukan akses internet yang memadai, apabila jaringan kurang memadai akan menyulitkan peserta dalam mengikuti pembelajaran mandiri via online
3. Kurangnya pengetahuan masyarakat terhadap penggunaan tekhnologi
4. Kurangnya keterampilan pendidik dalam lingkungan pembelajaran blended learning
5. Salah satu kelemahan dengan pembelajaran berbasis tekhnologi adalah kurangnya interaksi antar individu, peserta didik kehilangan banyak kesempatan untuk membicarakan ide – ide mereka dengan orang lain. Filosofi pembelajaran mandiri dengan menyediakan pilihan tentang bagaimana dan dimana mereka belajar, yang memiliki keuntungan yang berbeda untuk kedua individu dan sekolah.

E. Implementasi Blended Learning Dalam Pendidikan Anak Usia Dini
Pelaksanaan blended learning tergantung pada beberapa faktor. (1) Sarana dan prasarana. Guru perlu memiliki akses terhadap jaringan internet yang cukup besar dan cepat sehingga memudahkan kerja. Penyediaan sarana dan prasarana yang memadai juga memerlukan biaya. (2) Guru perlu meningkatkan kemampuannya dalam bidang TIK dengan cara membaca dan berlatih mandiri maupun melalui pelatihan formal. Sekolah perlu memperhatikan hal ini sebagai salah satu pengembangan profesional. (3) Siswa perlu mendapatkan akses terhadap komputer dan internet dan memiliki kemampuan memanfaatkan E-learning. Sekolah perlu membekali siswa sebelum blended learning diterapkan(Dr. Sentot Kusairi, M. Si.,2011)

Mengingat kondisi setiap sekolah berbeda, implementasi blended learning dapat dipilih sesuai dengan kondisi persekolahan. Beberapa ragam blended learning adalah sebagaimana gambar di bawah.
Model implementasi yang paling sederhana adalah model 5 yakni pemanfaatan bahan-bahan online tanpa harus mensyaratkan siswa untuk terhubung dengan internet. Hal ini berarti guru melakukan pembelajaran tatap muka dengan melibatkan kegiatan siswa yang memanfaatkan bahan-bahan yang tersedia di internet misalnya film, animasi, game dan sebagainya.Model implementasi berikutnya adalah model pembelajaran tatap muka dengan kegiatan siswa dan guru melakukan akses internet.Misalnya ketika berdiskusi, siswa dapat mencari bahan-bahan di internet dan mempresentasikannya di kelas.Pada model ini dibutuhkan jaringan internet di dalam dan di luar kelas.Model-model berikutnya adalah model dengan pemanfaatan internet yang intensif.
Beberapa cara mengimplementasikan blended learning pada tahap permulaan diantaranya:
1. Guru mengintegrasikan teknologi komputer dan informasi dalam materi pembelajarannya. Misalnya guru mendownload video, animasi, dan simulasi yang sesuai untuk dimanfaatkan di kelas. Berbagai media ini diintegrasikan dalam pembelajaran.
2. Guru mengembangkan bahan ajar atau modul berbantuan komputer. Bahan ajar ini dapat diakses oleh siswa dan dapat dipelajari di luar jam tatap muka. Bahan ajar akan membantu siswa yang mengalami masalah dalam pembelajaran tatap muka
3. Guru mengoptimalkan email dengan mengembangkan email group sebagai wahana diskusi guru-siswa-siswa. Group email juga dapat digunakan untuk berbagi file, mengumpulkan tugas dan sebagainya.
4. Guru mempelajari moodle dan memanfaatkannya sebagai penunjang pembelajaran tatap muka. Guru memanfaatkan fitur yang tersedia untuk meningkatkan kualitas pembelajaran tatap muka.
Guru dan sekolah dapat memilih model yang sesuai dengan sarana prasarana yang tersedia, kemampuan guru, dan kesiapan siswa. Implementasi model yang sesuai akan berguna untuk meningkatkan kualitas pembelajaran.
Pendidikan merupakan pondasi awal untuk membentuk generasi bangsa yang berilmu dan memiliki pengetahuan luas.Saat ini, pendidikan juga telah menjadi kebutuhan bagi setiap individu sebagai bekal untuk menghadapi beragam tantangan kehidupan di zaman yang terus berkembang. Oleh karena itu, pendidikan harus diterapkan mulai dari usia dini. Pendidikan yang sudah diterapkan pada anak sejak usia dini, akan menjadi bekal yang sangat berharga pada saat anak tersebut telah dewasa nantinya. Dengan mantapnya pendidikan yang diperoleh anak sedini mungkin, maka anak pun akan siap menghadapi berbagai macam bentuk tantangan yang akan dihadapinya pada masa yang akan datang.
Salah satu proses yang termasuk ke dalam upaya penanaman nilai pendidikan pada anak adalah melalui proses pembelajaran. Pembelajaran, baik yang bersifat formal maupun non-formal, tentunya memiliki tujuan yang ingin dicapai. Tujuan pembelajaran tersebut tentunya untuk mewujudkan pendidikan sepanjang hayat bagi anak, sejak pertama anak tersebut mengenal pendidikan melalui keluarga hingga pendidikan lanjut yang bisa diperolehnya dari sekolah maupun lingkungannya. Pembelajaran merupakan suatu sistem yang di dalamnya terdapat komponen-komponen yang saling berkaitan dan saling mempengaruhi satu sama lain.
Sebagaimana diungkapkan oleh Hamalik, bahwa pembelajaran merupakan susunan kombinasi antara unsur manusia, material, fasilitas, perlengkapan, dan prosedur yang saling mempengaruhi untuk mencapai tujuan pembelajaran.Berdasarkan hal tersebut, dapat dilihat bahwa pembelajaran harus didukung pula oleh fasilitas yang memadai agar dapat mencapai tujuan pembelajaran yang diharapkan. Sebagai contoh, bentuk fasilitas yang dapat menunjang proses pembelajaran adalah tersedianya media pembelajaran yang dapat memudahkan anak dalam proses belajar. Sudah seharusnya, media pembelajaran dapat tersedia bagi setiap anak dan sesuai kebutuhan anak. Artinya, media pembelajaran harus mudah diperoleh dan dapat membangkitkan minat belajar pada anak.
Perkembangan teknologi yang semakin pesat saat ini, secara disadari atau tidak tentu saja telah memberikan dampak yang signifikan bagi keberlangsungan proses pembelajaran bagi anak. Hal ini disebabkan karena perkembangan teknologi informasi dan komunikasi yang melaju sangat pesat bukan hanya merambah pada kehidupan orang dewasa saja, tetapi juga telah merambah pada aktivitas kehidupan anak. Maka, secara garis besar sudah tentu anak akan mengalami proses pembelajaran yang terintegrasi dengan media pembelajaran yang berbasis teknologi informasi dan komunikasi.
Saat ini, media pembelajaran yang terintegrasi dengan teknologi informasi dan komunikasi sudah banyak dikembangkan, sehingga mudah untuk diperoleh dan diakses. Salah satu contoh media pembelajaran yang sedang marak dikembangkan dan mudah untuk diakses adalah media pembelajaran yang berbasis web yang dapat dikategorikan sebagai E-Learning (Electronic Learning). Pembelajaran dengan menggunakan e-learning tentu akan semakin memudahkan anak untuk mengakses konten pembelajaran dan melakukan proses belajar dimanapun dan kapanpun. Asalkan tersedia fasilitas elektronik dan internet untuk mengakses e-learning, maka anak akan dengan mudah melakukan pembelajaran dan mengkonstruksi sendiri pemahamannya. Tentunya pembelajaran tersebut tetap didampingi oleh orangtua maupun oleh guru/instruktur. Karakteristik pembelajaran dengan e-learning antara lain adalah menarik dan fleksibel.
Oleh karena itu, pembelajaran e-learning sangat cocok untuk diterapkan juga pada pembelajaran untuk anak. Sang anak akan bersedia melakukan proses belajar atas keinginan sendiri karena merasa tertarik dan tidak terikat waktu tertentu, sehingga lebih memudahkan untuk mengikuti proses belajar sesuai dengan waktu yang diinginkan oleh anak.
Berdasarkan hal tersebut, maka bukan menjadi hal yang mustahil jika e-learning dapat dimanfaatkan sebagai media pembelajaran bagi anak usia pra-sekolah untuk mempersiapkan mereka memiliki pengetahuan dasar sebelum memasuki jenjang sekolah dasar. Anak usia pra-sekolah ini adalah anak-anak yang termasuk dalam kategori usia antara 5-7 tahun, baik yang mengikuti pendidikan anak usia dini secara formal maupun yang tidak. E-learning yang dirancang untuk anak pra-sekolah ini tentunya harus disesuaikan dengan kebutuhan anak pada usia tersebut dan membuat anak berada dalam kondisi joyfull learning (pembelajaran yang menyenangkan). Jika saat ini sudah banyak dikembangkan media e-learning untuk siswa usia sekolah dasar, maka tidak ada salahnya jika dalam mengembangkan e-learning untuk anak usia pra-sekolah juga menerapkan beberapa prinsip dasar dari pengembangan e-learning untuk anak usia sekolah dasar. Hal tersebut dikarenakan media e-learning untuk anak usia pra-sekolah salah satunya bertujuan untuk mempersiapkan anak tersebut memiliki pengetahuan dasar untuk memasuki usia sekolah dasar.
Beberapa prinsip dasar pengembangan media e-learning untuk anak usia pra-sekolah yang mengadopsi prinsip pengembangan media e-learning untuk anak usia sekolah dasar antara lain sebagai berikut:
1. Media e-learning dirancang untuk memfasilitasi dan memungkinkan anak untuk belajar secara mandiri dengan tetap didampingi oleh orangtua maupun guru/instruktur. Dengan begitu, anak akan dapat mengeksplorasi pemahamannya terhadap pengetahuan dasar yang diperolehnya.
2. Tahapan-tahapan pembelajaran yang digunakan yaitu kegiatan pembelajaran pendahuluan, penyampaian informasi dan materi dasar, partisipasi peserta, dan terakhir evaluasi untuk mengetahui pencapaian pembelajaran. Pendahuluan yang dimaksud adalah memperkenalkan media e-learning yang dimanfaatkan serta petunjuk penggunaan dan petunjuk pendampingan bagi orangtua maupun guru/instruktur. Materi dasar meliputi materi yang berhubungan dengan keterampilan dasar membaca, menulis, dan menghiung yang sesuai untuk usia 5-7 tahun. Partisipasi peserta meliputi kegiatan interaktif yang terdapat dalam media e-learning tersebut. Dan evaluasi yang disajikan berbentuk evaluasi ringan seperti games atau kuis yang mudah dipahami oleh anak.
3. Materi disampaikan bertahap dari bentuk abstrak ke bentuk konkret yang disampaikan dalam bentuk multimedia interaktif seperti audio, video, teks, alat bantu (tool), koneksi (link), dan animasi. Agar peserta dapat berpartisipasi aktif dalam pembelajaran, sistem dilengkapi dengan simulasi-simulasi yang memungkinkan peserta untuk mengeksplor pemahaman mereka. Alur materi dan simulasi dirancang sedemikian rupa agar anak belajar mulai dari pemahaman yang sederhana hingga ke pemahaman komplek.
4. Orangtua dan pendidik/instruktur berperan sebagai fasilitator yang membantu anak usia pra-sekolah dalam memanfaatkan e-learning yang telah dikembangkan. Hal ini dimaksudkan agar anak mengetahui tata cara pemanfaatan media e-learning tersebut dengan benar sekaligus dapat membantu untuk memberikan penjelasan di saat anak tersebut menemukan hal yang tidak dipahaminya. Oleh karena itu, pemanfaatan e-learning untuk anak usia pra-sekolah ini tetap harus dalam pengawasan dan pendampingan orangtua maupun pendidik/instruktur.
Contoh konsep media pembelajaran e-learning yang dapat dikembangkan untuk anak usia pra-sekolah adalah dengan web e-learning. Situs web tersebut dapat berisi gambar-gambar, audio dan video pembelajaran, aplikasi interaktif, games, dan simulasi. Keseluruhan konten yang tersedia dalam web tersebut berkaitan dengan keterampilan dasar yang ingin dicapai, yaitu membaca, menulis, dan menghitung dasar.
Materi yang disediakan dapat berupa pengenalan angka, pengenalan huruf, dan cara membaca kata serta kalimat. Seluruh konten tersebut harus mudah diakses dan dapat di-download, sehingga anak dapat menyimpannya dan mempelajarinya kembali secara offline. Web tersebut juga harus menyediakan petunjuk penggunaan yang lengkap dan mudah dipahami oleh anak dan pendampingnya (orangtua maupun pendidik/instruktur), bentuk web juga harus tersaji sederhana, simpel, dan menarik dengan warna yang cerah tetapi tetap natural. Ukuran huruf dan konten juga harus menyesuaikan dengan usia anak pra-sekolah, dimana ukurannya harus lebih besar dibandingkan dengan ukuran konten web untuk remaja atau dewasa. Bentuk evaluasi yang disediakan dalam web tersebut juga diupayakan jangan berbentuk soal tes, melainkan dalam bentuk games dan simulasi untuk sekedar mengetahui feedback pencapaian anak pada proses belajar menggunakan media web e-learning tersebut. Lalu, orangtua maupun guru/instruktur yang mendampingi juga harus senantiasa memberikan penguatan dan penjelasan terhadap hal yang dipelajari oleh anak. Karena anak usia pra-sekolah masih belum mampu berpikir secara konseptual logis, maka masih diperlukan pendampingan dalam memahami setiap hal yang dilihat atau didengarnya. Dengan demikian anak akan memperoleh pemahaman yang baik dan benar dari hal yang dipelajarinya.
Hal-hal yang diungkapkan di atas adalah sedikit pengantar mengenai potensi yang dimiliki oleh e-learning untuk dapat dimanfaatkan sebagai media pembelajaran bagi anak usia pra-sekolah. Pengembangan dan pemanfaatan e-learning tersebut tentunya harus tetap memperhatikan serta menerapkan prinsip dasar agar dapat sesuai dengan kemampuan konstruksi pemahaman anak usia pra-sekolah. Semoga sedikit penjabaran tersebut dapat menjadi motivasi bagi kita semua untuk dapat terus mengembangkan dan memanfaatkan berbagai potensi media pembelajaran e-learning dalam pembelajaran, mulai dari usia sedini mungkin hingga untuk usia dewasa.

BAB III
KESIMPULAN

Blended learning merupakan model pembelajaran campuran antara teknologi online dengan pembelajaran tatap muka dengan biaya yang rendah, tetapi cara efektif untuk mengirimkan pengetahuan dalam dunia global.
Program model blended learning mencakup beberapa bentuk alat pembelajaran, seperti real-time kolaborasi perangkat lunak, program berbasis web online, dan elektronik yang mendukung sistem kinerja dalam tugas lingkungan belajar, dan pengetahuan manajemen sistem. Model Blended learning berisi berbagai aktivitas kegiatan, termasuk belajar tatap muka, e-learning, dan kegiatan belajar mandiri.Blended learning sebagai model campuran pembelajaran yang dipimpin instruktur tradisional, pembelajaran online secara synchronous , belajar mandiri dengan asynchronous, dan pelatihan terstruktur berbasis tugas dari seorang dosen atau mentor. Tujuan blended learning adalah untuk menggabungkan pengalaman belajar kelas tatap muka dengan pengalaman belajar secara online.
Dari perspektif guru, pendekatan blended e-learning memerlukan keterampilan baru agar pembelajar dapat menyerap sebanyak-banyaknya dari pelajaran yang diberikan. Suatu lingkungan blended e-learning yang dapat berhasil terdiri dari satu pertemuan awal yang sepenuhnya tatap muka (face to face), penugasan online mingguan disertai dengan komunikasi (konsultasi) online, e-mail, dan ditutup dengan satu ujian akhir yang berupa tatap muka atau ujian tulis di kelas dengan dibantu pengawas. Dengan demikian, pembelajar akan lebih banyak mempunyai kesempatan untuk mengembangkan diri serta bertanggung jawab terhadap diri sendiri, meningkatkan kompetensi sosialnya, meningkatkan kepercayaan diri siswa, meningkatkan keterampilan menggali informasi dan meraih prestasi. Selain itu, guru juga akan lebih menghargai berbagai perbedaan dalam gaya dan kecepatan belajar yang dimiliki masing-masing siswa serta mendorong komunikasi, baik antarsiswa sendiri maupun antara siswa dan guru.


DAFTAR PUSTAKA

Barton, R. (2004). Why use computer in practical science? Dalam Barton, R. (eds.), Teaching secondary science with ICT (pp. 29). New York: Open University Press.
Boohan, R. (2002). ICT and Communication. Dalam Amos, S., & Boohan, R. (eds.), Aspects of teaching secondary science (pp. 211). New York: The Open University.
Clyde, W., & Delohery, A. (2005).Using Technology in Teaching. London: Yale University Press.
Hofe, R. V. (2001). Investigation into student‘ learning of application in computer-based learning environtment [versi electronik]. Teaching Mathematics and Its Applications, 20(3), 109-119
Kusni, M. (2010).Implementasi Sistem Pembelajaran Blended Learning pada Matakuliah AE3121 Getaran Mekanik di Program Aeronotika dan Astonotika, Seminar Tahunan Teknik Mesin.

Musker, R. (2004). Using ICT in a secondary science department. Dalam Barton, R. (eds.), Teaching secondary science with ICT (pp. 19). New York: Ope University Press.
Welington, J. (2004). Multimeda in science teaching. Dalam Barton, R. (eds.), Teaching secondary science with ICT (pp. 96). New York: Open University Press.
Priyatni, Endah Tri., dan Wahono, Asnawi Susilo. (2010). Pengembangan Perangkat Pembelajaran Membaca SD Berbasis Pendidikan Multikultural dan E-Learning. Jurnal Penelitian Kependidikan. 20. (2). 156-166.
Ulfa, Maria. (2012). Interactive E-learning untuk Belajar Mandiri Anak. Jurnal Sarjana Institut Teknologi Bandung Bidang Teknik Elektro dan Informatika. 1. (1). 211-217.

Darin E. Hartley, Selling e-Learning, American Society for Training and Development, 2001
Dublin, L. and Cross, J. , Mei 2003, Implementing eLearning: Getting the Most from Your Elearning Investment, the ASTD International Conference.
Michelle Delio, Report: Online Training Boring, Wired News, diaskes pada http://www.wired.com/news/business/0,1367,38504,00.html
Hadjerrouit, 2008, Towards a Blended Learning Model for Teaching and Learning Computer Programming: A Case,Study,( Informatics in Education: Institute of Mathematics and Informatics, Vilnius, Vol. 7, No. 2, 181–210), Journal
Jared A. Carman, 2005, Blended Learning Design: Five Key Ingredients,, diakses pada http://www.agilantlearning.com/pdf/Blended Learning Design.pdf
Noer, Muhammad, 2010, Blended Learning Mengubah Cara Kita Belajar Di Masa Depan, diakses pada http://www.muhammadnoer.com/2010/07/blended-learning- mengubah-cara-kita-belajar-di-masa-depan/

Gangguan Perkembangan Sosial dan Emosional Anak Usia Dini

BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Seorang anak hidup paling aktif di dalam masa perkembangannya. Kepribadian sedang dalam pembentukan dan di dalam stadium perkembangan banyak sekali terjadi perubahan atau modifikasi tingkah laku. Sebab itu kita perlu mengetahui ciri tingkah laku normal pada setiap stadium perkembangan anak dan membedakan setiap tingkah laku anak. Semua anak memiliki berbagai kebutuhan dasar yang harus dipenuhi untuk memastikan perkembangan akan berlangsung baik. Anak-anak memang sangat tabah dan teguh. Dalam kebanyakan kasus, dibutuhkan tekanan atau pengorbanan ekstrem agar memberikan pemecahan yang signifikan dan berdampak lama. Namun, jika anak tidak diberikan kebutuhan dasar dalam kadar yang cukup, akibatnya mungkin terjadi kelambatan dalam perkembangan.
Seperti dalam hal penggunaan pendekatan perkembangan untuk melihat kelainan yang diderita oleh anak sebenarnya berlandaskan empat tema dasar atau prinsip, yaitu pertama kelainan muncul atau terjadi hanya pada individu yang mengalami perkembangan, prinsip yang kedua kelainan perkembangan atau psikapatologi harus dipandang dalam kaitannya dengan perkembangan yang normal, tugas-tugas perkembangan utama dan perubahan-perubahan yang muncul sepanjang rentang kehidupan, selanjutnya prinsip yang ketiga yaitu tanda-tanda awal dari perilaku berkelainan harus dipelajarisecara serius, dan yang terakhir prinsip yang keempat bahwa ada beragam patokan atau karakteristik perkembangan baik yang normal maupun berkelainan .
Dalam kenyataan sehari-hari yang kita hadapi, tidak semua anak mengalami perkembangan yang normal sesuai dengan usia dan rata-rata anak sebayanya. Ada anak-anak yang membutuhkan perhatian khusus karena ia memiliki kebutuhan khusus dalam aspek perkembangan. Pada masa lalu anak yang mengalami gangguan dianggap mengganggu dan mendapatkan pendidikan tidak selayak anak yang normal. Bahkan ada anggapan bahwa anak-anak seperti itu tidak dapat dididik sehingga tidak perlu mendapatkan pendidikan. Sementara anak-anak yang normal, namun mengalami masalah pada satu atau beberapa aspek perkembangannya, dirasakan menjadi masalah bagi kelancaran pendidikan dan teman-teman sekelasnya.
Anak yang mengalami gangguan adalah anak yang memiliki kemampuan yang berada di luar rentang kemampuan anak sebayanya. Sehingga guru dan orang tua perlu mengintervensi atau menangani anak yang mengalami gangguan. Dalam pembahasan ini kelompok kami akan membahas tentang gangguan sosial emosi anak usia dini. Kita ketahui bahwa gangguan sosial emosi dapat terjadi pada setiap individu dari semua usia. Keadaan tersebut biasanya ditandai dengan ciri-ciri tertentu. Kebanyakan masalah sosial emosional dianggap sebagai hasil faktor lingkungan, seperti penyiksaan terhadap anak, pengasuhan yang tidak konsisten, kondisi hidup yang penuh tekanan, lingkungan yang penuh dengan kekerasan,atau penggunaan alcohol dan kekerasan fisik yang terjadi dalam keluarga. Pada saat yang bersamaan, penyebab bilogis,seperti faktor keturunan, ketidakseimbangan zat-zat kimia dalam tubuh, kerusakan jaringan otak, dan penyakit yang diderita, juga berperan dalam masalah sosial emosi anak.
Perkembangan sosial dan emosi anak memainkan peranan penting dalam hidup seseorang. Tiap bentuk emosi pada dasarnya membuat hidup terasa lebih menyenangkan. Karena dengan emosi dan hubungan sosial anak akan merasakan getaran-getaran perasaan dalam dirinya maupun orang lain. Bulan-bulan serta tahun-tahun pertama kehidupan anak merupakan masa yang penting dan rawan dalam perkembangan sosial emosi anak. Bila orang tua kurang menyadari pentingnya arti kualitas hubungan serta sikap penuh kasih saying pada masa ini, maka anak bisa mengalami berbagai masalah dan gangguan sosial emosional yang serius dikemudian hari. Tapi sebaliknya bila kebutuhan sosial emosinya terpenuhi secara seimbang dalam awal kehidupan, dikemudian hari ia pun akan berkembang menjadi individu yang bahagia dan diharapkan mampu mewujudkan potensi-potensinya secara optimal.

B. Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang diatas maka rumusan masalahnya yaitu sebagai berikut:
1. Apa yang dimaksud dengan Gangguan Perkembangan sosial emosional anak usia dini?
2. Apa saja jenis-jenis gangguan perkembangan sosial emosi anak usia dini?
3. Apa saja yang menjadi faktor-faktor perkembangan sosial emosi anak usia dini?
4. Bagaimana upaya preventif dan intervensi gangguan perkembangan sosial emosi anak usia dini?

C. Tujuan Penulisan
Berdasarkan rumusan masalah diatas maka tujuan penulisannya adalah:
1. Untuk mengetahui pengertian dari gangguan sosial emosi anak usia dini
2. Untuk mengetahui jenis-jenis dari gangguan sosial emosi anak usia dini
3. Untuk mengetahui faktor-faktor dari gangguan perkembangan sosial emosi anak usia dini
4. Untuk mengetahui upaya preventif dan intervensi dari gangguan sosial emosi anak usia dini

BAB II
PEMBAHASAN

A. Pengertian Gangguan Perkembangan Sosial dan Emosional Anak Usia Dini
Gangguan sosial, emosional, dapat dikonseptualisasikan sebagai suatu yang fokus di dalam diri anak. Suatu harapan dan cita-cita dari para orang tua, guru, maupun masyarakat pada umumnya untuk memiliki anak-anak yang sehat jasmani dan rohani. Betapa tenang dan tentramnya hati bila melihat anak-anak bermain dengan riang gembira, pandai,tekun dalam belajar dan bekerja, bebas dan lincah dalam mengutarakan buah pikiran dan kreativitasnya.
Harapan ini tentu menyangkut pertumbuhan dan perkembangan yang paling optimal dari segi fisik, emosi, mental dan sosial setiap anak. Tetapi suatu kenyataan yang tidak dapat dipungkiri adalah danya sejumlah anak yang memperlihatkan perilaku sumbang, bertingkah laku yang tidak sesuai dengan norma yang berlaku, baik norma budaya, norma umur,norma kecakapan/keterampilan maupun norma sosial yang berlaku dalam lingkungan di mana anak berada. Tingkah laku mereka mengalami gangguan dan kelainan, yang biasanya lebih dirasakan oleh lingkungan daripada oleh anak sendiri .
Perkembangan emosi memainkan peran yang sedemikian penting dalam kehidupan, maka penting diketahui bagaimana perkembangan dan pengaruh emosi terhadap penyesuaian pribadi dan sosial. Sukar mempelajari emosi anak-anak karena informasi tentang aspek emosi yang subyektif hanya dapat diperoleh dengan cara introspeksi sedangkan anak-anak tidak dapat menggunakan cara tersebut dengan baik karena mereka masih berusia sedemikian muda. Bahkan sulit mempelajari reaksi emosi melalui pengamatan terhadap ekspresi yang jelas tampak, terutama ekspresi wajah dan tindakan yang berkaitan dengan emosi,karena anak-anak suka menyesuaikan diri dengan tuntutan sosial . Untuk mengetahuai apa itu gangguan perkembangan sosial emosional anak yang perlu kita ketahui terlebih dahulu yaitu pengertian gangguan. Gangguan adalah suatu kondisi yang menyebabkan ketidaknormalan pada individu yang memiliki masalah dalam menguasai keterampilan dan menunjukan kekurangan dalam berhubungan dengan orang lain . Selanjutnya perkembangan sosial emosi anak usia dini yaitu perkembangan yang berkaitan dengan emosi,kepribadian, dan hubungan interpersonal. Selama tahun kanak-kanak awal, perkembangan sosial emosi berkisar tentang sosialisas, yaitu proses ketika anak mempelajari nilai-nilai dan perilaku yang diterima dari masyarakat . Pada usia tersebut , terdapat tiga tujuan dalam perkembangan sosial emosional anak, yaitu:
1. Mencapai sense of self atau pemahaman diri serta berhubungan dengan orang lain
2. Bertanggung jawab terhadap diri sendiri meliputi kemampuan untuk mengikuti aturan dan rutinitas, menghargai orang lain, dan mengambil inisiatif
3. Menampilkan perilaku sosial , seperti empati, berbagi,dan menunggu giliran.
Gangguan sosial emosi dapat terjadi pada setiap individu dari semua usia. Keadaan tersebut biasanya ditandai dengan cirri-ciri tertentu, khususnya yang berhubungan dengan kondisi emosi. Sepanjang kehidupan, kondisi emosi kita memang tidak tetap, kadang naik atau turun. Tetapi, pada orang-orang tertentu, mereka lebih banyak mengalami kondisi emosi negatif. Kondisi ini akan mempengaruhi kualitas hidup dan kemampuan mereka mengatasi persoalan sehari-hari serta tugas perkembangan yang mereka jalani.
Kebanyakan masalah sosial dan emosi dianggap sebagai hasil faktor lingkungan,seperti penyiksaan terhadap anak, pengasuhan yang tidak konsisten, kondisi hidup yang penuh tekanan, lingkungan yang penuh dengan kekerasan,atau penggunaan alcohol dan kekerasan fisik yang terjadi dalam keluarga. Pada saat yang bersamaan, penyebab biologis, seperti faktor keturunan, ketidakseimbangan zat-zat kimia dalam tubuh, kerusakan jaringan otak, dan penyakit yang diserita juga berperan dalam masalah perkembangan sosial dan emosi ( Cicchetti & Toth dalam Rini Hildayani) .
Menurut Undang-Undang bagi Pendidikan Individu Penyandang cacat (IDEA) bahwa gangguan sosial emosi yaitu ketidak mampuan atau mengatur hubungan interpersonal yang memuaskan dengan teman sebaya dan guru .
Rolf, edelbrock dan Strauss menemukan bahwa anak-anak dengan masalah perkembangan sosial emosi cenderung memiliki hambatan yang besar dalam pertemanan, penyesuaian sosial, tingkah laku dan dan akademis apabila dibandingkan dengan kelompok anak yang normal. Anak-anak dengan gangguan ini dianggap beresiko terhadap sifat tersisih secara sosial, terisolasi penarikan diri, pemalu dan kesepian .
Dari penjelasan mengenai gangguan, perkembangan sosial emosi secara umum maka disintesiskan gangguan perkembangan sosial emosi anak usia dini yaitu ketidaknormalan yang menghambat perkembangan anak usia dini kaitannya dalam mengelola emosi, kepribadian, dan hubungan interpersonal anak dengan orang lain.
Emosi merupakan sesuatu yang muncul setiap hari, bahkan setiap saat dalam kehidupan kita. Emosi merupakan suatu pola yang kompleks dari perubahan yang terdiri dari reaksi fisiologis, perasaan-perasaan yang subyektif, proses kognitif, dan reaksi perilaku, yang semuanya itu merupakan respon atas situasi yang kita terima (Duffy, 2002) Kita mengenal beberapa emosi dasar, yaitu kegembiraan, kesedihan, ketakutan, kemarahan. . Selain itu kita juga mengenal adanya emosi positif, seperti kegembiraan, dan emosi negatif, seperti kemarahan dan kesedihan. Kemampuan untuk bereaksi secara emosional sudah ada pada bayi yang baru lahir. Gejala pertama perilaku emosional ialah keterangsangan umum terhadap stimulasi yang kuat.
a. Pola emosi Positif
Pola emosi positif adalah yang berasal dari suatu kondisi yang menguntungkan Frederickson, Mayne dan Bonnano mencatat bahwa banyak emosi positif dengan mudah diidentifikasi dalam kecenderungan aksi. Emosi positif secara sederhana diidentifikasi sebagai sesuatu yang baik atau diiginkan. Emosi positif terdiri dari perhatian atau minat, surprise atau kekaguman, dan kegembiraan .
b. Pola emosi Negatif
Sedangkan pola emosi negatif menurut Lazarus (1991) berasal dari hubungan yang mengancam atau kondisi yang menyakitkan. Reaksi emosi negative terdiri dari marah, kecemasan, rasa malu, kesedihan, cemburu, merasa takut, dan cemburu .

B. Jenis-jenis Gangguan Perkembangan Sosial dan Emosional Anak Usia Dini
Terdapat banyak jenis gangguan perkembangan sosial dan emosional pada anak usia dini, bahkan setiap anak yang memiliki gangguan pada aspek perkembangan fisik-motorik, perkembangan kognitif, perkembangan bahasa, dan perkembangan moral pun juga selalu memiliki gangguan pada sosial dan emosional masing-masing. Misalnya anak yang memiliki gangguan pada fisiknya berupa cacat fisik (tuna daksa) baik dari lahir maupun ketika sudah bertumbuh besar, dia memiliki ketidaknormalan pada perkembangan sosial dengan orang lain dan emosional mereka. Mereka merasakan bahwa dia berbeda dari teman kebanyakan membutuhkan kemampuan penerimaann yang baik dan keiklhasan yang lebih. Tentunya hal ini membutuhkan bantuan orang lain terutama orang dewasa terdekatnya, yakni orang tua. Namun, apabila orang tua pun tidak memiliki kemampuan mengelola emosi dengan baik sehingga orang tua pun tidak mampu menerima kondisi anak tersebut, maka hal ini akan sangat berpengaruh terhadap perkembangan sosial dan emosional anaknya. Demikian pula pada anak-anak yang memiliki gangguan-gangguan lain sehingga mereka dikatakan children with special needs seperti tuna grahita, tuna rungu, learning dissability, dan sebagainya masing-masing mereka memiliki kondisi perkembangan sosial dan emosional yang tidak selalu seperti anak lain yang tanpa gangguan pada perkembangannya.
Gangguan-gangguan perkembangan sosial dan emosi yang muncul seringkali berangkat dari pola-pola emosi yang dikenal baik itu emosi positif maupun emosi negatif. Seperti misalnya emosi negatif berupa marah atau menangis, anak perlu dikenalkan dengan ekspresi marah dan menangis namun ketika emosi tersebut diungkapkan dalam suatu perilaku yang muncul secara berlebihan sehingga menjadi tantrum misalnya, maka hal ini dikatakan sebagai suatu gangguan. Demikian pula pada emosi positif seperti optimis dan percaya diri. Ketika emosi optimis dan percaya diri tersebut muncul secara berlebih maka dapat mengarah pada perilaku yang cenderung abisius, sombong, pada akhirnya dapat mendorong seorang anak untuk melakukan segala cara sekalipun cara tersebut dapat merugikan diri sendiri dan orang lain. Hal itu disebut sebagai sesuatu yang mengalami gangguan dan perkembangan emosional, dan ketika perilaku emosi yang muncul itu melibatkan interaksi sosial mereka dengan orang lain, maka hal tersebut dapat dikatakan menjadi gangguan sosial.
Hasil survey yang dilakukan oleh Izzaty dalam Mashar di Taman Kanak-kanak ditemukan adanya beberapa permasalahan emosi atau gangguan emosi yang umumnya sering terjadi pada anak usia Taman Kanak-kanak yaitu agresvitas, kecemasan, temper tantrum, menarik diri (withdrawal), enuresis dan encopresis, berbohong, menangis berlebihan, kebergantungan, pemalu, dan takut berlebihan. Hasil survey ini dipertegas dengan hasil penelitian mengenai masalah-masalah perilaku pada anak usia dini. Masalah yang paling banyak muncul terdapat pada area conduct/restless yang salah satunya adalah perilaku agresif, kemudian disusul dengan permasalahan pada area emotional/miserable, dan terakhir permaslaahn yang termasuk area isolated/immature.
Mashar membatasi jenis gangguan tersebut pada ranah gangguan emosi yang sering muncul dan ditambahkan dari buku Nugraha dan Rachmawati serta Plutchik yang keseluruhannya disebutkan ke dalam jenis gangguan emosi antara lain: agresivitas, kecemasan, temper tantrum, menarik diri, takut berlebihan, kekurangan afeksi, dan hipersensitivitas.
Jefery S. Nevid, dkk menyebutkan beberapa gangguan kecemasan (anxciety) yang menjadi bagian dari gangguan perkembangan emosional memiliki beberapa penggolongan, antara lain: gangguan panik, gangguan kecemasan menyeluruh, gangguan fobia (ketakuran berlebih), gangguan obsesif-impulsif, gangguan stress akut dan gangguan stress pascatrauma. Di samping itu juga gangguan emosi selain kecemasan menurut Nevid juga ada gangguan mood dan bunuh diri, dengan tipe-tipe gangguan mood yang berupa gangguan depresi (unipolar) berupa gangguan depresi mayor dan gangguan distimik, gangguan perubahan mood (bipolar) yang berupa bipolar dan gangguan siklotimik. Namun secara terbatas, dalam makalah ini akan dibahas berkaitan dengan kecemasan yang sering dan mungkin terjadi pada anak usia dini.
Hewar & Orlansky seperti yang dikutip oleh Jamaris megatakan bahwa Quay mengumpulkan sejumlah besar data yang berkaitan dengan kelaian perilaku yang ditunjukkan anak, dan penilaian guru dan orangtua terhadap perilaku tersebut melalui angket yang disebarkan pada anak. Berdasarkan hasil analisis data yang dikumpulkan, mereka menemukan bahwa kelainan perilaku cenderung dilakukan anak secara berkelompok dalam kelompok kecil. Pada akhirnya Quay dan kawan-kawannya mengklasifikasikan kelainan perilaku ke dalam empat kelompok, yakni: conduct behavior, personality disorder, immaturity, dan sosialized deliquency.
Conduct behavior merupakan kelainan perilaku yang meliputi menentang, merusak, memicu perkelahian, angkuh, pemarah, dan tantrum. Personality disorder meliputi perilaku suka menyendiri, cemas, depresi, rendah diri, merasa bersalah, pemalu, dan tidak bahagia. Immaturity ditandai dengan perilaku yang tidak dapat memusatkan perhatian dalam waktu yang relatif lama, sangat pasif, pengkgayal, lebih menyukai bermain dengan anak yang lebih muda usianya, kaku atau aneh. Sedangkan sosialized deliquency menunjukkan perilaku suka bolos sekolah, anggota gang, pencuri dan merasa bangga terhadap kelompok lain.
Gangguan emosional yang paling lazim didiagnosis dalam masa kanak-kanak adalah gangguan perilaku distruptif [menunjukkan agresi, penyimpangan, atau perilaku antisosial (distruptif behavior disorder)] dan gangguan kecemasan atau mood (perasaan sedih, tidak dicintai, gugup, takut, atau kesepian). Beberapa masalah terlihat berhubungan dengan fase tertentu dari kehidupan anak dan menghilang dengan sendirinya, tetapi yang lain perlu dirawat untuk mencegah masalah di masa yang akan datang (Achenbacg & Howell; USDHHS).
Meskipun gangguan sosial dan emosional yang kemudian berkembang menjadi istilah emotional and behavior disorders ini memiliki makna yang sangat luas secara definitif, akan tetapi penulis mencoba membatasi dan mengklasifikasikan jenis-jenis gangguan sosial dan emosional yang dapat dan seringkali terjadi pada anak usia dini antara lain sebagai berikut:
1. Tunalaras
Anak yang mengalami gangguan tingkah laku lebih dikenal dengan istilah tunalaras. Samapi saat ini memang belum ada definisi yang dapat diterima secara umum mengenai anak tunalaras yang dapat memuaskan smua pihak. Pada kenyataannya, batasan atau definisi yang dikemukakan oleh para profesional dan para ahli yang berkaitan dengan masalah ini berbeda-beda sesuai dengan sudut pandang disiplin ilmu masing-masing untuk keperluan profesionalnya. Meskipun demikian, dari seluruh definisi yang dikemukakan oleh para ahli, semua menganggap sama bahwa tunalaras menampakkan suatu perilaku penentangan yang terus-menerus kepada masyarakat, kehancuran suatu pribadi, serta kegagalan dalam belajar di sekolah.
Anak tunalaras sering juga disebut anak tunasosial karena tingkah laku anak ini menunjukkan penentangan terhadap norma-norma sosial masyarakat yang berwujud seperti mencuri, mengganggu, dan menyakiti orang lain. Dengan kata lain menyusahkan lingkungan. Akan tetapi, ada juga anak yang tidak mengganggu sama sekali atau sama sekali tidak merugikan orang lain seperti menyendiri, memiliki kebiasaan menyimpang, merusak diri sendiri, dan berpakaian aneh dipertanyakan apakah termasuk katergori antisosial atau tidak. Pertanyaan tersebut menimbulkan anggapan lain, di mana letak kesalahan dianggap terdapat pada aspek perasaan sehingga tunasosial dinyatakan juga sebagai gangguan emsosi.
Istilah gangguan emosi yang dipakai untuk menyebut mereka yang tunasosial masih sering juga dipersoalkan. Sehingga kemudian muncul pertanyaan apakah setiap perilaku antisosial selalu mengandung gangguan emosi atau apakah semua perilaku antisosial selalu merupakan manifestasi dari gangguan emosi? Dari hal itu timbul gagasan bahwa istilah yang paling tepat adalah gangguan tingkah laku (behavior disorder). Departemen Pendidikan dan Kebudayaan pada tahun 1977 menetapkan batasan anak tunalaras adalah anak yang berumur 6 – 17 tahun dengan karakteristik bahwa anak tersebut mengalami gangguan emosi dan berkelainan tingkah laku sehingga kurang dapat menyesuaikan diri dengan baik terhadap lingkungan keluarga, sekolah, dan masyarakat. Sehingga dapat dipahami bahwa anak usia dini baru dapat dikatakan mengalami gangguan ketunalarasan adalah ketika mereka memasuki usia 6 – 8 tahun.
Sedangkan Kauffman dikutip oleh Sutjihati Somantri mengemukakan batasan mengenai anak-anak yang mengalami gangguan perilaku “sebagai anak yang secara nyata dan menahun merespon lingkungan tanpa ada kepuasan pribadi namun masih dapat diajarkan perilaku-perilaku yang dapat diterima oleh masyarakat dan dapat memuaskan pribadinya”
Berdasarkan berbagai definisi yang telah dikemukakan, maka Sutjiani Somantri mendefinisikan tunalaras sebagai anak yang mengalami hambatan emosi dan tingkah laku sehingga kurang dapat atau mengalami kesulitan dalam menyesuaikan diri dengan baik terhadap lingkungannya dan hal ini mengganggu situasi belajarnya .
Dilihat dari definisinya, maka yang termasuk dalam tunalaras adalah bentuk agresivitas, mencuri, berbohong, melanggar norma. Sedangkan menurut Sutjiahati Somantri, untuk memudahkan pelayanan dan pengorganisasian pendidikan anak tunalaras, maka perlu diadakan klasifikasi. S.A. Bratanata mengemukakan bahwa “anak tunalaras dicirikan oleh seberapa jauh anak itu terlihat dalam tindakan kenakalan, tingkat kelaianan emosinya, dan status sosialnya”
Secara garis besar, anak tunalaras dapat diklasifikasikan sebagai anak yang mengalami kesukaran dalam menyesuaikan diri dengan lingkungan sosial, dan yang mengalami gangguan emosi. Tiap jenis anak tersebut dapat dibagi lagi sesuai dengan berat dan ringannya kelainan yang dialaminya.
Sehubungan dengan itu, Willian M. Cruickshank mengemukakan bahwa mereka yang mengalami hambatan sosial dapat diklasifikasikan ke dalam kategori berikut ini:
a. The semi-sosialize child
Anak yang termasuk kelompok ini dapat mengadakan hubungan sosial tetapi terbatas pada lingkungan tertentu, misalnya: keluarga dan kelompoknya. Keadaan ini terjadi pada anak yang datang dari lingkungan yang menganut norma-norma tersendiri, yang mana norma tersebut bertentangan dengan norma yang berlaku di masyarakat. Di lingkungan sekolah, karena perilaku mereka sudah diarahkan oleh kelompoknya, maka seringkali menunjukkan perilaku memberontak karena tidak mau terikat oleh peraturan di luar kelompoknya. Dengan demikian anak selalu merasakan ada suatu masalah dengan lingkungan di luar kelompoknya.
b. Children arrested at a primitive level or sosialization
Anak pada kelompok ini dalam perkembangan sosialnya berhenti pada level atau tingkatan yang rendah. Mereka adalah anak yang tidak pernah mendapat bimbingan ke arah sikap sosial dan terlantar dari pendidikan, sehingga ia melakukan apa saja yang dikehendakinya. Hal ini disebabkan oleh tidak adanya perhatian dari orang tua, yang berakibat pada perilaku anak kelompok ini cenderung dikuasai oleh dorongan nafsu saja. Meskipun demikian mereka masih dapat memberikan respon pada perlakuan yang ramah.
c. Children with minimun sosialization capacity
Anak pada kelompok ini tidak mempunyai kemampuan sama sekali untuk belajar sikap-sikap sosial. Ini disebabkan oleh pembawaan atau kelainan atau anak tidak pernah mengenal hubungan kasih sayang sehingga anak pada golongan ini banyak yang bersikap apatis dan egois.

Demikian pula dengan anak yang mengalami gangguan emosi, mereka dapat diklasifikasikan menurut berat atau ringannya masalah atau gangguan yang dialaminya. Anak-anak ini mengalami kesulitan dalam menyesuaikan tingkah laku dengan lingkungan sosialnya karena ada tekanan-tekanan dari dalam dirinya. Adapun anak yang mengalami gangguan emosi diklasifikasikan sebagi berikut:
a. Neurotic behavior (perilaku neurotik)
Anak pada kelompok ini masih bisa bergaul dengan orang lain, akan tetapi mempunyai permasalahan pribadi yang tidak mampu diselesaikannya. Mereka sering dan mudah sekali dihinggapi perasaan sakit hati, perasaan marah, semas dan agresif, serta rasa bersalah di samping juga kadang-kadang mereka melakukan tindakan lain seperti yang dilakukan oleh anak unsosialized (mencuri, bermusuhan). Anak pada kelompok ini dapat dibantu dengan terapi seorang konselor. Keadaan neurotik ini biasanya disebabkan oleh keadaan atau sikap keluarga yang menolak atau sebaliknya, terlalu memanjakan anak serta pengaruh pendidikan yaitu karena kesalahan pengajaran atau juga adanya kesulitan belaajr yang berat.

b. Children with psychotic processes
Anak pada kelompok ini mengalami gangguan yang paling berat sehingga memerlukan penanganan yang lebih khusus. Mereka sudah menyimpang dari kehidupan yang nyata, sudah tidak memiliki kesadaran diri serta tidak memiliki identitas diri. Adanya ketidaksadaran ini disebabkan oleh gangguan pada sistem syaraf sebagai akibat dari keracunan. Misalnya: minuman keras dan obat-obatan. Oleh karena itulah usaha penanggulannya lebih sult karena anak tidak dapat berkomunikasi, sehingga layanan pendidikan harus disesuaikan dengan kemajuan terapi dan dilakukan pada setiap kesempatan yang memungkinkan.

Sudah jelas bahwa dengan demikian anak pada kelompok neurotik, mengalami gangguan yang sifatnya fungsional, sedangkan pada kelompok psikotis di samping mengalami gangguan fungsional, anak juga mengalami gangguan yang sifatnya organis. Oleh karena itu, anak-anak yang termasuk psikotis kadang-kadang memerlukan perawatan medis.
Salah satu bentuk ketunalarasan adalah agresivitas. Izzaty seperti yang dikutip oleh Mashar memaparkan agresivitas sebagai istilah umum yang dikaitkan dengan adanya perasaan-perasaan marah atau permusuhan atau tindakan melukai orang lain baik dengan tindakan kekerasan secara fisik, verbal, maupun menggunakan ekspresi wajah dan gerakan tubuh yang mengancam atau merendahkan. Tindakan agresi pada umumnya merupakan tindakan yang disengaja oleh pelaku untuk mencapai tujuan-tujuan tertentu. Ada dua tujuan utama agresi yang saling bertentangan satu dengan yang lain, yakni untuk membela diri di satu pihak dan di pihak lain adalah untuk meraih keunggulan dengan cara membuat lawan tidak berdaya.
Nugraha dan Rachmawati mendefinisikan agresivitas sebagai tingkah laku menyerang baik secara fisik maupun verbal atau baru berupa ancaman yang disebabkan adanya rasa permusuhan dan frustasi. Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa agresivitas merupakan tindakan menyerang baik fisik, verbal, maupun ekspresi wajah yang mengancam atau merendahkan untuk mencapai tujuan tertentu, yang didasari adanya perasaan permusuhan atau frustasi.
Agresivitas pada anak TK memiliki beberapa bentuk umum. Yang paling sering muncul adalah bentuk verbal, misalnya dengan mengeluarkan kata-kata “kotor” yang terkadang anak tidak selalu mengerti maknanya. Kedua, agresi dalam bentuk tindakan fisik. Misalnya dengan menggigit, menendang, mencubit, mencakar, memukul, dan semua tindakan fisik yang bertujuan untuk menyakiti fisik. Biasanya sasaran perilaku agresi ini adalah orang-orang dekat yang ada di sekitar anak, seperti orang tua, pengasuh, pendidik, teman, dan objek fisik lain seperti tembok, lemari, sarana sekolah, atau sasaran lainnya.
Agresivitas pada anak usia dini dapat berdampak psikologis dan sosial. Dampak psikologis yang mungkin muncul berupa kecenderungan untuk meningkatkan perilaku agresi baik dalam frekuensi maupun intensitas jika perilaku tidak ditangani secara efektif. Selain itu, perilaku agresi juga dapat menyebabkan anak cenderung menjadi antisosial karena ketidakmampuannya menahan emosi dan lebih terjebak dalam perilaku-perilaku impulsif. Selain dampak psikologis, dampak sosial bagi perilaku agresi anak juga dapat mengakibatkan anak cenderung dikucilkan dan ditakuti oleh teman-teman sebayanya.
Ada beberapa cara yang dapat dilakukan untuk menetapkan tunalaras , yaitu:
1. Psikotes
Psikotes dilakukan untuk mengetahui kematangan sosial dan gangguan emosi. Sedangkan alat tes yang lain yaitu tes proyektif yang memiliki beberapa jenis tes yaitu :

a. Tes Rorchach
Tes ini memberikan gambaran mengenai keseluruhan kepribadian, kelainan dan perlunya psikoterapi. Gambaran ini ditafsirkan dari reaksi anak terhadap gambar-gambar yang terbuat dari tetesan tinta.
b. Thematic Apperception Test (TAT)
Tes ini memperlihatkan berbagai situasi-emosi dalam bentuk gambar-gambar. Gambaran kepribadian nampak dari tafsiran anak mengenai situasi emosi tersebut untuk itu disediakan skala khusus.
c. Tes Gambar Orang
Dalam tes ini persoalan-persoalan emosi nampak dari gambar yang harus dibuat oleh anak. Gambarnya ialah seorang laki-laki dan seorang perempuan.
d. Dispert Fable Tes
Tes ini memberikan gambaran mengenai: iri hati, rasa dosa, rasa cemas, tanggapan terhadap diri sendiri, ketergantungan kepada orang tua, dan sebagainya.

Yang berhak melakukan psikotes dan mengumumkannya adalah psikolog, psikiater, dan counselor, atau orang lain di bawah bimbingannya. Tenaga-tenaga ini ada yang membuka praktek sendiri, ada pula yang tidak membuka praktek sendiri tetapi bekerja di Fakultas Psikologi, Fakultas Kedokteran, Lembaga Kesehatan Jiwa, Balai Bimbingan dan Penyuluhan, Biro Konsultasi Psikologi, dan sebagainya.

2. Sosiometri
Sosiometri adalah alat tes yang digunakan untuk melihat/ mengetahui suka atau tidaknya seseorang. Caranya ialah tanyakan kepada para anggota kelompok siapa diantara anggotanya yang mereka sukai. Setiap anggota hendaknya memilih menurut pilihannya sendiri. Dari jawaban itu akan diketahui siapa yang lain disukai oleh para anggota.
Perlu diperingatkan bahwa hasil-hasil sosiometri adalah hasil sementara yang perlu ditelaah lebih lanjut. Anak yang terpencil dalam suatu saat belum tentu anak yang tunalaras, bahkan mungkin tidak terpencil lagi dalam sosiometri berikutnya. Walaupun demikian, sosiometri dapat dipakai bersama-sama dengan cara yang lain.
3. Membandingkan dengan tingkah laku anak pada umumnya
Keadaan tunalaras dapat diketahui dengan jalan membandingkan tingkah laku anak dengan tingkah laku anak pada umumnya. Pekerjaan membandingkan boleh dilakukan oleh setiap orang dewasa.
Anak yang jahat dapat diketahui jahatnya oleh masyarakat. Demikian juga anak yang tidak jahat tetapi kelakuannya tidak sesuai dengan norma yang berlaku, diketahui oleh masyarakat. Masyarakat mempunyai ketentuan-ketentuan untuk menetapkan jahat dan tidaknya atau serasi dan tidaknya tingkah laku para anggotanya. Siapa yang melanggar ketentuan ini akan dibenci, dimarahi, diasingkan, malah ditindak, tetapi yang baik akan dihargai , diterima kehadirannya malah dipuji.
Adanya gangguan emosi dan gangguan sosial karena penyesuaian yang salah (maladjustment) tanda-tandanya antara lain :
a. Hubungan antar keluarga, teman sepermainan, teman sekolah, ditanggapi dengan tidak menyenangkan.
b. Segan bergaul, terasing.
c. Suka melarikan diri dari tanggung-jawab.
d. Menangis, kecewa, berdusta, menipu, mencuri, menyakiti hati dan sebagainya, atau sebaliknya, sangat ingin dipuji, tak pernah menyulitkan orang lain dan sebagainya.
e. Penakut dan kurang percaya pada diri sendiri.
f. Tidak mempunyai inisiatif dan tanggung jawab, kurang keberanian dan sangat tergantung pada orang lain.
g. Agresif terhadap diri sendiri, curiga, acuh tak acuh, banyak hayal.
h. Memperlihatkan perbuatan gugup misalnya: menggigit kuku, komat-kamit, dan sebagainya.
Anak tunalaras memiliki rasa harga diri kurang dengan tanda-tanda antara lain :
a. Terlalu mempersoalkan kekurangan diri, sering minta maaf, takut tampil di muka umum, takut bicara dan sebagainya.
b. Mengeluh dengan nada nasib malang.
c. Segan melakukan hal-hal yang baru atau yang dapat mengungkapkan kekurangannya.
d. Selalu ingin sempurna, tidak puas dengan apa yang telah diperbuat.
e. Sikap introvert (lebih banyak mengarahkan perhatian kepada diri sendiri).
Adapun rasa harga diri kurang yang tersembunyi, antara lain:
a. Bernada murung, cepat merasa tersinggung.
b. Merasa tidak enak badan, sakit buatan, dan sebagainya.
c. Berpura-pura lebih dari orang lain: menonjolkan diri, bicara lantang, merendahkan orang lain.
d. Membuat kompensasi.
e. Menjalankan perbuatan jahat.
4. Memeriksakan ke Biro Konsultasi Psikolog
Kadang-kadang kita tidak dapat membedakan apakah seorang anak tunalaras atau bukan. Dalam hal demikian kita dapat meminta bantuan Biro Konsultasi Psikolog, karena biro tersebut melibatkan tenaga ahli yang terkait. Wewenang biro ini terutama adalah menentukan apakah seseorang mengalami gangguan emosi social atau tidak.
Setelah selesai ditelaah dan dianalisa biro tersebut akan bersedia memberikan petunjuk terarah mengenai anak tersebut, misalnya meminta agar kita lebih mendekati anak, menitipkannya di salah satu lembaga pendidikan, dan sebagainya. Kalau perlu, biro juga akan membuat keterangan agar dapat dipakai oleh pihak-pihak yang bersangkutan.
5. Memeriksakan ke Klinik Psikiatri Anak
Bentuk usaha lain untuk mengetahui anak tunalaras adalah dengan memeriksakan ke klinik psikiatri anak. Tugas pokoknya ialah melakukan usaha rehabilitasi dan penyembuhan terhadap mereka yang mengalami kelainan psikis, tetapi juga dapat menetapkan apakah seseorang mempunyai kelainan tunalaras atau tidak.
Dalam surat keterangan yang dikeluarkan oleh klinik psikiatri anak menyebutkan istilah antara lain: anxiety hysteria, conversion hysteria, sexual perversion, obsessional neurosis, psychose anak dll dengan arti istilah-istilah tersebut adalah:
a. Anxiety hysteria: merasa takut pada sesuatu atau pada seseorang tanpa alasan yang dapat diterima. Perasaan ini lahir dari usaha menekan hasrat-hasrat yang sifatnya naluriah.
b. Conversion hysteria: mempunyai gangguan pada fungsi beberapa anggota tubuh, perbuatan gangguan pada pendirian. Gangguan tersebut lahir dari usaha yang lama menekan hasrai-hasrat yang sifatnya naluriah.
c. Obsessional neurosis: cepat menuduh, banyak dalih, menutup diri, kaku berjalan, dan sebagainya. Ini semua adalah pernyataan dari hati yang sangat sensitive dan takut diserang. Hal ini juga timbul dari usaha menoleh sesuatu hasrat.
d. Sexual perversion: suka menikmati sexual secara tidak wajar, seperti mengintip, melakukan hubungan dengan teman sejenis.
e. Character neuroses: perubahan tingkah laku yang lahir dari konflik batin yang tidak mendapat penyelesaian.
f. Psychose Anak: mempunyai kesulitan menyesuaikan diri terhadap segala-galanya

2. Temper Tantrum
Temper tantrum adalah suatu letupan kemarahan anak yang sering terjadi pada anak menunjukkan sikap negativistik atau penolakan. Perilaku ini sering diikuti dengan tingkah seperti menangis dengan keras, berguling-guling di lantai, menjerit, melempar barang, memukul-mukul, menendang, dan berbagai kegiatan.
Perilaku tantrum dikatakan sebagai salah satu perilaku distruptif menurut APA dan National Library of Medicine seperti yang tertulis berikut :
Perilaku tantrum dan membangkang, sering bertengkar, permusuhan, dan perilaku mengganggu yang disengaja – lazim di antara anak-anak usia 4 – 5 tahun – biasanya meningkat pada masa kanak-kanak tengah. Ketika pola perilaku seperti itu bertahan sampai usia 8 tahun, anak-anak (biasanya laki-laki) mungkin didiagnosis gangguan ingkar (oppositional defiant disorder-ODD), sebuah pola pembangkangan, ketidakpatuhan, dan permusuhan terhadap figur otoritas dewasa yang berlangsung selama paling tidak 6 bulan dan jauh di luar batas perilaku anak-anak normal. Awal munculnya gejala biasanya usia 8 tahun. Anak-anak dengan ODD terus menerus bertengkar, berbantahan, mudah kehilangan kesabaran, merebut barang-barang, menyalahkan orang lain, pemarah dan dongkol, memiliki sedikit teman, terus menerus bermasalah di sekolah, dan menguji batas kesabaran orang dewasa.

Temper tantrum sering dialami pada anak usia dini karena ketidakmampuan mereka dalam mengontrol emosi, mengungkapkan kemarahan dengan tepat, dan terjadinya kondisi regresi atau fixasi dalam perkembangan. Menurut Freud, salah satu self defence mechanism yang sering dikembangkan oleh anak adalah dengan berhenti pada tahap perkembangan sebelumnya dengan tidak mau menuntaskan tugas-tugas pada fase perkembangannya. Mereka tidak berani memasuki fase perkembangan berikutnya, karena kecemasan terhadap tuntutan yang lebih pada fase yang lebih tinggi. Contohnya, pada anak TK yang masih menunjukkan perilaku temper tantrum secara terus menerus, atau masih terus minum susu dengan menggunakan dot, atau masih selalu mengompol dan BAB di celana.
Terdapat 3 jenis tantrum yang sering terjadi pada anak usia dini:
a. Manipulative Tantrum
Manipulative tantrum merupakan salah satu bentuk tantrum yang terjadi karena dibuat-buat oleh anak. Biasanya anak melakukan hal ini dengan alasan menggunakan cara tantrum ini sebagai senjata dia untuk mendapatkan apa dia inginkan, atau mencari perhatian.
b. Verbal frustration tantrum
Anak yang mengalami verbal frustration tantrum cenderung menujukkan kemarahan yang berlebih dengan mengomel, banyak bicara sambil menangis dan meraung.
c. Temperramental Tantrum
Perilaku anak yang menunjukkan temperramental tantrum, biasanya tidak cukup diatasi oleh orang tua atau guru saja. Tetapi, membutuhkan bantuan ahli seperti: konselor dan psikolog.

Pemahaman terhadap temper tantrum tidak hanya dapat dilakukan dengan mengamati penyebab munculnya perilaku tersebut, tetapi dapat pula diamati dari gejala-gejala yang tampak. Terdapat beberapa gejala yang dapat muncul pada anak temper tantrum , yaitu:
a. Anak memiliki kebiasaan tidur, makan, dan buang air besar tidak teratur
b. Sulit beradaptasi dengan situasi, makanan dan orang-orang baru
c. Lambat beradaptasi terhadap perubahan yang terjadi
d. Mood atau suasanan hatinya lebih seing negatif. Anak sering merespons sesuatu dengan penolakan
e. Mudah dipengaruhi sehingga timbul perasaan marah atau kesal
f. Perhatiannya sulit dialihkan
g. Memiliki perilaku yang khas, seperti: menangis, menjerit, membentak, menghentak-hentakkan kaki, merengek, mencela, mengenalkan tinju, membanting pintu, memecahkan benda, memaki, mencela diri sendiri, menyerang kakak/adik atau teman, mengancam, dan perilaku-perilaku negatif lainnya.

3. Menarik Diri (Withdrawl)
Withdrawl merupakan salah satu tipe emotional disturbance yang diarahkan ke dalam diri. Berbeda dengan agresivitas yang ekspresi emosinya diarahkan ke luar diri dengan melakukan tindakan-tindakan agresi kepada orang atau benda-benda di luar dirinya, withdrawl merupakan permasalahn emosi yang diarahkan dalam diri dengan kecendurungan menarik diri dari interaksi sosial menurut Hallahan & Kauffman seperti yang dikutip oleh Riana Mashar . Menurut Izzaty, anak yang mengalami withdrawl akan sulit bergaul, cenderung bermain sendiri, tidak dapat bersosialisasi dan berbagi dengan teman sekolahnya.
Anak yang mengalami withdrawl cukup mudah diamati karena menunjukkan gejala-gejala umum, seperti :
a. Tidak mau bersosialisasi atau bergaul selain dengan keluarga
b. Pendiam, rendah diri, malu, takut, tidak banyak bicara, dan bermain sendiri
c. Sering melamun, menyendiri, dan tidak suka keramaian
d. Sibuk dengan kegiatan diri sendiri
e. Menjadi bahan olok-olokan teman sebaya
f. Cenderung tidak suka terlibat dalam kegiatan kelompok

4. Kecemasan (Anxiety)
Anxietas atau kecemasan (anxiety) adalah suatu keadaan aprehensi atau keadaan khawatir yang mengeluhkan bahwa sesuatu yang buruk akan segera terjadi. Banyak hal yang harus dicemaskan-misalnya kesehatan kita, relasi sosial, ujian, karier, relasi internasional, dan kondisi lingkungan adalah beberapa hal yang menjadi sumber kekhawatiran. Hal yang normal dan adaptif untuk sedikit merasa cemas mengenai aspek-aspek hidup tersebut. Kecemasan bermanfaat bila hal tersebut mendorong kita untuk melakukan pemeriksaan medis secara reguler atau memotivasi kita untuk belajar menjelang ujian. Kecemasan adalah respon yang tepat terhadap ancaman, tetapi kecemasan bisa menjadi abnormal bila tingkatannya tidak sesuai dengan proporsi ancaman, atau bila sepertinya datang tanpa ada penyebabnya yaitu, bila bukan merupakan respon terhadap perubahan lingkungan. Dapat pula dikatakan bahwa kecemasan adalah suatu keadaan emosional yang mempunyai ciri keterangsangan fisiologis, perasaan tegang yang tidak menyenangkan, dan perasaan aprehensif bahwa sesuatu yang buruk akan terjadi.
Di samping itu, Cattel dan Scheier seperti yang dikutip oleh Mashar mengemukakan bahwa kecemasan merupakan reaksi emosi sementara yang timbul pada situasi tertentu, yang dirasakan sebagai suatu ancaman. Kecemasan atau anxietas dapat pula diartikan sebagai rasa takut pada sesuatu tanpa sebab yang jelas, yang seringkali berlangsung lama. Biasanya rasa takut ini juga disertai oleh kegelisahan dan dugaan-dugaan akan terjadinya hal-hal buruk. Pada anak, rasa cemas biasanya terjadi saat anak berusia tiga tahun, bentuknya dapat berupa rasa cemas kehilangan kasih sayang orang tua, cemas akan mengalami rasa sakit, cemas karena merasa berbeda dengan orang lain, atau mengalami kejadian yang tidak menyenangkan. Pada usia dua sampai enam tahun, pikiran tentang bahaya yang nyata maupun yang ada dalam imajinasinya sendiri seringkali menjadi sumber kecemasan. Pada anak pra sekolah, kecemasan yang banyak dialami adalah kecemasan karena perpisahan (separation anxiety disorders) dengan pengasuh terutama pada saat anak awal masuk sekolah. Gejala-gejala yang dapat diamati saat anak mengalami kecemasan diadaptasi dari Mashar antara lain berupa gelisah, menangis, sulit tidur, mimpi buruk, sulit makan, gangguan pencernaan, kesulitan pernapasan, dan ketidakmauan ditinggal sendiri.
Dari beberapa tipe gangguan kecemasan yang dipaparkan oleh Nevid, salah satu diantaranya yang sering dialami oleh anak usia dini adalah takut berlebihan (fobia). Fobia berasal dari kata Yunani phobos, yang berarti “takut”. Konsep takut dan cemas bertautan erat. Takut adalah perasaan cemas dan agitasi sebagai respon terhadap suatu ancaman. Gangguan fobia adalah rasa takut yang persisten terhadap objek atau situasi dan rasa takut ini tidak sebanding dengan ancamannya. Hal yang aneh tentang fobia adalah biasanya melibatkan ketakutan terhadap peristiwa yang biasa dalam hidup, bukan yang luar biasa. Orang dengan fobia mengalami ketakutan untuk hal-hal yang biasa yang untuk orang lain sudah tidak terpikirkan lagi. Fobia dapat mengganggu bila mereka mempengaruhi tugas sehari-hari sepertu naik bus, dalam gelap, dalam ketinggian, berbelanja, pergi ke luar rumah.
Tipe fobia yang berbeda biasanya muncul pada usia yang berbeda-beda pula, seperti yang dapat dilihat pada tabel berikut:

Tipikal Fobia
Jumlah rata-rata kasus Rata-rata Usia Muncul
Fobia Binatang 50 7
Fobia Suntikan 59 8
Fobia Darah 40 9
Fobia Dental 60 12
Fobia Sosial 80 16
Claustrophobia 40 20
Agorafobia 100 28
Sumber: diadaptasi dari Ost dalam Jeffry S. Nevid, dkk
Usia kemunculan sepertinya merefleksikan tahap perkembangan kognitif dan pengalaman hidup. Ketakutan terhadap binatang seringkali merupakan subjek dari fantasi anak-anak. Sebaliknya, agorafobia biasanya muncul mengikuti serangan panik yang mulai pada masa dewasa. Dan jika diperhatikan, maka anak usia dini lebih sering mengalami fobia tipe fobia binatang dan fobia suntikan.

5. Hipersensitivitas
Hipersensitivitas adalah kepekaan emosional yang berlebihan dan cukup sering dijumpai pada anak-anak. Anak dikatakan hipersensitivitas bila ia mudah sekali merasa sakit hati dan menunjukkan respons yang berlebihan terhadap sikap dan perasaan orang lain. Anak yang hipersenditif ini tidak dapat menerima penilaian, komentar, dan kritik orang lain tanpa rasa sakit hati. Reaksi anak terhadap rasa sakit hati dapat berupa baik yang nyata maupun yang hanya berdasar prasangkanya saja, dapat membangkitkan perasaan kesal yang mendalam. Anak yang hipersensitif biasanya juga mudah marah (temperamental) dan sering mengalami suasana hati yang murung tanpa penyebab yang jelas.

6. Bunuh Diri
Dalam Global Petang tanggal 29 Mei 2006 yang silam diberitakan adanya seorang bocah usia delapan tahun meninggal dengan cara gantung diri di tali jemuran rumahnya setelah dimarahi guru di sekolah, karena belum memotong kuku jari. Ada masih banyak lagi kasus serupa yang mengindikasikan bahwa anak tidak memiliki kesiaptahanan dalam menghadapi persoalan.
Santrock menyatakan bahwa angka bunuh diri berkembang pesat tiga kali lipat dalam 30 tahun terakhir. Laki-laki diperkirakan lebih sering melakukan kecendurungan bunuh diri dari perempuan, hal ini dapat pula disebabkan oleh metode-metode mereka yang lebih aktif dalam mencoba bunuh diri – misalnya dengan menembak. Sebaliknya, perempuan cenderung menggunakan metode-metode pasif seperti pil tidur, yang cenderung kurang mematikan.
Bunuh diri menurut Kristal dalam Mashar dalam beberapa budaya dapat diteruma sebagai sebuah peristiwa heroik atau kepahlawanan. Bunuh diri tidak selalu merupakan tindakan menyakiti atau merusak diri sendiri tetapi merupakan “sebuah tangiasn untuk meminta pertolongan”. Bunuh diri biasanya dikaitkan dengan adanya perasaan depresi dan kehilangan. Sebagian besar korban bunuh diri adalah laki-laki. Bunuh diri pada anak sebenarnya tidak ditujukan untuk mencari kematian, tetapi sebagai manifestasi dari perasaan tidak dipahami dan tidak dihargai.

C. Faktor Penyebab Gangguan Sosial Emosional Anak Usia Dini
Mengenai latar belakang timbulnya gangguan sosio emosional telah banyak dikemukakan oleh para ahli yang berkecimpung dalam usaha penanggulangannya. Dinamika keadaan yang melatarbelakangi anak gangguan sosio emosional beserta gejala-gejalanya perlu ditelusuri untuk memberikan pemahaman yang jelas tentang anak yang mangalami gangguan tersebut. Dengan memahami hal itu akan mempermudah dalam usaha menanggulangi dan memberikan pelayanan yang sesuai dengan kebutuhan anak.
Dari berbagai faktor yang berkaitan dengan masalah gangguan sosio emosional, berikut dibahas mengenai kondisi/keadaan fisik, masalah perkembangan, lingkungan keluarga, sekolah, dan masyarakat.
1. Kondisi/keadaan fisik
Telah banyak tulisan maupun penelitian yang mengupas masalah kondisi/keadaan fisik dalam kaitannya dengan masalah gangguan tingkah laku, baik yang merupakan akibat langsung maupun tidak langsung.
Ada sementara ahli yang meyakini bahwa disfungsi kelenjar endoktrin dapat mempengaruhi timbulnya gangguan tingkah laku, atau dengan kata lain kelenjar endoktrin berpengaruh terhadap respon emosional seseorang. Bahkan dari hasil penelitiannya, Gunzburg seperti yang dikutif oleh Sutjihati Somantri menyimpulkan bahwa disfungsi kelenjar endoktrin merupakan salah satu penyebab timbulnya kejahatan. Kelenjar endoktrin ini mengeluarkan hormone yang mempengaruhi tenaga seseorang. Bila secara terus menerus fungsinya mengalami gangguan, maka dapat berakibat terganggunya perkembangan fisik dan mental seseorang sehingga akan berpengaruh terhadap perkembangan wataknya.
Kondisi fisik ini dapat pula berupa kelainan atau kecacatan baik tubuh maupun sensoris yang dapat mempengaruhi perilaku sesorang. Kecacatan yang dialami seseorang mengakibatkan timbulnya keterbatasan dalam memenuhi kebutuhannya baik berupa kebutuhan fisik-biologis maupun kebutuhan psikisnya.
Masalah ini menjadi kompleks dengan adanya sikap atau perlakuan negatif dari lingkungannya. Sebagai akibatnya, timbul perasaan rendah diri, perasaan tidak berdaya/tidak mampu, mudah putus asa, dan merasa tidak berguna sehingga menimbulkan kecendrungan menarik diri dari lingkungan pergaulan atau sebaliknya, memperlihatkan tingkah laku agresif, atau bahkan memanfaatkan kelainannya untuk menarik belas kasih lingkunggannya.
2. Masalah Perkembangan
Didalam menjalani setiap fase perkembangan individu, sulit untuk terhindar dari berbagai konflik. Mengenai hal ini, Erikson yang dikutif dalam Sutjihati Somantri menjelaskan bahwa setiap memasuki fase perkembangan baru, individu dihadapkan pada berbagai tantangan atau krisis emosi. Anak biasanya dapat mengatasi krisis emosi ini jika pada dirinya tumbuh kemampuan baru yang berasal dari adanya proses kematangan yang meyertai perkembangan. Apabila ego dapat mengatasi krisis ini, maka perkembangan ego yang matang akan terjadi sehingga individu dapat menyesuaikan diri dengan lingkungan sosial atau masyarakatnya. Sebaliknya apabila individu tidak berhasil menyelesaikan masalah tersebut maka akan menimbulkan gangguan emosi dan tingkah laku. Konflik emosi ini biasanya terjadi pada masa kanak-kanak dan masa puberitas.
Adapun ciri yang menonjol yang nampak pada masa kritis ini adalah sikap menantang dank eras kepala. Kecenderungan ini disebabkan oleh karena anak sedang dalam proses menemukan “aku”nya. Anak merasa jadi tidak puas dengan otoritas lingkungan sehingga timbul gejolak emosi yang meledak-ledak, misalnya: marah, menentang, memberontak, dank eras kepala. Emosi yang kuat seringkali meluap-luap sehingga dapat menimbulkan ketegangan dan kecemasan. Mereka seringkali menentang dan melanggar peraturan baik dirumah maupun disekolah.
Kartini Kartono (1982) menegaskan bahwa penghalang terhadap kelangsungan fungsi-fungsi fisik atau psikis pada masa ini dapat mengakibatkan kemunduran pada individu. Jiwa anak yang masih labil pada masa ini banyak menagndung resiko berbahaya, jika kurang mendapatkan bimbingan dan pengarahan dari orang dewasa maka anak akan mudah terjerumus pada tingkah laku menyimpang.
3. Lingkungan Keluarga
Kajian terhadap lingkungan keluarga dalam kaitannya dengan masalah ketunalarasan telah lama menjadi perhatian ahli. Sebagai lingkungan pertama dan utama dalam kehidupan anak, keluarga memilki pengaruh yang demikian penting dalam membentuk kepribadian anak. Keluargalah peletak dasar perasaan aman (emotional security) pada anak, dalam keluarga pula anak memperoleh pengalaman pertama mengenai perasaan dan sikap sosial. Lingkungan keluarga yang tidak mampu memberikan dasar perasaan aman dan dasar untuk perkembangan sosial dapat menimbulkan gangguan emosi dan tingkah laku anak.
Mengingat banyak sekali faktor yang terdapat dalam lingkungan keluarga yang berkaitan dengan masalah gangguan emosi dan tingkah laku, maka dalam pembahasan berikut akan dikemukakan beberapa aspek diantaranya:
a. Kasih sayang dan perhatian
Kasih saying dan perhatian orang tua dan anggota keluarga lain sangat dibutuhkan oleh anak. Kurangnya kasih sayang dan perhatian orang tua mengakibatkan anak mencarinya diluar rumah. Dia bergabung dengan kawan-kawannya dan membentuk suatu kelompok anak yang merasa senasib. Selain itu memperoleh rasa aman dalam kelompoknya, dapat juga anak dengan sengaja melakukan perbuatan tercela dan menetang norma lingkungan untuk memperoleh perhatian orang tuanya. Menegenai hal ini, Sofyan S. Willis dalam Sutjihati Somantri mengemukakan bahwa mereka berkelompok untuk memenuhi kebutuhan yang hampir sama, antara lain mendapatkan perhatian dari orang tua dan masyarakat.
Selain sikap diatas, tidak jarang diantara orang tua justru memberikan kasih sayang, perhatian, dan bahkan perlindungan yang berlebihan (over protective). Sikap memanjakan dapat menyebabkan ketergantungan pada anak sehingga jika anak mengalami kegagalan dalam mencoba sesuatu ia lekas menyerah dan merasa kecewa, sehingga pada akhirnya akan timbul rasa tidak percaya diri/rendah diri pasda anak.
b. Keharmonisan keluarga
Banyak tindakan kenakalan atau gangguan tingkah laku dilakukan oleh anak-anak yang berasal dari lingkungan keluarga yang kurang harmonis. Ketidakharmonisan ini dapat disebabkan oleh pecahnya keluarga atau tidak adanya kesepakatan antara orang tua dalam menerapkan disiplin dan pendidikan terhadap anak. Kondisi keluarga yang pecah atau rumah tangga yang kacau menyebabkan anak kurang mendapatkan bimbingan yang semestinya.
Berdasarkan hasil studinya, Hetherington dalam Sutjihati Somantri menyimpulkan hampir semua anak yang menghadapi perceraian orang tua mengalami masa peralihan yang sangat sulit.
Orang tua yang sering berselisih paham dalam menerapkan peraturan atau disiplin dapat menimbulkan keraguan pada diri anak akan kebenaran suatu norma, sehingga akhirya anak mencari jalan sendiri dalam hal ini dapat saja menjadi awal dari terjadinya gangguan tingkah laku.
c. Kondisi ekonomi
Lemahnya kondisi ekonomi keluarga dapat pula menjadi salah-satu penyebab tidak terpenuhinya kebutuhan anak, padahal sdeperti kita ketahui pada diri anak timbul keinginan-keinginan untuk menyamai temannya yang lain, misalnya: dalam berpakaian, kebutuhan akan hiburan, dan lain-lain. Tidak terpenuhinya kebutuhan tersebut didalam kelaurga dapat mendorong anak mancari jalan sendiri yang kadang-kadang mengarah pada tindakan anti sosial. G.W. Bawengan (1977) menyatakan bahwa kondisi-kondisi seperti kemiskinan atau pengangguran secara relative dapat melengkapi rangsangan-rangsangan untuk melakukan pencurian, penipuan, dan perilaku menyimpang lainnya.

4. Lingkungan Sekolah
Sekolah merupakan tempat pendidikan yang kedua bagi anak setelah keluarga. Tanggung jawab sekolah tidak hanya sekedar membekali anak didik dengan sejumlah ilmu pengetahuan, akan tetapi sekolah juga bertanggung jawab membina keprbadian anak didik sehingga menjadi seorang individu dewasa yang bertanggung jawab baik terhadap dirinya sendiri maupun terhadap lingkungan masyarakat yang lebih luas. Akan tetapi tidak jarang sekolah dapat menjadi penyebab timbulnya gangguan tingkah laku pada anak seperti yang dikemukakan Sofyan Willis (1978) bahwa dalam rangka pembinaan anak didik kearah kedewasaan, kadang-kadang sekolah juga penyebab dari timbulnya kenakalan remaja.
Timbulnya gangguan tingkah laku yang disebabkan lingkungan sekolah antara lain berasal dari guru sebagai tenaga pelaksana pendidikan dan fasilitas penunjang yang dibutuhkan anak didik. Perilaku guru yang otoriter mengakibatkan anak merasa tertekan dan takut menghadapi pelajaran. Anak lebih memilih membolos dan berkeluyuran pada saat seharusnya ia berada didalam kelas. Sebaliknya, sikap guru yang terlampau lemah dan membiarkan anak didiknya tidak disiplin mengakibatkan anak didik berbuat sesuka hati dan berani melakukan tindakan-tindakan menentang peraturan.
Selain guru, fasilitas pendidikan berpengaruh pula terhadap terjadinya gangguan tingkah laku. Sekolah yang kurang mempunyai fasilitas yang dibutuhkan anak didik untuk menyalurkan bakat dan mengisi waktu luang mengakibatkan anak menyalurkan aktivitasnya pada hal-hal yang kurang baik. Misalnya: karena tidak ada tempat untuk bermain, anak berkeliaran ditempat-tempat umum sehingga kadang-kadang anak mengabaikan waktu belajarnya.

5. Lingkungan Masyarakat
Lingkungan tempat anak berpijak sebagai mahluk sosial adalah masyarakat. Apakah benar tingkah laku anak dibentuk oleh lingkungan soisalnya? Yang jelas menurut Bandura (dalam Kirk & Gallagher, 1986), salah satu hal yang nampak mempengaruhi pola perilaku anakdalam lingkungan sosial adalah keteladanan, yaitu menirukan perilaku orang lain.
Disamping pengaruh-pengaruh yang bersifat positif, didalam lingkungan masyarakat juga terdapat banyak sumber yang merupakan pengarug negative yang dapat memicu timbulnya perilaku menyimpang. Sikap masyarakat yang negative ditambah banyaknya hiburan yang tidak sesuai dengan perkembangan jiwa anak merupakan sumber terjadinya kelainan tingkah laku. Hal ini terutama terjadi dikota-kota besar dimana tersedia berbagai fasilitas tontonan dan hiburang yang tidak tersaring oleh budaya local.
Masuknya pengaruh budaya asing yang tidak sesuai dengan tradisi yang dianut masyarakat yang diterima begitu saja oleh kalangan remaja dapat menimbulkan konflik yang sifatnya negative. Disatu pihak para remaja menganggap bahwa kebudayaan asing itu benar, sementara di pihak lain masyarakat masih memegang norma-norma yang bersumber pada adat dan istiadat agama. Selanjutnya konflik juga dapat timbul pada diri anak sendiri yang disebabkan norma yang dianut dirumah atau keluarga ditekankan pada tingkah laku sopan dan menghargai orang lain, akan tetapi ia menemukan kenyataan lain dalam masyarakat dimana banyak ditemukan tindakan kekerasan dan tidak adanya sikap saling menghargai.
Selain faktor-faktor secara umu, berikut ini coba dikemukakan faktor penyebab secara spesifik terhadap masing-masing jenis gangguan yang dibatasi pada pembahasan makalah ini antara lain:
1. Faktor pemicu agresivitas
Agresivitas terjadi pada setiap anak, terdapat beberapa faktor yang dapat meneyebabkannya. Faktor ini dapat berupa faktor biologis yang berasal dari dalam diri anak (internal) maupun faktor lingkungan yang berasal dari luar diri anak (eksternal). Faktor-faktor biologis dapat berupa pengaruh genetik, system otak, dan kimia darah (hormone seks). Adapun faktor-faktor eksternal yang dapat berupa kemiskinan, kondisi lingkungan fisik yang tidak mendukung (suhu udara yang panas, oksigen yang terbatas), dan kecendrungan meniru model kekerasan yang ada disekitarnya, baik melalui pengamatan langsung terhadap figure-figur model yang ada disekitarnya maupun pengamatan tidak langsung pada figur-figur model kekerasan ditelevisi.
Selain karena faktor-faktor yang telah diuraikan tersebut, Izzaty menguraikan bahwa perilaku agresi dapat terpicu oleh beberapa sumber yang berasal dari dalam diri anak maupun lingkungan sekitarnya. Namun terkadang penyebab perilaku agresi pada anak dapat disebabkan oleh pemicu yang berkaitan dengan kondisi perkembangan, seperti kemampuan bicara belum lancar, energi anak yang berlebihan, perasaan yang tertekan dan terluka, serta keinginan mencari perhatian.
2. Faktor pemicu kecemasan
Sebagian faktor kecemasan dapat disebabkan oleh pola asuh orang tua yang kurang tepat, terutama saat awal kehidupan anak dalam membentuk basic trust atau kepercayaan dasar. Anak yang tidak memilki rasa aman dan memandang dunia diluar dirinya sebagai ancaman, ia cendrung akan lebih muda mengalami kecemasan khususnya saat mengalami berbagai perubahan situasi dan kondisi sekitar.
Beberapa penyebab kecemasan yang dialami anak yaitu:
a. Orang tua yang terlalu melindungi (over protective)
b. Orang tua signifikan others yang tidak konsisten, yang menyebabkan anak tidak mampu memprediksi sesuatu yang akan terjadi.
c. Aturan atau disiplin yang terlalu berlebihan, sehingga menimbulkan rasa cemas pada anak jika melakukan kesalahan karena adanya hukuman atau sanksi yang ditakuti anak.
d. Orang tua yang selalu menuntut kesempurnaan atas prestasi anak, membuat anak selalu merasa dituntut melakukan yang terbaik. Hal ini dapat menimbulkan ketegangan pada pada diri anak dan membuat anak tidak dapat rileks dalam menghadapi berbagai sesuatu.
e. Anak yang selalu mendapat penghargaan bersyarat (conditioning regard), akan cendrung mengalami kecemasan karena anak akan menuntut dirinya sesuai tuntutan dari lingkungan dan membuat anak tidak dapat berekspresi apa adanya.
f. Kritikan yang berlebihan dari orang tua atau orang dewasa disekitarnya.
g. Ketergantungan yang berlebihan terhadap orang dewasa yang ada disekitarnya. Anak yang selalu tergantung pada orang lain dan tidak dibiasakan untuk mandiri, cendrung lebih mudah mengembangkan kecemasan karena ketidakpercayaan pada diri sendiri bahwa ia mampu.
h. Anak yang cendrung tidak banyak bersosialisasi pada orang lain.
i. Figure model dari orang tua atau significan others yang sering menunjukkan kecemasan.
j. Adanya kegagalan atau frustasi yang terus-menerus.
Sedangkan faktor pemicu kecemasan berupa takut berlebihan atau fobia ada beberapa hal antara lain: perasaan takut ini biasanya muncul karena adanya peristiwa atau situasi yang dianggap berbahaya. Terdapat beberapa sumber takut yang biasa dialami oleh individu, yaitu hewan (serangga, ngengat, dan lalat), benda-benda yang berbahaya seperti listrik, mobil, senjata, atau tempat-tempat tertentu.

3. Faktor pemicu Temper Tantrum
Izzaty dalam Riana Mashar , menyatakan bahwa beberapa ahli menyebutkan penyebab temper tantrum yang paling umum terjadi pada anak karena beberapa hal, yaitu frustasi, lapar, sakit, kemarahan, kecemburuan, perubahan dalam rutinitas, serta tertekan dirumah dan disekolah.
4. Faktor pemicu Menarik Diri (Withdrawl)
Terdapat beberapa penyebab withdrawl pada anak, yaitu faktor lingkungan yang kurang member stimulasi dan dorongan untuk bersosialisasi; serta kecendrungan tipe kepribadian anak yang menurut Jung mengarah pada tipe kepribadian introvert. Atau ditinjau dari disposisi emosional berdasar cairan tubuh yang dikemukakan Hippocrates, maka anak tersebut cendrung termasuk dalam kategori melankolis. Selain kedua faktor tersebut, Izaty dalam Riana Mashar mengungkapkan bahwa rasa tidak puas pada diri anak terhadap lingkungan, ketiadaan minat yang sama, dan perbedaan usia anak dengan teman sebayanya, dapat menjadi faktor yang menimbulkan perilaku withdrawl.
5. Faktor pemicu Hipersensitivitas
Hipersensitivitas dapat disebabkan karena perasaan berbeda dengan orang lain. Anak merasa dirinya tidak sepandai, semenarik atau sepopuler anak-anak lain. Selain itu, dapat pula disebabkkan oleh adanya harapan-harapan yang tidak realistis. Bila anak terlalu berharap dari orang lain, secara terus-menerus mereka akan kecewa. Hipersensitivitas berkembang sejak anak menginginkan adanya penerimaan yang total dari orang lain, setiap pertanda adanya penolakan akan dirasakan sangat menyakitkan. Anak yang hipersensitif memilki harapan yang tinggi bahwa orang lain akan selau bersikap manis dan selalu memahami kebutuhan-kebutuhannya. Kondisi tersebut biasanya terbentuk dari pola asuh dan sikap orang tua yang overprotective dan memanjakan.
6. Faktor pemicu Bunuh Diri
Hidayat dalam Riana Mashar , menyatakan bahwa bunuh diri adalah tindakan merusak diri sendiri yang mengakibatkan kematian. Bunuh dari pada anak-anak umumnya disebabkan implusivitas dank karena kekacauan dalam kelaurga. Menurut Sigmund Freund, bunuh diri pada penderita kesedihan dan depresi ada hubungannya dengan agresi. Kehilangan objek cinta menyebabkan agresi terhadap objek yang hilang ini, kemudian berbalik pada diri sendiri (introspeksi). Adapun pada penderita psikotik bunuh diri dapat berhubungan dengan halusinasi atau waham yang diderita. Orang yang menderita kesulitan hidup (terbelit utang) dan melakukan tindakan bunuh diri dapat dijelaskan dengan menggunakan teori Nico Speijer, yang menyatakan bahwa pada kejadian bunuh diri terdapat agresi hebat yang tidak dapat disalurkan atau disublimasikan. Agresi timbul setelah orang mengalami frustasi, misalnya karena tidak mampu membayar utang, kehilangan harga diri, menyatakan bahwa integrasi sosial dan regulasi sosial dapat mempengaruhi perilaku bunuh diri disuatu masyarakat.

D. Upaya Intervensi Gangguan Perkembangan Sosial dan Emosional Anak Usia Dini
Sebelum melakukan intervensi, seperti yang telah diketahui bahwa langkah awal adalah melakukan asesmen dahulu sebagai bentuk deteksi dini pada kondisi anak agar dapat memastikan jenis gangguan dan kondisi tingkat gangguan yang terjadi pada anak. Dengan demikian, baik orangtua maupun guru dapat memberikan intervensi atau penanganan atau tindakan yang tepat untuk menghadapi anak yang mengalami gangguan sosial dan emosional.
Beberapa penanganan yang dapat dilakukan oleh orang dewasa sebagai bentuk intervensi pada anak usia dini yang mengalami gangguan sosial emosional tertentu seperti di bawah ini:
1. Agresivitas (salah satu bentuk ketunalarasan)
Riana Mashar mengatakan bahwa agresivitas pada anak usia dini yang tidak ditangani dengan baik akan berpeluang besar menjadi perilaku yang menetap dan menimbulkan masalah baru di masa perkembangan selanjutnya. Berbagai perilaku antisosial, kenakalan remaja, putus sekolah, perilaku-perilaku negatif lain dapat terjadi karena agretivitas masa usia dini tidak tertangani dengan baik.
Mengingat pentingnya penanganan agretivitas sejak dini, maka orang tua dan pendidik perlu memerhatikan beberapa perlakuan awal bagi anak dengan perilaku agresi sebgaai berikut :
1. Mengajarkan semua anak tentang keterampilan sosila untuk berhubungan dengan orang lain.
2. Menciptakan lingkungan sekolah yang menekan tingkat frustasi atau tekanan pada anak, sehingga lebih memberi keleluasaan anak dalam beraktifitas selama proses pembelajaran, misalnya dengan penerapan pembelajaran aktif.
3. Anak yang berprilaku agresif dapat diatasi dengan menerapkan peraturan yang disertai dengan pemberian penguat atau positive reinforcement dan negative reinforcement.
4. Orang tua dan pendidik dapat pula menerapkan tekhnik penghapusan (extinction) atau pengabaian, yaitu dengan mengabaikan perilaku agresi anak dan tidak menunjukkan perhatian saat anak berperilaku agresi.
5. Anak diajarkan untuk lebih mengembangkan kecerdasan emosinya, dengan melatih anak untuk mampu mengenali emosi, mengelola emosi, berempati, mengembangkan hubungan baik dengan teman, dan motivasi diri. Ini semua dapat diawali dengan relaksasi diri.

2. Kecemasan
Banyak hal yang menjadi sumber kecemasan pada anak, beberapa penyebab kecemasan sebagaimana dipaparkan oleh Riana Mashar yang dialami anak yaitu:
1. Orang tua yang terlalu melindungi ( over protective)
2. Orang tua atau siginificant others yang tidak konsisten, yang menyebabkan anak tidak mampu memprediksi sesuatu yang akan terjadi
3. Aturan atau disiplin yang terlalu berlebihan, sehingga menimbulkan rasa cemas pada anak jika melakukan kesalahan karena ada hukuman dan sangsi yang ditakuti anak.
4. Orangtua selalu menuntut kesempurnaan atas prestasi anak, membuat anak selalu merasa dituntut melakukan yang terbaik. Hal ini dapat menimbulkan ketegangan pada diri anak dan membuat anak tidak dapat relaks dalam menghadapi berbagai sesuatu.
5. Anak yang selau mendapat penghargaan bersyarat (conditioning regard), akan cenderung mengalami kecemasan karena anak akan menuntut dirinya sesuai tuntutan dari lingkungan dan membuat anak tidak dapat berekspresi apa adanya.
6. Kritikan yang berlebihan dari orang tua atau orang dewasa di sekitarnya.
7. Ketergantungan yang berlebihan pada orang dewasa yang ada di sekitarnya .anak yang selalu tergantung pada orang lain dan tidak dibiasakan untuk mandiri, cenderung lebih mudah mengembangkan kecemasan karena ketidak percayaan kepada diri sendiri bahwa dia mampu.
8. Anak yang cenderung tidak banyak bersosialisasi dengan orang lain.
9. Figure model dari orang tua atau significan others yang sering menunjukkan kecemasan.
10. Adanya kegagalan atau frustasi yang terus menerus.
Penanganan kecemasan pada anak harus didahului dengan penanganan terhadap orang tua. Beberapa cara yang dapat ditempuh untuk menangani kecemasan pada anak adalah sebagai berikut:
1. Mencari sumber yang mebuat anak cemas
2. Memberikan rasa aman pada anak dengan menunujukkan sikap yang tenang, menerima keadaan anak, dan tidak menambah beban psikologis pada anak dengan mengancam, menakut-nakuti, atau memarahi anak.
3. Membantu anak mengatasi rasa cemasnya misalnya dengan menerapkan tekhnik desentitasi sistematis, yaitu cara bertahap membantu anak sedikit demi sedikit mengurangi kecemasannya secara bertahap.
4. Mengalihkan anak dari sumber rasa cemas dengan melatih anak untuk relaksasi atau melakukan kegiatan-kegiatan lain yang menarik.
5. Melakukan hal-hal yang menenangkan, seperti mendengarkan music, cerita, atau menggambar.
6. Mengajak anak berbicara tentang sumber kecemasan yang dialami dengan kata-kata yang menenangkan dan membuat ia merasa nyaman.
7. Membiasakan anak terbuka dan mampu mengekspresikan perasaannya.
8. Meminta bantuan ahli jika kecemasan anak berlarut-larut.
Selain itu Rini Hildayani mengatakan bahwa terdapat beberapa bentuk kecemasan, yaitu fobia, fobia merupaka ketakutan yang tidak realistik, intens dan mengganggu terhadap obyek atau peristiwa yang relative tidak berbahaya. Penyebab fobia masih belum diketahui secara pasti, apakah suatu stimulus akan mendatangkan ketakutan tergantung pada perasaan aman yang dimiliki anak. Perasaan aman ini sering dipengaruhi asing tidaknya setting fisik dan sosial bagi anak, tingkat perkembangan kognitif yang menentukan apkah sebuah peristiwa akan dikelompokkan sebagai suatu yang cukup dikenal atau asing bagi anak, keadaan kesejahteraan anak dan karakteristik temperamental jangka panjang, seperti kuat dan tabah atau sensitive dan mudah merasa takut. Dalam penanganan fobia adalah anda menjadi model yang baik bagi anak. Dengan modeling, anak mengamati bagaimana anda berinteraksi secara adaptif dengan objek yang ditakutinya. Hal lain yang juga dapat dilakukan adalah juga participatory modeling, artnya anak bergabung dengan model untuk mendekati, mengamati objek yang ditakutinya secara bertahap dan perlahan.
Salah satu ketakutan yang umum terjadi pada anak anak adalah ketakutan pada sekolah atau biasa disebut fobia sekolah. meskipun belum ditemukan adanya alas an yang jelas untuk terjadinya serngan fobia, King, Hamilton, dan Ollendick. Wenar mengemukakan bahwa perubahan sekolah, penyakit atau kematian orang tua, serta kondisi yang mengharuskan anak untuk tinggal di rumah akibat sakit atau kecelakaan dapat menjadi peristiwa-peristiwa umum yang menyebabkan anak fobia terhadap sekolah. Selain itu sebuah penelitian kecil tentang keluarga juga menemukan bahwa fobia sekolah dapat terjadi pada anak-anak yang sangat dependen dan orang tua yang terlibat secara berlebihan.
Dalam penanganan fobia sekolah ini Kearney dan Silverman mengemukaan bahwa penanganannya harus disesuaikan dengan ketakutan yang dialami anak. Anak yang mengalami ketakutan pada setting sekolah tertentu, misalnya guru, atau bis sekolah, dapat ditangani dengan cara menghadirkan secara perlahan-lahan objek yang ditakutinya. Anak yang ingin melepaskan diri dari situasi sosial yang tidak menyenangkan misalnya hubungan dengan teman yang tidak menyenangkan, ditanganani dengan tekhnik modeling dan restrukturisasi kognitif. Adapun anak-anak yang memperlihatkan keluhan fisik tetap ditempatkan di rumah dan penanganan dilakukan dengan menginstruksikan orangtua untuk mengabaikan anak, menempatkan anak di dalam kamar, dan memberi pilihan pada anak untuk tinggal di rumah dengan konsekwensi tertentu ( misalnya tidak diperkenankan menonton tv , tidak boleh bermain dan lainnya) atau hadir di sekolah.
Takut berlebihan atau disebut juga fobia yang merupakan bagian dari kecemasan atau anxietas. Perasaan takut yang berlebihan pada anak akan menghambat anak dalam beraktifitas, sehingga perlu penanganan secara tepat. Beberapa hal yang perlu dilakukan untuk mengatasi ketakutan yang berlebihan pada anak antara lain :
a. Mengidentifikasi ketakutan anak dan tidak membebani anak dengan kecemasan-kecemasan yang dirasakan oleh pendidik atau orang tua
b. Memberi pengertian kepada anak tentang sumber rasa takut dan jika memungkinkan menerapkan prinsip desentisasi sistematis, yaitu tekhnik perubahan tingkah laku dengan pembiasaan-pembiasaan terhadap sumber rasa takut secara bertahap.
c. Memberi antisipasi kepada anak dengan melatih mereka untuk secara mandiri mampu mengatasi rasa takutnya, misalnya dengan mengajak anak berinteraksi dan mengamati hal-hal yang menimbulkan rasa takut.
d. Memberi figure model agar ditiru anak untuk mengatasi rasa takut.
3. Temper Tantrum
Ada beberapa cara sederhana dalam menghadapi perilaku tantrum yang ditunjukkan oleh anak prasekolah adalah mencoba mengerti dan memahami jenis tantrum yang dihadapi. Sebagaimana diketahui bahwa ada 3 jenis Tantrum, setiap jenis tantrm membutuhkan penanganan yang berbeda-beda.
d. Penanganan Manipulative Tantrum
Bila anak menunjukkan manipulative tantrum maka yang harus dilakukan adalah mengabaikan (ignorin) perilaku temper tantrum anak dan tidak mempedulikan keinginan anak pada saat itu. Jangan memperhatikan perilaku tantrum yang ditunjukkan aak. Cobalah untuk melihat kea rah anak, dan tetap dengan tenang melakukan pekerjaan anda yang lain.
Tentu saja adalah hal yang sulit untuk member perhatian pada anak yang sedang berteriak-teriak terutama di dalam kelas dengan banyak siswa lain. Sedapat mungkin pisahkan anak dari teman-temannya. Pindahkan anak pada tempat yang lebih tenang, misalnya dipojokan atau ruangan lain yang anda pastikan keamanannya. Katakan pada anak, ”kamu dapat kembali bergabung dengan kami, bila kamu mengendalikan kemarahanmu” atau “untuk sementara kamu diam dulu di ruangan ini sampai kamu bisa berhenti berteriak-teriak seperti itu” mintalah agar anak lain tidak mengacuhkan perilaku temannya itu, katakana pada mereka bahwa si Dodi sedang dihukum karena ibu guru tidak suka ada anak yang berteriak-teriak di dalam kelas. Biar Dodi menghentikan teriakannya itu, dan kita tetap belajar dengan baik. Tidak perlu memperhatikan dodi, sekarang perhatikan ibu….”.
Cara di atas biasa disebut sebagai model time out. Time out merupakan salah satu cara termasuk dalam reducing excess behavior. Hal ini berarti prosedur time out dapat digunakan untuk menurunkan/mengurangi tingkah laku berlebihan yang ditunjukkan seorang anak ketika ia melakukan temper tantrum. Seperti dikemukakan oleh Tyler & Brown (1967 dalam Gelfand & Hartmann, 1975) bahwa time out biasa digunakan untuk mengurangi munculnya perilaku agresif dan tantrum pada anak.
Time out artinya memasukkan anak pada situasi dimana semua orang tidak ada yang mempedulikannya. Time out diarahkan pada tingkah laku specific (target perilaku yang tidak dikehendaki), dimana ketika perilaku tersebut muncul, tidak diberikan /disediakan postif reinforcement selama waktu tertentu. Dengan kata lain selama time out, anak dijauhkan dari segala bentuk positif reinforcement yang biasa diperolehnya.
e. Menangani verbal frustration tantrum
Untuk menangani tantrum jenis kedua ini kita tidak dapat begitu saja mengacuhkan perilaku tantrum anak, jangan membiarkan atau meningggalkan anak karena hanya membuat anak semakin kecewa dan frustasi. Jika hal itu terjadi di sekolah, bisa saja mengamuknya kemudia dialihkan ke rumah karena masalah utamanya tidak terselesaikan.
Maka yang harus dilakukan adalah membantu anak mengenali apa yang dirasakan, kemudian membantunya memecahkan masalahnya.
Kebanyakan anak melakukan tantrum karena anak tidak dapat menunjukkan atau menjelaskan perasaan dan keinginannya melaui kata-kata. Cobalah menunjukkan bahwa anda memahami keadaan anak. Dorong anak untuk mengungkapkan dengan verbal perasaan dan keinginannya. Bila halini sulit bagi anak, cobalah dengan kata-kata anda untuk mengartikan perasaan dan keinginan anak melalui kata-kata hal ini akan membantu mereka untuk memahami frustasi yang mereka rasakan.
f. Menangani Temperramental Tantrum
Penanganan pada tantrum jenis ketiga ini hampir sama seperti pada verbal frustration tantrum dimana mereka mengacuhkan perilaku tantrumnya maka hal ini tidak menyelesaikan masalah. Dikarenakan anak sulit untuk dapat melakukan koktrol terhadap dirinya sendiri tanpa bantuan orang lain. Pada tantrum jenis ini adakalanya anda membutuhkan ahli untuk menanganinya.
Berikutnya adalah mencatat hal-hal yang menjadi sumber terjadinya tantrum. Hal ini bertujuan untuk mengantisipasi hal yang dapat memunculkan perilaku tantrum. Hal yang umum memicu terjadi tantrum adalah kondisi-kondisi seperti: anak sedang merasa lelah, lapar atau tertekan oleh hal-hal tertentu.
a. Mengendalikan diri
Adakalanya dalam menghadapi anak yang sedang tantrum, guru terpancing secara emosial. Tetaplah bersikap tenang, tampilkan sikap penghargaan pada anak tersebut, karena jika kita cenderung bersikap emosi pula justru semakin memicu temper tantrum pada anak.
b. Hindari argumentasi dan penjelasan tindakan pada saat anak sedang tantrum
Anak yang sedang berada pada periode tantrum tertinggi tidak dapat mendengar apa yang dikatakan pada mereka, mereka sangat ketakutan bahkan tidak dapat menghentikan tanginan dan teriakannya sendiri (Linsdown & Walker,1996). Argument ataupun memberi alasan tentang tindakan anda tidaklah efektif pada kondisi tersebut.
c. Menghindari Reward
Hendaknya tidak terpengaruh oleh tantrum meskipun saat itu kita merasa bodoh atau bersalah. Kita harus berani mengatakan tidak sekalipun anak menunjukkan perilaku tantrumnya, hal ini bertujuan untuk memberikan pelajaran pada anak bahwa tidak semua keinginan harus dan dapat dituruti. Anak diajarkan tentang hal-hal yang menjadi prioritas, hal-hal yang bermanfaat pada dirinya atau tidak. Selain itu juga untuk membentuk disiplin pada anak.
d. Hindari penggunaan obat
Jangan menggunakan obat untuk menghentikan perilaku tantrum pada anak, walaupun obat tersebut cepat memberikan ketenangan pada anak. melatih anak mengelola, mengontrol emosinya akan lebih baik sekaligus memberikan dampak positif untuk meminimalisir bahkan menghilangkan perilaku tantrum.
Perilaku temper tantrum, dapat diatasi dengan perilaku pendidik atau orang tua yang tetap mampu mengontrol emosi dengan menunjukkan sikap yang tenang, lemah lembut, tidak terpancing untuk ikut marah dan tegas. Jika orang tua atau pendidik memberikan respons atau penguat positif bagi temper tantrum anak, sangat mungkin perilaku ini akan terus menetap dan selalu dijadikan sebagai senjata bagi anak untuk memperoleh apa yang diinginkan.
Riana Mashar memaparkan beberapa cara dalam menghadapi anak temper tantrum sebagai berikut :
a. Pencegahan dan mengenali kebiasaan anak, mengetahui secara pasti pada kondisi-kondisi seperti apa munculnya tantrum serta mengatur pola asuh dan pola didik yang baik bagi orang tua dan pendidik.
b. Ketika tantrum terjadi maka hendaknya dipastikan bahwa lingkungan sekitar aman, orang tua dan pendidik harus tetap tenang dan berupaya menjaga emosinya sendiri agar tetap tenang, tidak mengacuhkan tantrum. Setelah anak menunjukkan penurunan perilaku tantrum, maka orang tua dan pendidik perlu egera mendekati anak, memeluk dan memberi ketenangan kepada anak, setelah anak tenang baru orang tua member pengertian tentang perilaku anak tanpa menyudutkan. Sebaiknya hindari upaya menenangkan anak dengan memberi pelukan atau perhatian berlebihan dan menuruti kemauan anak saat mengembangkan perilaku tantrum karena hal ini akan menjadi penguat positif untuk perilaku negative tersebut.
c. Ketika tantrum telah berlalu maka jangan diikuti dengan hukuman, nasihat-nasihat, atau teguran maupun sindirian-sindiran, jangan memberi hadiah apapun, berikanlah rasa cinta dan aman pada anak,orang tua perlu bekerja sama dengan guru dalam melakukan evaluasi terhadap perilaku tantrum anak.
4. Menarik Diri (With Drawl)
Terdapat beberapa penyebab withdrawl pada anak, yaitu faktor lingkungan yang kurang member stimulasi dan dorongan untuk bersosialisasi, serta kecenderungan tipe kepribadian anak yang menurut Jung mengarah pada tipe kepribadian introvert, atau jika ditinjau dari disposisiemosional berdasar cairan tubuh yang dikemukakan Hippocrates, maka anak tersebut cenderung termasuk kategori melankolis. Selain kedua faktor tersebut, Izzaty mengungkapkan bahwa rasa tak puas diri terhadap lingkungan, ketiadaan minat yang sama, dan perbedaan usia anak dengan teman sebayanya, dapat menjadi faktor yang menimbulkan perilaku withdrawl.
Withdrawl perlu penanganan serius mengingat besar pengaruh sosialisasi dengan teman sebaya terhadap perkembangan aspek perkembangan anak. Baik Piaget, Anna Freud, maupun Vygotsky dalam kesimpulan penelitian-penelitian mereka menyatakan bahwa interaksi dengan teman sebaya dapat meningkatkan kemampuan kognitif, perkembangan bahasa, moral, emosi, dan keterampilan sosial dalam diri anak. Hal ini poerlu menjadi perhatian bagi orang tua dan pendidkk segera member intervensi yang memadai dalam menangani anak-anak withdrawl .
Terdapat beberapa cara yang dapat dilakukan dalam penanganan withdrawl diantaranya orang tua dan pendidik perlu mengembangkan sikap penerimaan dan penghargaan terhadap setiap ekspresi anak, baik perasaan, ide, pernyataan, atau ungkapan-ungkapan verbal anak. Penghargaan dari lingkungan sekitar akan menimbulkan percaya diri dan rasa aman pada anak. Selain itu, anak juga perlu distimulasi guna mengikuti kegiatan-kegiatan kelompok agar anak berinteraksi dengan banyak orang. Jika permasalahan tersebut terus berlanjut, sebaiknya orang tua segera mengkonsultasikan anak kepada ahli yang lebih kompeten.
6. Hipersensitivitas
Hipersensivitas dapat disebabkan karena perasaan berbeda dengan orang lain. Anak merasa tidak sepandai, semenarik atau sepopuler anak-anak lain. Selain itu , dapat pula disebabkan oleh adanya harapan-harapan yang tidak realistis. Bila anak telalu berharap dari orang lain, secara terus menerus mereka akan merasa kecewa. Hipersensivitas berkembang sejak anak menginginkan adanya penerimaan yang yotal dari orang lain, setiap pertanda adanya penolakan akan dirasakan sangat menyakitkan. Anak yang hipersensitif memiliki harapan yang tinggi bahwa orang lain akan selalu bersikap manis dan selalu memahami kebutuhan-kebutuhannya. Kondisi tersebut biasanya terbentuk dari pola asuh dan sikap orang tua yang over protective dan memanjakan.
Beberapa hal yang perlu dilakukan pendidik atau orang tua dalam menangani anak hipersensitif diantaranya :
a. Menghindari sikap overprotective pada anak.
b. Perlu membiasakan anak untuk menerima masukan, kritik, dan saran dari lingkungan sekitar
c. Perlu mengajarkan pada anak untuk memandang dirinya secara lebih proporsional
d. Anak perlu dilatih untuk memiliki keterampilan menyelesaikan masalah
7. Bunuh Diri
Hidayat dalam Riana Mashar menyatakan bahwa bunuh diri adalah tindakan merusak diri sendiri yang mengakibatkan kematian . bunuh diri pada anak umumnya disebakan impulsivitas dan kekacauan dalam keluarga. Menurut Sigmund Freud , bunuh diri pada penderita kesedihan dan depresi adanya hubungannya dengan agresi. Kehilangan objek cinta menyebabkan agresi terhadap objek yang hilang ini, kemudian berbalik kepada diri sendiri (introspeksi).
Berdasar kasus bunuh diri yang dilakukan oleh anak-anak, terdapat bebrapa macam faktor pencetus yang mengakibatkan anak melakukan bunuh diri. Hidayat, mengamati terdapat dua faktor yang menyebabkan anak melakukan percobaan bunuh diri. Faktor pertama karena anak tidak mempunyai keterampilan hidup menghadapi stress. Adapun faktor kedua orang tua gagal dalam mengajarkan keterampilan hidup pada anak. Ketidakmampuan anak dalam mengahadapi stress dapat disebabkan oleh faktor lingkungan yang ada di sekitar anak. Lingkungan yang mempunyai masalah sosial misalnya terjadi kekerasan, persaingan ekonomi, dapat mempengaruhi keharmonisan dalam rumah tangga dan kondisi psikis anak. Anak-nak yang mengalami kekerasan, kecanduan, kemiskinan, dan pelanggaran seksual dan atau emosional memiliki resiko lebih tinggi terhadap percobaan bunuh diri. Selain itu, lingkungan sekolah juga berpengaruh besar pada anak. Seorang guru yang tidak bijak dapat menyebabkan stress pada diri anak, karena dipermalukan di depan teman-teman.
Tindakan preventif pada anak usia dini untuk menghindari tindakan bunuh diri dari beberapa kesimpulan pemicu tindakan bunuh diri adalah sebagai berikut :
a. Penanaman kecintaan Allah sebagai Pencipta yang Maha Pengasih dan Penyayang.
b. Pengasuhan dengan kasih sayang , menumbuhkan keyakinan diri dan kepercayaan diri pada anak, serta mengarahkan anak pada kegiatan peningkatan kemampuan individual anak .
c. Peningkatan keterampilan hidup pada anak
d. Dalam bersosialiasi dengan teman dan lingkungan sekitarnya hendaknya anak dibekali pula keterampilan problem solving dalam mengatasi permasalahan yang muncul dalam interaksinya dengan teman dan lingkungannya.
e. Menciptakan lingkungan yang nyaman dan ramah anak.
Hal lain sebagaimana yang dungkapkan Maslow (Hal, 1985 ) bahwa sekolah memainkan peranan, gangguan sosial emosional yang dialami anak secara general jika merujuk dari teori Maslow adalah merupakan kebutuhan aktualisasi diri yang tidak dapat dicapai disebabkan oleh berbagai sebabnya.
Untuk itu ada beberapa hal yang perlu diperhatikan oleh orang tua maupun para pendidik untuk mengatasi hal tersebut :
a. Berikan kesempatan kepada setiap anak untuk mengalami setiap kejadian dengan hidup, penuh, tidak egois. Kita hendaknya menciptakan situasi yang memungkinkan anak berkonsentrasi dengan pengalaman tersebut dan biarkan pengalaman itu merasuk dalam diri anak
b. Kehidupan adalah proses terus menerus dari memilih keamanan (aman dari rasa takut dan kebutuhan untuk memepertahankan diri) dan risiko (untuk dapat tumbuh dan berkembang) ciptakan situasi yang dapat menolong anak emilih resiko sehingga mereka akan selalu tumbuh dan berkembang
c. Apabila anak harus selalu berfikir, jangan terlalu banyak member petunjuk. Biarkan anak mengatakan apa yang mereka rasakan.
d. Apabila anak dalam keraguan, dorong anak untuk dapat mengatakan sejujurnya. Apabila anak melihat dirinya sendiri dan berlaku jujur, mereka akan bertanggung jawab.
e. Biarkan anak mendengarkan seleranya sendiri dan bersiap untuk tidak popular
f. Berikan kesempatan pada anak untuk menggunakan kepandaiannya. Dorong anak untuk bekerja sebaik mungkin sesuai dengan apa yang ingin mereka kerjakan.
g. Ajak anak untuk mempelajari apa yang terbaik dan terburuk dari mereka dan bantu anak untuk menyingkirkan segala ilusi dan keyakinan palsu.
h. Minta anak untuk mengenali dirinya sendiri, apa disukai dan tidak disukai, apa yang baik dan buruk untuk mereka, ke mana arah dan tujuan mereka selain itu, anak juga didorong untuk mengenali pertahanan dirinya dan menemukan kekuatan untuk mengalahkan

BAB III
PENUTUP

A. KESIMPULAN
Berdasarkan pembahasan yang telah dilakukan pada bab sebelumnya, maka dapat diambil kesimpulan sebagai berikut:
1. Pengertian gangguan perkembangan sosial emosional anak usia dini adalah ketidaknormalan yang menghambat perkembangan anak usia dini kaitannya dalam mengelola emosi, kepribadian, dan hubungan interpersonal anak dengan orang lain.
2. Jenis-jenis gangguan perkembangan sosial emosional anak usia dini sangat banyak mengingat definisi gangguan sosial dan emosional pun amat luas dan beragam, namun jenis gangguan perkembangan sosial emosional pada anak usia dini dapat dikelompokkan menjadi: tunalaras (agresivitas, mencuri, berbohong), kecemasan (fobia), menarik diri (withdrawal), temper tantrum, hipersensitivitas, dan bunuh diri.
3. Faktor penyebab gangguan perkembangan sosial emosional anak usia dini antara lain: lingkungan keluarga, lingkungan sekolah, lingkungan masyarakat, kondisi fisik, masalah perkembangan.
4. Intervensi gangguan perkembangan sosial emosional pada anak usia dini beragam bergantung pada jenis gangguan yang dialami oleh seperti anak tunalaras (agresivitas, mencuri, berbohong), kecemasan (fobia), menarik diri (withdrawal), temper tantrum, hipersensitivitas, dan bunuh diri yang pada intinya semua memerlukan kerjasama yang baik antara orang tua, guru, dan lingkungan masayarakat.

B. SARAN
Perkembangan sosial dan emosional merupakan faktor yang sangat penting dan perlu diperhatikan. Selama ini masih banyak orang tua yang mengesampingkan perkembangan emosi anak usia dini, yang tanpa disadari ketika hambatan perkembangan emosi terhambat maka perkembangan sosial dapat berpengaruh.
Gangguan-gangguan yang terjadi perkembangan sosial dan emosional ini perlu mendapat penanganan yang cukup serius. Karena, kesuksesan seseorang ternyata 80% dipengaruhi oleh kecerdasan emosi dan kemampuan interaksi sosialnya.

DAFTAR PUSTAKA

Davidson Gerald C. dkk, 2006, Psikologi Abnormal ( Jakarta: PT Raja Grafindo Persada)
De Clerq Linda, 1997, Tingkah Laku Abnormal ( Jakarta: PT Grasindo)
Hildayani Rini, 2011, Psikologi Perkembangan Anak ( Jakarta: Universitas Terbuka)
Hildayani Rini, 2013, Penanganan Anak Bekelainan (Anak Dengan Kebutuhan Khusus), Jakarta: Universitas Terbuka
Hurlock Elizabeth B., Perkembangan Anak Jilid 1 ( Jakarta: Erlangga, 2011)
Jamaris Martini, 2010, Orientasi Baru dalam Psikologi Pendidikan, (Jakarta: Pena Mas Murni)
Mashar Riana, 2011, Emosi Anak Usia Dini Dan Strategi Pengembangannya (Kencana: Jakarta)
Nevid S. Jefery, dkk, 2003, Psikologi Abnormal, (Jakarta: Erlangga)
Nugraha, 2004, Strategi pengembangan sosial emosional. (Jakarta: Universitas terbuka)
Papalia, Olds, & Feldman, Human Development, 2009, (Perkembangan Manusia), (Jakarta: Salemba Humanika)
Santrock, 2002, Life Span Development: Perkembangan Masa Hidup, (Jakarta: Penerbit Erlangga)
Somantri Sutjiati, 2007, Psikologi Anak Luar Biasa, (Bandung: Refika Aditama)
Staf Pengajar Ilmu Kesehatan Anak FKUI, 2007, Ilmu Kesehatan Anak Jilid 1 , (Jakarta: Bagian Ilmu Kesehatan Anak FKUI)
Supratiknya A., 1995, Mengenal Perilaku Abnormal (Yogyakarta: Kanisius)
Tandry Novita, 2011, Mengenal Tahap Tumbuh Kembang Anak Dan Masalahnya (Libri: Jakarta)
http://www.ditplb.or.id/profile.php?id=47 diakses pada tanggal 9 Mei 2013

Perkembangan Kognitif Anak Usia Dini

BAB I
PENDAHULUAN


A. Latar Belakang

Manusia merupakan salah satu makhluk yang selalu bertumbuh dan berkembang. Anak usia dini adalah bagian dari manusia yang juga selalu bertumbuh dan berkembang bahkan lebih pesat dan fundamental pada awal-awal tahun kehidupannya. Kualitas perkembangan anak di masa depanya, sangat ditentukan oleh stimulasi yang diperolehnya sejak dini.
Pemberian stimulasi pendidikan untuk anak usia dini adalah hal sangat penting mengingat 80% pertumbuhan otak berkembang pada anak sejak usia dini. Elastisitas perkembangan otak anak usia dini lebih besar pada usia lahir hingga sebelum 8 tahun kehidupannya, 20% siasanya ditentukan selama sisa kehidupannya setelah masa kanak-kanak. Dan tentu saja bentuk stimulasi yang diberikan harusnya dengan cara yang tepat sesuai dengan tingkat perkembangan anak usia dini.
Perkembangan Anak Usia Dini meliputi beberapa aspek diantaranya aspek pertumbuhan fisik dan perkembangan motorik, aspek perkembangan kognitif, aspek perkembangan sosio emosional, aspek perkembangan bahasa, serta aspek perkembangan moral agama. Pengembangan seluruh aspek-aspek tersebut secara menyeluruh dan berkesinambungan menjadi suatu hal yang sangat berarti. Dalam memberikan stimulasi untuk mengembangkan aspek-aspek tersebut, tentunlah pemahaman akan konsep dasar berkaitan dengan hal tersebut sangat diperlukan. Untuk itulah makalah ini mengupas berbagai hal berkaitan dengan konsep dan teori serta strategi yang dapat digunakan untuk mengembangan kemampuan dasar anak usia dini terutama pada perkembangan kemampuan kognitif.

B. Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang di atas, maka pertanyaan-pertanyaan penting yang dirumuskan dalam makalah ini antara lain:
1. Apakah definisi perkembangan kognitif anak usia dini?
2. Apakah urgensi pengembangan kemampuan kognitif anak usia dini?
3. Apa teori dasar perkembangan kognitif?
4. Apa saja faktor yang mempengaruhi perkembangan kognitif anak usia dini?
5. Bagaimana proses-proses kognitif pada anak usia dini?
6. Bagaimanakah tahap perkembangan kognitif anak usia dini?
7. Bagaimana klasifikasi perkembangan anak usia dini?
8. Apa strategi Pengembangan Kemampuan Kognitif untuk Anak Usia Dini?

C. Tujuan
Berdasarkan latar belakang di atas, maka pertanyaan-pertanyaan penting yang dirumuskan dalam makalah ini antara lain:
1. Menjelaskan definisi perkembangan kognitif anak usia dini
2. Menyebutkan pentingnya pengembangan kemampuan kognitif anak usia dini
3. Mendeskripsikan teori dasar perkembangan kognitif
4. Menyebutkan faktor-faktor yang mempengaruhi perkembangan kognitif anak usia dini
5. Menjelaskan proses-proses kognitif pada anak usia dini
6. Menjelaskan tahap perkembangan kognitif anak usia dini
7. Menjelaskan klasifikasi perkembangan anak usia dini
8. Menyebutkan strategi Pengembangan Kemampuan Kognitif untuk Anak Usia Dini

BAB II
PEMBAHASAN

A. Definisi Perkembangan Kognitif Anak Usia Dini
Dalam sub bab ini akan dibahas beberapa hal yang akan membantu memudahkan dalam memahami definisi perkembangan kognitif anak usia dini antara lain: definisi perkembangan, definisi kognitif, dan definisi anak usia dini.
1. Definisi Perkembangan Kognitif
Menurut Werner yang dikutip oleh Monks, dkk , pengertian perkembangan menunjuk pada suatu proses ke arah yang lebih sempurna dan tidak begitu saja dapat diulang kembali. Perkembangan menunjuk pada perubahan yang bersifat tetap dan tidak dapat diputar kembali. Dalam pertumbuhan, ahli psikologi tidak membedakan antara perkembangan dan pertumbuhan, bahkan ada yang lebih memgutamakan pertumbuhan. Sebenarnya, istilah pertumbuhan dimaksudkan untuk menujukkan bertambah besarnya ukuran badan dan fungsi fisik murni. Menurut banyak ahli psikologi, istilah perkembangan lebih dapat mencerminkan sifat yang khas mengenai gejala psikologis yang muncul.
Perkembangan menurut Berardo yang dikutip oleh Santrock ialah pola gerakan atau perubahan yang dimulai dari pembuatan dan terus berlanjut sepanjang siklus kehidupan. Kebanyakan perkembangan meliputi pertumbuhan, walaupun perkembangan juga mencakup pembusukan (seperti dalam kematian dan orang mati). Pola atau pernyataan-pernyataan dari kelompok-kelompok penekan yang sangat vokal. Para pembuat kebijakan sering terjebak dalam isu-isu ideologis dan moral yang diperdebatkan secara panas, seperti keluarga berencana dan aborsi, atau undang-undang perawatan anak dan cuti melahirkan. Pada poin ini, tidak ada indikasi yang jelas bahwa perbedaan-perbedaan yang tajam tentang peran keluarga dan pemerintah akan diselesaikan sesuai dengan solusi yang rasional di masa depan yang dekat.
Maka perkembangan manusia dapat didefinisikan sebagai suatu yang merujuk pada perubahan-perubahan tertentu yang terjadi dalam sepanjang siklus kehidupan manusia, sejak masa konsepsi sampai mati, tidak dapat berulang, tidak dapat diputar kembali, dan bersifat tetap. Perubahan yang dimaksud dapat berupa perubahan secara kuantitatif dan perubahan secara kualitatif. Perubahan secara kuantitatif itu seperti perubahan dalam tinggi badan, penguasaan jumlah kosakata, perubahan berat badan, dan sebagainya. Sedangkan perubahan secara kualitatif, seperti perubahan dalam struktur dan organisasi dalam kemampuan berpikir, perubahan dalam kemampuan melakukan koordinasi gerakan motorik kasar dan motorik halus, perubahan dalam mengelola emosi, perubahan kemampuan sosial dan sebagainya.
Menurut pakar perkembangan masa hidup, Paul Baltes seperti yang dikutip oleh Santrock bahwa perkembangan masa hidup manusia mencakup tujuh kandungan dasar: perkembangan adalah seumur hidup, multidimensional, multidireksional, plastis, melekat secara kesejarahan, multidisiplin, dan kontekstual.
Perkembangan adalah seumur hidup (lifelong) yang dimaksud adalah tidak ada periode usia yang mendominasi perkembangan. Para peneliti semakin mempelajari penaglaman dan orientasi psikologis orang dewasa pada saat yang berbeda dalam perkembangan mereka. Perkembangan meliputi keuntungan dan kerugian, yang berinteraksi dalam cara yang dinamis sepanang siklus kehidupan.
Perkembangan adalah multidimensional, maksudnya ada;ah perkembangan terdiri atas dimensi-dimensi yang berupa dimensi biologis, kognitif, dan sosial. Bahkan dalam satu dimensi seperti intelegensi, ada banyak komponen, seperti intelegensi abstrak, intelegensi nonverbal, intelegensi sosial, dan lain-lain.
Perkembangan adalah multidireksional. Beberapa atau komponen dari suatu dimensi dapat meningkat dalam pertumbuhan, sementara atau komponen lain menurun. Misalnya, orang dewasa tua dapat semakin arif karena mampu menjadikan pengalaman sebagai panduan bagi pengambilan keputusan intelektual, tetapi melaksanakan secara lebih buruk tugas-tugas yang menuntut kecepatan dalam memproses informasi.
Perkembangan adalah lentur (plastis), maksudnya ia bergantung pada kondisi kehidupan individu, perkembangan dapat mengambil banyak jalan. Suatu agenda penelitian perkembangan kunci ialah pencarian akan kelenturan dan hambatan-hambatannya. Misalnya, para peneliti telah mendemonstrasikan bahwa kemampuan penalaran orang dewasa dapat ditingkatkan melalui pelatihan.
Perkembangan melekat secara kesejarahan (historically embredded), yang dipengaruhi oleh kondisi-kondisi kesejarahan. Pengalaman orang-orang yang berusia 40 tahun yang hidup pada masa Depresi Berat (Great Depression) sangat berbeda dari pengalaman orang-orang yang berusia 40 tahun yang hidup pada akhir Perang Dunia II yang optimistik. Orientasi karir kebanyakan perempatan berusia 30 tahun pada tahun 1990-an sangat berbeda dari orientasi karir kebanyakan perempuan berusia 30 tahun pada tahun 1950-an.
Perkembangan dipelajari oleh sejumlah disiplin. Para psikolog, sosiologi, antorpologi, neurosains, peneliti kesehatan, dan dunia pendidikan semuanya mempelajari perkembangan manusia dan berbagai persoalan untuk membuka misteri perkembangan sepanjang masa hidup.
Perkembangan adalah kontekstual. Individu secara tegrus menerus merespons dan bertindak berdasarkan konteks, yang meliputi make up biologis, lingkungan lingkungan fisik, serta konteks sosial, kesejarahan, dan kebudayaan seseorang. Dalam pandangan kobtekstual, individu dilihat sebagai makhluk yang sedang berubah di dalam dunia yang sedang berubah.
Menurut Myrnawati , kognitif adalah proses yang terjadi secara internal didalam otak pada waktu manusia sedang berpikir atau proses pengolahan informasi.
Istilah cognitive berasal dari kata cognition yang padanannya knowing, berarti mengetahui. Dalam arti yang luas, cognition (kognisi) ialah perolehan, penataan,dan penggunaan pengetahuan . Kognitif adalah proses yang terjadi secara internal di dalam pusat susunan syaraf pada waktu manusia sedang berpikir. Kemampuan kognitif ini berkembang secara bertahap, sejalan dengan perkembangan fisik dan syaraf-syaraf yang berada di pusat susunan syaraf. Kognitif adalah suatu proses berpikir, yaitu kemampuan individu untuk menghubungkan, menilai, dan mempertimbangkan suatu kejadian atau peristiwa. Proses kognitif berhubungan dengan tingkat kecerdasan (intelegensi) yang menandai seseorang dengan berbagai minat terutama sekali ditujukan kepada ide-ide dan belajar .
Beberapa ahli yang berkecimpung dalam bidang pendidikan mendefenisikan intelektual atau kognitif dengan berbagai pendapat. Seperti halnya defenisi intelegensi menurut Gardner. Menurut Gardner intelegensi sebagai kemampuan untuk memecahkan masalah atau untuk menciptakan karya yang dihargai dalam suatu kebudayaan atau lebih. Lebih lanjut Gardner mengajukan konsep pluralistis dari intelegensi dan membedakannya kepada delapan jenis intelegensi. Dalam kehidupan sehari-hari, intelegensi itu tidak berfungsi dalam bentuk murni, tetapi setiap individu memiliki campuran yang unik dari sejumlah intelegensi yaitu intelegensi linguistic, ligis,spasial, music, kinestetika, intrapribadi dan antarpribadi, dan naturalistis.
Perkembangan Kognitif adalah perkembangan dari pikiran. Pikiran adalah bagian dari berpikir dari otak, bagian yang digunakan yaitu untuk pemahaman, penalaran, pengetahuan, dan pengertian. Pikiran anak mulai aktif sejak lahir, dari hari ke hari sepanjang pertumbuhannya. Perkembangan pikirannya, seperti: (1) belajar tentang orang, (2) belajar tentang sesuatu, (3) belajar tentang kemampun-kemampuan baru, (4) memperoleh banyak ingatan, dan (5) menambah banyak pengalaman. Sepanjang perkembangannya pikran anak, maka anak akan menjadi lebih cerdas .
2. Definisi Anak Usia Dini
Anak Usia Dini menurut NAEYC (National Association Educational Young Children) merupakan sosok individu yang sedang menjalani suatu proses perkembangan dengan pesat dan fundamental bagi kehidupan selanjutnya, berada pada rentang usia 0-8 tahun.
Sedangkan anak usia dini disarikan menurut Undang-undang Nomor 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional disebutkan bahwa mereka adalah anak yang berada pada rentang usia sejak lahir sampai dengan enam tahun. Dan jika disesuaikan dengan pendapat internasional, maka anak usia dini di Indonesia adalah mereka yang sejak lahir ( usia 0 tahun) hingga memasuki jenjang SD awal.
Namun beberapa hasil penelitian menunjukkan bahwa sejak masa konsepsi (dalam kandungan), janin telah berkembang dan terbukti telah dapat dilakukan stimulasi yang dapat mengembangkan berbagai kepekaan dan kemampuan dasarnya. Berdasarkan hal tersebut penulis meyakini bahwa pendidikan atau stimulasi pendidikan sudah mulai dapat dilakukan sejak dalam kandungan, karena itu yang lebih dini sebelum kelahiran. Maka penulis sepakat bahwa anak usia dini adalah sosok makhluk yang berkembangan dan bertumbuh dengan pesat serta fundamental sejak masa konsepsi hingga usia 8 tahun setelah kelahiran.
3. Definisi Perkembangan Kognitif Anak Usia Dini
Berdasarkan pengertian-pengertian di atas, maka dapat ditarik suatu pengertian bahwa perkembangan kognitif anak usia dini adalah sesuatu yang merujuk pada perubahan-perubahan pada proses berpikir sepanjang siklus kehidupan anak sejak konsepsi hingga usia delapan tahun.

B. Urgensi Pengembangan Kemampuan Kognitif Anak Usia Dini
Adapun proses kognisi meliputi berbagai aspek seperti persepsi, ingatan, pikiran, simbol, penalaran, dan pemecahan masalah. Sehubungan dengan hal ini Piaget berpendapat, bahwa pentingnya pendidik mengembangkan kognitif adalah :
1. Agar anak mampu mengembangkan daya persepsinya berdasarkan apa yang dilihat, didengar dan rasakan, sehingga anak akan memiliki pemahaman yang utuh dan komprehensif
2. Agar anak mampu melatih ingatannya terhadap semua peristiwa dan kejadian yang pernah dialaminya
3. Agar anak mampu mengembangkan pemikiran-pemikirannya dalam rangka menghubungkan satu peristiwa dengan peristiwa lainnya.
4. Agar anak mampu memahami simbol-simbol yang tersebar di dunia sekitarnya
5. Agar anak mampu melakukan penalaran-penalaran, baik yang terjadi secara alamiah (spontan), maupun melalui proses ilmiah (percobaan)
6. Agar anak mampu memecahkan persoalan hidup yang dihadapinya, sehingga pada akhirnya anak akan menjadi individu yang mampu menolong dirinya sendiri
Menurut Sunaryo Kartadinata dakan jurnal pendidikan Pedagogia Vol. 1 April 2003 yang telah dikutip oleh Ahmad Susanto menyebutkan bahwa perkembangan otak, struktur otak anak tumbuh terus setelah lahir. Sejumlah riset menunjukkan bahwa pengalaman usia dini, imajinasi yang terjadi, bahasa yang didengar, buku yang ditunjukkan, akan turut membentuk jaringan otak.
Dengan demikian, melalui pengembangan kognitif, fungsi pikir dapat digunakan dengan cepat dan tepat untuk mengatasi suatu situasi untuk memecahkan suatu masalah.

C. Teori Dasar Perkembangan Kognitif

Ada beberapa tokoh yang merumuskan teori kognitif berdasarkan hasil penelitian mereka masing-masing, beberapa diantaranya yang terkenal adalah Jean Piaget, Bruner, Lev Vygotsky.
1. Teori Kognitif Jean Piaget
Para ahli perkembangan anak bersepakat bahwa anak bukan seorang dewasa kecil karena hingga mencapai usia 15 tahun, anak tidak dapat dapat membuat alasan atas tindakannya seperti orang dewasa. Informasi ini didasarkan pada karya Jean Piaget yang oleh Siti Aisyah , seorang ahli perkembangan biologi yang mendedikasikan hidupnya untuk mengamati dan mencatat secara dekat kemampuan intelektual bayi, anak dan adolesen. Tahapan-tahapan perkembangan yang dirumuskan oleh Piaget berhubungan dengan pertumbuhan otak. Menurut Piaget, otak manusia tidak berkembang sepenuhnya hingga akhir masa adolesen. Bahkan otak laki-laki kadang-kadang tidak berkembang sepenuhnya hingga awal masa dewasa.
a. Inteligensi
Latar belakang Piaget dalam bidang Zoology cukup terlihat dari defenisi inteligensi yang dikemukakannya bahwa intelegensi adalah dasar fungsi hidup yang membantu organisme beradapatasi dengan lingkunggannya. Ia mengamati penyesuaian seperti itu dengan melihat bagaimana seorang anak toodler menyalakan televisi, bagaimana anak usia sekolah memutuskan membagi lilin kepada teman-temannya atau seorang remaja yang beranjak dewasa berjuang dan berhasil memecahkan masalah geometri yang sulit. Piaget juga mengemukakan bahwa intelegensi adalah suatu bentuk keseimbangan yang menjadi kecendrungan semua sturktur kognitif. Maksudnya adalah semua kegiatan intelektual dilakukan dengan satu tujuan dalam pikirannya, yaitu menghasilkan keseimbangan atau keharmonisan hubungan antara proses berpikir seseorang dengan lingkungannya. Piaget menekankan bahwa anak-anak bersifat aktif dan merupakan penjelajah yang selalu ingin tahu. Ia secara terus menerus merasa ditantang oleh banyak rangsangan dan kejadian yang tidak langsung dapat ia mengerti. Dia meyakini bahwa ketidakseimbangan antara bentuk berpikir anak dan kejadian dalam lingkungannya, memaksa anak membuat penyesuaian mental yang membuatnya dapat memecahkan pengalaman baru yang membingungkan dan kemudian menghasilkan keseimbangan kognitif.
b. Skema Kognitif: Susunan Intelegensi
Piaget menggunakan istilah skema untuk mendeskripsikan model atau struktur mental yang kita ciptakan untuk mempersentasikan, mengorganisasi, dan menginterpretasi pengalaman kita. Piaget mendeskripsikan tiga macam susunan intelektual yaitu:
1) Skema perilaku (Sensori Motor)
Skema perilaku adalah pola atau bentuk perilaku yang terorganisasi dan digunakan anak untuk menampilkan kembali dan merespons suatu benda atau pengalaman. Untuk bayi berumur 9 bulan, sebuah bola tidak diterima dengan konsep sebuah mainan berbentuk bundaryang mempunyai nama resmi, melainkan sebuah benda yang dapat dipeluk dan digelindingkan oleh dia dan teman-temannya.
2) Skema simbolik
Selama tahun kedua, anak mencapi tingkatan, dimana ia dapat memecahkan masalah dan berpikir tentang benda dan kejadian tanpa harus menyentuh atau mengalaminya. Dengan kata lain, mereka mampu untuk menampilkan kembali pengalamannya secara mental dan menggunakan symbol mental atau skema simbolik ini untuk mencapai tujuan mereka. Contoh: anak usia 16 tahun dapat mencontoh perilaku buruk temannya pada hari lain dan tidak langsung pada hari itu juga.
3) Skema operasional
Menurut Piaget pikiran anak 7 tahun dan anak yang lebih tua diwarnai oleh skema operasional. Pengertian operasi kognitif adalah suatu kegiatan mental secara internal yang ditunjukkan seseorang pada objek yang dipikirkannya untuk mencapai kesimpulan yang logis. Contoh: anak 8 tahun akan berpikir bahwa pola plastisin (plastisin berbentuk bola) yang diratakan/dipipihkan jumlahnya sama dari sebelumnya karena ia akan dengan mudah mengembalikan dalam bentuk aslinya dengan tangannya. Namun anak yang berusia 5 tahun mugkin akan berpikir bahwa palstisin yang diratakan mempunyai jumlah lebih banyak dari bentuk sdebelumnya karena dapat menutup area yang lebuh luas. Meskipun ia dapat memahami bahwa plastisin yang diratakan tersebut dapat dibentuk menjadi bola kembali namun ia tetap berpikir bahwa jumlah plastisin yang diratakan lebih banyak dari jumlah plastisin berbentuk bola.
Dalam skema Piaget menyatakan bahwa ketika anak berusaha membangun pemahaman mengenai dunia, otak berkembang membentuk skema. Inilah tindakan atau representasi mental yang mengatur pengalaman.dalam teori Piaget, skema perilaku( aktivitas fisik) merupakan ciri dari masa bayi dan skema mental (aktivitas kognitif) berkembang pada masa kanak-kanak. Skema bayi disusun melalui tindakan sederhana yang bias dilakukan terhadap objek-objek, seperti menyedot, melihat, dan menggenggam. Anak yang lebih tua mempunyai skema yang meliputi strategi pengklafikasian objek menurut ukuran, bentuk, atau warna .
2. Teori Kognitif Bruner
Dalam teori perkembangan kogintif menurut Bruner dikatakan bahwa dalam evolusi perkembangan manusia, Bruner menemukan tiga bentuk system berpikir manusia yang menstruktur kemampuan manusia dalam memahami dunianya yaitu :
1. Enactive representation, yakni membangun kemampuan berfikir melalui pengalaman empiric atau pengalaman nyata.
2. Iconic representation,berkaitan dengan kemampuan manusia dalam menyimpan pengalaman empiric dalam ingatannya.
3. Symbolic representation berkaitan dengan kemampuan manusia dalam memahami konsep dan peristiwa yang disajikan melalui bahasa.

3. Teori Kognitif Lev Vygotsky

Terdapat dua hal pokok yang dirumuskan dalam teori kognitif yang dikembangkan oleh Vygotsky sebagai berikut:
a. Konsep ZPD (Zone of Proximal Development) yang diterapkan melalui scaffolding yaitu proses pemberian bimbingan pada siswa berdasarkan pengetahuan dan keterampilan yang telah dimiliknya kepada apa yang harus diketahuinya.
b. Scaffolding merupakan aspek penting dalam pembelajaran, terutama dalam pembelajaran untuk anak usia dini.

D. Faktor yang Memengaruhi Perkembangan Kognitif

Banyak faktor yang dapat memengaruhi perkembangan kognitif, namun sedikitnya faktor yang memengaruhi perkembangan kognitif dijelaskan sebagai berikut (Susanto, 2011: 59-60):
1. Faktor hereditas/keturunan
Teori hereditas atau nativisme yang dipelopori oleh seorang ahli filsafat Schopenhauer, berpendapat bahwa manusia lahir sudah membawa potensi-potensi tertentu yang tidak dapat dipengaruhi oleh lingkungan. Dikatakan pula bahwa taraf inteligensi sudah ditentukan sejak anak dilahirkan. Para ahli psikologi Lehrin, Lindzey, dan Spuhier berpendapat bahwa taraf inteligensi 75-80% merupakan warisan atau faktor keturunan.
2. Faktor lingkungan
Teori lingkungan atau empirisme dipelopori oleh John Locke. Meskipun teorinya masih berada dalam perdebatan, namun teorinya yang disebut dengan teori tabularasa ini belum dapat sepenuhnya dipatahkan. Teori ini menyatakan bahwa manusia dilahirkan dalam keadaan suci seperti kertas putih yang masih bersih belum ada tulisan atau noda sedikitpun ini. Menurut John Locke, perkembangan manusia sangatlah ditentukan oleh lingkungannya. Berdasarkan pendapat Locke, taraf inteligensi sangatlah ditentukan oleh pengalaman dan pengetahuan yang diperolehnya dari lingkungan hidupnya.
Lebih lanjut, Ki Hajar Dewantoro melengkapi pendapat ini dengan menyebutkan bahwa seseorang dibentuk oleh perpaduan dari dasar dan ajar. Artinya bahwa seorang anak yang sudah memiliki dasar potensi bawaaan akan menjadi siapa dan seperti apakah dia juga dipengaruhi oleh faktor ekternal berupa ajar atau penagajaran yang diperolehnya dari lingkungan.
3. Faktor kematangan
Tiap organ (fisik maupun psikis) dapat dikatakan matang jika telah mencapai kesanggupan menjalankan fungsinya masing-masing. Kematangan berhubungan erat dengan usia kronologis (usia kalender).
4. Faktor pembentukan
Pembentukan ialah segala keadaan di luar diri seseorang yang memengaruhi perkembangan inteligensi. Pembentukan dapat dibedakan menjadi pembentukan sengaja (sekolah formal) dan pembentukan tidak sengaja (pengaruh alam sekitar). Sehingga manusia berbuat inteligen karena untuk mempertahankan hidup ataupun dalam bentuk poenyesuaian diri.
5. Faktor minat dan bakat
Minat mengarahkan oerbuatan kepada suatu tujuan dan merupakan dorongan utnuk berbuat lebih giat dan lebih baik lagi. Adapun bakat diartikan sebagai kemampuan bawaan, sebagai potensi yang masih perlu dikembangkan dan dilatih agar dapat terwujud. Bakat seseorang akan memengaruhi tingkat kecerdasaannya. Artinya seseorang akan memiliki bakat tertentu, maka akan semakin mudah dana cepat memperlajarinya.

6. Faktor kebebasan
Kebebasan yaitu keleluasaan manusia untuk berpikir divergen (menyebar) yang berarti bahwa manusia memilih metode-metode tertentu dalam menyelesaikan masalah-masalah, juga bebas dalam memiilih masalah sesuai kebutuhannya.

E. Proses-proses Kognitif Anak Usia Dini

Piaget seperti yang dikutip oleh Santrock yakin bahwa seorang anak melalui serangkaian tahap pemikiran dari masa bayi hingga masa dewasa. Kemampuan bayi melalui tahap-tahap tersebut berasal dari tekanan biologis untuk menyesuaikan diri (adapt) dengan lingkungan (melalui asimilasi dan akomodasi) dan adanya pengorganisasian struktur berpikir. Tahap-tahap pemikiran ini secara kualitatif berbeda dari setiap individu. Cara anak-anak berpikir pada satu tahap tertentu sangat berbeda dari cara mereka berpikir pada tahap lain.
Anggapan ini dijelaskan lebih terperinci oleh Piaget seperti yang dikutip oleh F.J. Monks,dkk. bahwa setiap organisme hidup dilahirkan dengan dua kecenderungan fundamental, yaitu kecenderungan untuk (a) adaptasi dan kecenderungan untuk (b) berorganisasi.
1. Adaptasi dapat dilukiskan sebagai kecendurungan bawaan setiap organisme untuk menyesuaikan diri dengan lingkungan. Kecenderungan adaptasi ini mempunyai dua komponen atau dua proses yang komplementer, yaitu asimilasi dan akomodasi.
a. Asimilasi yaitu kecenderungan organisme untuk mengubah lingkungan guna menyesuaikan dengan dirinya. Contoh: seorang bayi yang memperoleh kebiasaan pola tingkah laku terhadap lingkungannya berupa memegang apapun yang ia jumpai di sekitarnya. Setiap anak berada pada stadium atau tingkatan perkembangan tertentu. Stadium ini sebagian besar menentukan cara anak dalam menginterpretasi suatu tugas verbal yang diberikan padanya. Misal: anak umur 4 tahun dengan anak umur 6 tahun dapat diberikan suatu tugas verbal identik, tetapi harus disadari bahwa mereka hanya akan mengerti tugas tersebut sesuai dengan struktur yang mereka miliki pada tahap atau stadium perkembangan mereka. Anak mengasimilasi tugas tersebut sesuai dengan struktur kognitifnya.
Pada awalnya, seorang bayi akan mencoba berasimilasi dengan menyentuh, meremas, bahkan merobek benda-benda yang dijangkaunya. Selanjtnya, anak akan mengasimilasi objek tersebut dengan memasukkannya ke dalam mulut sebagai ekspresi rasa ingin tahu. Kemudian , anak akan mengasimilasi dengan cara mencium, menatap dengan detail, mencoret-coretnya, dan lain sebagainya. Dari pengalaman berasimilasi itulah anak mempunyai pengetahuuan tentang sesuatu benda. Misalnya, kertas. Anak dapat memiliki pengetahuan tentang kertas engan cara mengenal bahwa kertas akan kucal jika diremas, sobek jika ditarik, hancur jika kena air, dapat ditulisi, diwarnai dan lain sebagainya. Inilah proses asimilasi sebagai sumber pengetahuan pada anak usia dini.
b. Akomodasi yaitu kecenderungan organisme untuk merubah dirinya sendiri guna menyesuaikan diri dengan kelilingnya. Suatu contoh, apabila bayi hendak meraih sesuatu maka bayi tersebut harus menyesuaikan pengamatannya dengan objek tersebut untuk dapat melihat dengan baik sehingga ia mampu meraihnya menggunakan tangan setelah menyesuaikan pola gerakannya sedemikian rupa. Dan pada akhirnya pun ia harus menyesuaikan raihannya dengan bentuk atau ukuran atau juga berat benda yang dirainya itu.
Antara proses asimilasi dan proses akomodasi memiliki hubungan yang komplementer. Dalam setiap tingkah laku anak pasti akan ditemukan proses asimilasi dan akomodasi. Hal ini dapat dilihat salah satunya melalui cara bayi dalam meraih seseuatu.
2. Kecenderungan organisasi.
Hal ini dapat dilukiskan sebagai kecenderungan bawaan setiap organisme untuk mengintegrasi proses-proses sendiri menjadi sistem-sistem yang koheren. Contoh pada bayi, yang pada mulanya mempunyai dua struktur tingkah laku yang terpisah: ia dapat meraih dan ia dapat mengamati sesuatu. Semula anak belum mampu untuk mengintegrasi kedua struktur tingkah laku ini. Baru kemudian kedua struktur ini dikoordinasi menjadi satu struktur dalam tingkatan yang lebih tinggi, yaitu dalam apa yang disebut koordinasi mata, tangan atau koordinasi visio-motorik.
Hubungan antara adaptasi dan organisasi juga bersifat komplementer. Bila seorang anak melakukan organisasi aktivitasnya, maka ia akan mengasimilasi kejadian baru pada struktur yang sudah ada dan mengakomodasi struktur yang sudah ada pada situasi baru. Piaget menamakan kedua proses tadi sebagai faktor biologis.
Ekuilibrium (keseimbangan) juga menduduki tempat yang penting dalam teori Piaget. Prinsip ekuilibrium yang bersifat biologis ini menjaga agar perkembangan tidak menjadi hal yang tak karuan, melainkan suatu proses yang teratur. Proses asimilasi dan akomodasi yang komplementer menyebabkan seseorang selalu berusaha mencapai keadaan yang seimbang lagi.
Hal ini hanya dapat dilakukan dengan menggabungkan asimilasi dan akomodasi ebagimana disebutkan di atas. Sebagai contoh, anak –anak pada usia 5- 6 tahun telah terampil mengendarai sepeda roda tiga. Dalam kemampuannya itu , anak telah mampu merangkai beberapa ide, sperti kaki mengayuh pedal, tangan memegang setir, mata menatap ke depan, dan seringkali keala anak tersebut menoleh ke kanan dank e kiri untuk menjaga keselamatan. Inilah yang disebut dengan organisasi dalam bahasa tendensi biologis.
F. Tahap Perkembangan Kognitif Anak Usia Dini
Tahap perkembangan kognitif anak usia dini berarti tahap perkembangan kognitif anak dari sejak lahir sampai pada usia ±8 tahun. Piaget membaginya dalam tahap sensori motorik untuk usia ±0 – 24 bulan dan tahap pra opersional ±18 – ± 7 tahun. Untuk perkembangan kognitif pada tahapan sensori motorik, dapat lebih mudah dipelajari melalui tabel yang telah disarikan dari buku Santrock berikut:
Perkembangan Kognitif Permanensi Objek
Tahap 1 (± 0 – 1 bulan)
Skema refleks bawaan (berwujud tingkah laku refleks)

Tahap 2 (±1 – 4 bulan)
Modifikasi skema stadium 1 atas dasar pengaruh pengalaman, mengakibatkan koordinasi antara lain koordinasi mata tangan (reaksi sirkuler yang primer) tertuju pada badan sendiri, misal mulai bermain 3 bulan: menolong meraban, bermain-main dengan jari kakinya sendiri Tahap 1 dan 2 (± 0-4 bulan)
Bayi mengikuti objek yang bergerak dengan mata sampai objek menghilang, perhatian segera hilang dan memandang sebentar pada tempat objek menghilang
Tahap 3 (± 4-8 bulan)
Perkembangan skema yang menyebabkan akibat yang menarik dalam lingkungan orientasi ekstern, (reaksi sirkuler yang sekunder ditujukan pada lingkungan, misalnya membuka pintu atau tas)
– Reaksi sirkuler yang sekunder (Piaget)
– Functionlust(K. Buhler)
– Motivasi efektif = bergaul secara efektif dengan lingkungan (White)
Tiga macam nama untuk satu gejala yang sama, tingkah laku satu mengundang tingkah laku berikutnya (sirkuler) Tahap 3 (± 4-8 bulan)
Mengikutin objek dengan mata, fiksasi bila gerakan objek berhenti, tahu sebelumnya posisi yang akan datang berdasarkan proses gerakan. Mengikuti secara visual sampai melampaui tempat menghilangnya objek Imisal, membungkuk dari kursi untuk melihat objek yang jatuh). Dapat mengenal objek yang hanya nampak sebagian. Tidak mencoba memegang bila menghilang meskipn mampu. Tidak heran bila objek menghilang.
Tahap 4 (± 8-12 bulan)
Koordinasi respons stadium 3 mengakibatkan tingkah laku intensional, nampak seperti “inteligen” (koordinasi reaksi-reaksi sekunder) Tahap 4 (± 8-12 bulan)
Mencoba memegang dengan tangan objek yang menghilang dari pandangan mata.nmencari terus di tempat menemukan sebelumnya meskipun melihat kalau dipindah. Kebiasaan motorik: “Carilah di tempat yang sebelumnya kau menemukannya” penting di sini pola aksi sensoris.
Tahap 5 (± 12-18 bulan)
Trial and error yang aktif, dorongan eksplorasi tertuju pada penemuan skema alat-tujuan (reaksi sirkuler yang tersier mulai sekarang bukan secara kebetulan melainkan atas dasar dorongan untuk mengadakan eksplorasi dan manipulasi dengan objek-objek baru) Tahap 5 (± 12-18 bulan)
Mencari objek di tempat yang untuk terakhir dilihatnya menghilang, misal di tangan, bukan di bawah lap atau layar tempat objek ditinggalkan.
Tahap 6 (± 18-24 bulan)
Penemuan skema alat tujuan yang baru melalui kombinasi mental internal dari skema-skema yang direpresentasi secara simbolis. Perpindahan dari fungsi sensori motoris ke fungsi simbolis kognitif (permulaan berpikir) Tahap (± 18-24 bulan)
Anak menggunakan kecakapan simbolis yang baru berkembang untuk membayangkan kemungkinan berbagai perpindahan yang tidak nampak daripada objek yang tersembunyi, tidak khusus terikat pada perpindahan yang nampak.

Piaget seperti dalam kutipan Siti Aisyah telah mengidentifikasi 4 periode utama dalam perkembangan kognitif, yaitu periode sensori motor (lahir s/d 2 tahun) periode praoperasional (2 s/d 7 tahun), periode operasi konkret (7 s/d 11 tahun) dan periode operasi formal (11 tahun ketas).
Dalam makalah ini hanya akan dibahas periode sensori motor dan periode praoperasional, yaitu periode-periode dimana anak mencapai usia 7 tahun. Berikut adalah table kedua periode tersebut beserta penjelasan ringkas tentang ciri-ciri perilaku yang muncul dalam setiap tahap yang terdapat dalam kedua periode tersebut.
a. Tahap Sensori Motor (Lahir s/d 2 Tahun)
Tahap sensori motor, yaitu sejak lahir hingga sekitar dua tahun dari masa bayi adalah suatu periode, dapat mengkoordinasikan input sensor dan kemampuan gerakannya untuk membentuk skema perilaku yang memungkinkannya bergerak dalam lingkungan dan megetahui lingkungannya. Selama dua tahun pertama, bayi berkembang dari mahluk yang bergerak dengan reflex dan dengan pengetahuan yang sangat terbatas kepada pemecahan masalah (problem solver) yang telah belajar banyak tentang dirinya, teman dekatnya, dan benda serta dalam kejadian dalam dunianya sehari-hari.
1. Perkembangan keterampilan pemecahan masalah
Piaget member cirri bulan pertama hidup bayi sebagai tahap kegiatan reflex yaitu suatu periode dimana perilaku bayi terbatas pada latihan reflex yang dialami, menambahkan obyek baru kedalam skema refleksif ini (sebagai contoh, menghisap selimut dan mainan seperti menghisap putting susu). Dan menghantarkan reflex kepada benda nyata (bayi mulai mengenggam dan menghisap benda nyata).
2. Perkembangan imitasi (peniruan)
Piaget menemukan adanya adaptasi peniruan yang signifikan bermakna, dan dia sangat tertarik pada perkembangan adaptasi peniruan tersebut. Pengamatannya mengarahkan pada keyakinan bahwa bayi tidak mampu meniru respons yang asli yang ditunjukkan oleh contoh (orang dewasa) hingga usia 8-12 bulan. Akan tetapi skema peniruan bayi ini tidak akurat, seperti yang dicontohkan. Ketika kita membengkokkan dan meluruskan jari kita, bayi mungkin akan meniru dengan membuka dan menutup seluruh tangannya. Jadi, peniruan yang akurat terhadap kejadian respons yang paling sederhana, mungkin akan memerlukan latihan berhari-hari atau mungkin berminggu-minggu, dan ratusan contoh dibutuhkan sebelum bayi usia 8-12 bulan dapat memahami dan menikmati permainan sensori moto, seperti “cilukba”.

3. Perkembangan ketetapan benda
Salah satu penemuan yang perlu dicatat dalam periode sensori motor ini adalah perkembangan ketetapan benda, yaitu suatu pemikiran bahwa benda tetap ada ketika benda tersebut tidak lagi dapat terlihat atau terdeteksi oleh indra lainnya. Jika kita memindahkan sebuah jam dan menutupnya dengan buku, kita tetap menyadari bahwa jam tersebut masih tetap ada. Tetapi bayi sangat tergantung pada panca indra dan kemampuan motorik untuk memahami suatu benda maka ia berpikir bahwa suatu benda ada apabila dapat di indrai.
4. Evaluasi tahap sensori motor dari teori Piaget
Pencapaian intelektual anak selama periode sensori motor benar-benar terlihat. Dalam waktu 2 tahun yang singkat, anak telah berkembang dari refleksif dan mahluk yang tidak bergerak kepada pemikir yang terencana yang dapat bergerak sendiri., memecahkan masalah dikepalanya dan bahkan mengkomunikasikan beberapa pemikirannya kepada temannya. “penundaan peniruan” muncul lebih awal dari yang telah dikatakan Piaget, dan bayi yang masi sangat mudah mengetahui lebih banyak tentang benda dari pada yang diperkirakan orang dewasa padanya.
b. Tahap praoperasional (2-7 tahun)
Ketika anak memasuki tahap praoperasional, kita melihat peningkatan yang drastis dalam penggunaan mental simbolnya (kata-kata dan imajinasi) untuk menggambarkan benda, situasi dan kejadian. Pada dasarnya, suatu symbol adalah sesuatu yang mewakili sesuatu yang lain. Misalnya kata anjing mewakili binatang berkaki empat, ukuran sedang dan bersifat lokal.
Contoh yang paling jelas dari penggunaan symbol bagi Piaget adalah bahasa. Contoh lain penggunaan symbol pada anak kecil adalah penundaan, peniruan, menggambar, perbandingan mental, dan permainan simbolik (misalnya berpura-pura menggunakan sepatu sebagai telepon atau memberi makan anjing dengan bubur khayalan).
Masih mengutip piaget, menurutnya, perkembangan kognitif pada anak-anak bermula dari perhatian mereka terhadap lingkungan sekitarnya. Pada usia 4 (empat) bulan, misalnya , anak mampu mengembangkan apa yang disebut Piaget dengan istilah “Intentionality”. Intentionnality adalah kemampuan anak dalam melakukan sesuatu agar apa yang diinginkannya terpenuhi. Istilah ini juga sering disebut dengan tindakan agar rasa ingin tahunya terjawab. Sekedar contoh, bayi “belajar” bahwa jika dirinya menangis, maka ibu atau pengasuhnya akan datang. Oleh karena itu ketika bayi belum mampu berkata-kata sebagaimana orang dewasa, ia hanya akan selalu menangis agara apa yang diinginkannya dapat tercapai. Bahkan anak yang agak dewasapun, masih sering menangis jika keinginannya tidak dipenuhi. Itulah,”belajarnya”bayi,menangis.
Dalam perkembangan selanjutnya, anak–anak akan mencari apa yang dinginkannya secara mandiri . misalnya nak ingin bermain boneka, maka ia akan mencari boneka yang pernah dilihatnya. Ia datang mencari ke tempat dimana ia melihat boneka terakhir kalinya. Bahkan, pada tahap ini anak mampu menyingkirkan barang-barang yang sekiranya menghalangi boneka dengan dirinya. Dalam situasi tertentu, mungkin ia telah jengkel karena tidak menemukan boneka yang dinginkannya. Ia protes dengan cara menangis. tetapi hal ini dilaukann ketika ada orang dewasa di dekatnya. Tangisan itu dimaksudkan agar orang di dekatnya mau membantu mencari boneka yang sedang dicarinya tersebut.
Kemudian, sekitar usia 18 bulan, penalaran anak-anak sudah mulai berkembang lebih tinggi . ia sudah mampu mencari benda-benda yang sengaja disembunyikan di berbagai tempat tersembunyi. Inilah sebabnya mengapa anak-anak pada tahap ini sangat senang jika diajak bermain petak umpat. Mereka seolah-olah merasa tertantang dengan melakukan permainan tersebut. Di samping itu, anak-anak pada tahap ini juga telah mampu mengingat perilaku orang-orang di sekitarnya, mengingat kejadian di masa lalu, kemudian menirukannya.
Setelah itu pada usia antara 3 sampai dengan 4 tahun, anak-anak sudah mulai mampu melakukan manipulasi lingkungan dan mencoba hal-hal baru. Bahkan, mereka telah mampu menggeneralisasikan satu situasi kes ituasi yang lain. Dengan tekhnik tertentu, anak-anak mampu membawa dirinya untuk menguasai berbagai rintangan di lingkungan yang baru saja mereka temukan tersebut.
Pada tahap perkembangan kognitif yang lebih tinggi, anak-anak mulai menaruh perhatian pada simbol-simbol di sekitarnya. Dalam waktu yang tidak lama, mereka akan mengetahui bahwa berbagai simbol tersebut mempunyai arti dan makna tersendiri. Pemahaman terhadap berbagai simbol tersebut mempunyai arti dan makna tersendiri. Pemahaman terhadap berbagai simbol tersebut secara tidak langsung meransang anak untuk menaruh perhatian pada kertas yang terdapat gambar menarik dan tulisan di sampingnya. Mulai dari sisni, anak-anak telah tertarik untuk Belajar membaca, menulis dan berhitung. Tahap ini biasanya dilalui anak ketika usianya telah mencapai 5,5 hingga 6 tahun.
Selain Piaget, teori dasar kognitif juga dirumuskan oleh seorang ahli perkembangan dari Rusia yang dikenal dengan nama Lev Vygotsky. Dia seperti yang diutip oleh Siti Aisyah menekankan bahwa (1) perkembangan kognitif muncul dalam konteks budaya sosial yang mempengaruhi bentuk yang diambilnya, dan (2) kemampuan kognitif anak yang paling penting akan berkembang dari interaksi sosial dengan orang tua, guru, dan orang-orang lain yang lebih kompeten.

1. Peranan Budaya dalam Perkembangan Intelektual
Vygotsky mengatakan bahwa bayi dilahirakn dengan sedikir fungsi mental awal yaitu perhatian, sensasi, persepsi, dan ingatan yang akhirnya diubah oleh budaya ke dalam proses mental yang lebih baru dan rumit yang ia sebut fungsi mental yang lebih tinggi. Kemampuan awal anak mengingat dibatasi oleh keterbatasan biologis, yakni terbatas pada imajinasi dan kesan yang dapat dihasilkan. Akan tetapi, masing-masing budaya menyediakan perangkat kepada anak-anak untuk beradaptasi secara intelektual yang memungkinkan mereka menggunakan fungsi-fungsi dasar mental secara lebih adaptif (lebih dapat menyesuaikan diri).
2. Keaslian Sosial dari Kompetensi Kognitif Awal
Vygotsky setuju dengan pendapat Piaget bahwa anak kecil adalah penjelajah yang selalu ingin tahu, yang scara aktif terlibat dalam belajar dan menemukan prinsip-prinsip baru. Akan tetapi dia berpendapat bahwa penemuan yang dihasilkan karena inisiatif sendiri, seperti yang dikemukakan Piaget, hanya sedikit berkontribusi (menyumbang) pada perkembangan kognitif anak. Ia lebih memilih pentingnya kontribusi sosial pada perkembangan kognitif.
3. Zone of Proximal Development (ZPD)
ZPD adalah istilah Vygotsky untuk serangkaian tugas yang terlalu rumit untuk dikuasai sendiri, tetapi dapat dikuasai dengan panduan dan dorongan dari orang yang lebih ahli. Zona of Proximal Development merupakan perbedaan antara apa yang dapat dicapai pembelajar secara mandiri dan apa yang dapat dicapainya dengan panduan dan dukungan atau dorongan dari orang yang lebih ahli. Contoh seorang anak yang sedang berusaha menyelesaikan puzzle dan dilakukan dengan baik dengan bantuan ayahnya daripada tanpa bantuan. Dan yang lebih penting lagi dia akan meresapi teknik penyelesaian masalah tersebut berdasarkan pengalaman yang ia lakukan dalam berkolaborasi bersama ayahnya untuk kemudian dia dapat menggunakannya sendiri.
Salah satu bentuk dari kolaborasi sosial yang mendorong pertumbuhan kognitif adalah scaffolding (pijakan), yaitu kecenderugnan dari orang yang lebih ahli untuk secara hati-hati menyesuaikan bantuan yang diberikannya kepada situasi pembelajar yang baru sehingga pembelajar mendapat keuntungan dari bantuan tersebut dan meningkatkan pemahamannya tentang suatu masalah. Scaffolding muncul bukan hanya dalam pendidikan formal, tetapi setiap saat dapat terjadi jika orang yang lebh ahli menyesuaikan bantuannya untuk memandu seseorang kepada tingkat kemampuan yang hamper sama dengannya. Perilaku ayah Annie, seperti pada contoh terdahulu menggambarkan bukan hanya ZPD, tetapi juga scaffolding.
4. Masa Belajar dalam Berpikir dan Partisipasi Terbimbing
Pada beberapa budaya dikatakan Rogoff seperti yang ditulis oleh Siti Aisyah , bahwa anak tidak belajar dengan pergi ke sekolah bersama anak lainnya, juga tidak belajar dari orang tuanya yang mengajarkan secara formal pelajaran tertentu seperti menenun dan berburu. Tetapi ia belajar melalui partisipasi yang terbimbing yaitu secara aktif berpartisipasi dalam kegiatan yang relevan dengan budayanya bersama orang yang lebih ahli yang menyediakan bantuan dan dorongan yang diperlukan.
Partisipasi terbimbing adalah suatu masa belajar dalam berpikir yang bersifat informal, di mana kognisi anak dibentuk pada saat ia ikut serta bersama orang dewasa dan teman yang ahli lainnya dalam tugas yang relevan dengan budayanya setiap hari, seperti menyiapkan makanan, mencari jejak sasaran buruan, mencuci baju, bercocok tanam atau hanya bercakap-cakap tentang dunia di sekelilingnya. Barbara Rogoff meyakini bahwa pertumbuhan kognitif dibentuk sebanyak-banyaknya melalui transaksi informal orang dewasa dengan anak dari pada pengajaran yang lebih formal atau pengalaman belajar dalam pendidikan.

Sementara itu, pemerintah Indonesia melalui Kementerian Pendidikannya juga telah menetapkan kebijakan berkaitan dengan tahapan perkembangan anak yang dapat digunakan sebagai acuan dalam mengembangkan kurikulum. Kurikulum yang disusun untuk memberikan stimulasi pada Anak Usia Dini sesuai dengan capaian perkembangannya. Berikut ini tabel standar tingkat pencapaian perkembangan kognitif pada Anak Usia Dini sesuai Peraturan Menteri nomor 58 tahun 2009 tentang standar Pendidikan Anak Usia Dini:

Tabel Capaian Perkembangan Usia 0 – 12 bulan
Lingkup Perkembangan
Kognitif Tingkat Pencapaian Perkembangan
< 3
bulan 3 – < 6
bulan 6 – <9
bulan 9 – <12 bulan
A. Mengenali apa yang diinginkan Membedakan apa yang diinginkan (ASI atau DOT) Memperhatikan permainan yang diinginkan Mengamati benda yang bergerak Mulai memahami perintah sederhana
B. Menunjukkan reaksi atas rangsangan Berhenti menangis saat keiingannya terpenuhi (setelah digendong atau diberi susu) Mengulurkan kedua tangan untuk digendong 1. Berpaling ke arah sumber suara
2. Mengamati benda yang dipegang kemudian dijatuhkan 1. Menunjukkan reaksi saat namanya dipanggil
2. Mencoba mencari benda yang disembunyikan
3. Mencoba membuka/melepas benda yang tertutup


Tabel Capaian Perkembangan Usia 12 – 24 bulan
Lingkup Perkembangan
Kognitif Tingkat Pencapaian Perkembangan
12 – < 18 bulan 18 – < 24 bulan
A. Mengenali Pengetahuan Umum 1. Menyebut beberapa nama benda
2. Menanyakan nama benda yang belum dikenal
3. Mengenal beberapa warna primer (merah, kuning, biru)
4. Menyebut nama sendiri dan orang-orang yang dikenal 1. Mempergunakan alat permainan dengan semaunya seperti memukul-mukul balok
2. Mulai memahami gambar wajah orang
3. Mulai memahami prinsip milik orang lain (milik saya, milik kamu)
B. Mengenal konsep ukuran dan bilangan Membedakan ukuran benda (besar-kecil) Membilang sampai lima

Tabel Capaian Perkembangan Usia 2 – 4 tahun
Lingkup Perkembangan
Kognitif Tingkat Pencapaian Perkembangan
2 – 3 tahun 3 – 4 tahun
A. Mengenali Pengetahuan Umum 1. Menyebut bagian-bagian suatu gambar seperti gambar wajah orang, mobil, binatang, dsb.
2. Mengenal bagian-bagian tubuh (lima bagian) 1. Menemukan atau mengenali bagian yang hilang dari suatu pola gambar seperti wajah orang, mobil, binatang, dsb.
2. Menyebutkan berbagai nama makanan dan rasanya (garam, gula, dan cabai)
3. Memahami perbedaan antara dua hal dari jenis yang sama seperti membedakan antara buah rambutan dan pisang, perbedaan antara ayam dan kucing
B. Mengenal konsep ukuran, bentuk, dan pola 1. Mengenal konsep ukuran (besar-kecil, panjang-pendek)
2. Mengenal tiga macam bentuk ( , , )
3. Mulai mengenal pola 1. Menempatkan benda dalam urutan ukuran (paling kecil-paling besar).
2. Mulai mengikuti pola tepuk tangan.
3. Mengenal konsep banyak dan sedikit.


Tabel Capaian Perkembangan Usia 4 – 6 tahun
Lingkup Perkembangan
Kognitif Tingkat Pencapaian Perkembangan
4 – 5 tahun 5- 6 tahun
A. Pengetahuan umum dan sains 1. Mengenal benda berdasarkan fungsi (pisau untuk memotong, pensil untuk menulis)
2. Menggunakan benda-benda sebagai permainan simbolik (kursi sebagai mobil)
3. Mengenal gejala sebab-akibat yang terkait dengan dirinya
4. Mengenal konsep sederhana dalam kehidupan sehari-hari (gerimis, hujan, gelap, terang, temaram, dsb)
3. Mengkreasikan sesuatu sesuai dengan idenya sendiri 1. Mengklasifikasikan benda berdasarkan fungsi
2. Menunjukkan aktivitas yang bersifat eksploratif dan menyelidik (seperti: apa yang terjadi ketika air ditumpahkan)
3. Menyusun perencanaan kegiatan apa yang akan dilakukan
4. Mengenal sebab-akibat tentang lingkungannya(angin bertiup menyebabkan daun bergerak, air dapat menyebabkan sesuatu menjadi basah)
5. Menunjukkan inisiatif dalam memilih tema permainan (seperti: ayo kita bermain pura-pura seperti burung)
6. Memecahkan masalh sederhana dalam kehidupan sehari-hari
B. Konsep bentuk, dan pola 1. Mengklasifikasikan bentuk atau warna atau ukuran
2. Mengklasifikasikan benda ke dalam kelompok yang sama atau kelompok yang sejenis atau kelompok yang berpasangan dengan 2 variasi
3. Mengenal pola AB-AB dan ABC-ABC
4. Mengurutkan benda berdasarkan 5 seriasi ukuran atau warna 1. Mengenal perbedaan ukuran: “lebih dari”; “kurang dari”; “paling/ter”
2. Mengklasifikasikan benda berdasarkan warna, bentuk, dan ukuran (3 variasi)
3. Mengklasifikasikan benda yang lebih banyak kedalam kelompok yang sama atau kelompok yang sejenis, atau kelompok berpasangan yang lebih dari 2 variasi
4. Mengenal pola ABCD-ABCD
5. Mengurutkan benda berdasarkan ukuran dari paling kecil ke paling besar atau sebaliknya
C. Konsep bilangan, lambang bilangan dan huruf 1. Mengetahui konsep banyak dan sedikit
2. Membilang banyak benda satu sampai sepuluh
3. Mengenal konsep bilangan
4. Mengenal lambang bilangan
5. Mengenal lambang huruf 1. Menyebutkan lambing bilangan 1-10
2. Mencocokkan bilangan dengan lambing bilangan
3. Mengenal berbagai macam lambing huruf vocal dan konsonan

G. Klasifikasi Pengembangan Kognitif Anak Usia Dini
Dengan pengetahuan pengembangna kognitif akan lebih mudah bagi orang dewasa lainnya dalam menstimulasi kemampuan kognitif anak, sehingga akan tercapau optimalisasi potensial pada masing-masing anak.
Adapun tujuan pengembangan kognitif diarahkan pada pengembangan kemampuan auditory, visual, taktik, kinestetik, aritmetika, geometri, dan sains permulaan. Uraian masing-masing bidang pengembangan ini sebagai berikut :
1. Pengembangan auditory
Kemampuan ini berhubungan dengan bunyi atau indra pendengaran anak, seperti : (a) mendengarkan atau menirukan bunyi yang didengar sehari-hari, (b) mendengarkan nyanyian atau syair dengan baik, (c) mengikuti perintah lisan sederhana, (d) mendengarkan cerita dengan baik, (e) mengungkapkan kembali cerita sederhana, (f) menebak lagu atau apresiasi musik, (g) mengikuti ritmis dengan bertepuk, (h) menyebutkan nama-nama hari dan bulan, (i) mengetahui asal suara, (j) mengetahui nama benda yang dibunyikan.
2. Pengembangan visual
Kemampuan ini berhubungan dengan penglihatan, pengamatan, perhatian, tanggapan, dan persepsi anak terhadap lingkungan sekitarnya. Adapun kemampuan yang dikembangkan, yaitu: (a) mengenali benda-benda sehari-hari, (b) membandingkan benda-benda dari yang sederhana menuju ke yang lebih kompleks, (c) mengetahui benda dalam ukuran, bentuk, atau dari warnanya, (d) mengetahui adanya benda yang hilang apabila ditunjukkan sebuah yang belum sempurna atau janggal, (e) menjawab pertanyaan tentang sebuah gambar dari seri lainnya, (f) menyusun potongan teka-teki mulai dari yang sederhana sampai pada yang lebih rumit, (g) mengenali namanya sendiri bila tertulis, (h) mengenali huruf dan angka.
3. Pengembangan taktik
Kemampuan ini berhubungn dengan pengembangan tekstur (indera peraba). Adapun kemampuan yang akan dikembangkan yaitu: (a) mengembangkan indera sentuhan, (b) mengembangkan kesadaran akan berbagai tekstur, (c) mengembangkan kosakata untuk mengembangkan berbagai tekstur seperti tebal, tipis, halus-kasar, panas-dingin, dan tekstur kontras lainnya, (d) mengembangkan kosakata untuk menggambarkan berbagai tekstur, (e) bermain di bak pasir, (f) bermain air, (g) dengan plastisin, (h) menebak dengan meraba tubuh teman, meraba dengan kertas amplas, (i) meremas kertas koran, (j) meraup biji-bijian.
4. Pengembangan kinestetik
Kemampuan yang berhubungan dengan kelancaran gerak tangan/keterampilan tangan atau motorik halus yang memengaruhi perkembangan kognitif. Kemampuan yang berhubungan dengan keterampilan tangan dapat dikembangkan dengan permainan-permainan, yaitu: (a) finger painting dengan tepung kanji, (b) menjiplak huruf-huruf geometri, (c) melukis dengan cat air, (d) mewarnai dengan sederhana, (e) menjahit dengan sederhana, (f) merobek kertas koran, (g) menciptakan bentuk-bentuk dengan balok, (h) mewarnai gambar, (i) membuat gambar sendiri dengan berbagai media, (j) menjiplak bentuk lingkaran, bujur sangkar, segitiga, atau empat persegi panjang, (k) memegang dan menguasai sebatang pensil, (l) menyusun atau menggabungkan potongan gambar atau teka-teki dalam bentuk sederhana, (m) mampu menggunakan gunting dengan baik, (n) mampu menulis.
5. Pengembangan aritmetika
Kemampuan yang diarahkan untuk penguasaan berhitung atau konsep berhitung permulaan. Adapun kemampuan yang akan dikembangkan, yaitu: (a) mengenali atau membilang angka, (b) menyebut urutan bilangan, (c) menghitung benda, (d) mengenali himpunan dengan nilai bilangan berbeda, (e) memberi nilai bilangan pada suatu bilangan himpunan benda, (f) mengerjakan atau menyelesaikan operasi penjumlahan, pengurangan, perkalian, dan pembagian dengan menggunakan konsep dari konkret ke abstrak, (g) menghubungkan konsep bilangan dengan lambang bilangan, (h) menggunakan konsep waktu misalnya hari ini, (i) menyatakan waktu dengan jam, (j) mengurutkan lima hingga sepuluh benda berdasarkan urutan tinggi besar, (k) mengenai penambahan dan pengurangan.
6. Pengembangan geometri
Kemampuan ini berhubungan dengan pengembangan konsep bentuk dan ukuran. Adapun kemampuan yang akan dikembangkan, yaitu: (a) memilih benda menurut warna, bentuk, dan ukurannya, (b) mencocokkan benda menurut warna, bentuk, dan ukurannya, (c) membandingkan benda menurut ukurannya (besar, kecil, panjang, lebar, tinggi, dan rendah), (d) mengukur benda secara sederhana, (e) mengerti dan menggunakan bahasa ukuran, seperti besar-kecil, tinggi-rendah, dan panjang-pendek, (f) menciptakan bentuk dari kepingan geometri, (g) menyebut benda-benda yang ada di kelas sesuai dengan bentuk geometri, (h) mencontoh bentuk-bentuk geometri, (i) menyebut, menunjukkan, dan mengelompokkan segi empat, (j) menyusun menara dari delapan kubus, (k) mengenal ukuran panjang, berat, dan isi, (l) meniru pola dengan empat kubus.

7. Pengembangan sains permulaan
Kemampuan ini berhubungan dengan berbagai percobaan atau demonstrasi sebagai suatu pendekatan secara saintifik atau logis, tetapi tetap dengan mempertimbangkan tahapan berpikir anak. Adapun kemampuan yang akan dikembangkan, yaitu: (a) mengeksplorasi berbagai benda yang ada di sekitarnya, (b) mengadakann berbagai percobaan sederhana, (c) mengomunikasikan apa yang telah diaamti dan diteliti. Contoh kegiatan yang dapat dikembangkan melalui permainan, sebagai berikut: proses merebus atau membakar jagung, membuat jus, warna dicampur, mengenal asal mula sesuatu, balon ditiup lalu dilepas, benda kecil dilihat dengan kaca pembesar, besi berani didekatkan dengan macam-macam benda, biji ditanam, benda-benda dimasukkan ke dalam air, mengenal sebab akibat mengapa sakit gigi, dan mengapa lapar.

H. Strategi Pengembangan Kemampuan Kognitif untuk Anak Usia Dini
Hal yang terpenting adalah cara menigkatkan perkembangan kognitif anak usia dini. Secara sederhana, Suryadi menyebutkan perkembangan kognitif terdiri atas dua bidang: yakni logika-matematika dan sains. Oleh karena itu, cara meningkatkan perkembangan kognitif pada anak usia dini juga berkutat seputar dua bidang pelajaran tersebut, yakni logika-matematika dan sains. Beberapa langkah berikut ini bisa dilakukan untuk meningkatkan perkembangan anak usia dini.
a. Meningkatkan kemampuan berpikir logis
Berfikir logis sangat dibutuhkan anak-anak, karena kemampuan ini dapat mendidik kedisiplinan yang sangat kuat. Logika berperan besar dalam menjadikan anak-anak semakin dewasa dengan keputusan-keputusan matangnya.
b. Menemukan hubungan sebab akibat
Dalam pengertian yang lebih luas, menemukan hukum sebab akibat dapat ditempuh dengan membuat hubungan anatara dua variabel atau lebih. Dari dua hubungan tersebut, dapat diketahui, bahwa akibat dari suatu peristiwa ada sebabnya. Misalnya, penyebab kematian adalah sakit, penyebab rumah terbakar adalah hubungan arus pendek, penyebab mesin mogok adalah kerusakan dan lain sebagainya.
c. Meningkatkan pengertian pada bilangan
Pernahkan anda menemukan orang yang sangat cepat dalam menghitung. Bukan menghitung dengan kalkulator atau komputer, melainkan berhitung secara awangan atau mencongak.jika pernah, maka ketahuilah bahwa orang tersebut mempunyai kepekaan terhadap bilangan sangat tinggi.
Dengan bekal kepekaan terhadap angka dan bilangan inilah anak menjadi lebih mengerti dan cepat dalam memahami hubungan sebab-akibat.
Secara sederhana, berbagai elemen yang dapat meningkatkan perkembangan kognitifanak usia dini dapat dibagi ke dalam dua konsep, yakni logika matematka dan sains.kedua konsep ini dapatdilihat pada skema berikut :

Skema konsep stimulasi pengembangan kognitif melalui logika matematika pada anak usia dini

Skema konsep stimulasi pengembangan kognitif melalui pelajaran sains pada anak usia dini

Skema konsep stimulasi pengembangan kognitif melalui pelajaran logika matematika pada anak usia dini. Skema konsep stimulasi pengembangan koginitif melalui pelajaran sains pada anak usia dini.
Setelah melakukan berbagai bentuk stimulasi yang mencakup minimaldua hal diatas (logika matematika dan sains).diharapkan pengembangan kognitif padaanak usia dini dapat meningkat tajam, sehingga ia mampu mencapai tahapan-tahapan perkembangan kognitif inilah akan menopang kecerdasan anak tersebut.berikut ini tabel capaian perkembangan kognitif pada anak usia dini.
Tabel Capaian Perkembangan Kognitif pada Anak Usia Dini
No Anak Usia Capaian Perkembangan Kognitif
1 Lahir – 1 tahun a. Mengenal benda
b. Mengenal bentuk
2 1-2 tahun a. Mengenal warna
b. Mengenal rasa manis, pahit dan asin
c. Mengenal bilangan 1 dan 2
3 2-3 tahun a. Mampu mengelompokkan benda yang berbentuk sama
b. Mampu membedakan bentuk,lingkaran dan bujur sangkar
c. Mampu membedakan rasa dan warna
d. Mengenal bilangan hingga hitungan 5
4 3- 4 tahun a. Mampu membedakan bentuk dan ukuran (besar-kecil,panjang – pendek, sedikit-banyak,dan lain-lain)
b. Mampu mengurutkan angka satu sampai dngan sepuluh
c. Mampu membeda – bedakan warna lebih banyak (merah- hijau, hitam – putih , biru-ungu, dan lain-lain)
5 4- 5 tahun a. Menunjukkan rasa ingin tahu mengenai cara kerja sesuatu
b. Suka membongkar mainannya untuk sekedar melihat apa yang ada di dalamnya dan kemudian dirangkai lagi
c. Suka mengurut urutkan (membuat urutan)sesuatu dari yang paling kecil, agak besar, hingga yang paling besar, atau sebaliknya
6 5- 6 tahun a. Mampu mengurutkan bilangan 1 hingga (minimal) 50
b. Senang dengan permainan otak atik bilangan
c. Menyukai permainan dengan komputer
d. Dengan mudah meletakkan benda sesuai dengan kelompoknya


BAB III
PENUTUP

A. Kesimpulan
1. Perkembangan Kognitif Anak Usia Dini adalah sesuatu yang merujuk pada perubahan-perubahan pada proses berpikir sepanjang siklus kehidupan anak sejak konsepsi hingga usia 8 tahun.
2. Urgensi perkembangan kemampuan kognitif anak usia dini yaitu dimana melalui pengembangan kognitif fungsi berpikir dapat digunakan dengan cepat dan tepat untuk mengatasi suatu situasi dan untuk memecahkan suatu masalah
3. Teori dasar perkembangan kognitif. Ada beberapa tokoh yang merumuskan teori kognitif berdasarkan hasil penelitian mereka. Masing-masing yaitu yang terkenal adalah Jean Piaget, Bruner, dan Lev Vygotsky.
4. Faktor-faktor yang mempengaruhi perkembangan kognitif yaitu: (1) Hereditas/ Keturunan, (2) Lingkungan, (3) Kemantangan, (4) Pembentukan, (5) Minat dan Bakat, dan (6) kebebasan
5. Proses Kogntif pada Anak Usia Dini yaitu:
Adaptasi, disini adabtasi mempunyai 2 proses komplementer yaitu asimilasi dan akomodasi. Proses yang berikut yaitu kecenderungan organisasi.
6. Tahap perkembangan kognitif AUD berarti tahap perkembangan kognitif anak dari sejak lahir sampai pada usia ± 8 tahun. Piaget membaginya dalam tahap sensori motorik untuk usia ± 0-24 bln dan tahap pra operasioanal ± 18 – ± 7 tahun.
7. Klasifikasi Pengembangan Kognitif Anak Usia Dini yaitu: (1) Pengembangan Auditory, (2) pengembangan visual, (3) Pengembangan taktik, (4) Pengembangan kinestetik, (5) Pengemabangan Arimatika, (6) Pengembangan Geometri, (7) Pengemabangan Sains Permulaan.
8. Strategi pengembagan kemampuan kognitif anak usia dini yaitu untuk: (1) meningkatkan kemampuan berpikir logis, (2) menemukan hubungan sebab akibat, (3) Meningkatkan pengertian pada bilangan.
B. Saran
Sebagai pendidik dan calon pendidik anak usia dini, bahkan bagi orang tua dan calon orangtua sebaiknya memahami perkembangan kognitif anak usia dini dan bisa mengembangkannya sejak dari masa konsepsi agar dapat memberikan stimulasi yang tepat pada anak sesuai dengan hakikat anak usia dini dan tahap perkembangannya. 

DAFTAR PUSTAKA

Aisyah, Siti. 2012. Perkembangan dan Konsep Dasar Pengembangan Anak Usia Dini. Tangerang Selatan: Universitas Terbuka.
Gredler, Margaret E. 2011. Learning and Instruction: Teori dan aplikasi. Jakarta: Kencana Perdana Media Group.
Jahja, Yudrik. 2011. Psikologi Perkembangan. Jakarta: Kencana.
Monks F.J., Knoers A.M.P., & Hadintono Siti R.. 2006. Psikologi Perkembangan: Pengantar dalam Berbagai Bagiannya. Yogyakarta: Gajah Mada University Press
Myrnawati, C.H. 2012. Jurnal Pendidikan Anak Usia Dini Volume 6 No. 2. Jakarta: Program Studi Pendidikan Anak Usia Dini Program Program Pascasarjana Universitas Negeri Jakarta.
Santrock, John W.. 2002. Life Span Development-Perkembangan Masa Hidup. Jakarta: Erlangga
Santrock, John W. 2009. Psikologi Pendidikan. Jakarta: Salemba Humanika
Susanto, Ahmad. 2011. Perkembangan Anak Usia Dini . Jakarta: Kencana
Suyadi. 2010. Psikologi Belajar Paud. Yogyakarta
http://www.naeyc.org

INTELIGENSI (Teori)

BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Inteligensi atau kecerdasan merupakan salah satu bagian terpenting dalam proses pertumbuhan dan perkembangan seorang individu selama masa hidupnya. Dengan inteligensi seseorang dapat menyesuaikan dirinya dengan lingkungan pendidikan maupun masyarakat sekitar. Tingkat kecerdasan seseorang biasanya di ukur dengan alat ukur psikologis sehingga nantinya menghasilkan skor kecerdasan. Hasil dari pengukuran itu sendiri, yang pada umumnya disebut dengan IQ (Intelligence Quotient). Lamanya masa kehamilan hingga persalinan merupakan salah satu faktor yang mempengaruhi inteligensi. Hal ini menentukan lengkap atau tidaknya dan sempurna atau tidaknya organ-organ dalam individu dapat berkembang dengan baik. Proses kelahiran tepat waktu maupun kelahiran prematur menjadi penentu kecerdasan seseorang dengan segala proses perkembangan selanjutnya setelah bayi dilahirkan.
Para ahli mengatakan bahwa keberhasilan belajar dipengaruhi oleh banyak faktor yang bersumber dari dalam diri (internal) maupun dari luar (eksternal) individu. Faktor internal meliputi keadaan fisik secara umum. Sedangkan psikologi meliputi variable kognitif termasuk di dalamnya adalah kemampuan khusus (bakat) dan kemampuan umum (intelegensi). Variabel non kognitif adalah minat, motivasi, dan variabel–variabel kepribadian. Faktor eskternal meliputi aspek fisik dan sosial. Kondisi tempat belajar, sarana dan perlengkapan belajar, materi pelajaran dan kondisi lingkungan belajar merupakan aspek fisik. Sedangkan dukungan sosial dan pengaruh budaya termasuk aspek sosial.
Keberhasilan atau prestasi belajar ditentukan oleh interaksi berbagai faktor. Peranan faktor penentu itu tidak selalu sama dan tetap. Besarnya kontribusi salah satu faktor akan ditentukan oleh kehadiran faktor lain dan sangat bersifat situasional, yaitu tidak dapat diprediksikan dengan cermat akibat keterlibatan faktor lain yang sangat variatif. Inteligensia sebagi unsur kognitif dianggap memegang peranan yang cukup penting. Bahkan kadang–kadang timbul anggapan yang menempatkan inteligensia pada peranan yang melebihi proporsi yang sebenarnya.
Sebagai calon pendidik maupun sebagai orang tua hendaknya kita mempelajari tentang inteligensi. Inteligensi memberikan kontribusi yang besar terhadap hasil belajar seseorang anak. Oleh karena itu penulis akan membahas tentang inteligensi dalam makalah ini, untuk memahami hal-hal yang dapat digunakan dan diterapkan di masyarakat atau lembaga pendidikan, khususnya bagi mahasiswa yang membacanya.

B. Rumusan Masalah
1. Apakah hakikat Intelligensi?
2. Bagaiman teori-teori Intelligensi?
3. Apakah Emotional Intelligence?
4. Apakah Spiritual Intelligence?

C. Tujuan
1. Menjelaskan hakikat Intelligensi.
2. Menjabarkan teori-teori Intelligensi.
3. Menjelaskan Emotional Intelligence.
4. Menjelaskan Spiritual Intelligence.

BAB II
PEMBAHASAN

A. Hakikat Intelligensi
Inteligensi merupakan topik yang biasanya menarik perhatian para orang tua, guru, dan para profesional. Akan tetapi, berbicara tentang hakikat inteligensi, sampai saat ini belum ada definisi yang standart yang dapat mengungkapkan arti inteligensi secara tepat.
Inteligensi bukan merupakan kata asli yang berasal dari bahasa Indonesia. Kata inteligensi adalah kata yang berasal dari bahasa latin yaitu “ inteligensia “. Sedangkan kata “ inteligensia “ itu sendiri berasal dari kata inter dan lego, inter yang berarti diantara, sedangkan lego berarti memilih. Sehingga inteligensi pada mulanya mempunyai pengertian kemampuan untuk memilih suatu penalaran terhadap fakta atau kebenaran.
Inteligensi berasal dari kata Latin ‘intelligere’ yang berarti menghubungkan atau menyatukan satu sama lain (to organize, to relate, to bind together). Masyarakat umum mengenal inteligensi sebagai istilah yang menggambarkan kecerdasan, kepintaran, ataupun kemampuan untuk memecahkan problem yang dihadapi.
Untuk memperjelas pengertian inteligensi, maka penulis memaparkan beberapa definisi inteligensi yang di kemukakan oleh beberapa ahli psikologi maupun pendidik diantaranya :
a. Menurut Verman Inteligensi merupakan hasil interaksi antara faktor genetis dan faktor lingkungan pra lahir maupun lingkungan pasca lahir: inteligensi tidak tampak dari luar tetapi tercermin dalam tingkah laku individu baik dalam bentuk tindakan-tindakan, ucapan-ucapan, maupun pikiran-pikiran sebagai seorang yang inteligen atau seorang yang tidak inteligen.
b. Menurut Sperman berpendapat bahwa inteligensi merupakan suatu kemampuan umum.
c. Menurut Binet mengemukakan bahwa inteligensi itu pasti ada karena dampaknya tampak dalam kehidupan sehari-hari. Ia mendapatkan “jejak” adanya individu-individu yang cerdas dan yang kurang cerdas. Seperti yang dikemukakan oleh Binet bahwa usaha untuk mengetahui atau meneliti inteligensi adalah ibarat seorang yang berburu ke hutan untuk mencari binatang buruan yang tidak seorang pun pernah melihatnya. Tetapi seorang yakin bahwa binatang buruan tersebut ada dan pasti akan muncul karena ulahnya yang tampak dalam kehidupan sehari-hari dengan merusak kandang-kandang ayam penduduk, tetapi tidak seorang pun dapat mendeskripsikannya dengan jelas. Menurut binet bahwa inteligensi bukan merupakan kapasitas tunggal, melainkan merupakan kemampuan yang kompleks.
d. Menurut Terman berpendapat bahwa individu yang cerdas adalah individu yang dapat menggunakan kemampuannya untuk berfikir secara abstrak. Di sini dibedakan adanya kecakapan yang berhubungan dengan lambang, dihubungkan antar masalah dan cara mengatasi suatu masalah.
e. Menurut Freeman menggolongkan denifisi inteligensi menjadi tiga golongan diantaranya :
1) Inteligensi sebagai kemampuan untuk menyesuaikan diri terhadap lingkungannya.
2) Inteligensi sebagai kemampuan untuk belajar.
3) Inteligensi sebagai kemampuan untuk berfikir abstrak dalam arti dapat mengenal dan menggunakan lambang-lambang secara efektif, baik yang berupa symbol verbal maupun symbol bilangan.
f. Menurut Amthauer menemukan “jejak-jejak” inteligensi antara individu yang satu dengan yang lainnya saling berlainan. Menurutnya inteligensi adalah suatu aspek kepribadian yang merupakan bagian kehidupan individu sehari-hari, sebagai aspek psikologis yang terdapat dalam diri individu. Inteligensi merupakan sesuatu yang abstrak yang tidak tampak di luar.
g. Menurut Chaplin , mendefinisikan inteligensi sebagai, (a) kemampuan menghadapi dan menyesuaikan diri terhadap situasi baru secara cepat dan efektif; (b) kemampuan menggunakan konsep abstrak secara efektif; dan (c) kemampuan memahami pertalian-pertalian dan belajar dengan cepat sekali. Ketiga perumusan ini sama sekali tidak terlepas satu sama lain ketiganya hanya menekankan aspek-aspek yang berbeda dari prosesnya.
h. Menurut Woodworth , mendefinisikan inteligensi sebagai kemampuan umum untuk memecahkan masalah-masalah intelektual atas dasar hasil belajar masa lampau dan kemampuan untuk memahami dan mengerti hakekat hidup masa kini.
i. Wechsler mendefinisikan inteligensi sebagai:
“Intelligence is the aggregate or global capacity of the individual to act purposefully, to think rationally, and to deal effectively with this environment”.
Artinya, inteligensi merupakan suatu agregat atau kapasitas global dari individu untuk dapat bertingkah laku secara terarah, berpikir secara rasional, serta berhubungan secara efektif dengan lingkungannya.
Wechsler mengemukakan tiga alasan mengapa pernyataan di atas diajukan :
a. Hasil dari perilaku inteligen bukan hanya merupakan suatu fungsi dari sejumlah kecakapan atau kualitas kecakapan tersebut, tapi juga tergantung pada konfigurasi kecakaan-kecakapan tersebut (cara kecakapan kecakapan tersebut dikombinasikan).
b. Ada faktor-faktor selain kecakapan intelektual, misalnya dorongan (drive) dan hadiah (incentive), yang melebur dengan perilaku inteligen.
c. Karena tingkah laku inteligen mempersyaratkan berbagai derajat kecakapan intelektual, maka kecakapankecakapan tertentu bisa saja memberikan sumbangan yang kurang berarti terhadap perilaku sebagai suatu keseluruhan.
Berdasarkan definisi tersebut maka dapai disimpulkan bahwa Inteligensi merupakan suatu kemampuan umum dan kompleks yang dimiliki individu dari faktor genetis maupun lingkungan yang mempengaruhinya untuk dapat berfikir secara abstrak, menyesuaikan diri belajar, memahami hakikat hidup dan mengatasi suatu masalah secara terarah, rasional, dan efektif.
Inteligensi merupakan suatu fungsi, dalam arti faktor-faktor yang menentukan inteligensi merupakan suatu fungsi secara keseluruhan. Faktor-faktor tersebut meliputi pembawaan, kematangan dan pembentukan.
1. Faktor Pembawaan
Faktor pembawaaan merupakan faktor pertama yang berperan di dalam inteligensi. Semua individu membawa sifat-sifat tertentu sejak lahir. Sifat-sifat alami ini yang menentukan pembawaan kita. Contohnya, terdapat anak-anak yang dengan susah payah dapat mengikuti pelajaran di bangku sekolah dasar (SD), termasuk ada yang dengan sangat mudahnya dapat mencapai gelar di universitas. Tetapi di sisi lain, betapapun giatnya mengikuti pelajaran-pelajaran tambahan di luar sekolah sekalipun, namun ada anak-anak yang tidak sanggup mengikuti pelajaran yang lebih tinggi dari SD. Artinya, mereka tidak memiliki kesanggupan yang memadai untuk mengikuti pelajaran, berkaitan dengan kekurangan faktor pembawaan.
2. Faktor Kematangan
Kematangan adalah pertumbuhan dari dalam. Faktor kematangan terkait dengan bagaimana kesiapan individu untuk memecahkan masalah yang dihadapinya. Contohnya, anak normal yang berusia 7 tahun, tidak akan menjumpai kesulitan dengan hitungan 8+9. Tetapi saat dihadapkan pada persoalan setingkat lebih sulit yang menyangkut persamaan seperti: 5+x=8, ia kesulitan untuk menyelesaikannya. Bisakah kita langsung memberi label bahwa anak tersebut bodoh? Tentu tidak!. Bahkan mungkin ia seorang anak yang cerdas, hanya saja ia belum matang untuk membuat soal hitungan persamaan semacam itu, karena hitungan semacam itu masih terlampau abstrak baginya. Andaikata anak itu normal dan berusia sekitar ± 14 tahun, besar kemungkinan hitungan itu tidak akan sulit diselesaikan.
3. Faktor Pembentukan
Faktor pembentukan, yakni perkembangan di bawah pengaruh keadaan-keadaan dari luar. Misalnya, seorang anak normal yang berusia 14 tahun, pada umumnya tidak akan menjumpai kesulitan dengan persoalan hitungan sederhana. Akan tetapi, tidak setiap anak normal 14 tahun dapat membuat hitungan seperti itu. Jika anak itu tinggal di sebuah dusun yang terpencil dan tidak pernah bersekolah, ia akan sulit menyelesaikan hitungan tersebut, sekalipun ia telah memiliki kematangan untuk hitungan tersebut. Jadi pembentukan merupakan faktor yang sangat penting dalam inteligensi. Dan dalam pembentukan, sekolah dan lingkungan memegang peranan yang sangat penting.

B. Berbagai Teori Intelligensi
Penjelasan teori menunjukkan kepada tokoh-tokoh yang membahas tentang teori inteligensi. Di antara para ahli yang dapat disebutkan di sini adalah dari Spearman, Thurstone, Guildford, Cattel and Horn, Strenberg dan Gardner. Pada dasarnya teori-teori tersebut dikembangkan berdasarkan dua pendekatan: (1) teori yang dikembangkan oleh Spearman, Thurstone, Guildford, dan Cattel and Horn, yaitu teori inteligensi yang menerapkan teknik statistik, yaitu anlisis faktor; (2) teori yang dikembangkan oleh Stenberg dan Gardner, yaitu teori berdasarkan proses penggunaan informasi dalam pemecahan masalah (Papalia & Olds dalam Jamaris)
1. Teori Inteligensi Spearman
Charles Spearman ( 1863-1945) merupakan seorang ahli psikologi British. Spearman (1927) telah menggunakan analisis statistik (analisis faktor) untuk menentukan daerah korelasi di antara prestasi-prestasi dalam berbagai tugas. Sekiranya prestasi dalam tugas-tugas tertentu mempunyai korelasi positif yang tinggi, yang diwujudkannya dengan mencerminkan pengaruh faktor yang mendasarinya. Dengan itu, beliau menyatakan bahawa kecerdasan adalah keupayaan umum yang mendasari berbagai tingkah laku. Maksudnya, kecerdasan mempunyai satu faktor dasar (umum) yang sama iaitu kecerdasan umum ( g -general intelligence). Menurut beliau, individu yang cerdas dalam sesuatu bidang akan turut cerdas dalam bidang-bidang yang lain. Dengan menggunakan kaedah statistik korelasi, beliau mendapati bahwa terdapat korelasi yang tinggi di antara aspek-aspek kecerdasan yang berkaitan. Ini kerana, mengikut beliau terdapat kecerdasan umum yang mendasari korelasi tersebut. Contohnya, sekiranya prestasi ujian perbendaharaan kata, ujian bacaan, dan ujian tulisan adalah berkorelasi positif secara tinggi, maka kesemua ini mencerminkan pengaruh faktor umum iaitu “keupayaan perkataan”. Faktor dasar inilah yang beliau namakan sebagai kecerdasan umum (G).
Analisis faktor adalah suatu bentuk teknik statistik yang digunakan untuk menemukan hubungan yang ada diantara dua jenis variabel yang kelihatannya ada hubungan. Dalam faktor analisis dapat diketahui korelasi di antara variabel atau dua faktor. Hubungan tersebut dapat berbentuk; (1) hubungan positif, (2) hubungan negatif, (3) tidak ada hubungan. Apabila hubungan diantara dua faktor tersebut adalah positif dan negatif maka hubungan kedua faktor tersebut sangat tinggi. Spearman menggunakan teknik ini untuk mengukur kemampuan kognitif anak.
Charles Spearman adalah seorang ahli matematika berkebangsaan Inggris. Pada tahun 1904, Speaman mengemukakan teori dua-faktor.
Faktor pertama seperti yang dikemukakan oleh Stern, yaitu kapasitas umum. Hubungan teori Spearman dan Stern adalah digunakannya huruf yang sama. Spearman menggunakan huruf g, sedangkan Stern menggunakan huruf G untuk menggambarkan kemampuan umum inteligensi. Tetapi Spearman tidak seperti Stern, yang hanya menggambarkan G sebagai satu faktor tunggal. Spearman lebih jauh membahas bahwa inteligensi merupakan komposisi faktor umum (g) yang mendasari fungsi-fungsi mental dan faktor-faktor khusus (s) yang berhubungan dengan tugas-tugas dan situasi.
Dalam teori Spearman, orang berbeda karena tingkat faktor umum dan karena faktor-faktor khusus yang terlibat dalam suatu tugas sehingga seseorang dapat memiliki inteligensi yang lebih daripada orang lain. Hal ini mungkin disebabkan karena seseorang tinggi di bidang g dan rendah di bidang s.
Dalam inteligensi faktor g adalah faktor yang berkaitan dengan intelligensi umum, yang merupakan kapasitas intelligensi yang dibawa sejak lahir dan mempengruhi seluruh kemampuan individu. Faktor spesifikasi berkaitan dengan kemampuan khusus seperti, perbedaan skor dalam tes yang berbeda.
Ia mulai dengan g (kapasitas umum), kemudian menelitinya dengan metode-metode statistik. Akhirnya ia mengambil intinya s (inteligensi khusus) yang tidak sama dengan inteligensi umum dalam berbagai hal. Dengan demikian penyelidikan Spearman memisahkan faktor g dengan faktor-faktor s.
Pada gambar 2.1, s1 s2 dan s3 menunjukkan jenis inteligensi khusus yang porsinya tidak sama dengan faktor umum. Porsi inteligensi yang sama dengan faktor general ditunjukkan dengan adanya arsir berwarna abu-abu. Yang diarsir dari s1 dan g lebih besar daripada yang diarsir di daerah s2 dan g. Perbedaan ini sengaja dibuat untuk menunjukkan bahwa s2 lebih independen daripada s1 terhadap g.
Penalaran di atas menggambarkan bahwa setiap faktor s berbeda ruang ukurannya. Hal ini berarti pula bahwa dalam diri 2 orang tidak akan pernah sama ukuran dan kualitas faktor g maupun faktor-faktor s-nya. Berarti pula dalam diri seseorang, jenis inteligensi khususnya tidak sama. Dua orang dapat sama jumlah faktor snya, sedangkan ukuran atau ruang dan bentuk faktor-faktor s itu yang berbeda antara orang satu dengan orang lainnya.
Apabila diikhtisarkan, teori Spearman tentang teori perbedaan individual adalah sebagai berikut:
a. Orang memiliki jumlah g (kapasitas general) yang berbeda.
b. Dalam diri seseorang, jumlah faktor-faktor s berbeda.
c. Orang memiliki perbedaan jumlah dan jenis faktor g dan s.
Spearman tidak memberikan nama tertentu terhadap faktor g dan faktor-faktor s ini. Ia hanya menyebutkan bahwa faktor g adalah energy mental umum yang dimiliki individu. Sedangkan faktor s merupakan pola syaraf atau mesin yang bekerja melalui faktor g.
Namun demikian Spearman tidak menstabilisasikan ide-idenya. Sebagai seorang yang ahli statistik, ia kemudian menyempurnakan teknik dan metode korelasinya.
Teori ini merupakan hasil akhir pembahasan Spearman. Kita lihat dalam gambar, bahwa s4 dan s5 memiliki “overlapping” (tumpangtindih). Daerah itu membuat dua ide baru; daerah arsiran lebih hitam, sebagai tiga gabungan faktor g, s4 dan s5 dan daerah lebih kelabu yang merupakan gabungan s4 dan s5 saja. Spearman tidak pemah memberikan arti terhadap daerah yang diarsir lebih hitam untuk faktor g, s4 dan s5 . Kita hanya dapat meraba-raba saja. Kita hanya tahu bahwa hal ini merupakan salah satu kemajuan pembahasannya saja. Dia hanya memberikan nama “faktor’ kelompok,” yang jumlahnya ada 5 daerah. Dia memberikan namanama untuk masing-masing daerah: kemampuan verbal, kemampuan numerikal, kemampuan mekanikal, perhatian, dan imaginasi. Imaginasi ini disebut kecepatan mental. Pada akhirnya Spearman memberikan nama dan tanda untuk 3 daerah non-intelektual itu. Nama-nama dan tanda-tanda tersebut adalah:
a. “perseveration” ( P ) atau ketabahan/keteguhan hati.
b. “oscillation” ( 0 )atau kegoncangan
c. “will factor” (W) atau keinginan.
Dengan demikian, kita lihat bahwa teori inteligensi telah mengalami kemajuan dari teori “sesuatu yang tunggal” (Stern) yang mengungkapkan kemampuan memecahkan masalah, menuju ke teori yang lebih kompleks (Spearman) yang menunjukkan bahwa inteligensi kita berisi kemampuan umum dan 5 kemampuan khusus.
2. Teori Inteligensi Thurstone
Thurstone (1938) adalah orang Amerika yang bersama isterinya Thelma Gwinn Thurstone, merupakan ahli di bidang psikologi statistik. Di samping sebagai ahli psikologi, mereka adalah ahli statistik yang brilian.
Thurstone mengadakan analisa faktor yang berkaitan dengan inteligensi. Thurnstone (1983) yang tidak sepakat dengan teori Spearman telah menyelenggarakan 56 tes dengan hasil tidak ada faktor inteligensi umum. Thurstone mengambil kesimpulan bahwa tidak ada faktor umum dalam inteligensi. Inteligensi adalah sejumlah kemampuan mental yang bersifat primer. Penelitiannya menunjukkan bahwa kemampuan mental dapat dikelompokkan menjadi 7 faktor. Inteligensi dapat diukur dengan mengambil sample ‘performance’ atau penampilan/prestasi individu melalui 7 bidang:
a. kemampuan di bidang angka, yaitu kecepatan dan ketepatan dalam perhitungan aritmatika sederhana
b. kemampuan dalam kelancaran kata, yaitu kecepatan menyebutkan kata-kata dalam kategori tertentu, misalnya menyebutkan nama makanan yang dimulai dengan huruf s.
c. kemampuan dalam ingatan asosiatif, yaitu keterampilan dalam tugas-tugas yang menuntut ingatan, misalnya belajar mengasosiasikan pasangan item-item yang tidak berhubungan
d. kemampuan dalam penalaran induktif, yaitu kemampuan menemukan hukum-hukum.
e. kemampuan dalam penguasaan ruang, yaitu memvisualisasikan bagaimana objek tiga dimensi dapat tampak jika dirotasikan atau dipecah-pecahkan.
f. kemampuan dalam pemahaman verbal, yaitu kemampuan dalam jumlah kosa kata, pemahaman bacaan, dan analogi verbal.
g. kemampuan dalam kecepatan perceptual, yaitu kemampuan dalam tugas-tugas klerikal sederhana, seperti memeriksa kesamaan dan perbedaan detail visual.
Thurstone mengasumsikan bahwa kombinasi faktor-faktor itu muncul dalam “performance” (penampilan/prestasi) pada berbagai tugas intelektual. Konsepnya sampai kini masih digunakan da1am tes yang disebut tes “Kemampuan Mental Primer.” Teori inteligensi Thurstone banyak disebut para penulis sebagai teori “multi-faktor”.
a. Jumlah Kemampuan mental primer pada teori Thurstone.
b. Hubungan masing-masing kemampuan mental primer dengan kemampuan mental primer lainnya.
c. Hubungan antara kemampuan mental primer dengan kemampuan mental general (umum).
Ke-3 ide dasar tersebut akan dibahas satu persatu, untuk memperoleh gambaran tentang teori inteligensi Thurstone.
Dalam penelitiannya tentang inteligensi, Thurstone menggunakan faktor analisis dalam mengolah skor tes inteligensi dari sejumlah besar anak yang berpartisipasi dalam tes tersebut. Hasil penelitian tersebut menunjukkan bahwa ke tujuh kemmapuan mental tersebut berkorelatif positif antara satu dengan yang lainnya. Dengan demikian, apabila seorang anak mendapatkan skor yang tinggi pada verbal comprehension atau kemampuan dalam pemahaman bahasa maka ia akan memperoleh skor yang tinggi pula dalam kemampuan mental yang lainnya.

Ad.1. Jumlah Kemampuan Mental Primer.
Terdapat 7 Kemampuan mental yang terpisah-pisah; angka, penguasaan kata, arti verbal, memori, penalaran, ruang dan kecepatan perseptual. Kecepatan mental masing-masing tidak ditentukan secara aktual oleh Thurstone dalam penelitiannya. Tetapi kemampuan ini dimasukkan karena ada hubungannya dengan testing di masa-masa mendatang.
Berbeda dengan tes-tes yang biasa dilaksanakan dengan pelemparan dadu atau kartu, Thurstone secara arbitrare menggunakan 60 sub-tes untuk ujian. Ujian ini dilaksanakan, dengan teknik statistik yang disebutnya analisa faktor. Dengan menggunakan metode ini, ia menyempurnakan 60 sub-tes itu menjadi 2. Tetapi oleh para ahli psikologi 21 tes tersebut hanya 11 tes yang biasa digunakan untuk mengukur kemampuan mental primer.

Ad 2. Hubungan Antar Kemampuan Mental Primer.
Masing-masing kemampuan mental telah digambarkan sedemikian rupa, sehingga nampak kaitan antar masing-masing kemampuan mental primer dengan kemampuan yang lain. Persilangan tersebut menunjukkan hubungan satu, sama lain secara positif. Di dalamnya terdapat angka angka, yang menunjukkan koefisien korelasi. Bukan tugas kita untuk mencari koefisien korelasi tersebut. Koefisien korelasi ini menunjukkan koefisien korelasi antar kemampuan mental yang saling berkaitan. Thurstone telah menguji koefisien korelasi tersebut dengan caranya sendiri.
Ada 2 set kemampuan mental yang memiliki koefisien korelasi yang sama besar, yaitu:
a. Penalaran dengan angka.
b. Penalaran dengan penguasaan kata.
Keduanya memiliki koefisien korelasi 0,54.
Dua kemampuan mental yang memiliki koefisien korelasi kecil adalah ruang dan memori. Korelasi dari kedua kemampun mental tersebut hanya 0,14.
Kemampuan mental yang tidak memiliki korelasi sama sekali adalah kecepatan perseptual, sebab Thurstone tidak menunjukkannya.

Ad 3. Hubungan antara Kemampuan-kemampuan Mental Primer dengan Kemampuan Umum.
Semua kemampuan mental primer setelah berjalan horizontal, kemudian berbelok turun sehingga memotong kemampuan lainnya, kemudian bergabung dengan bidang yang luas yang memiliki tanda G (kemampuan mental umum). Masuknya ke dalam daerah G memiliki kedalam kedalaman yang berbeda-beda. Sebagai contoh, penalaran menancap paling dalam ke daerah G (0,84). Hal ini berarti bahwa penalaran dengan kemampuan mental umum memiliki korelasi yang paling tinggi. Korelasi terkecil dimiliki oleh kemampuan ruang dengan kemampuan mental umum (0,33). Sedangkan yang tidak ada korelasi sama sekali adalah kecepatan perseptual dengan kemampuan mental umum, karena Thurstone tidak menunjukkannya.
Hasil korelasi pada gambar 4.5, tidak sama dengan hasil tes dari studi lainnya dengan responden yang berbeda. Dalam memandang kemampuan mental umum (G), Thurstone mempertanyakan; “Apakah faktor umum yang unik itu dapat ditentukan?.” Pertanyaan ini menimbulkan kekhawatiran pada konsep Spearman. Seperti telah kita ketahui bahwa Spearman mulai bahasannya dengan premis sebuah faktor general. Kemudian Spearman mengembangkan lebih lanjut bahwa faktor-faktor khusus dapat muncul di luar faktor general ini. Sedangkan Thurstone berangkat dari faktor-faktor primer atau kemampuan mental primer kemudian menuju pada kemampuan mental umum. Setidak-tidaknya dua teori itu memiliki kesamaan. Perbedaan hanya terletak pada sistem pendekatannya. Spearman dari umum ke khusus, sedangkan Thurstone dari khusus ke umum.
Dalam teori Thurstone, kemampuan mental primer berkorelasi dengan faktor general melalui masing- masing faktor primer. Setiap kemampuan mental primer dipandang sebagai suatu kombinasi kemampuan mental independen dengan suatu kemampuan mental general. Thurstone menganggap bahwa interpretasi psikologis tentang kemampuan mental general itu hanyalah tentatif belaka. Untuk memperjelas konsep Thurstone tentang inteligensi, berikut ini dibahas khusus tentang Kemampuan Mental Primer.
3. Teori Inteligensi Guildford
J.P Guildford (1897-1987) merupakan pakar inteligensi utama dalamabad modern. Teori inteligensi yang dikemukakan menekankan multiple cognitive abilities atau kemampuan kognitif majemuk. Melalui penelitian yang dilakukan ia menemukan tiga komponen inteligensi yaitu: (1) operasi inteligensi, (2) isi inteligensi, (3) produk inteligensi (Woolfolck McCune Nicolich dalam Jamaris). , Operasi Inteligensi mencakup: kognitif, memori, berpikir divergen, berpikir konvergen dan evaluasi. Isi inteligensi mencakup: figural, symbol, semantic, dan perilaku. Produk inteligensi terdiri dari: unit, klas, relasi, system, transformasi, dan implikasi.
Hidup berarti menghadapi masalah, dan memecahkan masalah berarti tumbuh berkembang secara intelektual (J.P. Guilford) .P. Guilford mengemukakan bahwa inteligensi dapat dilihat dari tiga kategori dasar atau “faces of intellect”, yaitu :
a. Operasi Mental (Proses Befikir)
1) Cognition (menyimpan informasi yang lama dan menemukan informasi yang baru).
2) Memory Retention (ingatan yang berkaitan dengan kehidupan seharihari). ///Memory Recording (ingatan yang segera).
3) Divergent Production (berfikir melebar atau banyak kemungkinan jawaban/ alternatif).
4) Convergent Production (berfikir memusat atau hanya satu kemungkinan jawaban/alternatif).
5) Evaluation (mengambil keputusan tentang apakah suatu itu baik, akurat, atau memadai).
b. Content (Isi yang Dipikirkan)
1) Visual (bentuk konkret atau gambaran).
2) Auditory.
3) Word Meaning (semantic).
4) Symbolic (informasi dalam bentuk lambang, kata-kata atau angka dan notasi musik).
5) Behavioral (interaksi non verbal yang diperoleh melalui penginderaan, ekspresi muka atau suara).
c. Product (Hasil Berfikir)
1) Unit (item tunggal informasi).
2) Kelas (kelompok item yang memiliki sifat-sifat yang sama).
3) Relasi (keterkaitan antar informasi).
4) Sistem (kompleksitas bagian saling berhubungan).
5) Transformasi (perubahan, modifikasi, atau redefinisi informasi.
6) Implikasi (informasi yang merupakan saran dari informasi item lain).
Salah satu teori inteligensi multifaktor telah dikemukakan oleh Guilford (1959). Kemudian terus direvisi sampai tahun 1988. Ia menggunakan teknik “analisis faktor” statistik untuk mengembangkan model berbentuk kubus yang ia sebut sebagai model “struktur intelek” atau dalam bahasa Inggris disebut Structure of Intellect (SOI). Ia membuat hipotesis untuk mengklasifikasikan komposisi sistem kemampuan intelektual menurut “tiga dimensi”.
Sistem kemampuan intelek tersebut terdiri atas :
a. Material atau isi yang diproses
b. Proses atau operasi dari material
c. Bentuk atau produk informasi yang telah diproses
Model pemikiran Guilford tentang teori inteligensi mulitifaktor tersebut dapat digambarkan sebagai berikut :

Gambar 2.4 Structure of Intellect (SOI)
Gambar 2.4 menunjukkan tiga jenis faktor intelek dalam bentuk model kubus. Secara teoritis dari model itu meliputi kategori-kategori yang berbeda-beda (5 isi x 6 operasi x 6 produk) sehingga dapat ditemukan 180 sel dalam model ini atau 180 kemampuan yang berbeda-beda. Model ini mengungkapkan bahwa inteligensi individu tidak dapat diukur dengan alat yang hanya menghasilkan skor tunggal.
Dimensi pertama, yaitu isi. Dimensi ini berisi 5 sub-kategori :
a. Isi visual/figural, yang menunjukkan objek-objek konkrit yang langsung diterima (misalnya model-model, bagan, diagram dan sebagainya).
b. Isi simbolik, yang menunjukkan tulisan; huruf; angka; bentuk-bentuk konvensional dan sebagainya.
c. Isi pendengaran, yang menunjukkan menerima stimulus auditory.
d. Isi semantic, yang menunjukkan arti ide-ide verbal/kata-kata.
e. Isi behavioral adalah inteligensi social, yang menunjukkan kemampuan untuk menerima dan menginterpretasikan pikiran, perasaan, dan sikap orang lain.
Dimensi kedua yaitu operasi. Dimensi ini berisi 6 sub-kategori :
a. Kognisi yaitu pendalaman informasi
b. Memori retensi yaitu menahan informasi
c. Memori reproduksi yaitu proses pengutaraan kembali atau memproduksi kembali informasi
d. Pemikiran konvergen yaitu proses menghasilkan jawaban yang tepat dan benar dari informasi yang telahdiketahui dan diingat pada satu arah.
e. Pemikiran divergen yaitu proses pikiran terhadap arah yang berbeda-beda dan beraneka ragam dari informasi yang telah ada.
f. Evaluasi yaitu proses pengambilan keputusan atas informasi yang diterima
Penerapan operasi mental ke dalam dimensi isi menghasilkan jenis produk tertentu (dimensi ke-3 model Guilford). Dimensi produk dibagi ke dalam 6 sub-kategori :
a. Unit yaitu pekerjaan mental yang terpisah misalnya kata-kata atau imaginasi khusus
b. Kelas atau kelompok-kelompok unit informasi yang ada pada karakteristik umum
c. Relasi yang menunjukkan hubungan unit-unit informasi. Misalnya “lebih tinggi daripada”, “lebih besar daripada”.
d. Sistem yang berupa penstrukturan informasi yang kompleks,
e. Transformasi menunjukkan perubahan informasi yang ada sebelumnya menjadi informasi selanjutnya
f. Implikasi menunjukkan penunjukkan atau prediksi yang diperoleh dari pengetahuan yang dimiliki sekarang dan diterapkan pada waktu yang akan datang
Model Guilford memberikan suatu jalan untuk mengorganisasikan kemampuan-kemampuan dalam kurikulum. Dalam mengorganisasikan kurikulum sekolah kita dapat menentukan kemampuan-kemampuan mana yang perlu mendapatkan perhatian. Dalam bidang isi, misalnya kita menitikberatkan pada kemampuan semantic dan kemampuan simbolik dengan keterampilan figural dan behavioral. Dapat juga kita menekankan pada kognisi, memori dan pemikiran, konvergen pada operasi bisa juga semua bidang operasi diambil. Sedangkan pada bidang produk kita mengambil unit dan kelas. Ini hanya sebagai contoh. Tentu saja pengambilan masing-masing sub kategori bergantung.
Guilford (1967) menolak teori faktor g dan faktor kelompok kemampuan spesifik. Ia mengungkapkan teori kompleksitas inteligensi. Model Guilford memiliki 2 efek yang menguntungkan :
a. Teori ini merupakan mata rantai studi inteligensi dengan menggunakan pengetahuan tentang belajar, psikoliguistik, pikiran, konsep, dan sebagainya sebagai pembagian tugas intelektual.
b. Teori ini meliputi bidang-bidang fungsi intelektual yang terlokalisasi dengan sedikit sekali terwakili oleh testes inteligensi standar. Sebagai contoh, banyak tes-tes inteligensi yang hanya mengukur pemikiran konvergen yang hanya memiliki jawaban yang benar. Misalnya jika ada pertanyaan, “Apakah sesuatu yang keras, berwarna merah, digunakan untuk bangunan dan tembok?”. Maka hanya ada satu jawaban, “batu bata”. Jika pertanyaan itu dibalik dengan sistem “divergen thinking”, maka pertanyaan dapat menjadi, “Bangunan apa yang banyak menggunakan batu bata?”. Tentu jawabannya akan banyak dan akan menciptakan proses yang kreatif.

4. Teori Inteligensi Cattel & Horn
R.B Cattel (1965) dan J.L. Horn (1987) mengemukakan dua dimensi inteligensi yang disebut dengan istilah fluid intelligence (Gf) dan crystallized intelligence (Gc). Fluid intelligence (Gf) berkaitan dengan kemampuan untuk mengembangkan teknik pemecahan masalah yang baru dan berbeda dari teknik sebelumnya. Fluid intelligence tentukan oleh perkembangan neurologis dan relatif terbebas dari pengaruh pendidikan dan kebudayaan (Papalia & Olds, dalam Jamaris).
Crystallized intelligence (Gc) berkaitan dengan kemampuan mengemukakan pengalaman-pengalaman yang telah dipelajari sebelumnya dalam memecahkan masalah yang dihadapi. Kemampuan ini mencakup kemampuan dalam menggunakan informasi umum untuk mempertimbangkan sesuatu dan memecahkan masalah. Oleh sebab itu, crystallized intelligence merupakan hasil belajar yang dipengaruhi oleh pendidikan dan kebudayaan.
Teori kecerdasan yang agak baru yang berdasarkan kepada analisis faktor telah dibentuk oleh John Horn dan Raymond Cattell(1963), mereka telah mengenal pasti dua faktor kecerdasan . yaitu:
a. Kecerdasan bendalir. Kecerdasan bendalir mencerminkan kemampuan berfikir, keupayaan ingatan, dan pemprosesan maklumat secara cepat. Horn dan Cattell(1963) percaya bahawa kecerdasan bendalir adalah sebahagian besarnya diwarisi, kurang dikesani oleh latihan, dan semakin menurun ketika mengharungi zaman dewasa.
b. Kecerdasan berhablur: Kecerdasan berhablur pula adalah mencerminkan pemerolehan kemahiran dan pengetahuan melalui pendidikan di sekolah dan pengalaman harian. Horn dan Cattell(1963) percaya bahawa kecerdasan berhablur meningkat atau tetap sama ketika berada di zaman dewasa akhir.
Walaupun kecerdasan bendalir semakin menurun ketika umur seseorang semakin meningkat dewasa, namun ia boleh ditingkatkan melalui program pendidikan yang khusus, dan program pendidikan juga boleh mempertingkatkan lagi kecerdasan berhablur.
5. Teori Inteligensi Stenberg
Psychologist Robert Strenberg mendefinisikan inteligensi sebagai aktivitas mental yang diarahkan pada kegiatan yang bertujuan untuk menyesuaikan diri, memilih dan membentuk lingkungan yang sesuai dengan kehidupan individu (Strenberg dalam Jamaris, 2010:122) . Inteligensi muncul dalam tiga bentuk yaitu analitis, kreatif, dan praktis. Inteligensi analitis melibatkan kemampuan menganalisis, menilai, mengevaluasi, membandingkan dan membedakan. Inteligensi kreatif terdiri atas kemampuan untuk menciptakan, merancang, menemukan, memulai, dan membayangkan. Inteligensi praktis berfokus pada kemampuan untuk menggunakan, menerapkan, mengimplementasikan dan mempraktikkan. Salah satu contoh dari kegiatan inteligensi atau kegiatan mental adalah cara yang dilakukan dalam memecahkan masalah. Dalam hal ini, individu yang sedang melakukan kegiatan dalam memecahkan masalah menggunakan informasi yang telah diperolehnya untuk memecahkan masalah yang dihadapnya.
Pada hakikatnya ia mendukung pendapat Gardner yang mendefinisikan inteligensi dalam lingkup yang lebih luas dari general ability, akan tetapi, ia berpendapat bahwa rumusan defenisi Gardner lebih cocok diterapkan untuk mengetahui bakat seseorang. Teori inteligensi yang dikembangkan oleh Strenberg dikenal dengan istilah Triarchic Theory of Intelligence yang terdiri dari Componential Subtheory, Experiential Subtheory, dan Contextual Subtheory.
1. Componential Subtheory
Componential Subtheory disebut juga dengan istilah Analytical Inteligence yang berkaitan dengan kemampuan dalam memecahkan masalah. Seperti yang dilakukan pada standard psychometric, analitycal inteligence dapat diukur melalui pemecahan masalah seperti masalah akademik, misalnya: analogis dan puzzle. Pemecahan masalah ini dilakukan berdasarkan operasi mental secara bersamaan yang disebut metacomponents yaitu langkah- langkah yang ditempuh dalam rangka pemecahan masalah dan keputusan yang diambil dalam pemecahan masalah tersebut. Kegiatan ini membutuhkan proses kognitif tingkat tinggi yang digunakan untuk menentukan langkah yang mana yang paling tepat digunakan untuk memecahkan masalah sesuai dengan konteksnya dan kemampuan dalam menggabungkan langkah-langkah yang dibutuhkan serta pertimbangan tentang waktu yang dibutuhkan dalam setiap langkah pemecahan masalah yang diambil dan kualitas hasil yang akan diperoleh setelah langkah- langkah tersebut diterapkan. Analytical intelligence mencakup:
a) Metacomponents yang berfungsi mengontrol, memonitor dan mengevaluasi proses kognitif. Ketiga aktivitas mental tersebut disebut executive functions yang bekerja untuk mengatur dan mengorganisasi komponen pencapaian hasil atau performance components.
b) Performance components yang berfungsi melaksanakan strategi yang telah dibangun oleh metacomponents. Komponen ini merupakan operasi dasar yang dalam operasinya selalu melibat kegiatan kognitif sehingga manusia mampu memahami makna stimulus atau informasi yang ditangkap oleh pancaindera, menyimpan informasi tersebut dalam bentuk ingatan jangka pendek (short term memory), lalu melakukan perhitungan yang diikuti oleh pertimbangan yang dilakukan dengan jalan membandingkannya dengan stimulus atau informasi yang lain yang dilaksanakan dengan jalan memanggil kembali ingatan jangka panjang (long term memory).
c) Knowledge acquisition components yaitu proses yang digunakan dalam memperoleh dan menyimpan pengetahuan baru. Kemampuan ini membantu manusia untuk mengingat hal- hal yang telah dipelajarinya atau dialaminya dan mengklasifikasikan hal- hal tersebut sesuai dengan klasifikasinya di dalam ingatan. Hasil dari proses tersebut dikenal dengan istilah schemata.
Contoh dari Inteligensi analitis yaitu Andi adalah anak yang mendapatkan skor tinggi dalam tes inteligensi tradisional, seperti yang diusungkan oleh Stanford-Binet. Selain itu Andi adalah anak pemikir analitis yang hebat. Inteligensi analitis yang dimiliki Andi adalah seperti apakah inteligensi dalam konteks tradisional dan apa yang biasanya dinilai oleh tes inteligensi. Dalam pandangan Sternberg, inteligensi analitis terdiri atas beberapa komponen yaitu kemampuan untuk mendapatkan atau menyimpan informasi, menyimpan atau mendapatkan kembali informasi, mentransfer informasi, merencanakan, membuat keputusan dan menyelesaikan masalah serta untuk menerjemahkan pikiran menjadi perbuatan.
2. Experiential Subtheory
Experiential Subtheory atau Creative Inteligence adalah suatu kemampuan yang mencakup pemahaman atau insights, synthesis dan kemampuan bereaksi terhadap stimulus dan situasi yang sulit yang menuntut tindakan kreatif dan innovatif. Creative Inteligence merefleksikan kemampuan manusia dalam menghubungkan kemampuan internalnya, seperti schemata, motivasi dan keuletan dengan realitas yang dihadapinya, sehingga ia mampu melakukan adaptasi secara kreatif dan innovative terhadap lingkungan atau situasi baru yang dihadapinya.
Sternberg meyakini bahwa semakin pintar individu maka semakin mudah bagi individu tersebut untuk menghadapi situasi- situasi yang sulit dan secara kreatif melakukan berbagai tindakan yang dibutuhkan. Experiential Subtheory mencakup dua aspek yaitu novelty atau innovasi dan automatization atau otomatisasi.
Contoh dari Creative Inteligence atau inteligensi kreatif yaitu Rina tidak mendapatkan skor tes yang terbaik, tetapi mempunyai pikiran yang kreatif dan berwawasan luas. Sternberg mengkategorikan jenis pemikiran Rina unggul pada Inteligensi kreatif. Menurut Sternberg, orang- orang yang kreatif mempunyai kemampuan untuk menyelesaikan masalah baru dengan cepat, tetapi mereka juga mempelajari cara menyelesaikan masalah serupa secara otomatis, sehingga pikiran mereka bebas untuk menangani masalah- masalah lain yang membutuhkan wawasan dan kreativitas.
3. Contextual Subtheory
Contextual Subtheory atau Practical Intelligence mencakup kemampuan memahami dan memecahkan berbagai masalah yang dihadapi dalam kehidupan sehari- hari. Kemampuan ini merefleksikan kemampuan manusia dalam berhubungan dengan orang- orang di sekitarnya.
Practical Intelligence dapat dikatakan sebagai kecerdasan yang digunakan dalam memecahkan masalah- masalah konkrit di dalam dunia nyata. Individu yang memiliki kecerdasan ini mampu melakukan adaptasi. Oleh sebab itu kecerdasan ini tidak hanya melibatkan inteligensi, akan tetapi, juga melibatkan emosi dan sikap serta perilaku. Dengan demikian Practical Intelligence adalah integrasi dari berbagai kemampuan seperti berikut ini.
1) Kemampuan beradaptasi dengan lingkungan agar dapat mencapai tujuan yang telah ditetapkan.
2) Kemampuan dalam mengatur dan memodifikasi lingkungan dalam upaya mencapai tujuan yang diharapkan.
3) Kemampuan dalam berpindah dari rencana yang satu kepada rencana yang lain apabila rencana pertama tidak berjalan sesuai dengan harapan atau tujuan yang akan dicapai.
Contoh dari Practical Intelligence atau inteligensi praktis yaitu Banu adalah seorang anak yang mendapatkan skor rendah dalam tes IQ tradisional, tetapi dengan cepat memahami masalah kehidupan nyata. Ia dengan mudah menyerap pengetahuan tentang bagaimana dunia berjalan. Keahlian yang praktis dan cerdas dari Banu adalah apa yang disebutkan oleh Sternberg dengan inteligensi praktis. Inteligensi praktis mencakup kemampuan untuk keluar dari kesulitan dan kepandaian khusus untuk bergaul dengan orang-orang. Sternberg mendeskripsikan inteligensi praktis sebagai semua informasi penting tentang cara untuk bertahan di dunia, yang tidak diajarkan untuk Anda di sekolah.

6. Teori Inteligensi Gardner
Teori inteligensi yang dikembangkan oleh Gardner dikenal dengan istilah Multiple Intelligences. Teori ini dikembangkan berdasarkan keyakinan Gardner bahwa inteligensi tidak hanya ditentukan oleh suatu factor yang dikenal dengan general intelligence atau faktor g, akan tetapi terdiri dari sejumlah factor. Dari pada memfokuskan perhatiannya pada kegiatan menganalisis skor tes inteligensi, karena Gardner meyakini bahwa perhitungan secara angka tidak akurat dijadikan pedoman untuk menentukan kemampuan manusia, oleh sebab itu untuk memprediksi kemampuan manusia maka fokus perhatiannya dialihkan dari angka kepada proses. Teori inteligensi yang akan dikembangkan berbasis skill dan kemampuan dalam berbagai kelompok yang terdiri dari delapan kelompok jenis inteligensi (Santrock, 2011:140) , yaitu:
a. Keahlian verbal yaitu kemampuan untuk berpikir dengan kata dan menggunakan bahasa untuk mengekspresikan makna (penulis, wartawan, pembicara).
b. Keahlian matematika yaitu kemampuan untuk menyelesaikan operasi matematika (ilmuan, insinyur, akuntan).
c. Keahlian spasial yaitu kemampuan untuk berpikir tiga dimensi (arsitek, perupa, dan pelaut).
d. Keahlian tubuh-kinestetik yaitu kemampuan untuk memanipulasi objek dan cerdas dalam hal- hal fisik (ahli bedah, pengrajin, penari, atlet).
e. Keahlian music yaitu sensitive terhadap nada, melodi, irama, dan suara (komposer, musisi dan pendengar yang sensitif).
f. Keahlian intrapersonal yaitu kemampuan untuk memahami diri sendiri dan menata kehidupan dirinya secara efektif (teolog, prikolog).
g. Keahlian interpersonal yaitu kemampuan untuk memahami dan berinteraksi secara efektif dengan orang lain (guru teladan, professional kesehatan mental).
h. Keahlian naturalis yaitu kemampuan untuk mengamati pola- pola di alam dan memahami system alam dan system buatan manusia (petani, ahli botani, ahli ekologi, ahli tanah).
Menurut (Landa dalam Santrock, 2011: 133) mengatakan bahwa pendekatan multiple intelligences adalah cara terbaik untuk mengajar anak sebab anak punya kemampuan yang berbeda-beda. Dia mengatakan bahwa peranannya sebagai guru sekarang sangat berbeda dengan beberapa tahun lalu. Dia tak lagi berdiri di depan kelas dan mengajari murid-muridnya. Kini dia lebih bertindak sebagai fasilitator ketimbang sebagai pengatur pada saat murid belajar di berbagai pusat belajar yang berhubungan dengan kecerdasan yang berbeda. Murid berpartisipasi dalam kelompok belajar kooperatif di pusat tersebut. pusat belajar itu menyediakan kesempatan bagi mereka untuk mengembangkan inteligensi interpersonal mereka.

C. Pengukuran Potensi Inteligensi
Intelegensi tidak dapat di ukur seperti tinggi badan atau berat badan, karena kecerdasan hanya dapat di ukur secara tidak langsung melalui tindakan cerdas yang dilakukan seseorang dan melalui tes intelegensi secara tertulis.
Santrock (2009:152) mengemukakan bahwa tes kecerdasan yang dapat di lakukan dalam bentuk tertulis adalah tes culture-fair. Tes culture-fair yaitu tes yang menghindari tes budaya, tes tersebut telah di kembangkan dalam dua jenis yang bebas bias budaya. Yang pertama mencakup pertanyaan yang di kenal orang-orang dari semua latar belakang sosial ekonomi dan etnis. Misalnya pertanyaan untuk orang-orang yang memiliki pendidikan yang tinggi akan berbeda dengan orang yang belum berpendidikan tinggi.
Pengukuran terhadap inteligensi dikembangkan pada pertengahan abad ke Sembilan belas. Tes inteligensi pertama dikembangkan oleh sepasang dokter asal Perancis, salah seorang diantara mereka memfokuskan tes tersebut pada kemampuan verbal. Selanjutnya, Francis Golton (1883), seorang ahli biologi kebangsaan Inggris, mengembangkan teori yang dilandasi keyakinannya bahwa inteligensi merupakan factor yang dibawa sejak lahir dan diturunkan. Ia memfokuskan tes inteligensinya pada kemampuan dalam sensory discrimination (diskriminasi pancaindera). Oleh sebab itu, untuk mengukur diskriminasi visual maka digunakan garis yang didesain sedemikian rupa sehingga seolah-olah di antara dua garis ada yang lebih panjang, akan tetapi, pada hakikatnya tidak. Untuk mengukur diskriminasi pendengaran diukur melalui kemampuan individu dalam mendengar suatu dalam pitch (tingkat kekerasan suara) yang berbeda. Untuk mengukur diskriminasi kinestetik, individu yang dites diminta mengangkat sejumlah beban (Papalia dalam Jamaris, 2010:131).
Tes inteligensi yang sering digunakan diklasifikasikan menjadi dua bagian yaitu tes individual dan tes kelompok. Adapun tes inteligensi yang mengukur secara individual yaitu Binet-Simon Intelligence Scale, Stanford- Binet Intelligence Scale dan Wechsler Intelligence Scale. Kemudian tes inteligensi yang mengukur secara kelompok yaitu Lorge-Thorndike Intelligence Test, Kuhlman-Anderson Intelligence Tests, dan Otis Lennon School Mental Abilities Tests.
1. Tes Inteligensi untuk Individu
Psikolog Ribert J. Sternberg, mengingat bahwa ia merasa takut untuk mengikuti tes IQ ketika masih anak-anak. Ia mengatakan bahwa ia benar- benar terdiam ketika tiba saatnya untuk mengikuti tes semacam itu. Bahkan sebagai orang dewasa, Sternberg ingat akan hinaan terhadap dirinya karena mengikuti tes IQ dengan anak kelas lima, sedangkan ia berada di kelas enam. Sternberg akhirnya mengatasi rasa gelisahnya tentang tes IQ. Ia tidak hanya mulai mengerjakan dengan baik, tetapi pada usia 13 tahun ia membuat tes IQ-nya sendiri dan mulai menggunakannya untuk menilai teman- teman sekelas sampai kepala sekolah mengetahuinya dan memarahi dirinya. Sternberg menjadi begitu terpesona oleh inteligensi sehingga ia mempelajarinya seumur hidupnya.

2. Binet-Simon Intelligence Scale
Pada 1904, Departemen Pendiidkan Prancis meminta psikolog Alfred Binet untuk membuat sebuah metode untuk mengidentifikasi anak- anak yang tidak mampu belajar di sekolah. Petugas sekolah ingin mengurangi keramaian dengan menempatkan beberapa siswa yang tidak mendapatkan manfaat dari pengajaran kelas biasa ke sekolah khusus. Binet dan siswanya, Teophile Simon, mengembangkan sebuah pengujian inteligensi untuk memenuhi permintaan ini.
Tes ini disebut 1905 Scale. Tes ini terdiri atas 30 pertanyaan, yang berkisar dari kemampuan untuk menyentuh telinga seseorang sampai kemampuan untuk menggambar rancangan dari ingatan dan mendefinisikan konsep- konsep abstrak . Tes ini pada mulanya ditujukan untuk mengetahui anak- anak mental retardasi di antara anak- anak non mental retardasi di kelas, agar anak-anak tersebut dapat berkembang secara optimal. Tes inteligensi yang dikembangkan oleh Binet dan Simon menekankan pada keterampilan verbal yang memiliki tingkat kesulitan yang teratur. Apabila seorang anak dapat menyelesaikan butir tes sebanyak 80-90 % dari tes yang diperuntukkan kelompok usianya misalnya untuk usia tiga tahun, maka ia dapat dinyatakan memiliki inteligensi sama dengan usianya atau kemampuan mental atau mental age yang normal. Selanjutnya, tes Binet menyimpulkan apabila skor tes seorang berada di bawah kemampuan kelompok seusianya maka anak tersebut dapat dinyatakan sebagai anak yang memiliki kemampuan mental di bawah normal .
Pada perkembangan selanjutnya, istilah mental age diganti dengan istilah IQ (intelligence quotient) yang dinyatakan dalam bentuk angka. IQ adalah rasio dari mental age (MA) seorang individu dan choronological age atau usia kronologisnya yang dikalikan dengan 100, seperti di bawah ini.

Operasi rumus tersebut dapat diuraikan dalam penjelasan berikut ini.
a) Seorang anak berusia (CA) 10 tahun yang memperoleh skor tes inteligensi setingkat dengan anak usia 10 tahun maka ia memiliki IQ 100 = Normal
b) Seorang anak berusia (CA) 10 tahun yang memperoleh skor tes inteligensi setingkat dengan anak usia 8 tahun maka ia memiliki IQ 80 = di bawah normal
c) Seorang anak berusia (CA) 10 tahun yang memperoleh skor tes inteligensi setingkat dengan anak usia 12 tahun maka ia memiliki IQ 120 = di atas normal (Jamaris, 2010).
Berikut adalah klasifikasi IQ menurut Binet:
Klasifikasi IQ
Genius 140 ke atas
Sangat Cerdas 130 – 139
Cerdas (Superior) 120 – 129
Di atas rata- rata 110 – 119
Rata- rata 99 – 109
Di bawah rata- rata 80 – 79
Garis bawah (bodoh) 70 – 79
Moron (lemah pikir) 50 – 69
Imbisil, Idiot 49 ke bawah
3. Stanford – Binet Intelligence Test
Pada tahun 1916, Lewis Terman merevisi Binet-Simon Intelligence Scale agar bisa digunakan di USA. Revisi tersebut dilakukan di Stanford University. Oleh sebab itu tes inteligensi yang telah direvisi tersebut dikenal dengan istilah Stanford–Binet Intelligence Scale. Dalam pelaksanaannya tes ini diadministrasikan secara individual dan dikenal dengan istilah intelligences quotient atau IQ yang merupakan rasio antara mental age (MA) dan chronological age (CA). Selanjutnya, the Stanford Binet pada saat ini dipakai untuk menghitung skor inteligensi yang terkenal dengan istilah the standard age score, yang dalam pelaksanaannya menggunakan ide Galton tentang distribusi normal dari karakteristik inteligensi manusia.
Dengan menguji sejumlah besar orang dengan usia yang berbeda dan dari latar belakang yang berbeda, peneliti menemukan bahwa skor- skor dalam tes Stanford-Binet diperkirakan berdistribusi normal. Distribusi normal adalah distribusi simetris dengan mayoritas nilai ada di tengah kisaran nilai yang mungkin dan beberapa nilai yang muncul di ekstrem kisaran tersebut.
The Stanford–Binet saat ini dilakukan secara individual untuk orang yang berusia 2 tahun sampai dewasa. Tes ini mencakup berbagai soal, beberapa soal membutuhkan respon verbal, soal yang lainnya membutuhkan respons nonverbal. Sebagai contoh, soal- soal yang mencerminkan tingkat prestasi anak berusia 6 tahun dalam tes mencakup kemampuan verbal untuk mendefinisikan setidaknya enam kata, seperti jeruk dan amplop, begitu pula dengan kemampuan nonverbal untuk menemukan jalan yang berliku- liku. Soal- soal yang mencerminkan tingkat prestasi orang dewasa rata- rata mencakup definisi kata- kata yang tidak sepadan (disproportionate) dan salam (regard), menjelaskan pepatah, dan membandingkan bermalas- malas (idleness) dengan kemalasan (laziness).
Edisi keempat dari Stanford–Binet diterbitkan pada tahun 1985. Satu tambahan penting untuk versi ini adalah analisis respons-respons individual sehubungan dengan empat fungsi, yaitu penalaran verbal, penalaran kuantitatif, penalaran visual abstrak, dan ingatan jangka pendek. Umumnya, nilai gabungan yang didapatkan masih mencerminakan inteligensi secara keseluruhan. Stanford-Binet terus menjadi salah satu tes yang digunakan untuk menilai inteligensi siswa (Aiken dalam Santrock).
The Stanford–Binet Intelligence Scale memiliki banyak keuntungan, akan tetapi, juga banyak mengandung banyak kelemahan. Keuntungan yang diberikan oleh tes tersebut antara lain adalah bahwa tes tersebut memberikan standard baku tentang tes inteligensi yang sangat valid dalam menjelaskan inteligensi seorang individu. Kelemahan tes ini adalah karena keinginan tes tersebut untuk mendeteksi individu yang diklasifikasikan sebagai individu gifted, sehingga tes ini menjadi sangat sulit.

4. Wechsler Intelligence Scales
Rangkaian tes lain yang digunakan untuk menilai inteligensi siswa disebut skala Wechsler yang dikembangkan oleh psikolog David Wechsler. Wechsler Intelligence Scales biasa disebut deviation IQ individual yang ditetapkan berdasarkan skor tes inteligensi yang diperoleh individu dan hubungannya dengan skor inteligensi individu normal. Pada hal-hal tertentu lebih baik dari pada Standford Binet Tes karena dapat mencapai rentangan umur dari rentang umur anak sampai umur dewasa dan berisi subtes-subtes yang dapat menganalisis pola skor individual.
Wechsler Intelligence Tests mencakup Wechsler Adult Intelligence Scales (WAIS) untuk mengukur inteligensi orang dewasa, Wechsler Intelligence Scales for children Revised (WISC-R) untuk mengukur inteligensi anak dan remaja dari usia 6-16 tahun, dan Wechsler preschool and primary scale of Intelligence (WPPSI) untuk mengukur inteligensi anak usia 4-6,5 tahun. Ketiga jenis inteligensi tersebut digunakan secara luas hampir di seluruh dunia di luar assessment inteligensi yang digunakan dalam bidang neuropsychological assessments.
Berikut adalah Klasifikasi menurut Wechsler:
KLASIFIKASI IQ
Very Superior 130 ke atas
Superior 120 –129
Bright Normal 110 –119
Average 90 – 109
Dull Normal 80 – 89
Borderline 70 –79
Mental Deffective 69 ke bawah
(Harriman dalam Jahja, 2011:46)

Wechsler berpendapat bahwa keseluruhan inteligensi seseorang tidak dapat diukur. IQ adalah suatu nilai yang hanya dapat ditentukan secara kira- kira karena selalu dapat terjadi perubahan- perubahan berdasarkan factor- factor individualdan situasional .
Tiga puluh empat tahun setelah diterbitkannya tes inteligensi yang pertama oleh Binet-Simon, atau dua tahun setelah munculnya revisi Stanford-Binet, David Wechsler memperkenalkan versi pertama tes inteligensi yang dirancang khusus untuk digunakan bagi orang dewasa.
a) Tes tersebut terbit pada tahun 1939 dan dinamai Wechsler-Bellevue Intelligence Scale (WBIS), disebut juga skala W-B. Alasan dikembangkannya skala W-B adalah kenyataan bahwa tes inteligensi yang digunakan untuk orang dewasa pada waktu itu hanya merupakan perluasan saja dari tes inteligensi dari anak-anak dengan menambahkan soal yang sejenis dan lebih sukar. Isi tes yang seperti itu, menurut Wechsler seringkali tidak menarik minat dan perhatian orang dewasa. Banyak soal-soal yang ditulis hanya berkaitan dengan aktivitas dan dunia anak-anak sehingga kurang menarik bagi orang dewasa dan tidak menimbulkan penghargaan dari mereka.
b) Tahun 1949 Wechsler menerbitkan pula skala inteligensi untuk digunakan pada anak-anak yang dikembangkan berdasarkan skala W-B. Skala ini diberi nama Wechsler Intelligence Scale for Children (WISC). Isinya terdiri dari dua sub bagian yaitu sub bagian Verbal (V) dan sub bagian Perfomance (P). Penggunaan tes WISC hanya cocok untuk mengevaluasi inteligensi pada anak dan bukan untuk mendiagnosa anak berkebutuhan khusus. WISC sangat efektif untuk menunjukkan diskrepensi ataru ketimpangan antara skor inteligensi dengan pencapaian hasil belajar anak di sekolah. Untuk mengetahui kelainan atau kebutuhan khusus yang dimiliki anak dapat dilakukan multi tes seperti Woodcock Johnson III atau Wechsler Individual Achievement Tes II.
c) Tahun 1974 terdapat revisi pada tes WISC dengan terbitan WISC-R (huruf R disingkat dari kata revised). Edisi revisi inilah yang digunakan sampai sekarang.
d) Tahun 1955, Wechsler menyusun skala lain untuk mengukur inteligensi orang dewasa dengan memperluas isi tes WISC. Skala baru ini dinamakan Wechsler Adult Intelligence Scale (WAIS). Sebagaimana WBIS, WAIS pun berisi sebelas sub tes yang terdiri atas dua bagian. Bagian pertama adalah skala verbal yang berisi enam subtes dan bagian kedua adalah skala perfomansi yang berisi lima subtes. Untuk standarisasinya, Wechsler menggunakan populasi nonrandom yang terdiri atas 1700 orang dewasa. Revisi terhadap WAIS telah dilakukan dan diterbitkan pada tahun 1981 dengan nama WAIS-R. Item tes WAIS mencakup pengetahuan umum, aritmatik, kosa kata, melengkapi gambar yang belum lengkap, menyusun balok dan gambar dan menyusun objek.
e) Wechsler Preschool and Primary Scale of Intelligences atau WPPSI adalah suatu tes yang dibuat dengan beraneka warna yang menarik perhatian anak. Tes ini digunakan untuk mengukur IQ umum, verbal IQ, performance IQ, and Processing Speed dan General Language Composite. WPPSI merupakan tes yang dapat digunakan untuk memprediksi IQ anak. WPPSI terdiri dari serangkaian tes yaitu Full Scale IQ (FSIQ) yaitu kemampuan dalam menerima informasi, kosa kata, dan alasan yang rasional, Verbal IQ (VIQ) yaitu untuk mengetahui kemampuan dalam memperoleh pengetahuan, kemampuan mengemukakan alasan rasional dan perhatian terhadap stimulus verbal. VIQ ini terbagi atas dua yaitu information dan Vocabulary. Terakhir dari WPPSI yaitu performance IQ Sub Tes yang terdiri dari Block Design, Matrix Reasoning, dan Picture Concepts.

5. Tes Inteligensi untuk Kelompok
Tes inteligensi seperti Stanford-Binet dan Wechsler dilakukan berdasarkan basis individual. Seorang psikolog memahami penilaian inteligensi individual sebagai interaksi antara pemeriksan dan murid. Ini membuat psikolog tersebut bisa menyusun sampel perilaku murid. Selama pengujian, peneliti mengamati bagaimana laporan disusun, minat dan perhatian murid, apakah ada kecemasan dalam pengerjaan tugas, da tingkat toleransi murid menghadapi rasa frustasi. Sejalan dengan perkembangan tes inteligensi individual, mulai pula dirasakan perlunya tes inteligensi yang dapat dikenakan pada sekelompok individu secara serentak (tes kelompok). Adapun tes inteligensi untuk kelompok mencakup Lorge-Thorndike Intelligence Test, Kuhlman-Anderson Intelligence Tests, dan Otis Lennon School Mental Abilities Tests. Tes kelompok lebih nyaman dan ekonomis ketimbang tes individual, namun juga ada kekurangannya. Saat tes dilakukan pada satu kelompok besar, peneliti tak dapat menyusun laporan individual, menentukan tingkat kecemasan murid, dan sebagainya. Dalam situasi tes kelompok besar, murid mungkin tidak memahami instruksi atau mungkin diganggu oleh murid lainnya.
Oleh karena itu keterbatasan tersebut, saat membuat keputusan penting mengenai siswa, tes inteligensi kelompok perlu dilengkapi dengan informasi kemampuan siswa tersebut. Untuk hal itu, strategi yang sama berlaku untuk tes inteligensi individual, meskipun biasanya bersikap bijaksana untuk tidak begitu saja memercayai akurasi skor inteligensi kelompok. Banyak siswa mengerjakan tes dalam kelompok- kelompok besar di sekolah, tetapi keputusan untuk menempatkan seorang siswa dalam satu kelas bagi siswa- siswa yang mempunyai keterbelakangan mental, kelas pendidikan khusus, atau kelas untuk siswa- siswa yang berbakat seharusnya tidak hanya didasarkan pada tes kelompok. Dalam kasus- kasus seperti ini, harus diperoleh banyak informasi yang relevan tentang kemampuan siswa di luar situasi pengujian (Domino dalam Santrock, 2009).

C. Klasifikasi IQ Menurut Terman
Rodrigo de la Jara yang dikutip oleh Martini Jamaris , menguraikan klasifikasi IQ menurut Terman yang biasa dikenal dalam masyarakat dan yang biasa digunakan dalam bidang pendidikan, seperti di bawah ini.
IQ KLASIFIKASI
140 ke atas Genius or near genius
120 –140 Very superior
110 –120 Superior
90 – 110 Normal or average intelligence
80 – 90 Dullness
70 –80 Borderline deficiency
Di bawah 70 Definite feeble-mindedness

Kelainan mental diklasifikasikan oleh masyarakat ke dalam klasifikasi IQ seperti di bawah ini.
Skor IQ Klasifikasi IQ
70 – 80 Borderline deficiency
50 – 69 Moron
20 – 49 Imbecile
Below 20 Idiot

Klasifikasi kelainan mental yang bisa digunakan dalam pendidikan adalah sebagai berikut.
Klasifikasi Mental Retardasi Berdasarkan Pandangan Pendidikan
Skor IQ Klasifikasi IQ
50 – 69 Mild
35 – 49 Moderate
20 – 34 Severe
Below 20 Profound

D. Emotional Intelligence (Kecerdasan Emosi)
1. Intelligence (Kecerdasan)
Menurut Spearman dan Jones sebagaimana dikutip oleh Hamzah B. Uno bahwa ada suatu konsepsi lama tentang kekuatan (power) yang dapat melengkapi akal pikiran manusia dengan gagasan abstrak yang universal, untuk dijadikan sumber tunggal pengetahuan sejati. Kekuatan demikian dalam bahasa Yuniani disebut nous, sedangkan penggunaan kekuatan disebut noesis. Kedua istilah tersebut kemudian dalam bahasa Latin dikenal sebagai intellectus dan intelligensia. Selanjutnya, dalam bahasa Inggris masing-masing diterjemahkan sebagai intellect dan intelligence. Transisi bahasa tersebut, ternyata membawa perubahan makna yang mencolok. Intelligence, yang dalam bahasa Indonesia kita sebut integensia (kecerdasan), semula berarti penggunaan kekuatan intelektual secara nyata, tetapi kemudian diartikan sebagai suatu kekuatan lain.
Dalam perkembangan selanjutnya, pengertian intelegensi banyak mengalami perubahan, namun selalu mengandung pengertian bahwa inteligensi merupakan kekuatan atau kemampuan untuk melakukan sesuatu. Masyarakat umum mengenal inteligensia sebagai istilah yang menggambarkan kecerdasan, kepintaran ataupun kemampuan untuk memecahkan problem yang dihadapi. Sementara menurut pandangan kaum awam inteligensia diartikan sebagai ukuran kepandaian.
Para ahli psikologi lebih suka memusatkan perhatian pada masalah perilaku inteligen (intelligence behavior), daripada membicarakan batasan inteligensi. Mereka beranggapan bahwa inteligensi merupakan status menta yang tidak memerlukan definisi, sedangkan perilaku inteligen lebih konkret batasan dan ciri-cirinya sehingga lebih untuk dipelajari. Dengan mengidentifikasi ciri dan indikator perilaku inteligen, maka dengan sendirinya definisi inteligensi akan terkandung di dalamnya.
Di antara ciri-ciri perilaku yang secara tidak langsung telah disepakati sebagai tanda telah dimilikinya inteligensi yang tinggi, antara lain adalah (1) adanya kemampuan untuk memahami dan menyelesaikan problem mental dengan cepat, (2) kemampuan mengingat, (3) kreativitas yang tinggi, dan (4) imajinasi yang berkembang. Sebaliknya, perilaku yang lamban, tidak cepat mengerti, kurang mampu menyelesaikan problem mental yang sederhana, dan semacamnya, dianggap sebagai indikasi tidak dimilikinya inteligensi yang baik.
Kecerdasan yang didefinisikan oleh Hagenhan dan Oslon dalam tulisan Hamzah B. Uno menjelaskan bahwa inteligensi merupakan suatu tindakan yang menyebabkan terjadinya penghitungan atas kondisi-kondisi yang secara optimal bagi organisme dapat hidup berhubungan dengan lingkungan secara efektif. Sebagai suatu tindakan, inteligensi selalu cenderung menciptakan kondisi-kondisi yang optimal bagi organisme untuk bertahan hidup dalam kondisi yang ada.
Feldam mendefinisikan kecerdasan sebagai kemampuan memahami dunia, berpikir secara rasional, dan menggunakan sumber-sumber secara efektif pada saat dihadapkan dengan tantangan. Dalam pengertian ini, kecerdasan terkait dengan kemampuan memahami lingkungan atau alam sekitar, kemampuan penalaran atau berpikir logis, dan sikap bertahan hidup dengan menggunakan sarana dan sumber-sumber yang ada.
Henmon dalam kutipan Hamzah B. Uno juga mendefisikan inteligensi sebagai daya atau kemampuan untuk memahami. Wechsler mendefinisikan inteligensi sebagai totalitas kemampuan seseorang untuk bertindak dengan tujuan tertentu, berpikir secara rasional, serta menghadapi lingkungan dengan efektif. Berbagai definisi di atas memandang bahwa inteligensi merupakan suatu kemampuan tunggal (overal single score).
Masyarakat umum mengenal intelligence sebagai istilah yang menggambarkan kecerdasan, kepintaran, kemampuan berpikir seseorang atau kemampuan untuk memecahkan problem yang dihadapi. Gambaran sesorang yang memiliki inteligensi tinggi, biasanya merupakan cerminan siswa yang pintar, siswa yang pandai dalam studinya. Memang, hal tersebut tidak bisa dipungkiri, apalagi sejarah telah mencatat bahwa sejak tahun1904, Binet, seorang ahli psikologi berbangsa Prancis dan kelompoknya telah berhasil membuat suatu alat untuk mengukur kecerdasan, yang disebut dengan Intelligece Quotient (IQ) .
Dalam psikologi, dikemukakan bahwa intelligence, yang dalam bahawa Indonesia disebut inteligensi atau kecerdasan berarti penggunaan kekuatan intelektual secara nyata. Akan tetapi, kemudian diartikan sebagai suatu kekuatan lain. Oleh karena itu, intelegensi atau kecerdasan terdiri dari tiga komponen, yaitu (a) kemampuan untuk mengarahkan pikiran atau mengarahkan tindakan; (b) kemampuan untuk mengubah arah tindakan apabila tindakan tersebut telah dilaksanakan; (c) kemampuan untuk mengubah diri sendiri atau melakukan autocritism.
Setelah 80 tahun IQ diperkenalkan, Gardner, seorang ahli psikologi, menentang pendapat lama tentang IQ. Gardner merumuskan kecerdasan sebagai kemampuan menyelesaikan masalah, atau menciptakan produk mode yang merupakan konsekuensi dalam suasana budaya atau masyarakat tertentu.
Penelitian Gardner telah menguak rumpun kecerdasan manusia yang lebih luas daripada kepercayan manusia sebelumnya, serta menghasilkan konsep kecerdasan yang sungguh pragmatis dan menyegarkan. Gardner tidak memandang “kecerdasan” manusia berdasarkan skor tes standar semata, namun Gardner menjelaskan kecerdasan sebagai: (1) kemampuan untuk menyelesaikan masalah yang terjadi dalam kehidupan manusia; (2) kemampuan untuk menghasilkan persoalan-persoalan baru untuk diselesaikan; (3) kemampuan untuk menciptakan sesuatu atau menawarkan jasa yang akan menimbulkan penghargaan dalam budaya seseorang. Definisi Gardner tentang kecerdasan manusia tersebut menegaskan hakikat teorinya.
Kemudian Gardner mengemukakan tujuh kecerdasan dasar, yaitu (1) Kecerdasan Musik (Musical Intelligence); (2) Kecerdasan Gerakan-Badan (Bodily-Kinesthetic Intelligence); (3) Kecerdasan Logika-Matematika (Logical-Mathematical Intelligence); (4) Kecerdasan Linguistik (Linguistic Intelligence); (5) Kecerdasan Ruang (Spasial Intelligence); (6) Kecerdasan Antarpribadi (Interpersonal Intelligence); (7) Kecerdasan Intra Pribadi (Intrapersonal Intelligence).
Dalam tujuh kecerdasan tersebut, Thomas Amstrong berpendapat: (1) setiap orang memiliki semua tujuh kecerdasan tersebut; (2) kebanyakan orang dapat mengembangkan setiap kecerdasan tersebut sampai derajat kompetensi tertentu; (3) kecerdasan biasanya bekerja dalam cara yang kompleks; (4) banyak cara untuk menjadi cerdas dalam setiap kategori.
Pendapat Gardner tentang tujuh kecerdasan yang dijabarkan oleh Amstrong tersebut adalah formula sementara, karena setelah dilakukan penelitian lebih jauh, terdapat beberapa kecerdasan jenis lainnya yang mungkin tidak memenuhi kriteria di atas. Kecerdasan lain yang dikemukakan Gardner mencakup: (1) sprirituality (spiritualitas); (2) moral sensibiity (snesibilitas moral); (3) sexuality (seksualitas); (4) intuition (intuisi); (5) Creativity (kreativitas)) ; (6) culinary ability (kemampuan memasak); (7) offactory perception (kepekaan tinggi terhadap penciuman); (8) ability of shyntesize the other itelligences.
2. Emotional (Emosi)
Berkaitan dengan hakikat emosi, Beck mengungkapkan pendapat James&Lange yang dikutip oleh Hamzah B. Uno, menjelaskan bahwa emosi adalah persepsi perubahan jasmaniah yang terjadi dalam memberi tanggapan (respons) terhadap suatu peristiwa. Definisi ini bermaksud menjelaskan bahwa pengalaman emosi merupakan persepsi dari reaksi terhadap situasi.
Kata emosi secara sederhana bisa didefinisikan sebagai menerapkan “gerakan” baik secara metafora maupun harfiah, untuk mengeluarkan perasaan. Emosi sejak lama dianggap memiliki kedalaman dan kekuatan sehingga dalam bahasa latin, emosi dijelaska sebagai motus anima yang arti harfiahnya “Jiwa yang menggerakkan kita”. Berlawanan dengan kebanyakan pemikiran konvensional, emosi bukan sesuatu yang bersifat positif atau negatif, tetapi emosi berlaku sebagai sumber energi autentistas, dan semangat manusia yang paling kuat dan dapat menjadi sumber kebijakan ituitif.
Sementara itu, Lerner dalam kutian Hamzah B. Uno menjelaskan arti emosi sebagai dua komponen yang pada umumnya dipercayai membentuk pengalaman emosi, yaitu tanggapan-tanggapan psikologis dan perasaan-perasaan subjektif. Selanjutnya, Lerner mengungkapkan bahwa pada saat seseorang mengalami emosi, sebagai perubahan psikologis dapat terjadi sepert: (1) bola mata membesar; (2) detak jantung meningkat; (3) desahan atau tarikan nafas yang dalam atau tersengal-sengal; (4) bulu roma di badan berdiri; (5) gerakan gentrointestinal berhenti sementara membuat darah mengalir dengan deras dari perut memasuki otot-otot; (6) hati membebaskan gula memasuki aliran darah untuk meningkatkan energi; (7) keringat meningkat, sementara produksi air liur menurun.
Hamzah B. Uno juga mengemukakan beberapa temuan Lerner dan teman-temannya bahwa emosi tidak sama dengan motif atau dorongan. Emosi timbul sebagai tanggapan atas aspek lingkungan. Sebaliknya, motif cenderung muncul sebagai rangsangan internal, misalnya rasa lapar yang diarahkan kepada objek di lingkungan, karena terlihat makanan. Di samping itu, emosi juga mencakup perubahan dan perasaan subjektif.
Berbeda dengan pendapat Lerner, Crooks&Stein mengungkapkan bahwa hubungan motivasi dan emosi (perasaan-perasaan dan gejolak subjektif) sangat erat sekali. Menurutnya, emosi acap kali memotivasi tindakan. Sebagai contoh pada seorang anak kecil yang sedang marah, menyebabkannya menendang tembok ke kamarnya, atau pada saat seorang siswa merasa takut akan gagal, ia emotivasi dirinya utnuk meninggalkan kelas.
Selain pendapat Lerner di atas, Wortman juga mengemukakan beberapa pedapat tentang emosi. Menurutnya, kebahahagiaan adalah suatu emosi yang positif, termasuk kepuasaan batin dan kesenangan aktif. Para ahli psikologi yang telah berusaha mencari akar kebahagiaan mengajukan beberapa teori, yaitu (1) kebahagiaan terletak pada kecenderungan membuat konspirasi yang memungkinkan (favourable) antara diri sendiri dan orang lain; (2) orang-orang yang paling bahagia adalah mereka yang mempunyai ciri-ciri khusus kepribadian apa adanya yang diiringi kualitas ketegangan saraf yang rendah; (3) kebahagiaan datang dari kemampuan untuk “menghilangkan” sendiri dalam beberapa tugas yang menjadi tantangan, sehingga mengejar kesadaran atas kebahagiaan dapat dilupakan.
Masih berkaitan dengan emosi, menurut ahli sosiobiologi, emosi menuntut kita menghadapi saat-saat kritis dan tugas-tugas yang terlampau riskan apabila hanya diserahkan pada otak. Bahaya yang mungkin terjadi adalah kehilangan yang menyedihkan, bertahan mencapai tujuan kendati dilanda kekecewaan, ketertarikan dengan pasangan dan membina keluarga. Setiap emosi menawakan pola tindakan tersendiri, dan masing-masing menuntut kita ke arah yang telah terbukti berjalan baik ketika menangani tantangan yang datang berulang-ulang dalam hidup manusia.
Emosi pada dasarnya adalah dorongan untuk bertindak, rencana seketika untuk mengatasi masalah yang ditanamkan secara berangsur-angsur oleh evolusi. Pengertian emosi tersebut masih membingungkan, baik menurut para ahli psikologi maupun ahli filsafat. Akan tetapi, makna paling harfiah dari emosi didefinisikan sebagai setiap kegiatan atau pergolakan pikiran, perasaan, dan nafsu; setiap keadaan mental yang hebat atau meluap-luap. Oleh karena itu, emosi merujuk pada suatu perasaan dan pikiran-pikiran khasnya, suatu keadaan biologis, psikologis, dan serangkaian kecenderungan untuk bertindak.
Menurut Golemen ada ratusan emosi, bersama dengan campuran, variasi, mutasi, dan nuansanya. Lingkup kajian emosi masih menjadikan perdebatan para peneliti, mana yang benar-benar dianggap sebagai emosi primer, biru, apakah memang ada emosi primer semacam itu. Sejumlah teoretikus mengelompokkan emosi dalam golongan-golongan besar, meskipun tidak semua sepakat tentang penggolongan ini.
Prinsip dasar emosi mudah dapat dicari berdasarkan kerangka kelompok atau dimensi, dengan cara mengambil kelompok besar emosi, seperti marah, sedih, takut, bahagia, cinta, malu, dan sebagainya adalah sebagai titik tolak bagi nuansa kehidupan emosional yang tidak habis-habisnya. Ada beberapa kegunaan emosi menurut sumber yang dikutip Hamzah B. Uno , antara lain sebagai berikut:
a. Bertahan Hidup
Alam mengembangkan emosi melalui evolusi selama jutaan tahun. Hasilnya adalah kemampuan emosi untuk melayani sebagai sistem pemandu antarsesama. Contohnya, ekspresi dapat meyampaikan sejumlah emosi. Jika sedih atau terluka, dapat memberikan tanda bahwa seseorang butuh bantuan. Melalui latihan secara lisan, seseorang dapat mengekspresikan lebih banyak untuk memenuhinya.
b. Mempersatukan (unity)
Mungkin emosi merupakan sumber potensi terhebat untuk menyatukan semua manusia. Secara jelas, agama, budaya, dan politik tidak dapat menyatukan, bahwa secara ebih jauh dapat memecahkan secara tragis dan fatal. Hal ini sesuai dengan pendapat Darwin dalam bukunya “The Expression of Emotional in Man Animal”, emosi dari empati, perasaan iba, kerjasama, dan untuk orang lain, semuanya dapat menyatukan kita sebagai sesama.
Robert K Cooper dan Ayman Sawaf yang dikutip Hamzah B. Uno menegaskan bahwa emosi kita, seperti halnya atau lebih daripada tubuh dan pikiran kita, berisi riwayat kita, semua yang kita alami, pemahaman kita yang mendalam, dan hubungan dalam hidup kita. Emosi meliputi perasaan tentang siapa kita, dan memasuki kita dalam wujud energi. Energi inilah sumber utama pengaruh dan kekuasaan. Emosi tersusun dari energi yang terus mengalir dalam diri, terus menggerakkan sejumlah proses mendalam yang memegaruhi setiap aspek hidup. Apabila kita meningkatkan kecerdasan emosional, berarti kita mengubah wujud energi ini, dan selanjutnya energi itu mengubah apa yang kita alami dalam kerja, hidup, dan pergaulan.
Beberapa studi mengungkapkan bahwa emosi penting sebagai “energi pengaktif” untuk nilai-nilai etika, misalnya kepercayaan, integritas, empati, keuletan, dan kredibilitas, serta untuk modal sosial yang berupa kemampuan membangun dan mempertahankan hubungan bisnis yang menguntungkan dan didasarkan pada saling percaya. Yang paling penting dari semua ini adalah sesuatu yang tampaknya dimiliki oleh setiap pemimpin besar, yaitu kemampuan membangkitkan semangat. Emosi adalah pengorganisasi yang hebat dalam bidang pikiran dan perbuatan. Emosi juga berfungsi membangkitkan intuisi dan rasa ingin tahu, yang akan membantu mengantisipasi masa depan yang tidak menentu dan merencakan tindakan-tindakan kita sesuai dengan itu.
Menurut Josh Hammond, president America Quality Foundation, sebagaimana dikutip oleh Hamzah B. Uno, emosi telah didefinisikan sebagai sesuatu yang mempunyai makna penting (high performance) di hampir semua perusahaan terkemuka. Untuk melihat hal tersebut, Hammond membandingkan makna emosi menjadi dua, yaitu makna konvensional dan makna high performance sebagai berikut .
Tabel Makna Konvensional vs Makna High Performance
Konvensioal High Performance
Lambang kelemahan Lambang kekuatan
Tidak boleh ada dalam bisnis Penting dalam bisnis
Harus dihindari Emosi memicu semangat belajar
Membingungkan Memperjelas
Harus dipisahkan Harus dipadukan
Menghindari orang yang emosional Mencari orang yang emosional
Hanya pikiran yang diperhatikan Emosi harus didengarkan
Menggunakan kata-kata tanpa emosi Menggunakan kata-kata emosional

Kemudian berdasarkan penelitian terakhirnya, Hammond menambahkan sebagai berikut:

Konvensional High Performance
Mengganggu penilaian yang baik Penting untuk penilaian yang baik
Mengalihkan perhatian kita Memotivasi kita
Tanda kerentanan Membuat kita nyata dan hidup
Menghalangi atau memperlambat penalaran Mendorong atau mempercepat penalaran
Mengahalangi mekanisme kontrol Membangun kepercayaan dan keakraban
Memperlemah sikap-sikap yang sudah baku Mengaktifkan nilai-nilai etika
Menghambat aliran data objektif Menyediakan informasi dan umpan balik yang vital
Merumitkan perencanaan manajemen Memicu kreativitas dan inovasi
Mengurangi otoritas Mendatangkan pengaruh tanpa otoritas
(Sumber: Robert K. Cooper dalam kutipan Hamzah B. Uno)
Menurut Johm Mayer dikutip oleh Hamzah B. Uno , orang cenderung menganut gaya-gaya khas dalam menangani dan mengatasi emosi mereka.
a. Sadar diri
b. Tenggelam dalam permasalahan
c. Pasrah
3. Emotional Intelligence (Kecerdasan Emosi)
Setelah mengetahui apa itu kecerdasan dan apa itu emosi, selanjutnya akan dibahas tentang kecerdasan emosional atau Emotional Intelligence (EI). Kecerdasan emosional merupakan kemampuan seperti kemampuan untuk memotivasi diri sendiri dan bertahan menghadapi frustasim mengendalikan dorongan hati dan tidak melebih-lebihkan kesenangan, mengatur suasana hati dan menjaga agar beban stres tidak melumpuhkan kemampuan berpikir, berempati, dan berdoa.
Menurut saphiro dikutip oleh Hamzah B. Uno, istilah kecerdasan emosi pertama kali dilontarkan pada tahun 1990 oleh dua orang ahli, yaitu Peter Salovey dan John Mayer untuk menerangkan jenis-jenis kualitas emosi yang dianggap penting untuk mencapai keberhasilan. Jenis-jenis kekuatan emosi yang dimaksudkan antara lain: (1) empati, (2) mengungkapkan dan memahami perasaan, (3) mengendalikan amarah, (4) kemampuan kemandirian, (5) kemampuan menyesuaikan diri, (6) diskusi, (7) kemampuan memecahkan masalah antarpribadi, (8) ketekunan, (9) kesetiakawanan, (10) keramahan, dan (11) sikap hormat.
Kecerdasan emosional sangat dipengaruhi oleh lingkungan, tidak bersifat menetap, dapat berubah-ubah setiap saat. Untuk itu peranan lingkungan terutama orang tua pada masa kanak-kanak sangat memengaruhi dalam pembentukan kecerdasan emosional.
Keterampilan EQ bukanlah lawan keterampilan IQ atau keterampilan kognitif, namun keduanya berinteraksi secara dinamis, baik pada tingkatan konseptual maupun di dunia nyata. Selain itu, EQ tidak begitu dipengaruhi oleh faktor keturunan. (Shapiro, 1998). Istilah kecerdasan emosional atau emotional intelligence disebut juga sebagai EQ oleh beberapa tokoh.
Sebuah model pelopor lain tentang kecerdasan emosional diajukan oleh Bar-On pada tahun 1992 seorang ahli psikologi Israel, yang mendefinisikan kecerdasan emosional sebagai serangkaian kemampuan pribadi, emosi dan sosial yang memengaruhi kemampuan seseorang untuk berhasil dalam mengatasi tututan dan tekanan lingkungan (Goleman, 2000).
Gardner (dalam Goleman, 2000) mengatakan bahwa bukan hanya satu jenis kecerdasan yang monolitik yang penting untuk meraih sukses dalam kehidupan, melainkan ada spektrum kecerdasan yang lebar dengan tujuh varietas utama yaitu linguistik, matematika/logika, spasial, kinestetik, musik, interpersonal dan intrapersonal. Kecerdasan ini dinamakan oleh Gardner sebagai kecerdasan pribadi yang oleh Daniel Goleman disebut sebagai kecerdasan emosional.
Menurut Gardner, kecerdasan pribadi terdiri dari: ”kecerdasan antar pribadi yaitu kemampuan untuk memahami orang lain, apa yang memotivasi mereka, bagaimana mereka bekerja, bagaimana bekerja bahu membahu dengan kecerdasan. Sedangkan kecerdasan intra pribadi adalah kemampuan yang korelatif, tetapi terarah ke dalam diri. Kemampuan tersebut adalah kemampuan membentuk suatu model diri sendiri yang teliti dan mengacu pada diri serta kemampuan untuk menggunakan modal tadi sebagai alat untuk menempuh kehidupan secara efektif.” (Goleman, 2000)
Dalam rumusan lain, Gardner menyatakan bahwa inti kecerdasan antar pribadi itu mencakup “kemampuan untuk membedakan dan menanggapi dengan tepat suasana hati, temperamen, motivasi dan hasrat orang lain.” Dalam kecerdasan antar pribadi yang merupakan kunci menuju pengetahuan diri, ia mencantumkan “akses menuju perasaan-perasaan diri seseorang dan kemampuan untuk membedakan perasaan-perasaan tersebut serta memanfaatkannya untuk menuntun tingkah laku”. (Goleman, 2000).
Berdasarkan kecerdasan yang dinyatakan oleh Gardner tersebut, Salovey (Goleman, 2000) memilih kecerdasan interpersonal dan kecerdasan intrapersonal sebagai dasar untuk mengungkap kecerdasan emosional pada diri individu. Menurutnya, kecerdasan emosional adalah kemampuan seseorang untuk mengenali emosi diri, mengelola emosi, memotivasi diri sendiri, mengenali emosi orang lain (empati) dan kemampuan untuk membina hubungan (kerjasama) dengan orang lain.
Menurut Goleman (2000), kecerdasan emosional adalah kemampuan seseorang mengatur kehidupan emosinya dengan inteligensi (to manage our emotional life with intelligence); menjaga keselarasan emosi dan pengungkapannya (the appropriateness of emotion and its expression) melalui keterampilan kesadaran diri, pengendalian diri, motivasi diri, empati dan keterampilan sosial.
Emotional Intelligence (EI) dapat dikatakan sebagai kecerdasan emosi dalam Bahasa Indonesia. Kecerdasan emosi adalah kemampuan untuk mengenali, mengolah, dan mengontrol emosi agar anak mampu merespons secara positif setiap kondisi yang merangsang munculnya emosi-emosi ini (Mashar, 2011). Goleman (2000), mengungkapkan ciri-ciri anak yang memiliki kecerdasan emosi sebagai berikut: (a) mampu memotivasi diri sendiri, (b) mampu bertahan menghadapi frustasi, (c) lebih cakap untuk menjalankan jaringan komunikasi informal/nonverbal (jaringan keahlian, komunikasi, dan kepercayaan), (d) mampu mengendalikan dorongan orang lain, (e) cukup luwes untuk menemukan cara/alternatif agar sasaran tetap tercapai atau mengubah sasaran jika sasaran semula sulit dijangkau, (f) tetap memiliki kepercayaan yang tinggi bahwa segala sesuatu akan beres ketika menghadapi tahap sulit, (g) memiliki empati yang tinggi, (h) mempunyai untuk memecahkan tugas yang berat menjadi tugas kecil yang mudah ditangani, dan (i) merasa cukup banyak akal untuk menemukan cara dalam meraih tujuan.
Emotional Intelligence secara kuat berkaitan dengan konsep kasih sayang, saling mempertahankan dan spiritual yang perlu ada di dalam lingkungan kerja serta multiple intelligences yang dapat mengukur kapasitas emosi serta nilai-nilai yang diyakini individu yang terefleksi dalam perilakunya.
EQ dikembangkan karena IQ merupakan konsep yang sangat terbatas dalam menjelaskan kemamuan manusia. EQ dapat menjelaskan secara luas tentang kesuksesan manusia dalam hidupnya. Kesuksesan individu membutuhkan kemampuan manusia. Kesuksesan individu membutuhkan emampuan yang lebih dari IQ yang cenderung menggunakan pengukuran intelligensi secara konvensional dan mengabaikan berbagai hal penting yang mendasari perilaku dan elemen-elemen yang berkaitan dengan karakter. Dalam kenyataan banyak individu yang secara kemampuan IQ dinyatakan sebagai individu yang brilliant, akan tetapi, tidak cerdas dalam bidang sosial dan hubungan interpersonal. Hal ini menyebabkan individu tersebut terhambat dalam mencapai perkembangan dirinya secara optimal. Dengan demikian, IQ tinggi tidak berkorelasi secara langsung dengan kesuksesan.
Aspek-Aspek Emotional Intelligence terdiri dari:: (1) aspek yang berkaitan dengan pemahaman terhadap diri sendiri, seperti tujuan hidup, arti hidup, respon terhadap perilaku, dll; dan (2) aspek yang berkaitan dengan pemahaman terhadap perasaan orang lain.
Menurut Goleman yang dikutip oleh Martini Jamaris , EQ terdiri dari lima domain, yaitu: knowing your emotions atau emahaman terhadap emosi sendiri, managing your own emotions atau pengelolaan emosi sendiri, motivating yourself atau memotivasi diri sendiri, recogising and understanding other people’s emotions atau memahami perasaan irang lain, dan managing relationship atau menata hubungan dengan orang lain yang dapat dilakukan dengan jalan memahami perasaan orang lain atau empati.
Dari beberapa pendapat mengenai kecerdasan emosional di atas, maka dapat ditarik suatu pemahaman bahwa kecerdasan emosional merupakan kemampuan seseorang mengatur kehidupan emosinya dengan inteligensi, menjaga keselarasan emosi dan pengungkapannya melalui keterampilan kesadaran diri, pengendalian diri, motivasi diri, empati dan keterampilan sosial baik berupa emosi positif maupun emosi kegatif.
4. Kecerdasan Emosional pada Anak
Lawrence E. Saphiro yang dikutip oleh Hamzah B. Uno memaparkan berbagai pemikiran tentang bagaimana mengajarkan Emotional Intelligence pada anak. Berbagai penelitian para ahli yang menunjukkan bahwa kecerdasan emosional keterampilan sosial dan emosional yang membentuk “karakter” lebih penting bagi keberhasilan anak dibandingkan kecerdasan kognitif yang diukur melalui IQ. Tidak seperti IQ, kecerdasan emosional dapat diajarkan pada setiap tahap perkembangan anak.
Dia memberikan saran praktis yang dilaksanakan untuk mengajarkan kecerdasan emosional bagi anak terutama bagaimana (a) membina hubungan persahabatan, (b) bekerja dalam kelompok, (c) berbicara dan mendengarkan secara efektif, (d) mencapai prestasi lebih tinggi, (e) mengatasi masalah dengan teman yang nakal, (f) berempati pada sesama, (g) memecahkan masalah, (h) mengatasi konflik, (i) membangkitkan rasa humor, (j) memotivasi diri apabila menghadapi masa sulit, (k) menghadapi situasi sulit dengan percaya diri, (l) menjalin keakraban, dan (m) memanfaatkan komputer untuk meningkatkan keterampilan emosional.
Menurutnya, kecerdasan emosional anak dapat dilihat pada (a) keuletan, (b) optimisme, (c) motivasi diri, dan (d) antusiasme. Lebih lanjut Lawrence mengemukakan kecerdasan emosional pengukurannya bukan didasarkan pada kepintaran seorang anak, tetapi melalui suatu yang disebut dengan karakteriatik pribadi atau “karakter”.
Berbagai penelitian menemukan keterampilan sosial dan emosional akan semakin penting peranannya dalam kehidupan daripada kemampuan intelektual. Atau dengan kata kata lain, memiliki emotional intelligence tinggi mungkin lebih penting dalam pencapaian keberhasilan daripada IQ tinggi yag diukur berdasarkan uji standart terhadap kecerdasan kognitif verbal dan non verbal.
a. EQ Versus IQ
Keterampilan EQ bukanlah lawan keterampilan IQ atau kognitif, namun keduanya berinteraksi secara dinamis, baik pada tingkatan konseptual maupun di dunia nyata. Idealnya, seseorang dapat menguasai keterampilan kognitif sekaligus keterampilan sosial dan emosional, sebagaimana ditunjukkan oleh para negarawan besar dunia. Menurut pakar ilmu politik di Duke University, James David Barber, Thomas Jefferson memiliki perpaduan antara kepribadian dan intelektualitas yang nyaris sempurna. Ia dikenal sebagai komunikator yang hebat dan penuh empati, selain sebagai seorang jenius sejati. Pada tokoh-tokoh besar lain, EQ yang tinggi tampaknya sudah cukup. Banyak orang berpendapat bahwa kepribadian Franklin Delano Roosevelt yang dinamis dan optimisme yang luar biasa merupakan faktor paling penting dalam memimpin Amerika mengatasi masa-masa kritis zaman Depresi dan Perang Dunia II. Namun, Oliver Wendell Holmes menggambarkan Roosevelt sebagai orang yang memiliki “kecerdasan kelas dua, tetapi kematangan emosi kelas satu”. Hal yang sama juga ditujukan untuk John F. Kennedy, yang menurut banyak sejarawan, lebih banyak memimpin Amerika dengan hatinya ketimbang dengan kepalanya.

b. Anatomi Saraf Emosi
Menurut Lawrence yang dikutip oleh Hamzah B. Hamzah B. Uno , otak manusia dapat digolongkan dalam dua fungsi, yaitu (a) otak logika, dan (b) otak emosi. Kedua otak tersebut menjalankan fungsi yang berbeda dalam menentukan perilaku kita, namun keduanya saling bergantung. Bagian otak pengatur emosi bereaksi lebih kuat dan lebih cepat, di bawah kontrol korteks khususnya lobus prontal memberi makna terhadap situasi emosi yang dihadapkan sebelum bertindak. Itu sebabnya tanpa lobus prontal yang utuh, seseorang kelihatan kurang normal, pandangan dari segi emosi orang itu dangkal, tidak peduli, lesu, apatis, dan sangat tidak peka terhadap orang lain sehingga tidak akan ada orang yang mau bergaul dengannya.
Bagian penting dari emosi otak adalah sistem limbik. Sistem ini mengatur emosi dan impuls. Bagian yang masuk dalam sistem ini adalah Hippocampus tempat berlangsungnya pembelajaran emosi, tempat disimpannya ingatan emosi dan amigdala sebagai pusat pengendalian emosi. Korteks adalah bagian berpikir otak, dan berfungsi mengendalikan emosi melalui pemecahan masalah, bahasa, daya cipta, dan proses kognitif lainnya. Sistem limbik merupakan bagian dari emosional otak. Sistem in meliputi thalamus, yang mengisi pesan-pesan ke korteks; hippocampus, yang berperan dalam ingatan dan penafsiran persepsi; dan amigdala sebagi pusat pengendali emosi.
c. Menjadi Orangtua Ber-EQ Tinggi
Para peneliti yang mempelajari reaksi orang tua terhadap anak-anaknya menemukan bahwa ada tiga gaya yang umum bagaimana orang tua menjalankan peranannya sebagai orang tua, yaitu otoriter, permisif, dan otoritatif.
d. Emosi dari Segi Moral
Menurut William Damon yang dikutip oleh Hamzah B. Hamzah B. Uno , perkembangan moral anak tidak dapat dipisahkan dengan emosi seseorang. Ada dua kelompok emosi, yakni (a) emosi negatif dan (b) emosi positif. Emosi negatif sifatnya dapat memotivasi anak-anak untuk belajar dan mempraktikkan perilaku-perilaku prososial, termasuk (1) takut dihukum, (2) kekhawatiran tidak diterima oleh orang lain, (3) rasa bersalah apabila gagal memenuhi harapan seseorang, (4) malu apabila ketahuan berbuat sesuatu yang tidak dapat diterima oleh orang lain. Sementara emosi positif akan membentuk moral anak berupa empati dan apa yang disebut dengan naluri pengasuhan. Yang meliputi kemampuan untuk menyayangi.
e. Empati dan Kepedulian kepada Anak
Slaah satu unsur dari emosional adalah empati. Empati merupakan suatu sika kepribadian seseorang di mana seseorang mampu menempatkan diri dalam posisi orang lain. Para psikolog perkembangan menegaskan bahwa sesungguhnya ada dua komponen empati, yaitu (1) reaksi emosi kepada orang lain yang normalnya berkembang dalam enam tahun perama kehidupan anak-anak, dan (2) reaksi kognitif yang menentukan sampai seberapa jauh anak-anak dari sudut pandang atau perspektif oranglain.
f. Kejujuran dan Integritas
Penelitian terhadap anak-anak yang sering berbohong menunjukkan bahwa mereka juga sering terlibat dalam bentuk-bentuk perilaku antisosial, termasuk menipu, mencuri, dan aksi kekerasan. Ini antara lain akibat kenyataan bahwa anak-anak yang berbohong biasanya berteman dengan anak-anak lain yang tidak jujur dan mereka mengembangkan kelompok sebaya yang percaya bahwa berbohong kepada orang di luar kalangan diperbolehkan. Penyebab lain anak-anak berbohong dikarenakan orang tua yang tidak rukun dalam keluarga.
Dalam mengajarkan aspek kejujuran kepada anak, dapat dilakukan dengan jalan: (1) ajarkan nilai kejujuran pada anak sejak mereka masih muda dan konsisten dengan pesan Anda waktu usia mereka bertambah. Pemahaman anak mengenai kejujuran bisa berubah, tetapi pemahaman Anda jangan berubah; (2) Anda dapat menjadikan kejujuran dan etika sebagai bahan pembicaraan sejak anak masih sangat muda dengan memilihkan buku-buku dan video untuk dinikmati bersama anak, memainkan permainan kepercayaan, dan memahami berubahnya kebutuhan anak atas privasi.
g. Mengembangkan Empati dan Kepedulian
Kita dapat melihat empati emosi pada kebanyakan anak yang belum berusia lima tahun. Bayi akan mencoba melihat bayi lain, perkembangan Martin Hoffman yang ditulis ulang oleh Hamzah B. Uno menyebut empati ini sebagai “empati global” karena ketidakmampuan anak untuk membedakan antara diri sendiri dan dunianya sehingga ia menafsirkan rasa tertekan bayi lain sebagai rasatertekannya sendiri.

h. Keterampilan EQ yang Harus Diingat
Waktu mengajari anak-anak bersikap peduli kepada orang lain, tidak ada yang dapat menggantikan pengalaman, tidak cukup apabila hanya dibicarakan.
i. Melatih Anak Menjadi Jujur
Lazimnya keterampilan EQ anak-anak meningkat sejalan dengan meningkatnya usia, tetapi tidak demikian halnya dalam hubungan dengan kebenaran.
j. Menghormati Anak Anda
k. Emosi Moral Negatif: Rasa Malu dan Rasa Bersalah
Malu didefinisikan sebagai salah satu bentuk rasa rendah diri ekstrem yang terjadi ketika anak-anak merasa gagal emenuhi harapan orang lain dalam bertindak. Berdasarkan teori-teori anatomi saraf,emosi-emosi ekstrem yang ditimbulkan oeh rasa malu cenderung menempuh jalan pintas dan menghindari jalur normal ketika menuju tempat pencatatan informasi dan penyimpanan ingatan dalam otak.
Membuat anak rasa malu atas perbuatan anti sosialnya merupakan cara yang manjur untuk mengubah perilaku ini. Emosi “negatif” rasa malu dan rasa bersalah dapat dimanfaatkan secara konstruktif untuk membentuk perlaku moral anak.
l. Memanfaatkan Rasa Malu
Hal-hal yang perlu diperhatikan dari aspek EQ dalam hal ini adalah (1) rasa malu dan rasa bersalah bukan aspek emosi yang harus dijauhi. Aabila digunakan dengan tepat, emosi-emosi ini oenting bagi orang tua untuk mengajarkan nilai-nilai moral pada anak, (2) penggunaan rasa malu dan rasa bersalah secara tepat akan bergantung pada temperamen anak, tetapi penggunaan emosi ini dapat mengintegrasikan kembali anak dalam dukungan keluarga.
m. Berpikir Realistis
Aspek-aspek EQ yang perlu diingat dalam berpikir realistis antara lain: (1) berpikir realitas adalah lawan membohongi diri sendiri, (2) kisah-kisah keteladanan bisa menjadi cara paling baik untuk mengajarkan keterampilan ini, entah dibacakan dari bukti yang sudah ada atau dikarang sendiri, (3) anak akhirnya akan belajar secara realistis mengenai masalah atau kepentingan mereka jika orangtua berbuat serupa. Jangan menyembunyikan kebenaran dari anak, betapapun menyakitkan.
n. Optimisme
o. Keuntungan Optimisme
p. Mengubah Kelakuan Anak dengan Mengubah Pola Pikir Mereka
q. Mendefinisikan Masalah sebagai “Musuh”
r. Membuat Kerangka Baru untuk Suatu Masalah dan Menuliskannya

F. Spiritual Intelligence
1. Pengertian
Kecerdasan spiritual adalah kecerdasan yang menyangkut moral yang mampu memberikan pemahaman yang menyatu untuk membedakan sesuatu yang benar dengan yang salah. Hal ini disampaikan oleh Danah Zohar yang dikutip dalam modul pilot project pendidikan dan pra jabatan.
Dalam Emotional Spiritual Quotient, kecerdasan spiritual adalah kemampuan untuk memberi makna spiritual terhadap pemikiran, perilaku dan kegiatan, serta mampu menyinergikan Intellectual Quotient, Emotional Quotient dan Spiritual Quotient secara komprehensif.
Di samping itu, Bowell yang dikutip oleh Martini Jamaris memaparkan bahwa spirituality atau spiritualitas berkaitan dengan apa yang paling penting dalam pengalaman manusia yaitu berbagai kemampuan dan keterampilan dalam memberdayakan seseorang utuk hidup secara harmonis dengan nilai hidup yang tinggi dan bergeser dari ketidakmampuan untuk menjawab ke arah tujuan hidup yang jelas, meliputi: hati yang terbuka dan fleksibel, enthusiasm, kesadaran terhadap pengaaman saat ini dan kehadiran Tuhan, penghargaan terhadap penerapan nilai-nilai agama, berpedoman terhadap nilai-nilai tradisional dan keragaman etnik.
Zohar and Marshall yang dikutip Martini Jamaris mengemuakakan bahwa istilah spiritual intelligence (SQ) atau kecerdasan spiritual sebagai kemampuan yang membuat seseorang mampu melakukan integrasi kehidupannya yang mencakup arti hidup, tujuan hidup dan motivasi untuk hidup. Pada hakikatnya, SQ tidak langsung berhubungan dengan agama akan tetapi langsung berhubungan dengan sistem adaptasi yang memberikan kehidupan seperti faktor yang berkaitan dengan biologi, kemampuan melakukan adaptasi biologi sehingga terhindar dari cheos atau kebuntuan hidup. Spiritual Intelligence memiliki prinsip-prinsip sebagai berikut:
a. Kesadaran akan diri sendiri
b. Spontanitas
c. Memiliki visi dan nilai yang ditunjukkan melalui keyakinan dan prinsip hidup
d. Melihat sesuatu secara keseluruhan dengan jalan memahami secara luas pola-pola hubungan yang mengandung makna dan perasaan memiliki
e. Gairah hidup
f. Memahami perbedaan
g. Mandiri
h. Kemanusiaan
i. Kemampuan mengajukan berbagai pertanyaan yang fundamental
j. Kemampuan untuk membingkai kembali pengalaman masa lalu dalam konteks bermakna
k. Belajar dari kesalahan secara positif
l. Kesediaan untuk melayani dan melakukan sesuatu yang bernilai

Robert Emmons seperti yang dikutip oleh Martini Jamaris , melakukan adaptasi dengan menggunakan berbagai informasi yang berkaitan dengan spiritual intelligence mendefinisikan spiritual intelligence sebagai kemampuan yang digunakan dalam memecahkan masalah sehari-hari. Sedangkan Martini Jamaris juga menutip pendapat Frances Vaughan yang menyatakan bahwa spiritual intelligence sebagai sesuatu yang berkaitan dengan kehidupan dalam pikiran dan spirit dan hubungannya dengan manusia di dunia dan pemahaman tersebut terserap dalam berbagai tingkat kesadaran manusia.

2. Hakekat
Kecerdasan spiritual pada hakekatnya, adalah kecerdasan untuk menghadapi dan memecahkan masalah makna dan nilai menempatkan perilaku dan hidup manusia dalam konteks makna yang lebih luas dan kaya. Kecerdasan spiritual yang bertumpu pada bagian dalam diri kita yang berhubungan dengan kearifan di luar ego atau jiwa sadar.
Kecerdasan spiritual menjadikan manusia yang benar-benar utuh secara intelektual, emosional dan spiritual. Kecerdasan spiritual adalah fasilitas yang berkembang selama jutaan tahun yang memungkinkan otak untuk menemukan dan menggunakan makna dalam pemecahan persoalan.
Kecerdasan spiritual yang berkembang dengan baik dapat menjadikan seseorang memiliki “makna” dalam hidupnya. Dengan makna hidup ini seseorang akan memiliki kualitas “menjadi”, yaitu suatu modus eksistensi yang dapat membuat seseorang merasa gembira, menggunakan kemampuannya secara produktif dan dapat menyatu dengan dunia.

3. Meta Kecerdasan
Menurut Taufik Bahaudin dikatakan seseorang itu Cerdas apabila memiliki beberapa kecerdasan atau disebut berfungsinya meta kecerdasan sinergi. Meta kecerdasan itu antara lain IQ, EQ, SQ, CQ ( creativity Quotient), AQ (Advercity Quotient).
a. Definisi IQ (intelligent quotient) : kecerdasan yang berhubungan fisik, aritmatika
b. Definisi EQ ( emotional quotient ) : kecderdasan mengelola emosi
c. Definisi CQ ( creativity quotient) : kecerdasan untuk mencari solusi
d. Definisi AQ ( adversity quotient ) : kecerdasan daya tahan dalam penderitaan dan dapat merubah kemalangan menjadi peluang keberuntungan
e. SI ( Spiritual quotient) : kecerdasan spiritual sebagai poros semua kecerdasan yang lain. Danah Zohar mengatakan IQ dan EQ akan berfungsi efektif apabila SQ bekerja.
Ary ginanjar menjelaskan meta kecerdasan sinergi merupakan integrasi dari kecerdasan intelektual, kecerdasan emosi dan kecerdasan spiritual yang berorientasi pada spiritualisme tauhid dan diwujudkan dengan kemampuan memecahkan masalah dan tantangan dengan radar suara hati.
Begitupula yang dikatakan oleh Dadang Hawari , integrasi dari IQ, EQ, CQ dan SQ diperlukan dalam membangun SDM pemimpin yang berkualitas dan bersih dari KKN.
Dalam buku terbaru Spiritual Intelligence: Mengembangkan Kesadaran Tinggi, mengeksplorasi konsep kecerdasan spiritual dari yayasan Psikologi, dari Kebijaksanaan Hamzah B. Uno dan Mistisisme Timur, dari Sains, diwakili oleh Fisika baru, Neurobiologi dan penelitian otak , Geologi, Cymaties, dari Geometri Suci dan kisah-kisah hidup dan rekening menemukan bagian dari kehidupan individu terpilih yang telah menunjukkan kecerdasan spiritual dalam hidup mereka.

BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
Dari pembahasan yang telah dipaparkan pada bab 2, maka dapat disimpulkan,
1. Inteligensi merupakan suatu kemampuan umum dan kompleks yang dimiliki individu dari faktor genetis maupun lingkungan yang mempengaruhinya untuk dapat berfikir secara abstrak, menyesuaikan diri belajar, memahami hakikat hidup dan mengatasi suatu masalah secara terarah, rasional, dan efektif.
2. Berbagai macam teori intelegensi antara lain : teori Inteligensi Spearman, teori Inteligensi Thrustone, teori Inteligensi Guilford, teori Inteligensi Cattel dan Horn, teori Inteligensi Strenberg, teori Inteligensi Gardner
3. Pengukuran intelegensi dipaparkan dalam beberapa jenis sebagai berikut: Binet – Simon Intelligence Scale, Stanford – Binet Intelligence Test, Wechsler Inteligence Scales
4. Kecerdasan emosional (Emotional Intelligence) merupakan kemampuan seseorang mengatur kehidupan emosinya dengan inteligensi, menjaga keselarasan emosi dan pengungkapannya melalui keterampilan kesadaran diri, pengendalian diri, motivasi diri, empati dan keterampilan sosial baik berupa emosi positif maupun emosi kegatif.
5. Kecerdasan spiritual pada hakekatnya, adalah kecerdasan untuk menghadapi dan memecahkan masalah makna dan nilai menempatkan perilaku dan hidup manusia dalam konteks makna yang lebih luas dan kaya. Kecerdasan spiritual yang bertumpu pada bagian dalam diri kita yang berhubungan dengan kearifan di luar ego atau jiwa sadar.

B. Saran
Kecerdasan, bukanlah hanya diukur dari kecerdasan intelektual semata atau kecerdasan yang berkaitan dengan kognitif saja, melainkan ada jenis kecerdasan-kecerdasan lain yang tidak kalah pentingnya untuk dapat menentukan keberhasilan seseorang atau seorang anak dalam hidupnya. Kecerdasan yang lainnya itu hendaknya mendapat perhatian penting bagi orang tua dan guru dalam mendidik dan membangun karakter anak agar anak siap menghadapi kehidupan lebih lanjut. Kecerdasan yang dimaksud adalah dikenal dengan EQ dan SQ. Keduanya harus berkembang seimbang bersama IQ agar seimbang dan anak siap menghadapi segala tantangan hidup secara positif.

DAFTAR PUSTAKA

Alsa, A. & Bachroni, M. Perbedaan Efektivitas antara Inteligensi dengan Nilai Ujian Masuk SMA sebagai Prediktor Prestasi Belajar pada Pelajar SMA Negeri di DIY. Yogyakarta : Fakultas Psikologi Universitas Gadjah Mada. 1981.
Amstrong Thomas. 1994. Multiple Intelligences in the Classroom Alexandria, Virginia: ASDC
Anonymous. 2009. Kecerdasan Spiritual. Lembaga Administrasi Negara Republik Indonesia. Modul pilot project pendidikan dan pelatihan prajabatan golongan iii
Anonymous. http://allpsych.com/researchmethods/distributions.html. pada tanggal 14 Januari tahun 2013
Anonymous. http://www.iqcomparisonsite.com/IQBasics.aspx. diakses pada tanggal 14 Januari tahun 2013
Azizi Yahya dkk. Psikologi Pendidikan. Malaysia: Univision Press Universiti Teknologi Malaysia. 2008.
Azwar, S. Pengantar Psikologi Inteligensi. Yogyakarta : Pustaka Pelajar Offset. 1996.
Chaplin, J. P. Kamus Lengkap Psikologi. Jakarta : PT. RajaGrafindo Persada. 1997.
Cooper Robert K. dan Sawaf Ayman. 1998. Executif EQ: Emotional Intelligence in Leadership and Organization, Executif EQ: Kecerdasan Emosional dalam Kepemimpinan dan Organisasi, Terjemahan Alex Tri Kantjono W. Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama
Crooks Robert L. & Stein Jean. 1991. Psychology: Science, Behavior and Life, Second Edition. Fort Worth: Holt, Rinehart and Winston, Inc.
Dorothy Sisk. Spiritual Intelligence: The Tenth Intelligence That Integrate All Other Intelligences. (Artikel).
Goleman, D. 1997. Emotional Intellegence (terjemahan). Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama.
________ . 2000. Working With Emotional Intelligence (terjemahan). Jakarta : PT. Gramedia Pustaka Utama.
Guilford, j.p. Fundamental statistic in psychology and education. NewYork : mc graw-hill book company. 1973.
Herlina dkk. 2007. Psikodiagnostik IV Inteligensi. Bandung: Diktat Kuliah Jurusan Psikologi UPI.
http://socialworktools.wordpress.com/2008/11/09/normal-curve-image. pada tanggal 14 Januari tahun 2013
Jahja, Yudrik. 2011. Psikologi Perkembangan. Jakarta: Kencana
Jamaris, Martini. 2010. Orientasi Baru dalam Psikologi Pendidikan. Jakarta: Yayasan penamas Murni.
Santrock, John. 2009. Psikologi Pendidikan (Educational Psychology). Jakarta: Salemba Humanika.
Santrock, John. 2011. Psikologi Pendidikan. Jakarta: Kencana
Santrock. 2009. Educational Psychology, third edition. Boston : Mc. Graw Hill
Uno Hamzah. 2010. Orientasi dalam Psikologi Pembelajaran. Jakarta: Bumi Aksara Jamaris Martini. 2010Orientasi Baru dalam Psikologi Pendidikan. Jakarta: Yayasan Penamas Murni
Wortman Camille B., Loftus Elizabeth F. & Marshall May E.. 1985. Psychology. New York: Alfed A. Knoff

LAPORAN OBSERVASI

STUDI KASUS

MANAJEMEN PENDIDIKAN DALAM MENINGKATKAN KUALITAS KINERJA GURU DI PAUD TUNAS HARAPAN

BAB I

PENDAHULUAN

 

A. Latar Belakang Masalah

Menurut C. Canby Balderton (dalam Rai Budi, 2009) manajemen adalah perangsangan atau pergerakan, pengorganisasian dan pengarahan usaha manusia untuk memanfaatkan secara efektif perbekalan-perbekalan dan fasilitas-fasilitas untuk mencapai tujuan.

Haynes dan Massie (dalam Rai Budi, 2009) berpendapat bahwa manajemen dihadapkan dengan tugas penyeleksian konsep-konsep dari seluruh bidang ini dan pemaduan mereka dalam proses pembuatan keputusan-keputusan tentang baik haluan-haluan pokok maupun pelaksanaan sehari-harinya.

Sedangkan pendapat Tom Degenaars (dalam Rai Budi, 2009) manajemen didefinisikan sebagai suatu proses yang berhubungan dengan bimbingan kegiatan kelompokdan berdasarkan atas tujuan yang jelas yang harus dicapai dengan menggunakan sumber-sumber tenaga manusia dan bukan tenaga manusia.

Dari pendapat-pendapat tersebut dapat diambil satu pengertian mengenai manajemen, bahwa manajemen adalah suatu bentuk penggerakan, perencanaan, pengawasan, pengorganisasian, dan pengarahan yang menggunakan usaha sumber tenaga manusia maupun bukan, untuk mencapai suatu tujuan secara efektif.

Berdasarkan pengertian dari manajemen di atas, dapat diambil beberapa kata kunci yang merupakan unsur-unsur manajemen antara lain: planning, organizing, motivating, controling dan evaluating. Unsur-unsur tersebut sesuai dengan pendapat Prof. DR. Sondang. P. Siagian (Rai Budi, 2009:21).

Secara empiris hal ini dapat ditemui dalam manajemen pelaksanaan pendidikan di PAUD Tunas Harapan Tulungagung, yang mencerminkan penerapan dari kelima unsur manajemen yang disampaikan oleh Siagian. Berdasarkan pengamatan, setelah melakukan perencanaan yang matang dan mengorganisasikan perencanaan tersebut, kepala sekolah melakukan tindakan pengawasan baik secara langsung maupun tidak (menerima masukan dari guru). Dalam pengawasannya, kepala sekolah mendapati persoalan dari salah satu guru yang kurang produktif dalam bekerja dan tidak menjalankan tugas dengan baik dibandingkan dengan guru-guru yang lain. Mendapati hal tersebut, kepala sekolah langsung mengadakan evaluasi yang pada akhirnya membuat suatu keputusan yang cukup bijaksana dan mengumumkannya langsung kepada para guru. Melalui keputusan tersebut kepala sekolah mencoba memberikan motivasi kepada para guru di PAUD Tunas Harapan Tulungagung.

Berdasarkan persoalan di atas, maka dalam makalah ini akan dibahas mengenai keputusan bijaksana yang diambil kepala sekolah untuk meningkatkan kualitas kinerja para guru serta efektifitasnya.

 

B. Rumusan Masalah

Bertitik tolak dari latar belakang masalah yang telah diuraikan di atas, maka dapat dirumuskan permasalahan sebagai berikut            :

1. Bagaimana usaha yang dilakukan oleh kepala sekolah PAUD Tunas Harapan Tulungagung dalam menghadapi kinerja guru yang lemah atau tidak maksimal ?

2. Seberapa efektifkah cara tersebut?

 

C. Tujuan Penelitian

Berdasarkan rumusan masalah yang telah diajukan, maka tujuan penelitian ini adalah untuk :

1. Mengetahui usaha kepala sekolah PAUD Tunas Harapan Tulungagung dalam menghadapi kinerja guru yang lemah atau tidak maksimal.

2. Mengetahui tingkat efektifitas keputusan yang digunakan kepala sekolah.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

BAB II

PEMBAHASAN

A. Kajian Teori

Pada sub bab kajian teori ini akan dibahas beberapa teori yang berkaitan dengan pembahasan, antara lain : teori manajemen, hakikat manusia, dan hakikat kerja.

1. Teori Manajemen

Menurut Shrode dan Voich (dalam Pidarta, 1994:15) tujuan utama manajemen adalah produktivitas dan kepuasan. Mungkin saja tujuan ini tidak tunggal bahkan jamak atau rangkap, seperti peningkatan mutu pendidikan/lulusannya, keuntungan/profit yang tinggi, pemenuhan kesempatan kerja, pembangunan daerah/nasional, tanggung jawab sosial. Tujuan-tujuan ini ditentukan berdasarkan penataan dan pengkajian situasi dan kondisi organisasi, seperti kekuatan dan kelemahan, peluang, dan ancaman.

Sedangkan menurut Sutermeister (dalam Pidarta, 1994:15) membataskan produktivitas sebagai ukuran kuantitas dan kualitas kinerja dengan mempertimbangkan kemanfaatan sumber daya. Produktivitas itu sendiri dipengaruhi perkembangan bahan, teknologi, dan kinerja manusia. Pengertian konsep produktivitas berkembang dari pengertian teknis sampai dengan perilaku. Produktivitas dalam arti teknis, mengacu kepada derajat keefektifan, efisiensi dalam penggunaan sumber daya. Sedangkan dalam pengertian perilaku, produktivitas merupakan sikap mental yang senantiasa berusaha untuk terus berkembang.

Berdasarkan pengertian teksnis produktivitas dapat diukur dengan dua standar utama, yaitu produktivitas fisik dan produktivitas nilai. Produktivitas nilai dapat diukur atas dasar nilai-nilai kemampuan, sikap, perilaku, disiplin, motivasi, dan komitmen terhadap pekerjaan atau tugas.

Menurut Victor Vromm yang sejalan dengan Sutermeister (Pidarta, 1994:16) menggunakan formula psikologi, di mana produktivitas diartikan sebagai prestasi kerja.

 

P = f (M x K)

 

 

Keterangan      :

P          = Pretasi Kerja

M         = Motivasi

K         = Kemampuan

Jadi menurut Vromm( Pidarta, 1994:16) produktivitas merupakan fungsi dari motivasi dikalikan kemampuan. Artinya, tinggi rendahnya produktivitas dipengaruhi oleh motivasi dan kemampuan.

Menurut Gillmore dalam Pidarta (1994), The Productive Personality mendasarkan produktivitas pada 3 aspek yaitu : prestasi akademis, kreatifitas, dan pemimpin. Seorang yang intelligennya tinggi mempunyai kecenderungan kreatif, berprestasi, dan akhirnya akan produktif. Oleh karena itu, baik secara individu maupun kelompok apabila berkarya sebaik-baiknya, merupakan landasan untuk mencapai produktivitas organisasi.

Pencapaian produktivitas yang tinggi, ada kaitannya dengan kepuasan individu dan kelompok. Oleh karena itu, E. Mayo (Pidarta, 1994:16) menyatakan bahwa yang penting untuk meningkatkan produktifitas perlu diperhatikan perilaku manusia dan sosial dengan segala aspeknya. Dalam kaitan ini, Mc. Gregor (Pidarta, 1994:17) sangat yakin bahwa manajer akan mendapat manfaat besar, apabila ia menaruh perhatian pada kebutuhan sosial dan aktualisasi diri bawahannya. Demikian juga Maslow (Pidarta, 1994:17) tentang kebutuhan dasar (basic needs) yang bertingkat mulai kebutuhan fisiologis, sosial, rasa aman, penghargaan, dan aktualisasi diri. Semuanya itu perlu mendapat perhatian seorang manajer untuk memberi saluran, kesempatan sehingga meningkatkan produktivitas.

Salah satu aspek memanfaatkan pegawai ialah pemberian motivasi (daya perangsang) kepada pegawai, dengan istilah populer sekarang pemberian kegairahan bekerja kepada pegawai. Telah dibatasi bahwa memanfaatkan pegawai yang memberi manfaat kepada perusahaan. Ini juga berarti bahwa setiap pegawai yang memberi kemungkinan bermanfaat ke dalam perusahaan, diusahakan oleh pimimpin agar kemungkinan itu menjadi kenyataan. Usaha untuk merealisasi kemungkinan tersebut ialah dengan jalan memberikan motivasi. Motivasi ini dimaksudkan untuk memberikan daya perangsang kepada pegawai yang bersangkutan agar pegawai tersebut bekerja dengan segala daya dan upayanya (Manulang , 2002 dalam http://elqorni.wordpress.com/2009/03/21/teori-motivasi-dalam-manajemen-sdm/ diakses pada tanggal 2 Desember 2010 pukul 14.13 WIB).

Menurut Martoyo (dalam http://elqorni.wordpress.com/2009/03/21/teori-motivasi-dalam-manajemen-sdm/ diakses pada tanggal 2 Desember 2010 pukul 14.13 WIB) motivasi pada dasarnya adalah proses untuk mencoba mempengaruhi seseorang agar melakukan yang kita inginkan. Dengan kata lain adalah dorongan dari luar terhadap seseorang agar mau melaksanakan sesuatu. Dengan dorongan (driving force) disini dimaksudkan desakan yang alami untuk memuaskan kebutuhan-kebutuhan hidup, dan kecendrungan untuk mempertahankan hidup. Kunci yang terpenting untuk itu tak lain adalah pengertian yang mendalam tentang manusia.

Motivasi berasal dari motive atau dengan prakata bahasa latinnya, yaitu movere, yang berarti “mengerahkan”. Seperti yang dikatakan Liang Gie dalam bukunya Martoyo (2000) motive atau dorongan adalah suatu dorongan yang menjadi pangkal seseorang melakukan sesuatu atau bekerja. Seseorang yang sangat termotivasi, yaitu orang yang melaksanakan upaya substansial, guna menunjang tujuan-tujuan produksi kesatuan kerjanya, dan organisasi dimana ia bekerja. Seseorang yang tidak termotivasi, hanya memberikan upaya minimum dalam hal bekerja. Konsep motivasi, merupakan sebuah konsep penting studi tentang kinerja individual. Dengan demikian motivasi atau motivation berarti pemberian motiv, penimbulan motiv atau hal yang menimbulkan dorongan atau keadaan yang menimbulkan dorongan. Dapat juga dikatakan bahwa motivation adalah faktor yang mendorong orang untuk bertindak dengan cara tertentu (dalam http://elqorni.wordpress.com/2009/03/21/teori-motivasi-dalam-manajemen-sdm/ diakses pada tanggal 2 Desember 2010 pukul 14.13 WIB)

 

 

Manusia dalam aktivitas kebiasaannya memiliki semangat untuk mengerjakan sesuatu asalkan dapat menghasilkan sesuatu yang dianggap oleh dirinya memiliki suatu nilai yang sangat berharga, yang tujuannya jelas pasti untuk melangsungkan kehidupannya, rasa tentram, rasa aman dan sebagainya.

Menurut Martoyo (2000) motivasi kinerja adalah sesuatu yang menimbulkan dorongan atau semangat kerja. Menurut Gitosudarmo dan Mulyono (1999) motivasi adalah suatu faktor yang mendorong seseorang untuk melakukan suatu perbuatan atau kegiatan tertentu, oleh karena itu motivasi sering kali diartikan pula sebagai faktor pendorong perilaku seseorang. Setiap tindakan yang dilakukan oleh seorang manusia pasti memiliki sesuatu faktor yang mendorong perbuatan tersebut. Motivasi atau dorongan untuk bekerja ini sangat penting bagi tinggi rendahnya produktivitas perusahaan. Tanpa adanya motivasi dari para karyawan atau pekerja untuk bekerja sama bagi kepentingan perusahaan maka tujuan yang telah ditetapkan tidak akan tercapai. Sebaliknya apabila terdapat motivasi yang besar dari para karyawan maka hal tersebut merupakan suatu jaminan atas keberhasilan perusahaan dalam mencapai tujuannya.

Motivasi atau dorongan kepada karyawan untuk bersedia bekerja bersama demi tercapainya tujuan bersama ini terdapat dua macam, yaitu:
a. Motivasi finansial, yaitu dorongan yang dilakukan dengan memberikan imbalan finansial kepada karyawan. Imbalan tersebut sering disebut insentif.
b. Motivasi nonfinansial, yaitu dorongan yang diwujudkan tidak dalam bentuk finansial/ uang, akan tetapi berupa hal-hal seperti pujian, penghargaan, pendekatan manusia dan lain sebagainya (Gitosudarmo dan Mulyono , 1999). (http://elqorni.wordpress.com/2009/03/21/teori-motivasi-dalam-manajemen-sdm/ diakses pada tanggal 2 Desember 2010 pukul 14.13 WIB)

Menurut George R. dan Leslie W. (dalam bukunya Matutina. dkk , 1993) mengatakan bahwa motivasi adalah “……getting a person to exert a high degree of effort ….” yang artinya motivasi membuat seseorang bekerja lebih berprestasi. Sedang Ravianto (1986) dalam bukunya ada beberapa faktor yang dapat mempengaruhi motivasi kinerja, yaitu atasan, rekan, sarana fisik, kebijaksanaan dan peraturan, imbalan jasa uang, jenis pekerjaan. (http://elqorni.wordpress.com/2009/03/21/teori-motivasi-dalam-manajemen-sdm/ diakses pada tanggal 2 Desember 2010 pukul 14.13 WIB)

Dengan demikian dapat dikatakan bahwa motivasi pada dasarnya adalah kondisi mental yang mendorong dilakukannya suatu tindakan (action atau activities) dan memberikan kekuatan yang mengarah kepada pencapaian kebutuhan, memberi kepuasan ataupun mengurangi ketidak seimbangan. Ada definisi yang menyatakan bahwa motivasi berhubungan dengan (dalam http://elqorni.wordpress.com/2009/03/21/teori-motivasi-dalam-manajemen-sdm/ diakses pada tanggal 2 Desember 2010 pukul 14.13 WIB) :

  1. Pengaruh perilaku.
  2. Kekuatan reaksi (maksudnya upaya kerja), setelah seseorang karyawan telah memutuskan arah tindakan-tindakan.
  3. Persistensi perilaku, atau berapa lama orang yang bersangkutan melanjutkan pelaksanaan perilaku dengan cara tertentu. (Campell , 1970).

 

2. Hakikat Manusia

Pandangan Humanis (Rogers dalam Pidarta, 1994:17) mengemukakan bahwa pribadi individu merupakan proses yang terus berjalan, suatu kekuatan yang tidak statis. Artinya individu merupakan satu kesatuan potensi yang terus berubah. Manusia pada hakikatnya dalam proses menjadi – on becoming – tidak pernah selesai, tidak pernah sempurna. Sedangkan Adler (Pidarta, 1994 :17) masih tergolong humanis, berpendapat bahwa manusia tidak semata-mata digerakkan oleh dorongan untuk memuaskan dirinya sendiri, namun sebaliknya, manusia digerakkan dalam hidupnya sebagian oleh tanggung jawab sosial dan sebagian oleh kebutuhan untuk mencapai sesuatu. Selanjutnya Adler menyatakan bahwa individu melibatkan dirinya dalam usaha mewujudkan diri sendiri dalam membantu orang lain, dan dalam membuat dunia ini menjadi lebih baik untuk ditempati.

Pandangan lain datang dari kaum behavioristik (Hansen dalam Pidarta, 1994:18) pada dasarnya menganggap bahwa manusia sepenuhnya adalah makhluk reaktif yang perilakunya dikontrol oleh faktor-faktor yang datang dari luar. Di sini lingkungan menjadi faktor penentu tunggal terhadap tingkah laku manusia. Dengan kata lain kepribadian manusia dapat dikembalikan semata-mata kepada hubungan antara individu dengan lingkungannya, hubungan itu diatur oleh hukum-hukum belajar seperti pembiasaan (conditioning). Skinner (Pidarta, 1994:18) menyatakan bahwa kemampuan memilih, menetapkan tujuan, terwujud sebagai tingkah laku yang perkembangannya dapat didekati dan dianalisis secara ilmiah. Karena itu, ada yang mengatakan pendekatan behavioristik merupakan pendekatan ilmiah.

Dari pendapat-pendapat di atas, dapat ditarik kesimpulan bahwa manusia merupakan        :

a.  terdapat fungsi yang rasional, bertanggung jawab, atas tingkah laku intelektual dan sosial,

b. mampu mengarahkan diri ke tujuan yang positif, mampu mengatur, dan mengontrol diri, dan menentukan nasibnya.

c. pada hakikatnya, dalam proses berkembang dan tidak pernah selesai.

 

3. Hakikat Kerja

Kerja merupakan kegiatan dalam melakukan sesuatu dan orang yang kerja ada kaitannya dengan mencari nafkah atau bertujuan untuk mendapatkan imbalan atas prestasi yang telah diberikan atas kepentingan organisasi. Prestasi kerja atau penampilan kerja (performance) dapat diartikan sebagai ungkapan kemampuan yang didasari oleh pengetahuan, sikap dan keterampilan serta motivasi dalam menghasilkan sesuatu. Masalah kerja selalu mendapatkan perhatian dalam manajemen karena berkaitan dengan produktivitas organisasi. (Pidarta, 1994:19)

Pidarta (1994) berpendapat bahwa pada hakikatnya orang bekerja untuk memenuhi kebutuhan atas dorongan atau motivasi tertentu. Kebutuhan dipandang sebagai penggerak atau pembangkit perilaku. Proses motivasi sebagian besar diarahkan untuk memenuhi dan mencapai kebutuhan. Apabila digambarkan proses pemenuhan kebutuhan manusia itu secara sederhana tampak sebagai berikut            :

 

 

 

KEBUTUHAN                        USAHA/PERILAKU                         PRESTASI

 

 

 

EVALUASI KEBUTUHAN                                     IMBALAN

Bagan 2.1. Proses Pemenuhan Kebutuhan Manusia

B. Hasil Observasi

1. Data Guru PAUD Tunas Harapan 2010-2011

Nama Masuk Sejak Jabatan Pendidikan Terakhir
Supangat, S.Pd 14-07-2003 Kepala Sekolah S1 Bhs. Inggris
Susmiati, A.Ma.Pd 14-07-2003 Guru Kelas D2 PGTK
Titik Sundari, A.Ma.Pd 14-07-2003 Guru Kelas D2 PGTK
Dra. Sutarmi 14-07-2003 Guru BK S1 Psikologi
Dra. Anik Yuniati 14-07-2003 Guru Kelas S1 PLS
Siti Fatimah 14-07-2010 Guru Kelas MAN/Aliyah

2. Daftar Piket Guru

Hari Waktu Guru
Senin 06.30-11.30 WIB 1. Dra. Anik Yuniati

2. Titik Sundari, A.Ma.Pd

Selasa 06.30-11.30 WIB 1. Susmiati, A.Ma.Pd

2. Supangat, S.Pd

Rabu 06.30-11.30 WIB 1. Siti Fatimah

2. Dra. Sutarmi

Kamis 06.30-11.30 WIB 1. Supangat, S.Pd

2. Dra. Anik Yuniati

Jumat 06.30-11.30 WIB 1. Susmiati, A.Ma.Pd

2. Titik Sundari, A.Ma.Pd

Sabtu 06.30-11.30 WIB 1. Supangat, S.Pd

2. Siti Fatimah

3. Data Administrasi

a. Jumlah Siswa 51 Anak.

Terdiri dari :

1) Kelompok I (Usia 3 Tahun)            : 12 Anak

2) Kelompok II (Usia 4 Tahun)           : 13 Anak

3) Kelompok III (Usia 5 Tahun)         : 11 Anak

4) Kelompok IV (Usia 6-7 Tahun)      : 15 Anak

b. SPP Perbulan : Rp 25.000,00

c. Gaji Guru

1) Gaji Pokok              : Rp 200.000,00/bulan

2) Bonus                      : Antara Rp  50.000,00 – Rp 75.000.00/bulan

3) Insentif Daerah         : Rp 2.400.000,00/orang/tahun yang dilakukan sistem pemerataan, karena tiap tahun pemerintah daerah hanya memberi jatah tiap lembaga hanya dua guru yang telah memiliki NUPTK yang menerima. Untuk mengatasi kecemburuan sosial, maka pemerataan di lembaga dilakukan berdasarkan porsi 60% dan 40%. Di mana guru yang namanya digunakan untuk menerima, mendapatkan 60% dan yang tidak mendapat 40%. Tahun ini, semua memang sudah menerima insentif atas nama pribadi kecuali satu guru, yakni guru C.

 

4. Data Fisik dan Kondisi Sekolah

a. Ada 3 ruang

1) Dua buah ruang kecil digunakan untuk kelas (milik masyarakat)

2) Sebuah ruang besar digunakan untuk pembukaan dan penutup serta digunakan untuk 2 kelas (milik yayasan)

b. Ada 3 sekolah TK terdekat dengan PAUD Tunas Harapan, tapi banyak yang memilih sekolah di sini. Bahkan ada siswa dari kecamatan lain yang memilih sekolah di sini.

c. Output  siswa, ketika di SD selalu menjadi juara 1-5 besar di kelasnya. Bakat non akademisnya pun tampak menonjol melalui lomba-lomba yang dijuarai mereka.

d. Menjadi PAUD percontohan mewakili kecamatan.

e. Berdiri 14 Juli 2003 setelah pada tanggal 11 Juli 2003 memperoleh ijin pendirian resmi dari Dinas Pendidikan (tipe B).

f. Dua kali mendapat bantuan dana dari daerah yang digunakan untuk memperbaiki gedung dan menambah sarana-prasarana pembelajaran.

g. Lokasi sekolah berada di tengah-tengah desa yang masing-masing desa sudah memiliki TK milik Dharma Wanita.

h. Tiap tahun, wali murid ditawari dua opsi kegiatan akhir tahun yaitu perpisahan di sekolah (pentas seni, dsb) atau wisata.

 

 

5. Data Permasalahan Yang Dihadapi Sekolah dan Solusinya

Dari lima orang guru yang mengajar di PAUD Tunas Harapan, terdapat salah seorang guru yang memiliki low work motivate (motivasi kerja rendah). Sebut saja inisialnya C. Jadwal yang telah disepakati bersama tidak dijalankan dengan tanggung jawab yang baik dan hanya mengandalkan pasangan piketnya saja. Demikian pula dalam pengelolaan kelas, kemampuan C dinilai kurang dibanding dengan guru-guru yang lain. Hal ini mengakibatkan kekhawatiran dan ketidaknyamanan lembaga dan guru yang lain.

Mendapati kenyataan ini, kepala sekolah mencoba mengevaluasi dan akhirnya membuat satu keputusan yakni dengan memberikan bonus khusus kepada para guru yang melaksanakan tanggung jawab dengan baik dan kreatif.

Setelah cara ini diterapkan, sekitar 3 bulan berjalan tampak perkembangan positif. Secara perlahan, karena melihat guru-guru yang lain mendapat bonus dan hanya beliau yang tidak. Maka, guru C mulai termotivasi untuk semakin disiplin dan berusaha melakukan yang terbaik.

 

 

 

C. Analisis Hasil Observasi Berdasarkan Teori

Menurut Vromm, tinggi rendahnya produktivitas dipengaruhi oleh motivasi dan kemampuan. Produktivitas di sini dapat diartikan sebagai prestasi kerja. Yang berarti, prestasi kerja berbanding lurus dengan motivasi. Hal ini sesuai dengan yang terjadi di PAUD Tunas Harapan, yakni berdasarkan pengamatan kepala sekolah dan laporan dari guru yang lain bahwa guru C tampak kurang maksimal kinerjanya, piket tidak dilakukan dengan baik dan kemampuan pengelolaan kelas pun dinilai kurang. Berdasarkan teori Vromm, dapat dianalisis bahwa kinerja guru C dinilai kurang karena motivasi yang kurang.

Sedangkan berdasarkan data administrasi, dapat dilihat bahwa memang gaji untuk seluruh guru di lembaga ini tidak banyak. Di samping itu, yang belum menerima insentif dari pemerintah atas nama sendiri hingga tahun ini tinggal guru C saja. Jadi, jika diamati meskipun gaji tidak banyak namun guru-guru lain masih tetap semangat bekerja. Berbeda dengan guru C, yang memang kemungkinan besar masalah uang yang diterima yang mengakibatkan motivasi kerja kurang maksimal. Hal ini juga sejalan dengan teori George R. dan Leslie W. (Matutina. dkk , 1993 dalam http://elqorni.wordpress.com/2009/03/21/teori-motivasi-dalam-manajemen-sdm/ diakses pada tanggal 2 Desember 2010 pukul 14.13 WIB)

Tentu saja jika tidak ditemukan solusinya, masalah ini dapat membawa kemunduran terhadap prestasi lembaga atau organisasi sekolah. Persis seperti teori yang telah disampaikan oleh Gillmore (dalam Pidarta, 2004) tentang The Productive Personality yang dapat disimpulkan bahwa baik secara individu maupun kelompok apabila berkarya sebaik-baiknya, merupakan landasan untuk mencapai produktivitas organisasi. Hal tersebut berarti, produktivitas organisasi sangat dipengaruhi oleh produktivitas keja individu maupun kelompok.

Berdasarkan analisis tersebut, keputusan yang diambil oleh kepala sekolah dengan memberikan bonus khusus terhadap prestasi kerja dan tingkat disiplin guru, dirasa sudah menjadi langkah awal yang tepat. Menurut bahasa yang digunakan Manulang, pemberian ini disebut pemberian kegairahan bekerja kepada pegawai. Sedangkan Gitosudarmo dan Mulyono (1999, (http://elqorni.wordpress.com/2009/03/21/teori-motivasi-dalam-manajemen-sdm/ diakses pada tanggal 2 Desember 2010 pukul 14.13 WIB) menyebutnya insentif/ motivasi finansial yang artinya, yaitu dorongan yang dilakukan dengan memberikan imbalan finansial kepada karyawan.

Ketepatan keputusan ini terbukti dengan adanya perubahan positif yang dialami guru C setelah keputusan tersebut diterapkan. Meskipun memang butuh pembiasaan yang tidak sebentar untuk menerapkan hal ini hingga tercapai harapan bersama, namun cara ini cukup membantu memotivasi guru-guru yang ada terutama guru C. Karena, ada definisi yang menyatakan bahwa motivasi berhubungan dengan : (1) Pengaruh perilaku; (2) Kekuatan reaksi (maksudnya upaya kerja), setelah seseorang karyawan telah memutuskan arah tindakan-tindakan; dan (4) Persistensi perilaku, atau berapa lama orang yang bersangkutan melanjutkan pelaksanaan perilaku dengan cara tertentu. (Campell , 1970 dalam http://elqorni.wordpress.com/2009/03/21/teori-motivasi-dalam-manajemen-sdm/ diakses pada tanggal 2 Desember 2010 pukul 14.13 WIB). Pandangan Humanis (Rogers dalam Pidarta, 1994:17) juga mengemukakan bahwa pribadi individu merupakan proses yang terus berjalan, suatu kekuatan yang tidak statis. Yang memiliki arti bahawa manusia itu dapat terus mengalami perubahan.

BAB III

PENUTUP

A. Kesimpulan

Dari pembahasan yang telah didiskripsikan dalam bab sebelumnya, maka dapat diambil kesimpulan, bahwa solusi yang digunakan kepala sekolah dalam memberikan motivasi pada guru C dengan kondisi demikian adalah memberikan bonus khusus kepada guru dengan prestasi kerja yang baik/insentif lembaga.

Tingkat efektifitas cara ini bila dinilai dengan menggunakan skala sangat efektif, cukup efektif, kurang efektif dan tidak efektif, maka nilainya yaitu cukup efektif.

 

B. Saran

Berdasarkan pada masalah yang terjadi di PAUD Tunas Harapan Pakel Tulungagung, maka saran konstruktif yang dapat menjadi inspirasi bagi lembaga yang lain antara lain        :

1. Ketahui latar belakang penyebab rendahnya motivasi guru

2. Berikan rangsangan dan motivasi yang sesuai   : motivasi finansial atau motivasi non finansial.

DAFTAR PUSTAKA

Budi Rai. 2009. Dasar-dasar Manajemen Pendidikan. Surabaya : Unesa Press

 

Pidarta. 1994. Dasar-dasar Manajemen Pendidikan Indonesia. Jakarta : PT. Rineka Cipta

 

http://elqorni.wordpress.com/2009/03/21/teori-motivasi-dalam-manajemen-sdm/ diakses pada tanggal 2 Desember 2010 pukul 14.13 WIB

LAMPIRAN

Foto Lokasi

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Gambar 1. Ruang Kelompok I (Usia 3 tahun)

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Gambar 2. Ruang Kelompok IV (Usia 6-7 tahun)

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Gambar 3. Penampang Depan Gedung Kelompok I & IV(pinjam milik masyarakat)

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Gambar 4. Penampang Halaman

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Gambar 5. Penampang Samping Halaman Sekolah

 

Gambar 6. Penampang Samping Kanan Gedung Belakang

 

Gambar 7. Penampang Samping Kiri Gedung Belakang

 

Gambar 8. Halaman Bermain Belakang

 

 

 

 

 

 

 

 

Gambar 9. Halaman Bermain Depan

 

Gambar 10. Tempat Cuci Tangan

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Gambar 11. Ruang Besar (Kelompok II, usia 4 tahun)

 

Gambar 12. Ruang Besar (Kelompok III, usia 5 tahun)

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Gambar 13. Kepala Sekolah dan Seorang Guru (seusai jam sekolah)